Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 November 2015

Pemanggil Hujan (edisi belajar ngefiksi)

Di sela pepohonan gosong yang masih memancarkan panas sisa kebakaran, di salah satu sudut yang tidak begitu luas, secuil area yang masih bisa mereka selamatkan dari kobaran api yang menggila, para penghuni rimba tengah berkumpul.

Dipimpin Kura-kura tua dengan suara dalam, mencoba mengatasi hiruk pikuk dari aneka warganya.

“kita laporkan saja pada Baginda raja”, ujar Badak

“Percuma, Baginda Harimau berada jauh diseberang pulau”, kata Burung

“kita sewa pasukan negeri tetangga saja”, celetuk Monyet

“Aku nanti yang akan membiyayai”, imbuhnya pongah

“hu u u.... hu u u...”, teriakan dan gerutuan warga berbaur mejadi satu

Dahulu warga hutan termasuk monyet hanya membakar seperlunya saja, sekedar untuk bisa menanam tanaman yang menjadi kebutuhan pokok mereka. Namun Monyet tak cukup dengan rumpun pisang yang sudah dimiliki, dengan rakus membuka lahan lebih luas lagi.

“Lantas kalian mau apa”, sergah Monyet tanpa merasa bersalah

“Cukup...”,  pinta Kura-kura mencoba menengahi

“Saling menyalahkan tak akan membuat api padam di rimba kita”

“Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari sebelumnya, mungkin hanya turunnya hujan yang bisa memadamkan kebakaran hebat ini”, kata Kura-kura

“Lantas bagaimana cara mendatangkan hujan yang memang belum musimnya?”, tanya Gajah

“Di Timur ada satu tempat dimana masih ada rawa dengan sisa-sisa air yang menggenang, di sana tinggal si Katak pemanggil hujan”

“Bawalah Katak itu kesini untuk memanggil hujan, itu satu-satunya harapan kita sebelum seluruh rimba musnah terbakar”, lanjut Kura-kura

Monyet langsung menyeringai culas, “Aku yang akan berangkat, akan kubiayai semua perjalan ini”. Dengan cepat otaknya berputar, hujan akan menyelamatkan sisa-sisa pokok pisangnya yang siap panen satu bulan lagi. 

Kura-kura dan seluruh warga mengangguk setuju.
-------------


Setelah lama berputar, dari satu rawa ke rawa yang lain, dari satu genangan air ke genangan air lainya, akhirnya bertemu juga dengan sang Katak.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Katak  

“Aku ingin minta pertolonganmu, berapapun biayanya akan kupenuhi”, kata Monyet

“Pertolongan apa?”, Katak minta penjelasan  

“Minta tolong memanggilkan hujan, agar kebakaran rimba kami cepat padam”, jawab Monyet

“Baiklah, aku tidak minta imbalan apapun hanya saja suaraku saat ini serak, asap telah membuat tenggorokannku mengering”, jelas Katak

“Lantas bagaimana ini?”, seru Monyet sedikit panik

“Ambilkan aku air dari lubuk di sungai sebelah Utara rawa, air disitu mengandung akar yang bisa menyembuhkan serakku dengan cepat”, kata Katak

Dengan menyusuri sungai yang mengering sampailah Monyet di lubuk yang dimaksud, tengah dijaga kawanan Buaya.

“Mau apa kau”, bentak Buaya yang kelaparan

“Ijinkan aku mengambil sedikit air di lubukmu itu”, pinta Monyet
  
“Boleh, asal kaubawakan aku daging untuk makanan wargaku terlebih dahulu”, kata Buaya

“Ada kawanan Kerbau di padang rumput atas sana, kau bisa mendapatkanya”. Tambah Buaya

Berangkatlah Monyet ke padang rumput tersebut, disana banyak Kerbau liar keleleran dan kelaparan. Padang rumput itu semakin mengering, tidak banyak lagi rumput yang bisa dimakan.

“Bisakah kuminta dagingmu wahai Kerbau, biarkan kubawa seekor Kerbau yang telah mati di pojok sana”, pinta Monyet dengan wajah memelas.

“Untuk apa kau bawa daging Kerbau, bukankah engkau pemakan buah?”, tanya Kerbau

“Untuk kupersembahkan pada Buaya agar aku bisa memperoleh air di lubuknya, air yang dibutuhkan Katak untuk memanggil hujan”, jelas si Monyet

“Baiklah, boleh kau bawa daging itu, hanya saja aku minta satu syarat, bikinkan jembatan untuk menyeberang ke padang rumput di sebelah jurang sana”.     

“Uruk jurang itu supaya kawanan kami bisa lewat tanpa harus memutar, kawanan kami banyak yang kelaparan tak bakal mampu mencapai padang rumput diseberang bila mesti berjalan memutar”, jelas Kerbau

Monyet memutar otak dan menghitung ulang, yang ia punya hanyalah pohon-pohon pisang di kebunnya yang luas. Ribuan pohon pisangnya bila dimasukkan ke jurang tersebut bisa saja menjadi jembatan seperti yang diminta Kerbau.

“Tak apa, kukorbankan dulu pohon pisang itu” batin Monyet, “biarlah amarah warga dan para tetua mereda terlebih dahulu. Bila namaku baik, musim depan  aku pasti akan diperbolehkan menanam pisang lagi.”

Maka dipanggilah kawanan Monyet, bersama-sama mereka menaruh pohon pisang dijurang hingga bisa menjadi jembatan penghubung antara padang rumput disini dan di seberang sana. Tak banyak pohon pisang yang tersisa, tinggal serumpun seperti biasa mereka dapatkan.

Jembatan pisang telah selesai, kawanan Kerbaupun satu persatu pergi menyeberang, yang mati kelaparan ditinggalkan di padang.

“Trimakasih, amblilah daging yang kau butuhkan.” kata Kerbau pada Monyet

Bergotong royong kawanan Monyet membawa bangkai Kerbau ketempat Buaya, disana Monyet mendapatkan air yang dibutuhkan Katak. 

“Katak!! ini air yang kau minta tadi” teriak Monyet di kubangan tempat Katak tinggal

Sepi, tidak ada jawaban.

“Katak!”

.......

“Katak!”

......

Kresek..... Kresek..... terdengar suara di rerumputan dekat rawa. Monyet mendekat kearah suara itu, disibak perlahan rumput yang menghalangi pandangannya.

Ada ular melingkar disana, tengah tertidur pulas dengan perut membesar.


....... 

Jumat, 02 Oktober 2015

Kemana Viewer Fatin Di Yotube?

Langsung aja deh, lagi males puter-puter.

Melihat VC Fatin yang baru Away, yang hingga minggu pertama ini hanya bergerak dikisaran 100 rb. Bisa menjadi salah satu tolak ukur kegagalan dari manajemen dan juga Fatin didalamnya dalam mengemas dan juga menjual sebuah produk yang bernama suara Fatin.

Sebuah pencapaian yang jauh sekali bila dibanding dengan cara Rossa dan juga tim kreatif XFactor dalam mengemas sebuah produk yang layak untuk disajikan atau dipasarkan.

PADAHAL (pake huruf kapital), Rossa dan tim kreatif XFactor ini hanya punya waktu yang sempit, hanya di berikan waktu seminggu saja dalam mempersiapkan produknya untuk dipasarkan. Dan hebatnya lagi, mereka bisa membuat seorang yang tidak punya dasar-dasar bernyanyi yang baik diproses sedemikian rupa sehingga menjadi seorang penyanyi yang terlihat profesional, hanya dalam waktu hitungan bulan.

Sementara manajemen Fatin yang diberi lebih banyak waktu justru memperoleh hasil yang sebaliknya maka boleh tho kalau ini disebut gagal.

Jadi jangankan bersanding dengan youtube Cita-cita yang kini telah mencapai 50 juta view, atau dengan Isyana Saraswati yang dalam 2 Mingguan viewer-nya sudah mencapai 10 juta-an, bahkan dengan Ayu Ting-ting aja terlihat jauh ketinggalan.
 
Menurunnya jumlah viewer ini seperti menjadi pembenaran tulisan saya satu tahun yang lalu (Fatin Pilih Latihan Vokal Atau Ditinggal), tapi apa mau dikata kenyataan pahitnya memang seperti itu.

Suara atau vokal yang menjadi modal untuk dijual justru tidak dimaksimalkan, sebagai contoh betapa sering saya (atau bahkan mungkin juga para penikmat Fatin yang lainnya) melihat Fatin beberapa kali gagal menjadi performer yang  baik dipanggung live (televisi) yang ditonton oleh seluruh rakyat Fatinistic.

Sebuah penampilan yang sering berada jauh dibawah penampilannya saat masih berada di XFactor. Meski dengan alasan tidak ingin tampil lipsync (sebuah sikap yang layak diapresiasi empat jempol), namun sayang tidak diiringi kemauan untuk menjaga setiap performa-nya. Maka niat seperti itu ya sama saja seperti membunuh diri sendiri (membunuh kariernya sendiri).

Kalau memang berniat anti lipsync, harusnya juga diimbangi dengan persiapan yang AMAT SANGAT MATANG DAN MAKSIMAL, tak boleh hanya ala kadarnya, apalagi meremehkannya.

Kalau sekali dua kali bolehlah, orang mungkin akan memakluminya. Namun bila itu sering terjadi maka orang akan berkesimpulan (tidak lagi memaklumi), bahwa itulah suara maksimal yang dimiliki Fatin. Menjadi wajar bila kemudian banyak yang meninggalkannya atau memilih tidak setia.

Lantas apakah itu membuat saya ikut berbalik arah, ya tidaklah... saya ini termasuk pengoleksi suara yang aneh-aneh, pengemar penyanyi yang memiliki suara tidak biasa (menurut versi saya). Seperti Sheila Majid, Trie Utami, Irma June, Anggun, Reza A dan lain-lain termasuk Fatin. Jadi tetap AMS-lah, meskipun saat ini menikmatinya hanya sendirian saja......



Rabu, 01 Juli 2015

Yang Berbeda di X Factor Indonesia Jilid Dua



Bila dibanding dengan XFI sesi pertama, sesi ke dua ini terasa ada beberapa perbedaan, terutama pada komposisi peserta dimasing-masing kategori.

Kalau dahulu untuk kategori girls, terlihat perbedaan yang jelas type dan warna suaranya. Ada Shena yang beraliran jazz, Yohana yang punya power dan nada tinggi, Fatin yang berkarakter kuat dan unik.
Kategori boys, dulu ada Mika berkarakter, Dicky yang suara dan penampilannya unik, Gede bersuara lembut. Ditambah untuk group dulu ada NUDI gerombolan cowok-cowok keren idola remaja putri, para mahasiswi plus ibu muda.

Sementara di sesi ke dua ini kategori girls sepertinya memiliki karakter yang hampir sama, Ismi, Riska, Ajeng, yang mungkin agak berbeda adalah Clarisa. Begitu  pula untuk kategori boys juga terlihat hampir sama rata.

Yang mungkin ada variasianya hanya kategori over age, di sesi kedua ini ada Desy sama seperti Novita, Angela unik, Sule rocker berpengalaman. Hampir sama dengan sesi pertama dulu, ada Isa yang sangat atraktif, Agus suaranya laki banget, Alex bisa melengking tinggi, dan Novita paket komplet seorang diva.

Kelihatannya para juri lebih berhati-hati memilah dan memilih pesertanya, semacam tidak mau ambil resiko. Mereka mungkin tidak mau ambil resiko memasukkan peserta amatir semacam Fatin, penampilannya beresiko naik turun bahkan terjadi insiden lupa lirik segala.

Tapi bukankah ini XFactor yang mencari penyanyi dengan faktor x, kenapa mesti mengikuti standar ajang pencaria bakat lain. Kenapa mesti mencari peserta yang punya skill, atau punya pengalaman bernyanyi yang bagus. Kenapa tidak ditabrak saja aturan mainnya, mencari peserta dengan aneka karakter, aneka aliran musik, aneka gaya penyanyinya, dll.

Misalnya bisa saja seperti Boby Berliandika atau Julia Martinez dimasukkan, atau kalau perlu pada kategori girls dimasukkan peserta bergenre rock (kan jarang remaja putrid nge-rock). Orang mungkin malah bertambah penasaran dengan perkembangan atau perubahan mereka selama di galashow.

Toh pada akhirnya bukan hanya skill saja yang akan berbicara, tapi juga nasib, peruntungan, dan takdir (baca faktor x) turut menentukan peruntungan seseorang.      


Minggu, 28 Juni 2015

Dream, (Bukan) Mimpi Fatin



Kalau menengok kebelakang hingga saat audisi, maka impian Fatin waktu itu amatlah sederhana, ingin mendapatkan pelatihan vokal yang lebih baik, bukan impian muluk menjadi runner up apalagi menjadi juara. Maka antara setuju dan tidak setuju dengan merambahnya Fatin kedunia permainan watak.

Meskipun ini nanti akan menjadi film yang menginspirasi generasi seusianya, sebuah kisah perjalan dari bukan siapa-siapa berubah menjadi sosok yang dapat berbicara banyak dalam karyanya. Sebuah kisah perjalanan tentang kekuatan menjadi diri sendiri, bukan berusaha menjadi orang lain.
Ya, kekuatan atau nilai plus-plus-plus-plus dari seorang Fatin adalah berani menjadi dirinya sendiri. Ketika peserta yang lain saat mengikuti ajang pencarian bakat berlomba “menjadi” idola mereka, Fatin justru apa adanya. Tidak berusaha menjadi Maudy Ayunda atau Sherina, tidak pula ingin menjadi lady rocker seperti Nicky Astria apalagi berusaha menjadi diva seperti Rossa.

Dan masih banyak kisah perjalanannya yang bisa diangkat untuk dibagikan agar menjadi inspirasi remaja seusianya.

Namun disisi lain, film ini akan memakan banyak waktunya, mulai dari persiapan, pembuatan hingga nanti peluncuran yang tentu membutuhkan promosi kemana-mana.       
Padahal persaingan terbesarnya bukan menjadi pemain watak, dia tidak akan bisa seperti Bunga Citra yang bisa menjadi Ainun hari ini dan besok menjadi Alisha, atau seperti Acha Septriasa yang berubah dari Tata menjadi Hanum di kesempatan lainnya. Hak paten yang melekat pada dirinya adalah menjadi seorang Fatin, sosoknya terlajur tercitra kuat seperti itu, akan dulit berubah-ubah menjadi sosok yang berbeda. 

Persaingan terbesarnya adalah pada olah suara, yang membutuhkan ketlatenan dan latihan yang terus menerus untuk menjadi baik dan lebih baik. Olah suara yang tidak maksimal maka dalam sekejab akan dilindas oleh pendatang baru yang setiap hari bermunculan, baik dari ajang pencarian bakat maupun secara mandiri.

Pengabaian latihan olah suara karena tertindih dengan padatnya jadwal yang dilakoninya, hanya akan membuat dia semakin tertinggal dalam olah vokal. Dan itu akan mempercepat para penggemarnya berpaling dan memilih untuk tidak setia, terkeculai dia bisa membagi waktunya untuk berlatih vokal supaya tetap bisa tampil prima.

Dan menurut saya, Fatin berhutang dukungan yang begitu besar dari para pengemar yang telah mengantarkannya menjadi jawara XFactor. Bukan hutang yang mesti dibayar dengan sapaan akrab lewat media sosial, atau jabat tangan saat bertatap muka atau ucapan terimakasih yang terus menerus tiada henti, tidak pula ganti uang pulsa yang telah banyak dikeluarkan. Tapi berupa tanggungjawab secara moral untuk terus meningkatkan olah vokalnya seperti impian atau harapannya saat mengikuti audisi, sesederhana itu pulalah harapan dari para pendukungnya dahulu, hanya ingin Fatin memiliki olah vokal yang semakin matang......  


Sabtu, 27 Juni 2015

Meraba Pemenang XFactor 2015

Kalau pada Indonesian Idol lalu saya langsung berani menebak siapa yang bakal menjadi juara di liveshow pertamanya (seperti tulisan saya disini), maka untuk XFactor hingga galashow ke 3 ini hanya bisa meraba-raba siapa yang bakal berpeluang menjadi pemenangnya. Kalau Idol pemenangnya bakal tidak jauh beda dengan pemenang sebelum-sebelumnya, atau paling tidak akan seperti standard pemenang ajang pop idol pada umumnya. Type suara yang skill full, power full dan soul full, itulah standarnya, type suara bak seorang diva.


Sementara pemenang XFI bisa melebar kemana saja, dengan tema mencari penyanyi yang memiliki faktor x maka siapapun bisa jadi pemenangnya. Namun menurut rabaan saya, XFI 2 ini akan berusaha keluar dari bayang-bayang Fatin, mencari peserta berkakter yang potensial namun berbeda dengan Fatin terutama dari segi penampilan. Dan inilah hasil rabaan saya....

Angela, suara mungkin tidak terlalu wow tapi keunikannya adalah bisa memainkan alat musik yang tidak biasa. Rabaan saya besar kemungkinan bisa menjadi juara, minimal bisa masuk tiga besar. Tergantung pesaingnya di tiga besar, kalau di tiga besar perolehan suaranya hanya beda-beda tipis (tidak ada yang menonjol perolehan dukungan sms-nya) maka Angela bisa menjadi juara.

Desy, memiliki paket komplit seperti seorang diva, se-type dengan Novita Dewi runner up XFI edisi pertama. Ini akan memberikan variasi pemenang Xfactor, akan bertolak belakang dengan type suara Fatin. Bisa memberi kesan, bahwa bukan hanya pemilik karakter kuat dan unik tapi type wow dan mencengangkan juga bisa menjadi juara (pemenangnya jadi lebih bervariatif).

Clarisa, setype dengan Desy akan memiliki peluang yang sama pula, maka di tiga besar pasti akan ada salah dua dari tiga orang ini.

Ramli, memiliki aura seperti Mika Anggelo, bisa menyedot penonton antusias terutama remaja putri. Apabila bisa lolos hingga masuk tiga besar akan berpeluang untuk menjadi juara, dengan mengandalkan pendukung fanatik terutama kalangan remaja putri. Dan terlebih lagi dia seorang laki-laki, maka jelas akan memberi warna yang berbeda dari juara sesi pertama.

Jebe & Petty, group yang enerjik, kompak, dan masih muda, kalo dilihat hasil viewernya di youtube duo ini mendapat viewer yang lumayan tinggi dibanding peserta yang lain. Berpeluang mendapat dukungan yang lebih baik diantara para peserta lainnya, type duo ini juga akan memberikan warna yang berbeda bila dibandingkan dengan sesi pertama.           

Ada lagi dua peserta yang sebetulnya berpeluang, namun di galashow ke 3 kemarin justru belum bisa memberikan penampilan yang maksimal.

Ismi, karakter suaranya kuat sekali, masih muda, dan berbeda dengan Fatin yang berhijab, sebetulnya sangat berpeluang menjadi pemenang berikutnya. Namun saat gala ke 3 keteteran membawakan lagunya Reza. Mungkin karena di 2 penampilan sebelumnya sering mendapat kritik juri, maka semakin gugup, grogi dan kehilangan rasa percaya diri. Berpeluang bila mendapat dukungan sms yang banyak dari pendukungnya.

Riska, peluangnya sama dengan Ismi bergantung pada banyaknya sms dari para pendukungnya. Dengan karakter suara dan penampilan yang mirip Fatin (ditambah olah vokalnya yang jauh lebih matang 2-3 tahun didepan Fatin), maka bisa saja berhasil menarik dukungan yang luar biasa seperti Fatin. Setelah mulus menaklukan tantangan di gala 1 dan 2, justru terlihat kurang di gala ke 3, mungkin karena selalu dibandingkan dengan Fatin maka penampilannya menjadi nanggung dan serba salah. Kalau tancap gas maksimal maka yang akan keluar adalah karakter dan cengkok Fatin, namun bila mencoba cara lain menjadi tidak keluar karakter suaranya.