Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

PILKADA DKI, Berebut Simpati si Kaya vs si Miskin

Ibu Kota adalah cerminan Indonesia, apa yang dimiliki negeri ini dipantulkan dengan baik oleh Jakarta. Keragaman dan tentu saja yang tidak bisa ketinggalan adalah potret kesenjangan perekonomian dan juga pendidikan, kelas menengah bawah dan kelas menengah atas terlihat dengan jelas disana.

Dalam kaitannya dengan pilkada DKI, strategi merebut simpati dan hati dari dua kasta ibu kota ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan mengkotak-kotakan mereka dalam beberapa sub bagian. Seperti berdasarkan bendera politik mereka merah, hijau, kuning, biru, dll, atau berdasarkan kesamaan agama maupun kesukuan. Menjadi lebih gampang dalam memetakan kebutuhan dan keinginan mereka, yang secara otomatis juga akan labih mudah mengatur strateginya.

Kelas Menengah Keatas

Bagi menengah atas yang memiliki penghasilan ekonomi diatas rata-rata tentunya tidak lagi dipusingkan dengan kebutuhan perut keluarga mereka. Kasta ini tidak lagi dibebani pikiran besok makan apa, tapi sudah bisa berpikir besok enaknya makan dimana lagi ya. Atau kuliner mana lagi yang perlu dicoba, restoran atau rumah makan mana lagi yang mesti dikunjungi.

Selain itu golongan ini juga memiliki tingkat pendidikan yang baik serta sangat melek akan teknologi, kemampuan ekonomi mereka memungkinkannya untuk mendapatkan informasi teknologi dengan sangat baik. Melalui smartpone atau gaged, mereka bisa dengan mudah mengakses berita dan perkembangan dunia lewat koneksi media sosial dan internet yang tersedia.

Informasi dan pengetahuan yang melimpah membuat mereka tahu bagaimana kota-kota di belahan dunia lain, bagaimana kebersihan, ketertiban dan keindahan sebuah kota menjadi nyaman untuk ditinggali. Hal itu membuat warga kelas menengah atas punya keinginan untuk mendapatkan kenyamanan yang sama, sebuah kota yang ideal yang seharusnya layak untuk dihuni.

Dan dengan tidak dipusingkan lagi oleh kebutuhan perut, kasta ini bisa menjadi pemilih aktif. Mendukung calon dengan lebih total, tidak sayang menggunakan sumber daya yang dimilikinya, seperti uang, tenaga dan pikirannya untuk pemenangan calon mereka.

Mereka akan cocok dengan gaya pemimpin yang mampu menertibkan warga dan memiliki konsep kota yang nyaman untuk ditinggali. Kota yang bisa nyaman untuk keluarga mereka, nyaman ketika berangkat kerja, nyaman ketika akhir pekan tiba, dan segala bentuk kenyaman bagi kehidupan mereka.

Gusur, relokasi dan tertibkan tidak menjadi masalah, asal bisa menyamankan mereka.

Kelas Menengah Bawah

Kebalikan dari kasta diatas, ini adalah golongan yang masih disibukan oleh pertanyaan besok makan apa, bukan besok makan dimana. Hari mereka masih diisi oleh kerja untuk sesuap nasi, dan bahkan mungkin lebih memilih uangnya untuk makan daripada untuk pendidikan. Berita hanya bisa dinikmati lewat televisi, teknologi hanya barang yang bisa dilihat tapi sulit untuk dimiliki.

Yang penting ada, murah dan meriah masih menjadi tujuan, kalau ada dan lebih murah dipinggir kali mengapa mesti cari yang lain, kalau ada yang membeli dagangannya lebih banyak meski menganggu kenyamanan kenapa harus pindah. Mereka masih berpikir sederhana, ada uang bisa makan, tidak ada uang keluarga bisa kelaparan.

Dan karena masih dipusingkan oleh persoalan perut, urusan politik masuk daftar terakhir dalam prioritas mereka. Pemilihan kepala daerah masih sebatas perayaan lima tahunan, syukur-syukur ada politikus licik yang bagi -bagi duit, mereka bisa sedikit ikut berpesta-pora. Dukung-mendukung hanya bila menguntungkan mereka, ikut kampanye hanya agar dapat kaos, nasi bungkus dan uang sekadarnya.

Oleh karenannya penggusuran dan penertiban adalah satu hal yang menyakitkan bagi kasta ini, dengan penggusuran mereka dijauhkan dari sumber-sumber penghasilan mereka, dijauhkan dari lokasi strategis mata pencaharian mereka, relokasi menjadikan mereka seperti memulai lagi dari awal usaha yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun.

Secara otomtis mereka akan mendukung calon yang peduli pada posisi mereka, calon yang bisa melihat dan merasakan apa yang juga biasa mereka lihat dan rasakan, calon yang bisa memahami mereka secara utuh, bukan hanya sebatas data-data tapi juga berdasar atas realita yang ada.

Namun pada akhirnya strategi apapun yang diterapkan, apakah merebut simpati yang kaya, merebut simpati yang miskin, merebut simpati mama muda, ataupun merebut simpati generasi muda itu adalah sah-sah saja. Asal jangan membawa pilkada kearah SARA, karena itu bukan strategi yang keren........

Kamis, 28 April 2016

Reklamasi Teluk Jakarta (dan) Tanda Tanya

Giant sea wall

Sebagai orang luar Jakarta sebetulnya tidak begitu ngaruh dan berdampak dengan adanya reklamasi teluk di Jakarta sana. Mau ditambah 10 lagi atau seluruh perairan Jakarta diuruk dijadikan daratan semua tetep tidak ada pengaruhnya buat saya.

Hanya saja sebagai warga Indonesia yang memiliki ribuan pulau, yang luasnya luar biasa, yang pulau-pulaunya memiliki keindahan mempesona, yang pembangunan antara timur dan barat masih sangat timpang, kok ya jadi ngerasa kebangeten.

Katanya sang gubernur sih sangat menguntungkan "Jakarta", dalam tanda kutip karena tak jelas apakah yang dimaksud adalah Jakarta dengan kesulurahan warganya, atau Jakarta sebagai pemerintahan, atau hanya segelintir orang Jakarta saja.

Kalau saya coba bayangkan ke lima tahun kedepan, ketika pembangunan semua pulau sudah selesai, ketika gedung-gedung dan seluruh aneka fasilitas yang hendak dibangun disana sudah selesai. Maka yang terbayang adalah aneka dampak (menururut versi saya), yang mungkin akan terjadi di sana.

Tebayang banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk merawat dan menjalankan seluruh aneka kegiatan, usaha, dan jasa yang ada di sana. Dan tentunya seperti yang sudah-sudah tak mungkin hanya warga Jakarta yang akan dipekerjakan disana. Sumber daya manusianya tentu akan diambilkan lagi dari putra-putri daerah yang memiliki keunggulan. Putra-putri daerah yang terbaik akan "dipaksa" lagi keluar dari daerahnya untuk berbondong-bondong menuju ke pusat pemerintahan.

Terbayang pula keeksklusifan wilayah tersebut, akses terbatas yang hanya dimiliki oleh pemilik dan pemangku kepentingan disana membuat garis tegas si kaya dan miskin. Belum lagi kemungkinan adanya penyalah gunaan fasilitas eksklusif seperti itu, seperti pabrik narkoba, prostitusi kelas atas, bahkan mungkin saja salah satu pulaunya akan menjadi kasino terselubung.

Dan juga dampaknya terhadap lingkungan di sekitar pastinya juga akan terjadi, perubahan pada sungai saja sudah berdampak buruk pada lingkungan apalagi ini menguruk lautan yang menjadi muara sungai yang ada.

Seandainya benar-benar mencintai negeri tercinta ini, kenapa pula tidak mengalihkan seluruh atau sebagian dana reklamasi tersebut untuk memajukan pulau-pulau mempesona yang sudah ada. Kenapa rasa cintanya hanya begitu besar pada ibu kota, namun menjadi ciut bila menengok ke Indonesia timur yang semakin jauh tertinggal.

Sebagai rakyat apalah-apalah, hanya bisa nyengir dan semakin menjadi-(jadi) bagian dari segelintir rakyat yang gagal paham terhadap arah yang hendak dituju oleh pemerintahan saat ini (ijin reklamasi ada di pemerintah pusat).

sumber: Marja News

Sabtu, 07 November 2015

Malas Menulis atau Malas Mempublish

Enaknya disebut malas menulis atau malas mempublish, atau sebetulnya memang murni malas menulis tapi dengan dalih malas mempublish.

Terus terang (bukan terang terus), semenjak sekolah menulis di Kompasiana urusan tulis menulis pada saat ini menjadi hal yang mudah (sombong boleh dong), meskipun hanya menghasilkan tulisan murahan dan pasaran.

Namun bila menenggok kebelakang tetang sejarah tulis-menulis dari penulis, sesungguhnya cara menulis yang menghasilkan tulisan murahan dan pasaran yang sering penulis buat hingga hari ini, merupakan pencapaian yang sungguh amat luar biasa. 

Bagaimana tidak, jaman dahulu untuk mengembangkan sebuah ide menjadi satu paragraf saja rasanya sungguh menjadi beban yang berat, butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menyelesaikannya.

Dan sekarang, dari proses memperoleh ide, mengembangkannya, menuliskannya, mengeditnya (beberapa tulisan tanpa perlu editan) hingga menayangkannya hanya butuh setengah hari saja, bahkan ada beberapa tulisan yang hanya butuh waktu 3-4 jam.

Cuma sayang ide dan tulisan yang bisa cepat tayang tersebut bukanlah jenis penulisan yang menjadi minat penulis, jenis tulisan opini politik, hiburan, atau sosial, yang memang dengan mudah menemukan idenya. Mulai dari berita, blog keroyokan macam kompasiana, hingga status di medsos bisa menjadi sumber ide yang bisa dikembangakan menjadi sebuah tulisan.

Yang menjadi minat sebenarnya dari penulis adalah filsafat (meski filsafat-filsafatan) dan juga tasawuf meski hanya sebatas dari kacamata seorang pembelajar.  

Tapi justru disinilah akar masalahnya, tulisan terutama tentang pengalaman sebagai pembelajar dan pemerhati tasawuf, ada beban tersendiri setiap akan mempublish sebuah artikel yang bertema per-tasawuf-an.

Tulisan yang biasanya saya masukkan dalam kategori uneg-uneg dan aneh-aneh, adalah bentuk renungan saya terhadap aneka pelajaran, pengajaran dari para sesepuh, sahabat dan juga dari buku-buku tasawuf.

Setiap akan menayangkan sebuah tulisan dengan tema tersebut selalu saja ada keengganan, ada saja alasan-alasan yang bersliweran, ada saja aneka penyangkalan bermunculan, namun juga selalu ada saja pembenaran yang datang kemudian.

Beraneka alasan ketika enggan menayangkan sebuah tulisan yang pada akhirnya tertutup juga oleh pembenaran, dengan dalih ingin berbagi atau ingin tulisan saya suatu saat dibaca oleh anak cucu. (Padahal aslinya adalah sebentuk nafsu yang samar, nafsu atau keinginan untuk dianggap hebat, ingin dianggap sudah nyufi, ingin dianggap makrifat, dsb).


Senin, 12 Oktober 2015

Penyerapan Anggaran, Berani Karena Benar Takut Karena Salah

MUNGKIN  lho ya jadi belum tentu benar (makanya pake huruf kapital, miring, tebal dan digarisbawahi), melambatnya penyerapan anggaran terutama didaerah bahkan DKI juga, katanya disebabkan oleh ketakutan para kepala daerah menggelontorkan APBD-nya.

Ketakutan itu katanya (lagi) didasari oleh rajinya KPK mencokok pejabat korup, yang kemudian diekori oleh kejaksaan dan kepolisian biar semakin dipercaya sama rakyat (baguslah, biar koruptor musnah).

Membuat pejabat daerah malu-malu dan takut untuk mengembangkan dan membangun daerahnya. Takut dicokok dan juga malu (malu-maluin para senior kalau sampai ketangkep), jadinya ya gitu lah banyak anggaran yang belum digunakan.

Dan hasilnya bisa ditebak, melambatnya pembangunan dan juga belanja daerah, berdampak pada banyak hal. Seperti perbaikan sarana dan prasana untuk masyarakt hingga berdampak kepada pelemahan rupiah (katanya lagi).

Tak berlebihan pula jika beberapa waktu lalu anggota dewan (tidak) terhormat hendak membatasi gerak KPK untuk hanya mengurus korupsi diatas 50 Milyar saja, dan juga KPK hendaknya meminta ijin terlebih dahulu untuk melakukan penyadapan.

Kelakuan mereka ini lebih mirip seperti gerakan menyelamatkan tuyul-tuyul mereka di daerah, sebuah ketakutan parpol terhadap berkurangnya setoran dari para tuyul mereka.

Bagaimana tidak, kepala daerah sekarang inikan seperti pundi-pundi untuk partai pendukungnya, bukankah mereka itu sering disebut petugas partai, bukan petugas pelayanan masyarakat.

Kalau kepala daerah ini benar-benar tidak ada kong kalikong atau slintat-slintut (baca: korupsi) dalam setiap proyek-proyek yang mereka kerjakan, kenapa pula mesti takut dengan KPK, takut dibidik dan dicokok KPK.

Asal benar dan bersih dari unsur korupsi, tidak berniat menyisihkan receh untuk sesaji tuan dan nyonya besar, sekalipun dilaporkan oleh siapa saja termasuk oleh lawan politiknya kenapa mesti takut. Berani karena pasti berada dijalur yang benar dan takut pastilah ada udang dibalik rempeyek, ada uang di balik proyek........


Sabtu, 10 Oktober 2015

Mojok dot Co, Menikmati Rasa Berbeda Blog Keroyokan

Jalan-jalan dari blog satu ke blog lain sampailah pada blog Yusran Darmawan, disana kuketemukan petunjuk berikutnya. Sebuah peta yang menuju tempat tujuan berikutnya Mojok dot co, berhenti cukup lama disana, menikmati aneka suguhan yang lain dari biasanya.

Benar seperti yang digambarkan oleh bung Yusran dan juga sesuai dengan moto dari blog tersebut “Sedikit Nakal Banyak Akal”, menjadi ciri khas blog satu ini. Artikel berat yang dibikin ringan, penuh canda dan juga sindir menyidir.

Sindiran pada siapa saja, ya Jonru, Ust Yusuf Mansur, Ahok hingga ke presiden. Saling sentil dan senggol baik artikel ataupun akun sesama penulis disana mewarnai tiap artikel yang terbit. Seperti dalam manfaat mojok bareng, atau saling sindir saat mengulas sarjana abal-abal dan saya bukan sarjana abal-abal.

Hubungan atau keterikatan penulis bukan pada fasilitas komentar atau pemberian vote pada masing-masing artikel, tapi pada saling mepromosikan akun atau artikel penulis lain ditiap-tiap tulisan yang diterbitkan.

Di blog keroyokan satu ini komentator malah dibiarkan sesukanya, tak ada balasan dari sang empunya lapak. Habis diterbitkan, tuan rumah meninggalkannya begitu saja, terserah tamunya mau makan, tidur, atau hanya numpang buang hajat tak menjadi perhatian dari tuan rumahnya.

Mungkin disebabkan komentator ini tidak dituntut untuk registrasi resmi lewat mojok dot com, tapi bisa lewat akun apa saja baik facebook, twitter, g+, dll. Jadi penulisnyapun merasa tidak wajib untuk membalas tiap komentar yang masuk dalam artikelnya.

Dan juga tidak ada fasilitas vote, yang ada hanya tombol share lewat aneka jejaring sosial.

Kekurangannya menurut saya pribadi adalah sikap permisif dan bahkan cenderung membela para perokok. Meski saya tidak anti namun cara para penulis disana membela rokok terasa berlebihan.

Berikut syarat dan ketentuan untuk bisa menayangkan tulisan disana (saya sendiri belum mampu menulis seperti artikel disana ringan, penuh canda, satir, dll):

  • Semua tulisan dan gambar yang masuk tetap menjadi hak milik kontributor. Jika tulisan atau gambar layak muat, kami akan segera
    menghubungi yang bersangkutan.
  • Kontributor yang karyanya dimuat di Mojok.co berhak mendapatkan sejumlah uang honorarium.
  • Kontributor yang karyanya dimuat di Mojok.co boleh menerbitkan ulang karyanya di tempat atau media lain, minimal setelah satu minggu tayang diMojok.co, dengan syarat mencantumkan bahwa pernah atau pertama kali dipublikasikan di Mojok.co.
  • Jika setelah seminggu karya dikirimkan belum mendapat balasan dari kami, penulis berhak menerbitkan atau mengirimkannya ke media lain.
  • Sebelum tulisan ditayangkan, MDC berhak menyunting tulisan atau gambar kontributor.
  • Kontributor yang pertama kali mengirimkan karyanya wajib melampirkan identitas (nama lengkap, akun media sosial dan foto pribadi) dan atribusi (profil singkat).
Karya dikirimkan melalui surel ke alamat redaksi@mojok.co.

Senin, 05 Oktober 2015

Blogger Dan Scammer

Scammer adalah istilah untuk pelaku penipuan dengan menggunakan media online, seperti facebook, twitter, situs perjodohan, atau situs-situs yang lainnya.

Dan dari hasil sowan ke mbah google, ternyata scammer ini dibedakan menjadi dua jenis aliran utama.

Scammer harta, penipu yang mengincar harta kekayaan korban. Banyak kisahnya yang diangkat dan dilaporkan pada pihak berwenang. Mungkin karena korban scammer jenis ini lebih mudah melaporkan juga lebih mudah menunjukkan buktinya.

Korban scammer harta dalam melaporkan tindak kejahatan yang menimpa dirinya tidak terlalu banyak beban, dan transfer uang, atau pemberian sejumlah harta kekayaan dapat dengan mudah dijadikan sebagai bukti. 

Scammer cinta, penipu yang mengincar cinta dari korbannya atau menjurus kearah tindak kejahatan asusila. Menipu korban untuk diajak berhubungan intim, meminta foto bugil dan sejenisnya, merengut kehormatan dari korbannya.

Karena yang hilang adalah kehormatannya, maka korban scammer cinta ini lebih sulit untuk melaporkan tindak kejahatan yang dialaminya, mencari buktinya pun juga akan mengalami kesulitan. Kehormatan dari abg yang keperawanannya terenggut, atau kehormatan emak-emak dari keluarga baik-baik yang menjadi korban ulah scammer bejat.    

Lantas dunia nge-blog dan bloger pengelolanya apakah juga bisa menjadi seorang scammer? Selama masih bisa berlindung dibalik topeng anonim, maka blogger juga sama seperti pengguna akun facebook, twitter, dll, bisa menciptakan kesempatan yang sama pula.

Seperti saya misalnya, yang berlindung dibalik akun abal-abal seperti ini, maka dengan mudah juga bisa mencitrakan diri menjadi seorang bijak, petuah-petuah humanis, petuah-petuah anti keributan, humoris, dll.

Padahal, dibalik semua itu bisa saja saya ini seorang scammer penghasut yang menggiring pembaca saya untuk menjadi pendendam, merusak pertemanan, memancing keributan, tukang kompor perpecahan, dll. Dibalik topeng bijak saya bersembunyi sosok dewa Ares yang haus akan peperangan.

Kejahatan scammer bisa terjadi pada siapa saja, mungkin tidak pada  diri anda, tapi bisa saja terjadi pada anak anda, keponakan anda, saudara anda, dan lain sebagainya. Maka ada baiknya selalu ingat pesan bang napi, waspadalah, waspadalah, waspadalah......


Jumat, 02 Oktober 2015

Di Luar

Luar, di luar, keluar, dikeluarkan di luar, itulah beberapa variasi kata luar.

Luar (arti bebas), berarti tidak merupakan bagian dari sesuatu itu sendiri, atau terpisah dari sesuatu yang ada batasannya.

Di luar, berarti tidak di dalam, seperti di luar rumah, di luar kamar, di luar celana (dompetnya).

Keluar, berarti sesuatu berada di luar batasan dengan sengaja (dipaksa berada di luar) maupun tidak sengaja. (dompetnya diambil atau dompetnya terjatuh)

Dikeluarkan di luar, mengeluarkan sesuatu yang sebelumnya berada dalam dua ruang atau dua batasan dalam waktu hampir bersamaan. (dompet yang terjatuh dari celana membuat uang yang ada didalamnya berserakan).   

Luar indentik dengan kebebasan, tidak adalagi pembatasan, misalnya di luar penjara, keluar dari lilitan hutang, keluar dari sangkar, dll. Dan berada di luar membuat orang atau sesuatu terlihat lebih jelas karena tidak ada halangan yang membatasinya.

Orang yang berada di luar rumah, berarti bisa melihat bentuk rumah lebih utuh dibanding hanya melihat dari dalam. Uang yang diambil dari dalam dompet yang dikeluarkan dari dalam kantong celana, akan terlihat lebih jelas (spesifik), berapa jumlahnya, bagaimana bentuknya, dll.

Berada di luar membuat seseorang akan berubah sudut pandangnya, seekor katak ada baiknya sesekali pergi jalan-jalan keluar tempurungnya. Tapi kalaupun sudah nyaman memilih tetap berada dalam tempurung itu juga baik, karena itu merupakan satu pilihan.


Moga cara penulisannya bener....


Senin, 24 Agustus 2015

Sikap MUI Jatim Berlebihan Terhadap Tuhan Dari Banyuwangi

Membaca sikap MUI Jatim terkait nama Tuhan tukang kayu asal banyuwangi (Tempo) terlihat berlebihan. MUI harusnya membaca terlebih dauhulu tentang asal dan usul munculnya kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, mepelajari terlebih dahulu kenapa kata Tuhan menjadi terjemahan dari Sang Maha Pencipta.


Seperti disebut dalam wikipedia tentang sejarah atau asal-usul kata Tuhan, berasal dari kata tuan (Melayu). Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik.


Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang bersifat insani, menjadi "Tuhan" yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leidjdecker yang terbit pada tahun 1733. Kata yang diterjemahkan oleh Brouwerius sebagai "Tuan"—sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, inggris Lord, Belanda Heere, melalui Leijdecker berubah menjadi "Tuhan" dan kemudian, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang awalnya ditemukan oleh Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.


Jadi sebetulnya kata Tuhan  sendiri dalam ranah keyakinan Islam tidak dikenal, Tuhan hanya menjadi terjemahan lain atau penyebutan lain untuk Yang Maha Pencipta yang muncul di dalam bahasa terjemahan Indonesia.


Maka bila MUI mempermasalahkan pemberian nama Tuhan pada tukang kayu asal Banyuwangi sebetulnya amat dan sangat berlebihan, karena itu bukan hal yang mendasar dalam pemaham Islam. Dalam Islam sendiri sedari awal sudah memperkenalkan atau menyebut sang Pencipta dengan sebuatan Alloh (ditulis dengan huruf latin).


Sikap MUI ini akan semakin membuat lembaga ini terkenal dan dikenal hanya mengurusi hal yang sepele, lembaga yang semakin diremehkan saja fatwa-fatwa-nya.


Selasa, 18 Agustus 2015

Kasihan

















Kuda krempeng itu
Menarik kereta kencana di karnaval tujuh belasan
Kereta kencana yang dihias dekorasi menawan
Sound system menggelegar, mengalun lagu kesenangan

Diatas atas kereta itu
Naik puluhan orang berbagai kostum
Pengusaha, wartawan, pedagang, dokter, hansip, semua tersenyum
Kusir dengan pecut berayun, pongah dengan seringai dikulum

Di jalan protokol itu
Taburan bunga dan lumpur silih berganti
Sorak sorai dan hujatan datang dan pergi

Kuda kerempeng itu
Dipuji menjadi kuda hitam ditiap perlombaan
Postur tubuh, bahasa tubuh, bentuk kaki, cara jalan
Menunjukkan dia kuda unggulan
Pun dicaci menjadi kuda yang tidak selesai balapan
Kuda lemah yang takut pada kusir arogan

Senyum kuda itu
Tetap tersungging, diantara bunga dan lelumpuran
Diantara pujian dan cacian
Semua diterima atau terpaksa menerima
Kebetulan dia yang ada didepan sana

Orang berkostum itu
Tetap menari
Tarian yang semakin menjadi
Tak mau tahu dan tak merasa malu
Karena didepan, kuda siap membisu dan membatu

Akankah tetap seperti itu
Dipuji dan dihujat
Bunga dan lumpur
Senyum senang dan meringis kesakitan

Kuda itu
Tak inginkah sedikit berani
Tak inginkah sedikit dengar nurani
Menjadi kuda mandiri
Harum tegakan kebenaran meski sebentar
Dikenang jadi kuda dengan nama besar
Dari pada abadi menjadi kuda yang inkar

Penumpang itu
Tak peduli pada harum namamu
Hanya butuh tubuhmu
Tuk tameng lindungi lemparan batu
Tuk tetap bisa menari dan bersuka diatas keretamu

Kasihan....
Entahlah, karena kulihat kuda itu terlihat nyaman



Gambar: http://www.antaranews.com/berita/367015/hut-ke-486-dki-jaya-akan-sangat-meriah

Minggu, 16 Agustus 2015

70 Tahun (Belum) Merdeka, (Masih) Di Jajah Saudara Sendiri



Barisan motor itu melintas dengan cepat, terlihat gagah, besar dan penuh wibawa


Kompak berjalan beriringan dipandu oleh aparat, untuk menjaga keamanan dan keselamatan katanya


Ayam, kambing, pejalan, onthel, becak, andong, ojek, minggir dulu, tempatmu bukan disini


Lampu merah, rambu-rambu copot dulu, tak butuh itu


Merayakan kemerdekaan negeri ini katanya


Tapi apakah memaknainya dengan merdeka melintas di jalan tanpa ada hambatan


Menindas saudaranya yang lain, yang juga memiliki hak yang sama di atas jalanan


Tapi apakah memakanainya harus memperkosa aturan dan rambu simbol tegaknya kesadaran


Menjajah saudaranya yang lain, yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh keselamatan dan kenyamanan


Itukah makna sebuah kemerdekaan bagimu.......


Hujan Buatan (Bisakah) Mengacaukan Perubahan Musim?

Ini hanyalah sebuah renungan tidak ada unsur ngilmiahnya sama sekali, didasari oleh aneka berita dan artikel yang berjejal menghiasi wajah televisi hingga media sosial, mengenai kekeringan yang tengah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.

Dan seperti biasanya, untuk mengatasi kekeringan tersebut dalam jangka pendek, pemerintah tengah menyiapkan atau merencanakan hujan buatan (merekayasa pembentukan awan). Cara ini mungkin sudah dilakukan kurang lebih 20 tahun terakhir, untuk mengatasi kemarau panjang dengan cara instan.

Cara instan yang mungkin berakibat tidak instan, proses menyegerakan hujan atau membuat hujan lebih dini atau memaksakan terjadinya hujan, berarti merubah dan mengabaikan turunnya hujan secara alamiah.

Proses alamiah terjadinya hujan memang tidak bakal sederhana, ada serangkaian aturan atau hukum alam yang mestinya dilalui supaya terjadi hujan. Tidak hanya faktor internal bumi tapi juga mungkin bulan, matahari dan seluruh semesta.

Kecepatan angin, perbedaan temperatur di seluruh permukaan bumi, jumlah hutan dan pohon yang masih tersisa, bahkan mungkin suara jangkrik dan kepak sayap kupu-kupu adalah rangkaian proses dari hujan itu sendiri.

Bila turunya hujan dari proses alamiah yang rumit kemudian di instankan dengan memotong rangkaian proses yang ada, apakah tidak mungkin justru akan berdampak pada perubahan dan anomali cuaca yang terjadi.

Akhir musim hujan hingga berakhirnya musim kemarau, yang seharusnya dibaca oleh alam sebagai rangkaian proses yang utuh, untuk mempersiapkan awal musim hujan berikutnya, malah dikacaukan oleh adanya hujan buatan yang terjadi ditengah musim kemarau.

Turunnya hujan buatan disaat masih musim kemarau, bukankah akan memberikan tanda pada seluruh alam untuk segera menyesuaikan situasi dan kondisinya. Harusnya jangkrik belum saatnya musim kawin pada akhirnya mempercepat proses tersebut, kupu-kupu yang seharusnya belum saatnya bermigrasi harus dipaksa untuk pindah lebih awal, dsb.

Proses penyesuaian dari alam terhadap hujan buatan tersebut, bukankah pada akhirnya juga akan mempengaruhi seluruh sendi kehidupan (fungsi) dari alam itu sendiri. Yang pada akhirnya juga berdampak pada perubahan cuaca dan perubahan perilaku alam tersebut hingga puluhan atau ratusan tahun kedepan.

Sudah seharusnya manusia beserta negara tentunya, tidak hanya serius memcahkannya dalam jangka pendek saja tapi juga mencari penyelesaiannya untuk jangka panjang, sangat panjang....




Selasa, 04 Agustus 2015

BPJS, Benarkah Si Kaya Membiayai Si Miskin?


Bukan hendak membela fatwa MUI mengenai BPJS Kesehatan, karena sayapun sepakat bahwa progam BPJS ini bermanfaat untuk seluruh rakyat tanpa memandang bulu. Asas saling tolong-menolong dan gotong-royong adalah kearifan lokal yang melekat pada jiwa rakyat Indonesia.

Tapi benarkah pendapat yang menyatakan bahwa yang kaya membiayai yang miskin?

Kalau berbicara masalah kesehatan, sejatinya antara si miskin dan si kaya memiliki kesamaan, sama-sama berharap diri mereka dan keluarganya tidak mengalami gangguan kesehatan atapun menderita kesakitan. Dan memiliki hak yang sama pula untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terbaik.

Namun bila melihat potret masyarakat seluruh Indonesia secara jujur, kira-kira siapa yang kondisi kesehatannya lebih baik. Terutama bila melihat pola kehidupan dari masing-masing golongan tersebut, si miskinkah? Atau si kayakah?

Si miskin terbiasa bangun pagi, ke tempat kerjanya lebih sering berjalan kaki atau naik sepeda. Kerjanyapun juga bukan sembarang kerja, lebih banyak melakukan olah fisik, petani dengan mencangkul, kuli dengan angkat-angkat beban, tukang becak dengan mengayuhnya, pedagang keliling dengan berjalan, memikul dan mendorong.

Sementara si kaya, mungkin sama-sama bangun pagi, namun tidur mereka mungkin lebih larut, lembur, tugas atau sekedar nongkrong bersama teman. Ke tempat kerja minim naik motor, angkot, trans, atau mobil pribadi. Kerjanya lebih banyak menggunakan otak dan pantat, otak untuk berpikir berjam-jam, sementara pantat untuk menyangga separuh tubuh bagian atas. Olah raga hanya sesekali itupun kalau sempat dan kalau sedang kepingin.

Pola makan, si miskin lebih banyak makan sayur dan air putih saja, jarang minum manis apalagi minuman bersoda. Sementara si kaya makan aneka daging olahan, coklat manis, es krim aneka rasa, minuman bersoda, dsb.

Lihat pula bagaimana anak-anak mereka, anak si miskin bermain layang-layang, ke sungai mencari ikan, bermain bola ditanah lapang, petak umpet, dan segala jenis mainan tradisional yang lain. Sementara anak si kaya, lebih betah main komputer, android, mesin game, dan lain sebagainya.

Belum lagi tentang kemelekkan mereka tentang pentingnya kesehatan? Siapa yang lebih peduli tentang kesehatan diri dan keluarga mereka? Si miskinkah? Atau si kayakah?

Si kaya, tidak perlu menunggu sakit mereka akan secara rutin mengontrolkan kondisi kesehatan mereka. Terlebih bila merasakan gejala badan tidak enak, maka dengan tangkas dan cepat pergi ke dokter, cek tensi, dan semacamnya.

Beda dengan si miskin yang alergi dengan hal berbau medis, selama rasa sakit masih bisa diabaikan dan ditahan (ora dirasa), maka selama itu pula tidak bakal beranjak ke puskesmas ataupun ke dokter. Kalau sudah tak tertahankan rasa sakitnya maka baru digotong ke rumah sakit sambil meringis. Bukan karena mereka abai terhadap kesehatan, namun mencoba berpikir realistis, kalau sampai ngamar dirumah sakit maka dapur tidak bakal bisa ngepul, mau makan apa anak dan istri mereka.

Dengan pola hidup seperti tersebut diatas, mana yang penggunaan BPJS-nya lebih banyak membutuhkan biaya? Si miskin yang mungkin hanya sesekali kena masuk angin dan sedikit demam, ataukah si kaya dengan ancaman kolesterol, gula darah, jantung, dan sebagainya?

Jadi sebetulnya siapa membiayai siapa? Dan rasanya kurang tepat juga kalau dikatakan bahwa si kaya membiayai si miskin, siapa tahu justru malah sebaliknya.........

Mungkin yang agak tepat adalah yang sehat membiayai yang sakit, tapi bila pada kenyataannya yang satu begitu merasakan sakit langsung menyegerakan diri berobat (sering menggunakan dana BPJS), sementara yang lainnya mati-matian menahan rasa sakit demi tetap bisa bekerja mencari sesuap nasi (jarang menggunakan dana BPJS). Maka yang lebih banyak memakai subsidi kesehatan, hasilnya juga akan sami mawon……..

Apapun itu, saya sepakat dengan pendapat yang meminta/menganjurkan sebaiknya iuran BPJS memang diniatkan secara ikhlas untuk bersedekah, maka hal tersebut jauh lebih bermanfaat. Membantu yang lebih membutuhkan apapun golongannya dengan tulus tanpa pamrih, karena suatu saat pasti akan mendapat balasannya. Mungkin bukan balasan kelak di akhirat, tapi bisa juga dalam bentuk selalu diberi kesehatan jasmani dan rohaninya........

Minggu, 02 Agustus 2015

Oleh-oleh dari Indonesiana - Tempo

Setelah buntu ide dan malas menulis di awal tahun, satu dua bulan ini kembali menemukan kembali semangat untuk menulis lagi. Menulis segala macam uneg-uneg yang liar berputar di kepala, agar tidak semakin bertambah kusut nyangkut didalam otak. Tulisan campur aduk, seperti bumbu dapur yang tumpah menjadi satu, bukan enak tapi malah bikin eneg (yo wis ben).

Seperti kebiasaan lama, pinginnya kembali “nyampah” di Kompasiana tempat membuang semua aneka tulisanku. Namun ndilalah kok ya ngepasi Kompasiana dalam perbaikan ke versi terbarunya, jadi kelancarannya sedang terganggu. Maka kuputuskan untuk sementara menulis diblog pribadi terlebih dahulu, namun kok ya berasa ada yang kurang (kurang dibaca).

Maka kuteringat akunku di blog Indonesiana-Tempo yang pernah kubuat beberapa waktu yang lalu. Satu dua tulisan kulepas disana, untuk menemukan takdirnya sendiri, diladang yang berbeda kubiasa menggembalakannya. Tak berharap banyak dibaca, hanya sebentuk keinginan (nafsu samar) untuk dipuji, dihargai, dilihat, diperhatikan, namun dengan dalih untuk berbagi.

Enak mana?

Entahlah.... Itu sangat relatif, bergantung pada niatannya....

Kalau niatnya hanya ingin sekedar menulis, tak peduli dibaca atau tidak, tak peduli jumlah klik-nya, murni ingin menulis thok, maka tak perlu Kompasiana atau Indonesiana, cukup menulis di blog pribadi saja.

Kalau niatnya ingin menulis dan dibaca atau diklik banyak orang (jumlah klik dianggap hal sangat penting), maka Indonesiana adalah tempat yang cucok. Indonesiana ini seperti Kompasiana versi lama (tahun 2012), sistem penghitungan kliknya bisa mencapai ratusan hingga ribuan.

Kalau niatnya ingin tempat terhormat semacam (HL atau ter..ter..), maka di Indonesianalah jagonya. Dengan jumlah penulis yang masih sedikit, maka jumlah tulisan yang tayangpun juga tidak sebanyak Kompasiana. Satu tulisan bisa nangkring berhari-hari bahkan berminggu dipajang di Etalase (semacam Highlight-nya Kompasiana). Bahkan tak perlu berebut menjadi Headline, di Indonesiana ada Tajuk Utama mirip HL-nya Kompasiana , yang akan memajang tulisan warganya, cepat atau lambat tulisan akan dipajang disana.

Namun kalau punya niatan untuk menjalin hubungan, ingin bertukar kabar, saling sapa, silaturahmi, ngrumpi, bahkan bila ingin saling tikam, saling serang (gagasan), maka Kompasiana adalah tempat yang sangat pas. Dengan mengusung semangat Sharing and Connecting-nya, telah berhasil menghubungkan dan mengikat warganya untuk saling berbagi, berbagi kabar, tulisan, dsb. Spirit Sharing and Connecting, itu yang saat ini masih belum ada di Indonesiana.


Sabtu, 01 Agustus 2015

Sekilas (Tentang) MUI

Kalau menengok sejarah berdirinya MUI (http://mui.or.id/sekilas-mui), didirikan pada era pemerintahan presiden Suharto, tepatnya pada tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta. Dimana pada saat itu tengah dilakukan pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.

Dari musyawarah tersebut, dihasilkan sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

Dan yang paling menarik dari sejarah berdirinya MUI tersebut adalah kutipan berikut ini, [[Dalam kaitan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia tidak bermaksud dan tidak dimaksudkan untuk menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, dan apalagi memposisikan dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. Majelis Ulama Indonesia , sesuai niat kelahirannya, adalah wadah silaturrahmi ulama, zuama dan cendekiawan Muslim dari berbagai kelompok di kalangan umat Islam.]]   

Menjadi lebih menarik ketika ditarik kemasa kekinian tentang fatwa BPJS yang telah dikeluarkan oleh MUI. Menimbulkan pro - kontra dikalangan muslim sendiri, bahkan menjadi hujatan dari kalangan non muslim (paling tidak tergambar dijejaring sosial). 

Sebetulnya kalau merujuk pada niat atau tujuan awal pendiriannya, menjadi wadah silaturrahmi ulama sekaligus tempat untuk bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim. Maka semua fatwa MUI didasarkan untuk memberikan kajian ke-Islaman dalam memandang dan menyikapi perkembangan baru yang ada di masyarakat.

Atau secara sederhana, para ulama, zuama dan cendekiawan muslim, ingin memberikan garis besar tuntunan apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan oleh muslim dalam menyikapi isu atau perkembangan baru yang muncul didalam masyarakat.

Dan jika, MUI bukanlah lembaga yang menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi lain atau memposisikan dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. Maka fatwa yang dikeluarkannya-pun sebetulnya tidak bisa mengikat apalagi menjadi keharusan dan kewajiban semua muslim untuk mengikutinya. MUI hanyalah lembaga kajian yang memang bertujuan untuk memberikan garis besar tuntunan kepada umat muslim tentang isu dan masalah kekinian.

Pada akhirnya, semua kembali pada masing-masing perseorangan dari setiap muslim, mau mengikuti atau tidak fatwa tersebut. Karena semua pertanggungjawaban dihadapan Tuhan juga akan kembali pada masing-masing personal, tidak bakalan bisa diwakilkan…..

Teknologi Jadul Amerika Menyimpan Air Hujan

Mungkin sudah berulang dibahas dan ditulis berbagai cara menanggulangi atau cara mengantisipasi kekeringan di musim kemarau. Tiap tahun telah banyak sumbangan pikiran dituang diberbagai media, jajaring sosial hingga warung kopi pinggir jalan. Namun kelihatannya pemerintah masih saja membuta-tuli, seolah tidak melihat dan mendengar aspirasi rakyat pinggiran.

Dan apa yang saya tulis ini mungkin juga sudah ribuan kali pernah ditulis ataupun dibicarakan orang lain pula, namun melihat kekeringan dan krisis air bersih yang saat ini tengah melanda berbagai daerah di Indonesia LAGI, maka dengan tangan tebal (beda tipis sama muka tebal) saya tulis juga artikel ini.

Kenapa mesti lélés teknologi kuno milik Amerika yang telah dibuang jauh sama penduduk di Amrik sono? Kenapa tidak menjiplak teknologi versi terbarunya saja?
Soalnya begini, para anak muda yang punya mimpi teknologi masa depan kini tengah merana, dipreteli kaki dan tangan kreatif mereka, dicokok menjadi tersangka. 


Maka dari itu, tidak perlu bicara muluk-muluk tentang teknologi masa depan, tapi cukup menggunakan teknologi jadul saja. Seperti yang terlihat pada gambar diatas adalah teknologi yang sangat cocok untuk kondisi Indonesia saat ini. Teknologi yang murah, mudah dan sangat tepat guna.

Teknologi ini tidak memerlukan puluhan atau ratusan anak negeri yang jempolan jebolan universitas luar negeri, tapi hanya membutuhkan niat dan tekat yang kuat maka bisa dengan mudah diterapkan diseluruh pelosok tanah air. Dan tak perlu waktu yang lama hingga puluhan tahun untuk mewujudkannya.

Dengan asumsi jumlah anggaran Rp. 1,4 M untuk tiap desa per tahun (kalau ditepati), maka tiap tahun satu desa bisa menyisihkan dana untuk membangun 2 buah tandon air, dalam jangka 5 tahun akan tersedia 10 tandon air yang siap digunakan untuk menghadapi musim kemarau (yang tiap tahun pasti datang).


Kenapa mesti menggunakan tower? Kenapa tidak ditaruh rata dengan tanah saja? Karena dengan menempatkan tandon air diatas memiliki beberapa keuntungan.

Tidak gampang dicemari oleh ulah iseng anak-anak, seperti dirusak, dikencingi, dimasuki kodok dan aneka jenis sampah lainnya. Tidak mudah untuk menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, dengan posisi diatas nyamuk akan sulit menjangkau karena anginnya lebih kencang. Dan akan lebih mudah untuk mengontrol serta mengalirkannya ke segenap penjuru desa.

Satu hal yang benar-benar perlu diperhatikan adalah komitmen warga desa untuk menggunakkannya hanya pada saat musim kemarau saja, disaat desa benar-benar krisis air bersih. 


Jumat, 31 Juli 2015

Pilkada, Waspadai Calon Lawan Bayaran atau Calon Boneka

Dalam pilkada serentak kali ini, beberapa wilayah mengalami kekurangan calon sehingga ada daerah yang hanya memunculkan calon tunggal. Karena belum ada aturan yang jelas maka pemilihan daerah yang memiliki calon tunggal akan terancam memundurkan jadwal pelaksanaannya.

Ada wacana untuk mangatur dan membuat undang-undang untuk mengatasi ketiadaan lawan tersebut. Salah satu wacanannya adalah diperbolehkannya LAGI pemilihan hanya satu calon saja, atau dengan menggunakan cara lama memakai bumbung kosong untuk mengatasinya.

Tapi sungguh sangat disayangkan bila cara pemilihan kembali seperti itu, memperbolehkan calon tunggal untuk maju memimpin suatu daerah. Masyarakat tidak diberikan pilihan untuk menimbang dan membandingkan sosok pilihannya, karena hanya ada satu calon saja. Atau bisa disebut ini bukan bentuk PEMILIHAN, tapi hanya sekedar acara seremonial untuk memastikan atau mengesahkan atau melegalitaskan calon tunggal tersebut menjadi kepala daerah (memberikan kesan seolah-olah sebuah pemilihan yang demokratis).

Namun disisi lain, bila memaksakan pemilihan dengan mensyaratkan minimal dua calon, selain terancam jadwal pemilihan menjadi mundur juga akan ada bentuk kecurangan lain yang siap mengintai. 

Kecurangan yang harus diwaspadai oleh KPU adalah, akan munculnya calon bayaran atau calon boneka. Calon yang sengaja dibayar atau sengaja diseting atau sengaja dimunculkan oleh calon utama atau calon terkuat. Untuk mengakali ketiadaan calon pesaing, yang tujuan utamanya adalah jelas untuk memudahkan sang calon tunggal untuk tetap bisa maju dan memenangi pilkada tersebut.

Munculnya calon tunggal ini memang memiliki banyak faktor, salah satu alasan yang utama adalah adanya calon yang terlalu kuat, hingga siapapun pesaingnya tidak bakal ada yang bisa menandinginya. Hal ini membuat calon pesainnya harus berpikir ribuan kali untuk mencari strategi cara pemenangannya.

Hitung-hitungan inipun pada akhirnya akan sampai pada besaran dana yang akan digelontorkan sang calon pesaing. Kalau hitung-hitungan ini akan membengkak dan pada akhirnya tetap memberikan peluang yang kecil untuk menang, maka para pesaing akan tahu diri. Lebih baik mereka menunda pencalonan kali ini, untuk mencari peluang  dipemilihan lima tahun didepan.   

Salah satu solusi yang mungkin bisa dipakai untuk mengatasi hal tersebut, adalah dengan mempermudah calon independen untuk maju dalam pemilihan kepala daerah. Mempermudah, terutama dalam persyaratan administrasinya, sehingga akan memunculkan banyak calon independen yang berani untuk maju mencalonkan diri.      

Seperti nasihat bijak bang napi, kejahatan itu terjadi bukan hanya kerena ada niat tapi juga karena adanya kesempatan......waspadalah....