Minggu, 31 Maret 2019

(Lanjutan) Hijrah, Haruskah Menjadi Miskin?

Uneg-uneg kedua,

Radikal nya radikal (mumpung lagi ngetren), dari Islam itu adalah memurnikan tauhid, meniadakan Tuhan yang lain selain Allah.

Menduakan Tuhan (syirik) dalam wujud-wujud kasar, saya yakin sebagian besar Muslim sudah melawatinya dan orang-orang Salaf adalah jagonya. Keimanan mereka tidak bakal goyah oleh kekuatan lain seperti jimat, berhala, tempat-tempat keramat, hingga penguasa laut dan gunung.

Tapi bagaimana dengan syirik yang lebih halus, yang hanya terbetik dalam hati dan melintas dipikiran. 

Misalnya, 

Apa yang terbetik dalam hati dan terlintas dalam pikiran pelaku Salaf, ketika dua hari tidak memperoleh rejeki sama sekali?

Biasanya ada saudara Salaf yang datang, membawa sekilo dua kilo beras...

Biasanya ada ibu A, yang berbagi makanan...

Biasanya ada pak B, yang menawari pekerjaan bersih-bersih rumah...

Tapi sudah dua hari tidak seperti itu, belum ada makanan sedikitpun  yang masuk ke perut...

Disaat seperti apa yang ada dihati dan pikirannya?

Masihkah hatinya berdiri kokoh seperti pohon raksasa, dihatinya hanya ada Allah semata, teguh dan menetap?

Atau hatinya mulai mendua, samar-samar terbetik dalam hatinya, harapan akan ada saudaranya yang datang mengantar sekilo beras, harapan pada ibu A yang datang berbagi makanan, harapan pada pak B yang datang menawari pekerjaan.

Katakanlah dia sendiri sudah bisa, hatinya kokoh tak terhoyahkan, tapi bagaimana dengan istrinya, bagaimana dengan anaknya, apakah level mereka juga sama? Bagaimana kalau istrinya diam-diam dalam hatinya mengeluh, bagaimana kalau diam-diam anaknya menangis sedih?

Atau misalnya pada saat sakit yang parah, butuh perwatan di rumah sakit, yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Apa yang akan dilakukannya? Apakah hatinya akan terus bersandar pada Allah, atau dia justru lari pada makhluk, mencari pinjaman uang untuk biaya pengobatan?

Itulah uneg-uneg saya tentang orang-orang yang berhijrah meninggalkan semuanya, meski saya tahu keimanan adalah hal rumit, panggilan hati, tiap-tiap orang berbeda pengalamannya, berbeda rasanya, dll.

Sebagai penutup,

Shirat al-Mustaqim, jalan lurus yang diibaratkan seperti rambut dibelah tujuh, ke kanan sedikit tergelincir, ke kiri sedikit terpeleset. Jalan yang payah, untuk pemula ataupun yang lama, sama saja, terengah-engah, setapak demi setapak, entah kapan sampainya, atau malah tidak pernah sampai diujungnya.

Ada kalimat yang saya lupa darimana, ayat, hadis, buku atau malah dari seseorang, "...bukan amal ibadahmu yang akan menyelamatkan mu, tapi cinta-Nya kepadamu dan rindumu kepada- Nya".

Bukan Alphard atau Rubicon yang bisa megantar seseorang untuk mudik ke kampung halamannya, tapi rasa rindunya pada keluarga dan cinta dari orang-orang tersayanglah, yang membuat seseorang sanggup dan kuat berdempet-depetan di kapal Pelni, berhari-hari.

Jumat, 29 Maret 2019

Hijrah, Haruskah Menjadi Miskin?

Jaman dulu mungkin lebih mirip dengan perilaku zuhud, dijaman kekinian banyak yang menyebutnya hijrah, laku lampah menolak dunia. Dulu zuhud ini biasa dilakukan oleh mereka yang mendalami laku Sufi, kini gerakan ini banyak diusung oleh mereka yang biasa menyebut dirinya pengikut Salaf. 

Menjadi Salaf bisa dibilang menjadi "radikal", kembali ke prinsip-prinsip yang paling mendasar dalam ber-Islam, kembali menjadi seperti jaman Rosulullah dan para sahabat generasi awal. Cara beribadah, cara makan, cara berbicara,  hingga cara berpakaian, semuanya diembalikan lagi seperti apa yang dipakai oleh Rosulullah (Sunnah Nabi).

Tren-nya semakin naik di kota-kota besar, oleh orang-orang yang terbilang mapan kehidupannya. Gemerlap kota malah menyisakan ruang hampa dalam hati penduduknya, mungkin itu yang dirasakan mereka.

Dan dari apa yang saya lihat dan saya baca tentang orang-orang yang berhijrah ini, ada dua hal yang jadi uneg-uneg....

Pertama

Haruskah berhijrah itu menjadi miskin? Tidak bisakah menjadi "Rosulullah" tapi tetap kaya raya? Tidak bisakah mendekati Allah, dengan cara seperti Nabi Suliaman? Kaya, ganteng, dan tetap masuk surga. 

Bukan kah kemanapun engkau menghadap, ada wajah Nya? Bukan kah kuman hingga alien bisa megantarkanmu kepada Nya? Apalagi cuma masalah kaya-miskin, laki-perempuan, jahat-baik, dan lain sebagainya.

Kenapa berhijrah itu harus meninggalkan pekerjaan tetapnya, aktifitas hariannya, dan lain sebagainya? Disaat orang lain berharap bisa hidup berkecukupan, dan punya pekerjaan serta penghasilan seperti mereka, orang-orang ini justru bergerak meninggalkannya, membuang semua kesempatan itu.

Disaat yang bersamaan pula, masih banyak umat muslim yang hidupnya jauh dari berkecukupan. Karena lingkaran setan kemiskinan, bapaknya miskin, tidak bisa menyekolahkan anaknya, akhirnya anaknya cuma jadi kuli dan buruh, akhirnya punya anak lagi, ga bisa nyekolahin lagi, jadi buruh lagi, muter-muter seperti itu terus.

Dan kalau mereka meninggalkan pekerjaan mapannya, bukannya dia malah akan menambah jumlah umat yang masuk dalam golongan fakir miskin? Menambah jumlah umat yang terjerat lingkaran setan? Trus kapan umat ini akan maju, dan menjadi pembawa perubahan?

Tidak bisakah, misalnya berhijrah tapi tetap bekerja, tetap beraktifitas, dan lain sebagainya, layaknya seperti biasanya?

Atau misalnya begini, tetap bekerjalah ditempat yang sekarang, hanya saja gaya hidupnya yang diubah, biasa naik mobil ganti motor atau naik kendaraan umum, biasanya makan mewah ganti makan secukupnya, dll. 

Untuk gaji atau penghasilannya, katakanlah di kota besar rp. 10 juta, kebutuhan hidupnya sebulan (makan, pakain, listrik, dll) rp. 5 juta, masih sisa rp. 5 juta tiap bulannya. Sisanya jangan ditabung, berikan kepada tetangga yang membutuhkan, yang lagi sakit, yang anaknya ga bisa sekolah, yang terlilit hutang, dll.

Bukannya Allah itu Maha Bijak, ada yang dikaruniai kepintaran, keberuntungan hingga orang tersebut bisa bekerja ditempat yang enak, ada pula yang sebaliknya.

Bukannya Allah itu Maha Adil, ada yang diciptakan kekurangan, ada pula yang berlebih, kalau ada yang kaya mestinya ada yang miskin, agar si kaya bisa memberi ke yang miskin (dan kemudian merasa pongah).

Amal ibadah itu bukankah bukan hanya masalah banyak-banyakan menjalankan yang sunah-sunah, tapi bukannya juga bisa dengan mengamalkan keilmuannya, mengamalkan kepintarannya, dll.

Sedekah kepintaran, sedekah keberuntungan, sedekah tenaga, bukannya itu juga termasuk cara kita bersyukur atas pemberian Allah, dan orang yang padai bersyukur bukannya akan dilipat gandakan lagi nikmatnya.
(...maka nikmat mana lagi yang kau dustakan)

Bersambung....




Kamis, 08 Maret 2018

Hoax Karena Media yang Tak Lagi Berimbang

Pemerintahan bukanlah sebuah institusi yang suci tanpa cela, dan presiden juga bukan manusia sempurna. Ditiap-tiap kebijakan yang diambil pastilah ada kekurangan Dan kelebihannya, itu suatu yang harusnya menjadi sebuah kewajaran.

Dan media masa yang katanya adalah salah satu pilar demokrasi, harusnya bisa menjadi alat kontrol dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintahan. Tidak hanya memoles keberhasilan pemerintahan, tapi yang juga tak kalah penting adalah mengkritisi dan mewartakan apa saja kekurangan-kekurangan dari kebijakan tersebut.

Jadi, ketika hampir semua media masa besar hanya memuat berita yang hampir sama, tentang keberhasilan ini/itu, gunting pita sana/sini, foto-foto selfie aneka gaya terkini. Tentu hal ini membuat masyarakat bertanya-tanya, benarkah semua itu? Benarkah janji-janji yang dibuat pemerintah  sudah terpenuhi? Benarkah ribuan lapangan kerja telah berhasil dibuka? Benarkah dolar bisa turun? Benarkah bbm dan listrik tidak naik? Dan lain sebagainya.

Disaat pertanyaan-pertanyaan seperti  itu tidak terjawab, karena media masa tidak pernah memberitakannya, maka yang ada adalah gosip. Untuk mengisi celah kosong yang ditinggalkan oleh media masa,  masyarakat akhirnya mencari alternatif pemberitaan. Dengan dukungan serta perkembangan teknologi, seperti internet dan medsos pada akhirnya masyarakat beralih kesana, untuk mencari maupun bertukar informasi. Sehingga rumors, gosip, serta pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab di media arus utama, akhirnya menjadi bola liar.

Karena tidak berimbangnya media masa dalam pemberitaan, maka bola liar menjadi peluang untuk dimanfaatkan, baik oleh oposisi ataupun pro pemerintah. Oposisi bisa saja dengan mudah membuat berita yang palsu atau hoax, karena ada kebutuhan akan kebenaran informasi diluar media arus utama yang tidak lagi dipercaya.

Sementara pro pemerintah juga sama saja, ada yang mengistilahkannya dengan hoax membangun. Menyebar foto-foto palsu tentang jalur jalan baru, atau jalur kereta baru dan lain sebagainya, karena percaya diri bahwa media masa tidak akan mengkritisinya.

Dengan tidak berimbangnya pemberitaan, bukan hanya berhenti pada konten-konten hoax saja, tapi lebih jauh telah mengiris dan mempertajam dua kubu yang saling pro - kontra ini. Yang kontra yakin ada yang kurang dari jalannya kebijakan pemerintahan,  sementara yang pro merasa diatas angin karena tidak ada media yang mau memberitakan kegagalan kebijakan pemerintah.

Padahal mengkritisi pemerintah bukan berarti ingin menjatuhkan wibawa atau kebijakan pemerintahan, namun untuk menjaga agar arah pemerintahan yang dijalankan tidak melenceng terlalu jauh. Jika kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sampai melenceng, yang paling dirugikan adalah rakyatnya. Dan yang perlu dicatat, ketika media mengkritisi jalannya pemerintahan, tidak lantas membuat pemerintahan menjadi gaduh, atau pemerintahan akan berjalan kacau, dan lain sebagainya.

Ambil contoh ketika pemerintahan SBY berkuasa, banyak media yang sering mengkritisi kebijakan-kebijakan dari presiden. Bahkan di stasiun televisi Metro TV ada acara sentilan-sentilun yang khusus menyindir dan memparodikan kebijakan-kebijakan SBY. Dan itu tidak lantas membuat pemerintahan SBY mandek, bahkan banyak pencapaian yang berhasil ditorehkan oleh SBY.

Namun sayang, kalau menengok pemerintahan yang sekarang ini peran media masa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah terasa sangat kurang. Kalau anda membuka portal berita dari media masa besar isinya hampir sama dan senada, itu lagi, itu lagi....

Selasa, 30 Januari 2018

Penutupan Jalan, Tanah Abang vs Makam Bung Karno

Makan Bung Karno di Blitar

Nun jauh di sana, ruas jalan di depan makam bung Karno, sudah beberapa bulan lalu mulai di tutup dan bongkar. Jalan Ir. Sukarno di tutup total sepanjang kurang lebih 1 km, mulai dari hotel Mandala hingga depan kantor kelurahan Sentul. Jalan itu kini diganti dengan paving blok, dan rencananya akan diberi taman, sehingga kendaraan nantinya total tidak bisa melewati ruas jalan itu lagi, hanya pejalan kaki dan mungkin sepeda onthel saja yang bisa lewat.

Bukan hitungan hari, tapi penutupan dan pembongkaran jalan ini sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, dan ditargetkan akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, program itu selesai. Namun sejauh ini tak ada satu pun pakar dan ahli mempertanyakan pelanggaran undang-undang tentang penutupan jalan, seperti apa yang terjadi pada penataan tanah abang. 

Bila sama-sama mengacu pada pendapat pengamat transportasi Djoko Sutiwarno seperti dimuat Kompas ["Di dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan terdapat ketentuan pidana yang sangat tegas, yakni 18 bulan penjara atau denda Rp 1,5 miliar bagi setiap orang yang sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan dan trotoar," jelas Djoko dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (23/12/2017).
Djoko juga menjelaskan, orang yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna jalan bisa dikenakan denda Rp 250.000 sesuai dengan Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2). ].

Maka harusnya apa yang dilakukan oleh pemerintahan kota Blitar juga melanggarnya, dan hingga pengerjaan proyek hampir rampung, tak banyak media masa yang memuat dan tak ada pengamat dan ahli yang mempermasalahkannya.

Tanah Abang

Sementara itu ketika tanah abang ditata oleh gubernur baru, dengan cara menutup sebagian jalan, publik dan media masa langsung dibikin heboh. Para pengamat, pakar dan ahli langsung tampil ke muka, dan kata-katanya langsung menjadi kutipan puluhan media-media masa besar bersekala nasional.

Dan dalam hitungan hari, para pakar dan ahli tentang transportasi sudah bisa menyimpulkan, bahwa apa yang dilakukan oleh gubernur baru, jelas-jelas melanggar aturan undang- undang tentang fungsi jalan raya. Begitu pula media masa, tanpa menunggu masa percobaan berlalu, ramai-ramai langsung memvonis bahwa kebijakan penutupan tanah abang merugikan banyak pihak.

Penyelesaian masalah tanah abang yang digagas gubernur baru, yang tengah mencoba mencari solusi jalan tengah antara pedagang dan pejalan, kelihatannya bakal kandas. Penolakan itu, kelihatannya bukan lagi tentang ide penyelesaian dan cara mencari jalan terbaik membangun kota, tapi kini lebih pada siapa yang membawa ide-idenya.

Mengadili ide bukan karena muatan dan konsep-konsepnya tapi yang diadili adalah siapa dulu pembawa idenya.

Jurnalisme, mengabarkan ataukah mengaburkan kebenaran?

http://jatim.tribunnews.com/2017/10/19/dprd-kota-blitar-tidak-dilibatkan-soal-proyek-city-walk-di-makam-bung-karno?page=all

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/23/17243121/pengamat-transportasi-nilai-penataan-pkl-tanah-abang-melanggar-hukum

Minggu, 28 Januari 2018

Jurnalisme, Mengabarkan ataukah Mengaburkan Kebenaran?

Literasi, katanya orang-orang pinter adalah salah satu faktor yang bisa memajukan suatu bangsa. Mampu memberi dan mengkayakan  wawasan masyarakat, hingga pada akhirnya bisa membuka cara pandang  dan merubah pola berpikirnya.

Dan masih katanya pula bahwa jurnalisme  atau media pemberitaan adalah salah satu pilar dalam berdemokrasi, yang katanya bisa menjaga arah pemerintahan supaya lurus dan benar. Karena jurnalisme dengan segala fasilitasnya (kode etik dan perlindungan hukum), harusnya lebih mampu menjangkau sisi-sisi lain dari sebuah kabar dan peristiwa.

Dua tugas berat ini adalah hal yang harusnya bisa dilakukan sekaligus seorang jurnalis, mampu memberikan bahan bacaan (literasi) yang murah dan meriah melalui aneka media yang ada (koran, majalah, televisi hingga internet). Namun juga mampu mencerahkan masyarakat dengan mengabarkan berita yang benar, termasuk didalamnya tidak mengabarkan “hoax” yang membangun.

Tapi melihat acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, seolah tidak bisa lagi melihat sosok seorang jurnalis sejati yang ingin mencerahkan dengan mengabarkan sebuah kebenaran, namun lebih melihat sebagai seorang jurnalis yang sengaja ingin mengaburkan kebenaran.

Sudut yang diambil adalah ingin menggiring opininya sendiri atau bisa dibilang seorang Najwa lebih terlihat sebagai seorang spin doctor ketimbang seorang jurnalis, yang dengan sengaja membelokkan arah pembicaraan nara sumber sesuai dengan yang diinginkannya, tanpa berdasarkan data-data yang ada serta dengan jelas mengabaikan semua uraian nara sumbernya.

Sebagai pembanding, jika seorang Najwa adalah jurnalis sejati, beranikah dia menghadirkan gubernur sebelumnya dan membuat pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai lahan Sumber Waras atau pertanyaan-pertanyaan menohok tentang reklamasi dan penerbitan ijinnya?.

20 tahun setelah reformasi, jurnalisme kini terasa seperti kembali ke zaman sebelumnya. Propaganda oleh pemerintahan waktu itu dengan memberi materi berita yang tunggal dan seragam, yang dikeluarkan oleh menteri penerangannya. Propaganda atau framing berita kalau bahasa zaman now, kini sangat terasa seperti kembali ke zaman sebelum reformasi.

Rakyat kembali di nina bobok kan oleh pemberitaan dari satu peresmian ke peresmian berikutnya, bulan ini meresmikan ini pakai sepatu yang itu, bulan depan meresmikan itu pakai baju ini. Bagi remaja generasi tahun 80-90 an itulah berita yang biasa dilihat di koran-koran dan televisi waktu itu. Mirip zaman dahulu lagi, media berlomba memberitakan yang pertama untuk berita yang sama, ketimbang  berlomba mencari sudut yang berbeda dari tema yang sama.

Seperti tol yang baru diresmikan, yang hanya sepanjang 14,5 km, yang kalau ditempuh hanya butuh 10 menit, tidak diulas dengan cerdas.  Pajak rakyat mau dibawa kemana dan utang negara akan bagaimana, jarang ada berita yang mengulasnya hingga tuntas.  Literasi dan pencerahan wawasan yang murah bagi rakyat mungkin hanya slogan basi. Lagi-lagi pola pembodohan terhadap kelas bawah terjadi lagi, lebih banyak jurnalis yang mengaburkan kebenaran dibanding mengabarkan kebenaran…..


Senin, 30 Oktober 2017

Janji Palsu Menolak Pulau Palsu?



 Samar-samar terdengar kabar fals (bukan Iwan yang kini bersura merdu), konon katanya ada pertemuan antara pemilik pulau palsu dengan calon gubernur baru (saat itu). Konon katanya pula, pertemuan itu, berisi bisik-bisik tetangga tentang penyelamatan dan pengamanan jalur menuju pulau palsu.

Tak berlebihan memang, mengingat proyek pulau palsu adalah proyek yang "luar biasah". Setelah mangkrak hampir 29 tahun sejak jaman orde baru, dengan ajaibnya bak sulap ala pak Tarno, dalam 3-4 tahun pembangunan pulau palsu ini sudah mendekati 80 %.

Dan harap dimaklumi juga karena yang punya gawe ini ibaratnya masih sebangsa dengan Night Fury, Terrible Terror, Gronckle, Monstrous Nightmare, Deadly Nadder, Hideous Zippleback, Boneknapper, Seadragonus Giganticus Maximus dan Bewilderbeast yang begitu perkasa.

Yang kekayaan per-orangnya aja bisa mencukupi kebutuhan dasar sepertiga penduduk negeri ini (catat: wajar kepentingan mereka lebih diutamakan). Sementara sebagai EO-nya adalah orang yang punya kuasa dan serba tahu segala urusan di jaman now, segala urusan tak akan bisa terjadi tanpa sepengetahuan dan ijin beliaunya.

Jadi berat rasanya bagi gubernur baru untuk bisa memenuhi janjinya menolak undangan hajatan di pulau palsu itu. Tangan-tangan perkasa dibalik pulau palsu jelas tidak akan tinggal diam, akan selalu cawe-cawe agar proyek ini akan terus berjalan.

Pertemuan-pertemuan seperti itu di hari belakangan ini semakin terlihat wajar saja, politik bukan lagi tentang suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat hanyalah alat dan jalan untuk menggapai puncak kepemimpinan melalui hajatan yang disebut dengan pesta demokrasi.

Politik menurut mereka adalah cair, tidak ada lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi. Wajar juga bila saat ini yang banyak terjadi adalah politik prabayar atau politik ijon, karena tingginya biaya pencalonan untuk menjadi calon pemimpin. Dimodali terlebih dahulu oleh pemodal besar, namun kebijakan dan arah pemerintahan disesuaikan dengan kebutuhan pemodal.

Sementara bagi rakyat sendiri politik itu kotor, politik itu kejam dan tidak berperasaan, janji politik yang diingkari itu sudah biasa. Contohnya ada dimana-mana, tidak presiden, tidak gubernur, tidak bupati bahkan hingga lurah pun juga sama saja. Rakyat hanya dapat remah-remah kebijakan, hanya satu dua yang akan terpenuhi janji surga yang pernah dihembuskan pada mereka.

Dan seperti biasa setelah hajatan demokrasi bernama pemilu, yang keras, yang lembut, yang kejam, yang kalem, dan lain sebagainya, rakyat pemilih dengan perlahan namun pasti dilupakan. Hajatan demokrasi ibarat kemarau setahun yang diguyur hujan sehari, dengan cepat hilang tak berbekas. Nasib mereka tak akan jauh bedanya dengan setahun, lima tahun atau sepuluh tahun sebelumnya, masih sibuk ngurusi hari ini makan apa, bukan hari ini enaknya makan dimana....

Radikal dan Liberal Menjual Ketakutan, Siapa yang Menang?


indonesiana-Idologi.jpg




























Perasaan takut itu mungkin memang lebih mengerikan dari obyek yang ditakuti itu sendiri. Sebelum benar-benar melihat hantunya, orang sudah merasakan ngeri dengan suasananya yang mencekam, seperti suara yang terdengar, aroma yang tercium, bulu kuduk yang berdiri dan lain sebagainya.
Dan perasaan takut itu dimanfaatkan dengan baik sebagai strategi pemasaran oleh para sales marketing. Sebut saja iklan pelangsing badan, dengan menjual ketakutan akan aneka penyakit yang muncul akibat kegemukan. Atau iklan asuransi yang mengambarkan betapa sulitnya hidup, jika tidak mempunyai asuransi sebagai jaminan pendidikan, kesehatan, dan kematian.
Jika mengikuti media sosial akhir-akhir ini, maka tak mengherankan bila para pengusung dan penjual ideologi juga ikut-ikutan memakai strateginya. Mereka saling menjual dan mepropagandakan ketakutan, demi berebut pangsa pasar terbesar dinegeri ini, yaitu umat islam.

Sebagai mayoritas dengan jumlah yang besar, umat islam memang menjadi pangsa pasar yang mengiurkan dan potensial  untuk berjualan aneka produk. Baik produk nyata berupa barang konsumsi maupun produk tak nyata berupa aneka bentuk paham dan ideologi.
Didukung dengan banyaknya aliran dan percabangan dalam islam memang sangat mudah untuk membuatnya terbelah menjadi beberapa kubu.
Dari masa ke masa umat islam memang menjadi pasar yang potensial, seperti pada masa pemerintahan Orba, umat islam dimanfaatkan dengan baik untuk menjadi unjung tombak menghadapi ideologi kiri. Dengan prolog pembunuhan para ulama, maka dengan segera umat merapatkan barisan melawan dan menghentikan pergerakan kaum kiri (hingga kini).
Sementara dimasa kekinian, yang radikal mulai menakuti-nakutinya dengan kebangkitan liberalisme, kapitalisme, dan lain sebagainya. Umat islam digambarkan akan dipinggirkan, segala bentuk kebebasan akan diumbar, masa depan anak-anak akan terancam oleh pergaulan bebas, dan lain sebagainya.
Yang liberal pun juga tak jauh berbeda, mereka juga sama-sama menjual ketakutan pula. Menakut-nakuti umat dengan ancaman meningkatnya radikalislme, perpecahan, sikap intoleran yang semakin menguat, serta ormas-ormas akan semakin anarkis dan merajalela dengan aneka bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Siapa yang akan menang?
Entahlah…
Yang jelas kalah dan rugi adalah umat islam itu sendiri, karena mau tidak mau akan menyeret dua aliran islam terbesar yang ada di Indonesia. NU dan Muhammadiyah, dua percabangan islam yang memiliki pengaruh yang sama besar, yang kebetulan pula punya pemahaman yang berbeda dalam menterjemahkan ajaran islam.  
Muhammadiyah yang cenderung ingin memurnikan ajaran islam tentu akan lebih condong pada pemahaman yang menolak liberalism dan kapitalisme. Pemahaman yang menginginkan kembali kejayaan islam, dengan cara menjalankan syariat islam tanpa mencampur-adukan dengan adat kebiasaan. Meski tidak sampai menjadi radikal, tapi paling tidak akan bersikap berseberangan dengan aliran liberal, dan lebih memilih berpihak pada paham-paham yang mendukung pemurnian islam ketimbang sebaliknya.
Sementara NU, yang lebih fleksibel dalam menerapkan ajaran islam akan lebih berpihak pada golongan liberal. Bisa dilihat dari beberapa pelopor gerakan ini justru banyak muncul dari kader-kader NU, para kader yang menghendaki islam lebih moderat, wajah islam yang berpandangan lebih terbuka dan tidak saklek dalam hal syariat.
Jika tiap hari dan setiap saat jualan ketakutan ini terus muncul dan dimunculkan oleh kedua pihak, maka ujungnya akan semakin meruncing. Gesekan bukan berada pada mereka yang diatas, bukan pada mereka yang hanya duduk manis dan hanya bertugas memberikan arahan yang bertujuan mencari pengaruh dan memperluas ideologinya.
Akan tetapi gesekan yang tiap hari diperuncing suatu saat akan menajam di akar rumput, yaitu masa yang sebenar-benarnya. Masa yang nyata dari kedua kubu ini, suatu saat akan berhadapan dilapangan (dunia nyata yang sebenarnya), bukan hanya saling olok di dunia maya atau media sosial. Masing-masing ormas akan saling meniadakan, yang satu akan menolak acara dan kegiatan ormas yang lain, begitu juga sebaliknya. Dan lebih buruk lagi jika sampai jatuh korban disalah satu pihak, maka kerusakan yang akan terjadi juga akan semakin membesar.
Siapa yang akan tertawa?
Entahlah…
Yang jelas masalah paham radikal yang katanya mulai mengancam, kuncinya adalah ketegasan sikap aparat pemerintah yang berwenang. Kalau memang paham dan ideologinya bertentangan dengan dasar Negara, harusnya ormas-ormas ini dimasukkan kedalam organisasi terlarang layaknya paham komunisme. Sehingga kegiatannya pun harus dilarang dan tidak diberi ijin, tanpa harus terjadi pembubaran paksa oleh ormas lainnya yang rawan terjadi gesekan di masa akar rumput.
Sedangkan aksi anarkis ormas yang sering melakukan penutupan paksa tempat hiburan malam dan warung-warung makan saat bulan ramadhan harusnya menjadi tugas dan tanggungjawab aparat keamanan untuk menindaknya. Jangan lagi mebiarkan ormas anarkis ini bertindak semaunya, sehingga merusak citra umat islam yang lain, yang hanya akan memunculkan ormas tandingan yang akan saling berhadapan, yang pada akhirnya menjadi bahan pembenaran jualan ketakutan dari kaum liberal.


Jumat, 21 April 2017

100 Hari Pemerintahan Anies - Sandi

Dalam satu wawancara pak Einstein pernah mengatakan, "Imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan". Jadi tak ada salahnya jika sedikit berandai-andai dan menggunakan imajinasi, apa yang kira-kira akan terjadi pada 100 hari pemerintahan Anies - Sandi jika menang dalam pilkada kali ini.

Tentang Jakarta Bersyariah

Isu yang santer berhembus (sengaja dihembuskan) adalah Jakarta akan menjadi kota yang ditata dengan hukum syariah Islam, benarkah bisa semudah itu menjadikan suatu daerah, apalagi Ibu Kota Negara menjadi bersyariah?

Jelas tidak semudah menggoreng tahu bulat yang bisa dimasak dadakan, pasalnya untuk membuat hukum syariah agar bisa dijalankan, minimal harus ada perda yang mendukungnya. Dan seperti yang kita ketahui bahwa perda itu harus disahkan oleh parlemen, dan seperti kita ketahui pula bahwa Anies-Sandi di parlemen hanya didukung oleh Gerindra (15)  dan PKS(11), sementara lawan politiknya yang siap menghadang PDI-P (28),  Hanura (10), PPP (10), Golkar (9), PKB (6) dan NasDem (5). 

Meski ada kemungkinan ditambah PAN (2) dan Demokrat (10), rasanya akan sulit bagi Anies - Sandi untuk meloloskan perda syariah. Maka, jika sampai perda syariah bisa lolos maka tak hanya Anies - Sandi yang patut untuk ditunjuk hidungnya, tapi seharusnya jari-jari telunjuk juga layak ditujukan ke hidung para aggota parlemen.

Tentang FPI dan Ormas Radikal (Intoleran)

FPI dan semua ormas adalah organisasi yang nyawa (baca: ijin) nya berasal dari Kemendagri, sudah seharusnya hidup dan matinya juga berada ditangan Kemendagri. Segala tentang syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh semua ormas adalah menjadi tanggugjawab Kemendagri. 

Sementara aksi anarkis, pengacau keamanan dan mengganggu ketertiban masyarakat adalah menjadi kewenangan dari pihak aparat keamanan untuk menindaknya. 

Jadi jika ada ormas yang anti dengan dasar negara, ada ormas yang melakukan aksi-aksi radikal, menganggu keamanan dan meresahkan masyarakat, harusnya kedua lembaga tersebut yang bertanggungjawab terlebih dahulu untuk mengambil tindakan, terlepas siapapun gubernurnya.

Tentang Media Masa

Media masa saat ini hampir 60% lebih boleh dikata sudah menjadi "plat merah", lebih banyak hanya menampilkan sisi positif dari pemerintah, sementara berita-berita negatif cenderung diendapkan dan diperhalus konten beritanya.

Bagi petahana, yang masih satu paket dengan pemerintah saat ini, sangat diuntungkan oleh media masa "plat merah" ini. Dukungan berupa pemberitaan positif sangat masif dinaik cetakkan, sementara berita negatif sangat sedikit diulas dan sebisa mungkin malah diredam.

Akan berbeda nasib dengan Anies-Sandi jika jadi gubernur, yang memang tidak sepaket dengan pemerintah, bahkan pengusungnya adalah lawan politik pemerintah di 2014 kemarin. Maka media akan kembali menjadi media "plat hitam", akan banyak kebijakan dan jalannya pemerintahan Anies yang bakal dikritisi, diobok2 dan dicari celahnya.

Banjir tidak lagi diberitakan hanya sekedar genangan, janji-janji kampanye Anies akan diungkit-ungkit, borok-borok Anies semakin banyak yang dikorek-korek lagi.

Buzzer dan Pendukung

Pendukung dan buzzer Anies ini terbentuknya belum terlalu lama, berbarengan dengan pencalonan Anies maju ke pilkada. Dan kalau melihat beberapa hasil survey yang telah dipublikasikan, maka perolehan dukungannya pun juga tidak langsung melesat kepuncak, ada beberapa tahapan yang semakin lama terlihat mengalami peningkatan.

Jika dilihat dari tren tersebut, maka pendukung Anies bukanlah model pendukung secara membabi buta, yang memuja Anies seperti sosok idola tanpa cela. Dukungan itu perlahan didapatkan karena beberapa program-program anies yang memang cenderung lebih bisa diterima oleh masyarakat Jakarta, terutama program membumi yang menyentuh kelas bawah (menolak reklamasi, menolak betonisasi, menolak penggusuran, menolak relokasi, dll).

Bisa dikata belum teruji keloyalannya, selama Anies memenuhi janji atas program-program kampanyenya, maka selama itu pula masih terus memperoleh dukungan. Namun apabila ingkar janji, pendukung Anies akan menjadi pengkritik terkeras saat Anies - Sandi benar-benar berkuasa.

Sasaran Tembak

Melihat beberapa kemungkinan diatas, maka Anies - Sandi adalah sasaran tembak yang sangat terbuka. Terlebih bukan sebagai anak emas yang diberi baju kebal peluru, maka serangan bertubi-tubi akan memdarat telak ditubuh mereka. 

Dengan begitu, tak akan mudah bagi Anies menjalankan pemerintahannya dengan seenak udelnya sendiri. Moncong senjata dari lawan, baik media masa, buzzer dan bahkan pendukungnya sendiri siap memberondongnya dari segala arah dan dengan aneka peluru.

Minggu, 19 Februari 2017

Tips Untuk Para Golputers Galau

Telah dua periode pilpres (2009 dan 2014) memilih untuk tidak memilih alias bergolput ria, galau menentukan pilihan seperti kebanyakan golputers lain. Khawatir salah dalam menentukan pilihan, serta takut dikibuli oleh janji-janji semanis madu para calon pemimpin.

Tapi melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini rasanya kok terlalu sayang untuk menjadi golputers lagi, karena apa yang terjadi belakangan ini mengingatkan saya pada suana yang mirip-mirip dengan rezim di masa lalu.

Sebagai orang yang tumbuh di rezim tersebut merasakan sendiri bagaimana pemerintahan di jaman itu dijalankan. Pada waktu itu rakyat sedikit mungkin diberi akses pada pemberitaan yang benar/berimbang (dibodohi “pakai” berita media masa), karena berita-berita yang tayang pada masa itu dibungkus sedemikian rupa (framing bahasa sekarang), sehingga rakyat hanya tahu berita persis seperti apa yang pemerintah mau. Banyak hal yang sengaja ditutup-tutupi, dengan dalih demi keamanan nasional atau kalau memakai bahasa sekarang agar tidak terjadi kegaduhan politik.

Berita kebobrokan pemerintah hanya bisa didengar melalui bisik-bisik tetangga tanpa data dan fakta, kalau saat ini mungkin sudah termasuk dalam kategori berita HOAX, dan bisa dikenai pasal penyebar hoax. Sementara media masa yang kritis pada pemerintah banyak yang dibikin sekarat terlebih dahulu, atau dibredel kalau jaman dahulu menyebutnya (mirip saat ini yang tengah dalam proses pemberlakuan barcode untuk memverifikasi media).

Dan setelah merenung selama tujuh purnama, mandi di tujuh sumber air berbeda dengan ditaburi bunga tujuh rupa, maka inilah beberapa tips yang bisa saya bagikan:  

Pertama, Lihat seberapa dominan orang-orang yang berada dibelakangnya (baca bandar), karena mereka itulah yang nanti menjadi sebenar-benarnya penentu (mutlak) kebijakannya. Terkecuali jika dia seorang “pemilik partai yang bersuara mayoritas, seperti Suharto (32 tahun); Megawati (3 tahum) dan SBY (10 tahun), mereka akan punya setengah kekuatan menentukan arah pemerintahan (berbagi kekuasaan dengan para bandar)

Kedua, lihat seberapa banyak media pendukungnya, karena disinilah awal dibelokan dan dipelintirnya berita, jelek bisa dipoles menjadi agak bagus serta bagus akan menjadi terlihat hebat luar biasa. Banjir akan terlihat sebagai genangan, gusur bisa berarti relokasi dan reklamasi terdengar seperti investasi. Mirip-mirip rezim dimasa lalu yang mengontrol berita-berita mana yang boleh disiarkan mana yang tidak boleh disiarkan, hanya saja dipoles lebih halus dari segi cara maupun segi bahasanya.

Ketiga, lihat seberapa banyak dan kuat buzzers-nya, karena mereka ini akan menyerang siapapun  yang mempunyai pikiran yang berbeda dengan kebijakan pemerintahan, pasukan yang tidak ingin berbagi ruang untuk perbedaan bersuara, phobia terhadap suara-suara sumbang. Mirip-mirip juga dengan rezim masa lalu, kalau dahulu buzzersnya berbentuk kumpulan masa dalam wujud nyata, berbentuk ormas-ormas pelindung perintah, yang akan menghajar balik tiap demo-demo yang menyuarakan penentangan terhadap kebijakan pemerintah.  

Keempat, jadikan program para capres, cagub, cawakot, dan segala ca-ca lain sebagai pertimbangan terakhir. Karena biasanya apapun programnya hanya beberapa saja yang akan benar-benar dijalankan saat benar-benar terpilih, kalaupun akhirnya program dipenuhi anggap saja sebagai  bonus tambahan.

Dengan melihat dan mempertimbangkan 4 hal diatas paling tidak saya bisa meminimalkan resiko kesalahan dalam memilih. Kalaupun jika terjadi kesalahan (lagi) dalam menentukan pilihan, paling tidak saya masih bisa mengkritisi, menyinyiri pilihan saya tanpa rasa takut akan bullying dari para buzzers-nya, dan terhidar dari jeratan aneka pasal berlapis yang siap menghadang.

Dan yang lebih penting lagi buat saya adalah hak rakyat untuk memperoleh pemberitaan yang berimbang (20 tahun pasca reformasi masak rakyat/tuan akan kembali dibodhi “pakai” media masa). Calon yang tidak didukung oleh banyak media masa, maka secara otomatis akan semakin banyak media yang bersikap netral. Akan banyak media yang menayangkan berita tanpa pemelintiran ataupun pembelokan, karena media-media tersebut jelas tidak dibebani oleh hutang-piutang dalam hal dukung-mendukung

…..Golputer tobat…..
Sumber gambar:
http://aceh.tribunnews.com/2017/02/17/data-desk-pilkada-lhokseumae-golput-mencapai-51-ribu-orang

Kamis, 26 Januari 2017

Kisah Stempel, Hoax dan Rocky Gerung




Kisah ini berhubungan erat dengan stempel yang digunakan sebagai penanda penyortiran barang atau bahkan mungkin juga digunakan pada orang.

Untuk ilustrasi, ku awali kisah ini dari gudang penyortiran sayur-mayur dan buah-buahan. Sebagai gudang sayur dan buah yang menjadi satu, terkadang ada saja buah dan sayur yang salah tempat. Karena berwarna orange terkadang jeruk di stempel dan masuk kedalam golongan  wortel, atau karena bentuknya bulat terkadang tomat di stempel dan masuk kedalam golongan jeruk, dan lain sebagainya.

Entah karena kurang teliti atau malas berpikir atau justru memang disengaja.

Dan seperti itulah yang tengah terjadi pada seorang Rocky Gerung, karena beberapa pernyataanya terutama tentang hoax, telah membuat banyak orang (awam hingga ahli) menyetempel atau mengecapnya sebagai orang pro-hoax.

Dimana saat ini pro-hoax  adalah ditujukan pada golongan yang diangap sebagai aliran yang terlalu kanan dan radikal. Golongan yang katanya sering dinilai sebagai ahli bikin berita hoax dan menyebar segala bentuk hoax beserta turunannya.

Maka dari itu, di hari-hari belakangan  ini  Rocky Gerung dimasukkan/distempel/dicap sebagai pengikut mereka, bahkan yang lebih sadis lagi di olok-olok sebagai filsuf lokal yang gagal memahami ajaran filsuf Zizek yang akhirnya menjadi pengikut Rizieq. 

Tapi benarkah seorang Rocky Gerung seperti itu? Coba kita cek beberapa peryataannya.

Yang terkenal adalah ini “Pembuat hoax terbaik itu  adalah penguasa…….”, dan dalam sebuah acara di televisi beliau sendiri sudah memberikan contohnya. Namun saya ingin menterjemahkan dan membuat contoh sendiri dari ucapan tersebut.

Misalnya begini, ketika seorang Bedjo, sepulang menggurus SIM membuat sebuah status, “ Mantap brow, nambah 200 rebu ngurus SIM sehari jadi, tanpa tes lagi!!!! ”, hanya sebuah status tanpa disertai bukti apapun. Sebuah status yang sudah menjadi rahasia umum dan sudah biasa dibicarakan dimana-mana, warung kopi, angkringan bahkan caffe dan restoran.

Apakah ketika status tanpa data dan bukti tersebut dibagikan oleh orang banyak dan kemudian viral di dunia maya, akan menjadikan Bedjo sebagai tersangka pembuat hoax? Dan penyebar status hoax? Dan oleh karenanya perbuatan ini Bedjo bisa dikenai pasal (karet) penyebaran hoax?

Sementara itu pemerintah dengan tegas menyangkal apa yang menjadi status Bedjo diatas, dengan mengeluarkan data-data yang ada, bahwa tidak ada pungutan liar pengurusan SIM, tidak ada laporan dan bukti yang masuk, tidak ada kerugian negara akibat praktek pungli tersebut.  

Dan apakah lantas secara otomatis pernyataan pemerintah tersebut adalah sebuah fakta? Sebuah kebenaran yang harus diamini seluruh rakyat Indonesia tanpa perlu dikritisi? Hanya karena diperkuat oleh data-data yang ada?

Dititik ini, Bedjo akan dianggap sebagai penyebar hoax sementara pernyataan pemerintah adalah sebuah fakta dengan data yang tidak terbantahkan.

Padahal apabila bila dilakukan sebuah penelitian (kalau mau), ambilah secara acak 100 pengendara yang sedang lewat dijalan raya, kemudian adakan tes ujian tulis dan praktek mengemudi yang sesuai standar untuk mendapatkan SIM. Akankah 100 pengendara tersebut lulus? Akankah para remaja 17 tahun banyak yang lolos? Akankah para bapak/ibu banyak yang lolos? Akankah para selebriti banyak yang lolos?

Sampai disini, kisah diatas akan menjadi terbalik, dan apa yang dinyatakan oleh Rocky Gerung menjadi suatu pembenaran, bahwa pembuat hoax terbaik adalah penguasa.

Lantas pemikiran Rocky Gerung agar tidak bersikap berlebihan terhadap masalah hoax ini, apakah harus distempel/dicap sebagai orang yang beraliran ke-kanan-kanan-an? Tidak bisakah pemikirannya dianggap sebagai bentuk kekhawatiran terhadap pemberangusan kebebasan berbicara? Pemberangusan kebebasan perpendapat? Pengkhianatan terhadap nilai-nilai dalam berdemokrasi? Berjuang agar pelangi negeri tetap warna-warni?.

Sayangnya, “Permainan” stempel dan cap ini memang permainan abadi, ada disepanjang jaman, lintas generasi dan tak lekang oleh waktu. Ditiap penguasa, maka permaian ini akan diulang lagi, diubah sana-sini, dipoles kanan-kiri, maka perubahan wujudnya tak lagi dikenali.

Teringat pada cerita para pendahulu, pada waktu lalu penggiat, penikmat, pekerja seni akan di stempel/di cap kiri, dibuang, diasingkan dan dicemo’oh, oleh tangan-tangan yang berseragam jelas.

Dan kini diulang lagi, dimainkan lagi, hanya saja sekarang dimodifikasi menjadi stempel/cap kanan, tidak dibuang, tidak diasingkan (tetapi dicoba dipisahkan) dan tetap dicemooh. Oleh tangan-tangan yang kini tidak lagi berseragam jelas, (tangan orang-orang yang diwaktu lalu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan menentang keras segala bentuk stempel dan cap kiri).

(tidak selalu berarti bahwa hoax itu 0 % kebenaran, ada asap selalu ada percik api)

Catatan:
Mohon maaf sebelumnya untuk pak Rocky Gerung karena namanya saya cantumkan disini, bila tidak berkenan akan saya hapus tulisan ini.

Selasa, 24 Januari 2017

Deradikalisasi, Haruskah Kebencian Dilawan Kebencian

Mungkin benar bahwa bicara itu memang lebih gampang ketimbang mempraktekkannya. Banyak atau sering mendengar ajakan moral untuk tidak mudah terpancing dengan isu kebencian tentang SARA, serta jangan mudah terpancing dengan provokasi yang mengajak kita untuk saling membenci satu sama lain.



Namun, membaca beredarnya cuitan di twitter tentang spanduk pelarangan pemutaran wayang, serta disuguhi gambar tentang siapa orang-orang yang menggoreng isu tersebut, seolah diperlihatkan dua sisi yang amat bertentangan.

Satu sisi memperlihatkan sifat kemanusiaannya, namun disisi lain justru menampilkan sisi yang tidak jauh berbeda dengan orang atau golongan (gerombolan istilah mereka) yang selama ini selalu ditentangnya.

Penyebaran gambar spanduk serta dibubuhi intro cuitan yang "halus" di twitter, tak ubahnya seperti putung rokok atau obat nyamuk bakar yang sengaja dibuang di hutan bergambut agar membakar habis seluruh hutan. Mudah, murah, tanpa jejak dan bisa dengan mudah cuci tangan agar tetap bersih tak berbau asap kebakaran.

Cara yang serupa tapi tak sama, mencoba menghilangkan sikap radikal (baca: saling membenci) yang belakangan ini makin marak, namun dengan menggunakan cara yang hampir sama, yaitu memupuk pula benih-benih kebencian pada pihak yang lain. 

Apa memang hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan untuk menghilangkan sikap radikal saat ini, atau mungkin mereka lagi pada malas berpikir untuk mencari cara lain? Atau mungkin mereka tengah diburu waktu yang semakin menyempit? Entahlah....

Tak sadarkah bahwa benih yang ditabur suatu saat akan tumbuh, membesar dan semakin besar, benih-benih yang ditanam saat ini akan berbuah suatu saat nanti. Disaat kekuasaan datang silih berganti, saat mereka sudah tidak disini lagi, saat benih-benih kebencian yang ditanam akan bertumbuh digenerasi berikutnya.

Dan sejarah akan berulang, suatu saat akan tiba masanya benih-benih para penggerak de-radikalisasi ini akan berubah menjadi sosok-sosok radikal berikutnya.


Minggu, 02 Oktober 2016

PILKADA DKI, Berebut Simpati si Kaya vs si Miskin

Ibu Kota adalah cerminan Indonesia, apa yang dimiliki negeri ini dipantulkan dengan baik oleh Jakarta. Keragaman dan tentu saja yang tidak bisa ketinggalan adalah potret kesenjangan perekonomian dan juga pendidikan, kelas menengah bawah dan kelas menengah atas terlihat dengan jelas disana.

Dalam kaitannya dengan pilkada DKI, strategi merebut simpati dan hati dari dua kasta ibu kota ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan mengkotak-kotakan mereka dalam beberapa sub bagian. Seperti berdasarkan bendera politik mereka merah, hijau, kuning, biru, dll, atau berdasarkan kesamaan agama maupun kesukuan. Menjadi lebih gampang dalam memetakan kebutuhan dan keinginan mereka, yang secara otomatis juga akan labih mudah mengatur strateginya.

Kelas Menengah Keatas

Bagi menengah atas yang memiliki penghasilan ekonomi diatas rata-rata tentunya tidak lagi dipusingkan dengan kebutuhan perut keluarga mereka. Kasta ini tidak lagi dibebani pikiran besok makan apa, tapi sudah bisa berpikir besok enaknya makan dimana lagi ya. Atau kuliner mana lagi yang perlu dicoba, restoran atau rumah makan mana lagi yang mesti dikunjungi.

Selain itu golongan ini juga memiliki tingkat pendidikan yang baik serta sangat melek akan teknologi, kemampuan ekonomi mereka memungkinkannya untuk mendapatkan informasi teknologi dengan sangat baik. Melalui smartpone atau gaged, mereka bisa dengan mudah mengakses berita dan perkembangan dunia lewat koneksi media sosial dan internet yang tersedia.

Informasi dan pengetahuan yang melimpah membuat mereka tahu bagaimana kota-kota di belahan dunia lain, bagaimana kebersihan, ketertiban dan keindahan sebuah kota menjadi nyaman untuk ditinggali. Hal itu membuat warga kelas menengah atas punya keinginan untuk mendapatkan kenyamanan yang sama, sebuah kota yang ideal yang seharusnya layak untuk dihuni.

Dan dengan tidak dipusingkan lagi oleh kebutuhan perut, kasta ini bisa menjadi pemilih aktif. Mendukung calon dengan lebih total, tidak sayang menggunakan sumber daya yang dimilikinya, seperti uang, tenaga dan pikirannya untuk pemenangan calon mereka.

Mereka akan cocok dengan gaya pemimpin yang mampu menertibkan warga dan memiliki konsep kota yang nyaman untuk ditinggali. Kota yang bisa nyaman untuk keluarga mereka, nyaman ketika berangkat kerja, nyaman ketika akhir pekan tiba, dan segala bentuk kenyaman bagi kehidupan mereka.

Gusur, relokasi dan tertibkan tidak menjadi masalah, asal bisa menyamankan mereka.

Kelas Menengah Bawah

Kebalikan dari kasta diatas, ini adalah golongan yang masih disibukan oleh pertanyaan besok makan apa, bukan besok makan dimana. Hari mereka masih diisi oleh kerja untuk sesuap nasi, dan bahkan mungkin lebih memilih uangnya untuk makan daripada untuk pendidikan. Berita hanya bisa dinikmati lewat televisi, teknologi hanya barang yang bisa dilihat tapi sulit untuk dimiliki.

Yang penting ada, murah dan meriah masih menjadi tujuan, kalau ada dan lebih murah dipinggir kali mengapa mesti cari yang lain, kalau ada yang membeli dagangannya lebih banyak meski menganggu kenyamanan kenapa harus pindah. Mereka masih berpikir sederhana, ada uang bisa makan, tidak ada uang keluarga bisa kelaparan.

Dan karena masih dipusingkan oleh persoalan perut, urusan politik masuk daftar terakhir dalam prioritas mereka. Pemilihan kepala daerah masih sebatas perayaan lima tahunan, syukur-syukur ada politikus licik yang bagi -bagi duit, mereka bisa sedikit ikut berpesta-pora. Dukung-mendukung hanya bila menguntungkan mereka, ikut kampanye hanya agar dapat kaos, nasi bungkus dan uang sekadarnya.

Oleh karenannya penggusuran dan penertiban adalah satu hal yang menyakitkan bagi kasta ini, dengan penggusuran mereka dijauhkan dari sumber-sumber penghasilan mereka, dijauhkan dari lokasi strategis mata pencaharian mereka, relokasi menjadikan mereka seperti memulai lagi dari awal usaha yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun.

Secara otomtis mereka akan mendukung calon yang peduli pada posisi mereka, calon yang bisa melihat dan merasakan apa yang juga biasa mereka lihat dan rasakan, calon yang bisa memahami mereka secara utuh, bukan hanya sebatas data-data tapi juga berdasar atas realita yang ada.

Namun pada akhirnya strategi apapun yang diterapkan, apakah merebut simpati yang kaya, merebut simpati yang miskin, merebut simpati mama muda, ataupun merebut simpati generasi muda itu adalah sah-sah saja. Asal jangan membawa pilkada kearah SARA, karena itu bukan strategi yang keren........