Bismillahirrohmanirrohiim,
Tulisan ini aku tujukan untuk
seorang sahabat yang pada sebuah malam mengirimiku pesan singkat di
ponsel berbunyi “Le, aku kirim message di fb, ndang dibuka. Urgent”.
Segera aku membuka aplikasi jejaring sosial itu dan menemukan sebuah
pesan darinya yang sangat-sangat panjang. Tema-nya pun memiriskan : Ruh,
kematian dan prosesi penyempurnaan kematian.
Sekaligus tulisan
ini aku tujukan untuk seorang lainnya, yang pernah juga mengirim pesan
padaku yang berbunyi “Aku suka cara-mu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Lewat tulisanmu aku tahu kau sedang berproses “qorrub” dengan cara-mu
yang tidak biasa. Tidak diperlihatkan, sembunyi-sembunyi sehingga jauh
dari “sok” dan kesan pamer”.
Ya, aku tujukan tulisan ini kepada
mereka berdua. Mereka yang secara langsung memberikan perhatian dan
memiliki pandangan yang sejalan dengan “rasa” yang halus mengalir dalam
darahku dan menyebar luas ke seantero jagad maya-ku.
Sebelum aku
memulai, ijinkan hamba yang fakir ini menyebut nama Tuhan denga kalimah
“Wallahu ‘alam, subhanaka laa ngilmalana ‘illama ‘alamtana”. Bahwa
sesunguhnya segala pengetahuan adalah dari Tuhan saja, bukan dari hasil
pikirku, apalagi rekadayaku.
Baiklah aku mulai saja :
Sebagai
pondasi aku akan memapar seputar manusia. Bahwa manusia terdiri dari
badan (tubuh), jiwa dan ruh. Tiga soal itulah yang sejauh ini menopang
kehidupan manusia di muka bumi. Sementara orang berkeyakinan bahwa
manusia terdiri dari dua dua soal saja : badan (tubuh) dan ruh.
Untuk soal tubuh tak perlulah aku jelaskan panjang lebar. Aku tahu
kalian tentu faham secara kaffah dari mana datangnya tubuh dan kemana
setelah kematian menghampirinya. Ya, benar, seluruh bagian tubuh manusia
berasal dari “sari-sarining bumi” atau empat unsur alam yang telah
dikenal luas : tanah, air, api dan angin. Itulah pembentuk “Adam”, yang
secara rasa bimakna “suwung”. Artinya suwung : bahwa sebenarnya tubuh
itu adalah kehampaan, tidak ada institusi riil dari sebuah tubuh
manusia. Sebab ketika terbentuk, memuai dan kemudian kembali lagi pada
keadaan tidak ada, di dalamnya hanyalah memuat sebuah “prosesi” dan
bukan “esensi”.
Jadi ketika kematian menghampiri anak adam,
“sari-sarining bumi” yang membentuk sebuah tubuh akan kembali kepada
asalnya masing-masing, bercampur baur dengan yang lainnya untuk kemudian
kembali lagi membentuk tubuh baru. Sesudahnya, terserah Gusti mau
dipakaikan kepada siapa atau apa.
Soal Jiwa.
Jika
kau memiliki hasrat atau keinginan maka itulah muasal jiwa. Pada sebuah
kepuasan, pada sebuah kekenyangan, pada sebuah kelaparan, pada sebuah
kehausan serta keadaan-keadaa lain yang “setaraf” dengan itu semua, dari
sanalah jiwa berasal. Jadi sumber jiwa adalah “hasrat” dan “keinginan”
yang “boleh” dipenuhi.
Aku sengaja menyebutnya dengan “boleh”
yang mengacu kepada kata “bisa”, agar kalian faham bahwa kemauan itu
berasal dari jiwa yang didorong oleh sebuah kebutuhan badan akan
“sesuatu” untuk dipenuhi. Jadi, jiwa itu bukanlah “sesuatu” yang suci
seperti yang selama ini (mungkin) kalian kenal. Jiwa itu
berpasang-pasangan, persis seperti makhluk Tuhan lainnya. Baik-buruk,
susah-senang dll senantiasa menempel pada jiwa.
Jiwa-lah pendorong menggumpalnya sejumlah keinginan dan juga kemauan yang sering memaksa “Adam” untuk memenuhinya.
Lalu kemana perginya jiwa saat kematian datang ?
Dia akan kembali kepada golongannya di alam hasrat keinginan
(iskat-iskat). Melebur bersama kawan-kawannya di alam itu untuk
selanjutnya, seperti halnya “sari-sarining bumi”, akan kembali dikenakan
oleh siapa atau apa atas “Kun” Tuhan.
Dan berikutnya adalah : Ruh.
Aku sengaja menukil satu ayat Al Qur’an dalam Surat Al-Isra : “Saat kau
(Muhammad) ditanya tentang ruh, katakan bahwa itu adalah urusan-KU”.
Ini mengindikasikan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan yang cukup
tentang ruh kecuali sedikit saja.
Ruh itu soal yang jauh dari
jangkauan, bahkan di luarnya. Bisa dirasakan namun tak pernah bisa
terjelaskan secara tuntas. Aku hanya bisa bilang ruh itu lah pembentuk
pola dasar manusia. Tanpa ruh yang meniupkan hidup, manusia tak akan
pernah mampu menjalani kehidupan.
Sebagian manusia meyakini ruh
itu adalah “cuwilan” sifat Gusti Allah. Artinya ruh itu bagian dari
Gusti Allah dan ketika manusia mati ruh akan kembali pada-Nya, menyatu
dengan-Nya. Hati-hati dengan pengertian itu.
Yang aku “rasa”,
manusia itu beda dengan Tuhan, sehingga segala materi pembentuknya pun
tentu berbeda dengan Tuhan. Sehingga ruh tidak pernah menyatu kembali
(manungal) dengan Tuhan. Ketika manusia mati, ruh akan kembali ke
alamnya sendiri.
Ayo aku tengokkan ke sebuah kalimah “Gusti iku
wa laa kaifin bi laa mitsalin”. Artinya, Allah itu “tan kena kiniro tan
kena kinoyongopo”, bahwa Tuhan itu benar-benar tak terbayangkan dan tak
terjelaskan. Jadi kalau ada yang meyakini bahwa ruh itu cuwilan / bagian
dari Tuhan, itu mengingkari kalimah di atas.
Baiklah, karena
keterbatasanku aku akan menggunakan pengibaratan. Anggap saja ruh itu
tetes air laut, sementara Tuhan itu lautan yang maha luas. Meski
pengibaratan ini jauh dari esensinya namun aku rasa ini akan membantu
pemahaman kalian. Ketika ruh itu tetes air laut dan Tuhan itu lautan
yang maha luas, apakah bisa dikatakan bahwa laut itu berasal atau
terbentuk dari tiap tetes air laut ? Tidak kan ? Sebab jka logika ini
yang digunakan maka pada setiap peng-ada-an makhluk maka kuasa lautan
akan berkurang kan ? Dan ketika makhluk semakin bertambah, kuasanya
mengecil karena terlalu banyak di-cuwil, tidak begitu bukan ?
Maka, gunakan logika sebaliknya. Bahwa tiap tetes air laut itu memang
berasal dari laut yang maha luas, namun (sekali lagi namun) untuk
menyebut esensi laut apakah cukup dengan menunjuk lautan luas dengan
garis cakrawalanya ? Apakah cukup dengan menyebut laut utara dan laut
selatan ? Apakah cukup dengan menyebut bahwa laut itu adalah ini dan
laut itu adalah itu ? Tidak ! Sama sekali bukan ! Tidak pernah cukup
kalimat dan logika manusia untuk sekedar menyentuh tiap tetes air laut,
apalagi laut itu sendiri.
Ketika Tuhan tidak terdefinisikan,
maka setiap yang bisa didefinisikan bukanlah Tuhan, begitu bukan ? Maka
sederhananya, antara lautan dan tetes air laut itu sejalan, satu gerakan
namun bukan berarti menyatu. Ketika ada ombak bergerak ke pantai maka
lautan bergerak ke pingir, begitupun dengan tiap tetes air lautnya.
Namun tetap saja tidak bisa dikatakan bahwa tiap tetes itu adalah lautan
atau bahkan sebaliknya bahwa lautan itu ya tetes itu sendiri. Apalagi
bicara penyatuan (kemanungalan) tetes dengan lautan. Tidak pernah ada
penyatuan itu, dan itu telah jelas ditegaskan sepanjang masa bahwa tidak
ada satupun makhluk yang berkesempatan bersatu, bertemu muka atau
bahkan manunggal dengan Tuhan, seistimewa apapun dia !
Maka,
itulah ruh yang menjadi rahasia Tuhan. Bahwa ruh adalah entitas dasar
yang melandasi hidup makhluk dan menjadi penggerak kehidupan makhluk.
Kemana ia berpulang ? Ia akan kembali kepada lautan, namun bukan berarti
menyatu dengan lautan itu sendiri, ia hanya bergerak sesuai kemauan
lautan. Dan pada saatnya nanti ia akan kembali lagi menerima perintah
untuk “turun” dalam kuasa prerogatif Tuhan.
Tentang Kematian
Tidur adalah alamat kematian atau sebut saja kematian kecil atau
latihan kematian. Maka, menjalani proses tidur dengan penuh perhatian
adalah langkah awal yang baik untuk berlatih tentang kematian.
Tidur yang baik itu sama seperti mati yang baik (baik untuk ukuran
kesempurnaan). Yaitu tanpa bermimpi dan tanpa merasakan apapun. Artinya
secara ilmu islam akan disebut kembalinya segenap pembentuk manusia
kepada alamnya masing-masing tanpa kesasar dan tanpa mampir-mampir.
Tidur yang bermimpi persis seperti mati yang kesasar. Persis seperti
mati yang tidak menyadari kematiannya. Maka itu, sungguh beruntung orang
yang bisa tidur tanpa bermimpi. Selain tidurnya nyenyak itu menandakan
posisinya yang mantap dalam alam “laahiyah”. Sebuah alam suwung, tanpa
apa-apa dan tanpa siapa-siapa.
Mati itu perkara mudah dan murah.
Seharusnya tidak perlu ditakuti apalagi harus dipersiapkan masak-masak.
Mati ya mati saja, tidak perlu menyoal tentang mati sampai njlimet yang
mengakibatkan tergerusnya kepasrahan kepada Tuhan dan berganti dengan
ketergantungan kepada doa-doa atau upaya-upaya “penyempurnaan’ yang
banyak dilakukan oleh para pemuka agama.
Sungguh, 100% itu urusan
Tuhan. Ketika siapapun (tak terkecuali para pemuka agama) menyatakan
bahwa kematian itu gini dan gitu, itu adalah sebuah penafsiran dari
sebuah bisikan langit yang sangat boleh jadi terbatas untuk dirinya saja
dan bukan untuk orang lain. Sehingga masing-masing manusia memiliki
ke-khasan sendiri-sendiri dalam menghadapi kematian.
Oh, sobatku...
Bukan berarti aku nuzus (membangkang) kalimat maha guruku. Ini semua
juga kalimat beliau yang kemudian aku rasa lalu sarikan. Ini adalah
tafsir dari rasaku yang aku bagikan pada kalian, kepada anak jaman yang
berbeda waktu dan ruang dengan maha guruku.
Baiklah sobat,
Sekali lagi aku ulangi, mati ya mati saja. Tidak lebih. Ketika maha guru
mengadakan prosesi penyempurnaan, itu adalah sebuah irodah untuk
menyadarkan almarhum bahwa dia sejatinya telah mati, persis seperti
meluruskan tidur agar tidak bermimpi, apalagi bermimpi buruk. Mengapa
demikian ?
Sobat,
Banyak manusia mati tanpa menyadari bahwa
dia telah mati. Bahwa dia telah berpindah alam. Dan, ketika semestinya
dia kembali kepada keadaan kosong (suwung, hampa - laahiyah) agar boleh
kembali ditugaskan ke muka bumi, di justru tersesat masuk ke alam jiwa
yang banyak sekali menawarkan keindahan semu dan juga kesenangan sesaat
atau bahkan tersesat ke alam yang sangat-sangat menakutkan. Bayangkan
saja jika itu terjadi untuk waktu yang lama, berpuluh bahkan bratus
tahun ! Betapa nestapanya dia.
Mengapa bisa tersesat ? Dorongan
jiwa yang terlalu besar atau desakan keinginan yang mendominasi
hari-harinya semasa hidup di dunia-lah penyebabnya. Selain itu, ada pula
penyebab lainnya yang sungguh absurd bagi si awam. Dia adalah
keterkaitan antara masa lalu dan masa kini. Ini yang sangat sulit
ditebas dan dipecahkan. Bagi yang meyakini inkarnasi macam diriku,
inilah salah satu yang memperumit persoalan kematian.
Nah, sobat...
Kesesatan itulah yang diatasi dengan prosesi penyempurnaan.
Penyempurnaan hanyalah sebatas menyadarkan almarhum bahwa sejatinya dia
telah mati. Sekedar menyadarkan bahwa dia sudah tidak tinggal di dunia
lagi. Sebab dalam banyak kasus seorang almarhum merasa tetap hidup di
dunia padahal dia telah mati dan mengabdi atau dimanfaatkan makhluk lain
karena jiwanya tergoda dengan sesuatu yang lebih kuat mempengaruhi
seluruh geraknya semasa hidup di dunia. Ya, semacam keinginan-keinginan
yang tertunda dan sejenisnya.
Perkara sesudah penyempurnaan itu
(wallahu ‘alam) perkara Tuhan, 100% urusan Tuhan. Si pelaku prosesi
penyempurnaan jangan sampai merasa dia lah penyempurna itu. Sebab,
sekali dia merasa menyempurnakan, maka prosesi itu telah terkotori oleh
riya’ ! Dan untuk beberapa kyai yang baru saja dianugerahi kebisaan
melakukan prosesi itu, inilah kendala utamanya. Bagaimana memisahkan dan
memasrahkan total kepada Tuhan dan bukan atas “reka-daya” dia.
Duh sobat,
Andai guruku membaca ini tentu beliau akan tersentak pula !
Lalu, mau dikemanakan setelah kesempurnaan itu tercapai ? Teorinya
adalah berpulang kepada laahiyah (alam suwung) sambil menungu
“cakra-manggilingan” guna kembali menerima amanah di muka bumi. Dan
lagi-lagi itu adalah prerogatif Tuhan, sedang manusia hanya bisa
mengarungi sebuah jalur berikutnya yang telah disiapkan oleh-Nya.
Kemudian, soal batas kemampuan si ruh. Bagaimana ruh itu saat kembali
pulang lalu hidup lagi. Apakah dia memiliki batas pengetahuan dan juga
ke-ngaliman seperti ketika dia hidup dulu ?
Jawabku : Maaf sobat
terpaksa aku luruskan pertanyaan itu. Bukan ruh yang terbatas saat
kembali hidup ke dunia, tetapi jiwa (gumpalan hasrat dan keinginan yang
juga menjadi materi pembentuk manusia).
Ruh itu tetap ruh, tetap
tetes air laut tanpa pernah berubah menjadi apapun. Tanpa keinginan dan
tanpa hasrat. Ketika adam menemukan keber-ada-annya, lalu dilengkapi
dengan jiwa dengan segala problematikanya maka ruh tetap pada jalurnya
yaitu membawa sifat hidup Tuhan. Maka ruh tidak pernah mati, tidak
pernah kemana-mana (urip tan kenane owah, urip tan kenane mati – itulah
ruh).
Jadi, ketika kembali hidup. Maka ruh saja yang tetap,
sementara adam dan jiwanya silih berganti sesuai “Kun” dari Tuhan.
Inilah penjelasan yang paling mendekati untuk sebuah pertanyaan “mengapa
masih ada saja kejahatan di muka bumi ?”. Gimana kejahatan bisa hilang,
sementara jiwa itu berpasangan dan setiap lahir jiwa ber-DNA baik akan
lahir pula jiwa ber-DNA buruk pada saat bersamaan. Sehingga yang
diperlukan oleh manusia (makhluk) adalah berdamai dengan hidup (ruh) dan
kehidupannya (jiwa). Jika memang dia mendapat piranti jiwa yang buruk
(wallahu ‘alam) semasa hidup dia akan mengabdi kepada keburukan dan
sebaliknya.
Apakah itu salah ?
Sobatku terkasih. Ini bukan
soal benar salah. Ini soal hak, soal piranti makhluk yang 100% dalam
genggam kuasa-Nya. Manakah sisi paling kecil dalam peri kehidupan
makhluk yang tanpa campur tangan Tuhan ? Non sense kan ?
Jadi, sobat...
Pesanku untuk mengakhiri kuliahku ini : Janganlah eforia ketika kau
di-nas mnjadi baik. Pun juga jangan bersedih ketika kau di-nas menjadi
oposisi kebaikan. Sungguh itu perkara Tuhan semata.
Salam,
Dulkamid tukang ngarit
Lampu ublik jaman dahulu masih sangat sederhana, alasnya dari tembikar dan semacamnya, berbahan minyak kelapa (goreng) atau minyak jarak, sumbunya terbuat dari kapas yang dipilin. Mudah padam bila terkena hembusan angin…….
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 April 2016
Minggu, 15 November 2015
Hanya Copas, ingin berbagi……
Sumber aslinya: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1640429242871773&id=100007141396249
Hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan
makrifat. ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang
guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit
orang yang memiliki kelebihan ilmu ini, saking langkanya ilmu ini maka banyak orang
mencari dan akhirnya tersesat.
Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu
hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan
kesyirikan. Buku-buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar
namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini.
Ilmu ini adalah wilayah pengalaman, sehingga harus diajarkan oleh seorang guru
yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut, jadi hati hati lah…
Mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk
memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar
sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang
orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut,
dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci.
kita malah justru hati-hati dengan seorang guru
yang sering menceritakan kehebatan-kehebatannya, bisa inilah bisa itulah,
ketemu sama inilah ketemu sama itulah. Guru yang demikian berarti ilmunya,
ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku, istilahnya belum zero mind.
Guru yang benar-benar sakti adalah guru yang
sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan Allah.
Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat? sedangkan dia sendiri
tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Makrifat bukanlah sekedar ilmu
namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar
sadar bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Bila anda betul betul tertarik untuk
mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan
mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah dalam Qur’an dan
hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu
adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang
ada.
Setelah yakin akan syari’at yang dipegang
mulailah berjalan, artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu
dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. Jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu
namun suatu hasil amaliah, kalau makrifat di ilmukan jadinya malah
membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan.
Orang kalau sudah makrifat sama Allah dia akan
lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience
bahkan merupakan muara dari peaks experience. Wilayah pengalaman tidak untuk
didiskusikan tapi untuk di alami bersama.
Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan
kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode… masalah
makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan
memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia.
semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.
Tambahan
pribadi,
Perjalanan Reyshad Filed (musisi Inggris)
yang ditulis dalam buku The Last Barrier (ada yang terjemahan Indonesia), bisa menjadi tambahan
bahan bacaan.
Sabtu, 24 Oktober 2015
Apakah Satire Sama Dengan Membully?
Menurut
pengertiannya,
Satire adalah gaya untuk menyatakan sindiran terhadap suatu
keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme,
atau parodi.
Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan
untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat
menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau
fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan
fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu,
mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas,
atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara
emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana
saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat
kerja, rumah tangga, dan lingkungan.
Kalau
berdasarkan pengertian diatas satire dan bullying memang tidak memiliki
kesamaan. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata antara satire dan bully
itu ada benang merah yang masih bisa ditarik.
Dalam
pengerian bullying diatas, disebutkan “…Perilaku
ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan
sosial atau fisik. Hal ini dapat
mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan
dan dapat diarahkan berulang kali
terhadap korban tertentu…”. Dan juga jika merujuk pada kalimat ini “…Tindakan penindasan (bullying) terdiri atas
empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber..”.
Masih
menurut wikipedia disebutkan juga adanya jenis bullying secara psikologis, yaitu tindakan penindasan yang menimbulkan
trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga
menimbulkan kegalauan/GUSAR.
Jadi
satire jika ditujukan pada seseorang hanya sekali atau dua kali saja mungkin
itu memang murni berupa bentuk sindiran atau hanya sebatas parodi saja. Namun
bila satire diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Yang
menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres juga
menimbulkan kegalauan/GUSAR, maka bukankah itu juga disebut bentuk bullying.
Dalam
urusan bullying kelihatannya satire adalah senjata yang sangat ampuh dan sadis,
ibaratnya seperti peluru karet yang bisa dipantulkan kemana saja sebelum
mengenai sasaran sebenarnya. Dan tidak terlalu mematikan, butuh berkali-kali
tembakan supaya korban tewas mengenaskan.
Satire
ini juga pas dengan jargon seleb cantik yang sering bikin heboh Syahrini,“Maju
Cantik Mundur Cantik”. Kalau korban hanya diam tidak melawan maka peluru akan
ditembak berulang (maju cantik), tapi kalau korban mulai marah dengan mudah
mengelak, “kamunya aja yang sensi aku kan
bukan lagi ngomongin kamu” (mundurpun masih tetap cantik).
Apakah
satire sama dengan membully? Jelas tidak. Tapi satire bisa menjadi senjata ampuh bagi orang yang berniat dan bertujuan membully. Dan
bisa terjadi dimana saja, baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, atau
dalam sebuah komunitas yang besar.
Sumber:
Kamis, 08 Oktober 2015
Salim Kancil, Jalan Sunyi Corong Kebenaran
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang tahu siapa dirimu
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang peduli teriakanmu
Tak banyak kawan yang mengiringi
Tak banyak keluarga yang mendampingi
Tak banyak kerabat yang melindungi
Saat itu banyak yang memilih diam
Saat itu banyak yang memilih bungkam
Saat itu banyak yang memilih terpejam
Kawanmu tak peduli, karena segan
Keluargamu tak peduli, karena sungkan
Kerabatmu tak peduli, karena enggan
Di negeri ini, itulah yang terjadi
Corong kebenaran selalu berjalan sunyi
Suaramu dianggap berisik
Teriakanmu dianggap mengusik
Semoga tak terulang lagi
Nyawa jadi taruhan
Corong kebenaran berjalan sendiri
Menjadi tumbal pembeli kekuasaan
Nurani tak bisa menipu
Namamu kini bergema dijalanan
Mengenang kebenaran perjuanganmu
Engkau tlah menjadi pahlawan
Gambar: majalah detik
Rabu, 07 Oktober 2015
Laron Pudak, Penanda Musim Hujan Akan Tiba
Tadi malam gerombolan laron pudak (laron
kecil-kecil) datang menyerbu rumah, datang bergerombol mengerumuni lampu teras.
Mengingatkan saya pada cerita orang tua saat masih SMP atau SMA, cerita turun
temurun tentang laron pudak yang membawa tanda akan datangnya musim penghujan.
Beda dengan pengetahuan ilmiah untuk memperkirakan cuaca,
datangnya musim hujan dan kemarau yang didasarkan pada arah angin, terutama
angin muson Barat dan muson Timur. Arah angin ini menentukan kandungan air yang
terbawa oleh awan, yang berakibat pada terjadinya musim kemarau dan musim
penghujan.
Sementara para leluhur jaman dahulu mengandalkannya
pada ilmu niteni (menandai), menandai
pergerakan alam beserta para penguninya terutama kepekaan naluri dari
binatangnya.
Naluri atau insting kebinatangan (dalam arti
positif) ternyata sangat peka dalam membaca keadaan yang akan terjadi beberapa
hari atau beberapa bulan kedepan. Contoh yang menarik dan banyak diteliti
adalah kepekaan binatang dalam mendeteksi datangnya bencana alam. Gunung
meletus, gempa bumi, bahkan tsunami pun bisa dirasakan atau dibaca terlebih
dahulu oleh para binatang.
Entah darimana asalnya atau bagaimana cara melatihnya,
yang jelas binatang-binatang ini begitu paham cara bertahan hidup ditengah
ancaman bencana alam.
Seperti juga keluar atau munculnya laron pudak, yang oleh para leluhur dijadikan
penanda datangnya musim penghujan. Para laron ini seperti tengah mempersiapkan
diri menyambut datangnya musim hujan, dengan tujuan utamanya adalah
mempertahankan kelangsungan hidup dari koloninya.
Musim hujan dan kemarau ini bagi sebagian binatang
seperti menjadi jam biologis untuk mempersiapkan dan mempertahankan
kelangsungan hidup generasi penerusnya.
Benar atau tidak, menarik untuk ditunggu satu bulan
kedepan. Seandainya benar, maka sangat layak manusia tetap melestarikan
kearifan lokal seperti ini. Serta tetap mejaga alam lingkungannya agar
binatang-binatang hebat ini tidak punah, agar bisa terus belajar dan mengasah
insting kita membaca pergerakan alam, atau paling tidak tetap bisa membaca
tanda yang telah diberikan oleh para binatang ini.
Minggu, 12 Juli 2015
Pedofil Dan Incest Akankah Disamakan Dengan LGBT?
Ditengah
suka cita diakui dan dilegalkannya LGBT disejumlah negara besar, atas nama
persamaan hak memperoleh tempat dan perlakuan yang sama dengan warga yang lain.
Mereka bukan alien aneh yang berbeda, mereka tidak berperilaku menyimpang tapi sama
alamiahnya dengan yang lainnya hanya berbeda sudut pandangnya.
Terbersit
pula satu pertanyaan, lantas bagaimanakah dengan pedofil dan incest?
Karena
kedua jenis sudut pandang tersebut hingga kini juga masih menjadi perdebatan,
apakah bentuk kejahatan atau satu hal alamiah yang harusnya juga diberi tempat
dan ruang seperti LGBT.
Bagaimana
kalau pelaku (pemilik) sudut pandang ini juga menuntut hal yang sama? Akankah mereka
juga akan diakui keberadaan mereka.
Karena
bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti pedofil dan incest juga tidak perlu
lagi memaksakan keinginan mereka, tapi dilandasi atas dasar suka sama suka sama
seperti pemilik LGBT, satu hal yang dianggap alamiah.
Kalau
selama ini yang tertampil diberita adalah adanya kekerasan dan pemaksaan pada
pasangan mereka (anak-anak dan saudara/keturunan mereka), hingga golongan ini
selalu disudutkan pada tindak kekerasan dan penyiksaan.
Maka
pada suatu saat nanti akan tiba juga masanya akan ada anak-anak yang suka
dengan orang yang lebih dewasa, suatu saat nanti akan ada saudara/orang tua dan
anak yang saling mencintai, tanpa ada paksaan.
Bukan
menjadi hal yang tidak mungkin terlebih diera jejaring sosial dan internet
seperti sekarang ini. Kalau sekarang anak atau orang sedarah yang punya sudut
pandang berbeda masih takut dengan keinginan mereka, namun dengan terbukanya
pergaulan dan informasi di era internet seperti ini, mereka akan semakin
terbuka dan mendapat tempat untuk berbagi dan berkomunikasi, serta membuat
komunitas tersendiri.
Hingga
pada suatu saat nanti merekapun juga akan menuntut hak yang sama, lantas
akankah mereka suatu saat nanti juga akan diakui? Akankah sudut pandang mereka
juga dianggap hal yang wajar dan alamiah?
Entahlah….
Waktu memang tidak akan pernah berjalan mundur, tak akan bakal bisa
menghindarinya. Hanya berharap dan memohon agar seluruh keluarga dan
keturunanku selalu diberi keselamatan, keselamatan untuk tidak menjadi
bagian/golongan seperti mereka, serta keselamatan pula untuk tidak menjadi
pembenci mereka, selalu
menjadi golongan yang menempuh jalan yang lurus, amin, amin, amin……
Bagaimana Sebaiknya Muslim Menyikapi LGBT?
LGBT kini tengah
marak dan semakin mendapat tempat diseluruh dunia, lantas bagaimanakah muslim
menyikapi hal ini? Menentangkah atau ikut arus utama mengikutinya.
Dalam Qur’an telah
jelas disebutkan umat Nabi Luth adalah contoh perwakilan dari mereka ini, dan
dengan jelas pula dalam kisah tersebut Allah mengutus Nabi Luth untuk memberi peringatan
pada mereka untuk tidak terus melanjutkan perbuatan mereka.
Jadi jelas ajaran Islam
melarang perbuatan semacam umat Nabi Luth ini, pernikahan apalagi hanya sebatas
hubungan tanpa ikatan oleh sesama jenis gender jelas juga akan terlarang pula.
Jikalau begitu tidakkah
Islam akan semakin dikenal sebagai agama yang sangat tidak toleran, dimana
selama beberapa tahun belakang ini tercitra sebagai agama dan umat yang sangat
tidak menghargai perbedaan.
Lantas
bagaimanakah sikap yang sebaiknya dilakukan?
Ada satu hal pernah
menjadi renungan saya pribadi, jika kita ingin memperbaiki sesuatu entah barang
atau apapun bila saat pertama kali melihatnya saja sudah menimbulkan ketidak senangan
atau kebencian pada barang tersebut, maka bisa dipastikan akan semakin enggan
untuk memperbaikinya. Kalaupun terpaksa memperbaikinya juga akan asal-asalan
saja, hingga hasil yang diperolehpun juga semakin asal-asalan pula.
Jadi kalau kita ingin
memperbaiki mental atau sikap yang tidak tepat seperti LGBT dan aneka macam
kejahatan dengan penuh kebencian maka akan sama hasilnya seperti perumpamaan memperbaiki
barang diatas, yang diperoleh adalah hasil
yang asal-asalan pula. Tidak membuat perubahan pada sikap dan tingkah laku dari
mereka, tapi malah semakin menimbulkan
kebencian dari mereka.
Boleh
dan harus kita tidak menyukai perilaku mereka karena ajaran yang menjadi keyakinan
kita memang mengajarkan demikian, tapi jangan lantas menjadi pembenaran untuk membenci
personal dari mereka, benci perbuatannya tapi jangan pernah membenci pelakunya.
Sama halnya dengan
dilarangnya kita untuk tidak memakan daging babi, atau diperintahnya kita untuk
menghindari air liur anjing, namun tidak pernah ada ajaran untuk membenci babi
atapun anjing sebagai “personal”. Kita memang diperintah untuk menjauhi mereka
namun bukan untuk membenci mereka. Sebagaimana tugas yang dibebankan manusia
(muslim) untuk menjadi khalifah dimuka bumi, menjadi pengatur segala sesuatu
yang ada dalamnya. Memanfaatkannya, memilah dan memilih bukan malah
menghancurkan dan merusakannya.
Namun jangan lantas
pula mencari-cari pembenaran atas perilaku tersebut dengan mencari ataupun
memelintir dalil-dalil, agar supaya Islam terlihat toleran. Bagaimanapun juga
manusia adalah makhluk yang sangat terbatas kemampuannya, tidak bakal mampu
melihat apa yang akan terjadi satu detik didepan, tidak pula bakal bisa kembali
satu detik kebelakang.
Apa yang jelas
terlarang pasti ada alasan dan hikmah yang terkandung didalamnya, mungkin bukan
sekarang bakal diketahuinya tapi suatu saat nanti.
Menghormati keputusan
mereka sebagai pribadi, tapi tidak perlu pula merubah akidah dan ajaran yang
telah ada……
Selasa, 16 September 2014
Kasualitas
Menurut Wikipedia, [[[Kausalitas merupakan prinsip sebab - akibat yang ilmu dan
pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan
dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa
setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan
eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya,
merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.
Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia
yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Kausalitas dibangun oleh hubungan antara suatu
kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau dampak), yang mana kejadian
kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu
sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan
kausalitas dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis
tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji
hipotesis tersebut.]]]
Bagi yang berkeyakinan dengan konsep agama langit
selalu menisbatkannya pada Sang Maha Tunggal, sebagai penyebab awal atau sebab
yang tidak lagi bersebab.
Sementara bagi beberapa keyakinan dan atheis
mereka akan selalu mengejar harusnya ada lagi yang menyebabkan Tuhan ada, dan
selalu akan terjadi argumen yang panjang.
Menurut renungan saya kasualitas itu seperti
barisan seratus orang yang menghadap ke arah yang sama (bukan melingkar), saat
orang pertama mendorong orang kedua dan mengakibatkan jatuhnya orang kedua,
ketiga dan seterusnya. Jadi penyebab jatuhnya orang kesaratus adalah orang ke
sembilan puluh sembilan, dan seterusnya hingga sampai pada orang pertama. Sementara
orang pertama tidak terjatuh karena tidak ada yang menyebabkan dia terjatuh disebabkan
dialah penyebab pertama atau penyebab awalnya.
Selasa, 09 September 2014
Tidak Hanya Butuh Logika Tapi Juga Rasa
Bunyi atau suara
adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui
medium atau zat
perantara, yang dapat berupa zat cair, padat,
gas. Secara teoritis
dapat dijelaskan dengan kecepatan getar osilasi atau frekuensi
yang diukur dalam satuan getaran Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan
pengukuran dalam satuan tekanan suara desibel (dB).
Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu
getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang
telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia berkisar antara
20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Itulah kurang lebih teori yang ada
mengenai bunyi atau suara, sementara…
Nada adalah bunyi yang beraturan,
yaitu memiliki frekuensi tunggal tertentu. Dalam teori musik,
setiap nada memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya
ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada
patokan. Nada dasar suatu karya musik
menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut. Nada dapat diatur dalam tangga nada
yang berbeda-beda.
Itulah kurang lebih penjelasan
tentang nada…..
Bagi awam seperti saya, yang
tidak pernah belajar merasakan kepekaan terhadap nada, bunyi yang terdengar menjadi
lebih mendekati ke penjelasan teoritisnya saja. Maka ketika ada alat musik di
bunyikan dengan nada Do, bagi saya tidak akan bisa membedakannya dengan nada Si
atau Re, nada Mi terasa hampir sama dengan Fa, dst.
Sementara bagi orang yang sudah
belajar dengan baik merasakan nada, maka mereka bukan hanya bisa membedakannya
tapi juga bisa menyusun atau menata nada-nada tersebut menjadi sebuah irama,
hingga bisa tercipta lagu yang mengalun indah, menjadi sebuah karya yang luar
biasa.
Selasa, 10 Juni 2014
RUANG TUNGGU UGD
Beberapa waktu yang lalu saya mengantar family ke rumah sakit, setelah si
sakit selesai ditangani di sarankan untuk menjalani rawat inap. Sambil menunggu
persiapan pindah kamar selesai, saya duduk di ruang tunggu UGD, malam itu
pasien yang datang ke UGD tidak banyak, diantatanya famili saya, seorang anak seumuran
anak SMP, kemudian datang lagi hampir bersamaan 2 orang yang sudah sepuh (tua).
Yang satu seorang nenek, saat masuk terlihat hanya terbaring lemah tak ada
suara atau gerakan kesakitan. Yang satunya lagi seorang kakek, tubuhnya
menegang dan samar-samar dari mulutnya terdengar suara menyebut-nyebut Asma dan
Keagungan-Nya. Saya pikir baguslah, saat-saat kritis seperti itu masih bisa menyebut
Asma-Nya, soalnya tidak sedikit ketika merasakan sakit yang sangat malah menyebut
kata-kata yang tak pantas dan supah serapah.
Beberapa waktu kemudian si nenek di bawa keluar lagi, dari percakapan para pengantar
yang bisa saya tangkap, kelihatannya sang nenek harus dirujuk kerumah sakit
yang lebih lengkap peralatannya, sementara untuk sang kakek saya tidak tahu lagi
kelanjutannya, karena saya sudah bersiap-siap untuk memindahkan famili saya ke
kamar rawat inap.
Sesampainya dirumah pikiran saya tidak lantas berhenti begitu saja, justru
malah berputar-putar karena pemandangan itu sulit lepas dari pikiran, terutama
tubuh tegang dan ekspresi wajah dari sang kakek yang seperti ketakutan. Dan
menurut otak-atik pikiran liar saya, kelihatannya penyebutan Asma dan
Keagungan-Nya lebih seperti sebuah doa-doa dan harapan untuk terus hidup,
ekspresinya seperti takut akan kematiannya atau takut terpisah dari semua yang
dimilikinya (keluarga, harta dan sebagainya).
Kesimpulan saya tersebut mungkin merupakan gambaran bawah sadar saya
sendiri, bahwa saya sebetulnya juga takut bila berada di posisi kakek tersebut.
Padahal kematian itu adalah satu-satunya yang pasti diantara ketidakpastian di
alam dunia ini. Akankah saya pada akhirnya juga akan seperti kakek itu? Takut
terpisah dengan dunia, takut kehilangan segala nikmat indrawi yang sudah
terlanjur melekat dan berkarat dalam pola pikir dunia materi ini?
Bukankah selama ini para nabi dan wali sudah memberikan ajaran-ajaran
dan tauladan untuk menghadapi saat-saat seperti itu. Sudah cukupkah ajaran ataupun
wejangan nari para nabi dan wali yang sudah saya praktekkan, dan bisa menjadikan
saya siap menghadapinya? Ataukah semua praktek dan ritual yang saya jalankan hanya
sekedar ritual tanpa makna? Sebuah ritual yang hanya sekedar gugur kewajiban
saja, sehingga ajaran dan prakteknya tidak bisa meresap masuk dalam laku
sehari-hari.......?
Rabu, 30 April 2014
Rejeki Tak Akan Lari Kemana (Pelajaran dari Olga Syahputra)
Kalau ada yang bilang kesempatan hanya datang sekali saja, saya tak cukup punya
dalil yang kuat untuk membantahnya. Kalau ada yang bilang keberhasilan itu
adalah hasil kerja keras puluhan kali lipat dari biasanya, saya juga tidak
punya dalil yang kuat untuk membantahnya. Kalau ada yang bilang nasib itu
berubah atas dasar kemauan manusia untuk merubahnya, pun saya tak tak punya
dalil yang kuat untuk membantahnya.
Tapi melihat apa yang terjadi pada Olga Syahputra, mengingatkan saya akan
petuah bijak lainnya. Rejeki itu tidak akan lari kemana-mana atau tiap-tiap
makhluk itu sudah mempunyai rejekinya sendiri-sendiri.
Semut tak akan memperoleh rejekinya kelinci, burung tak akan memperoleh
rejekinya harimau, singa tak akan memeroleh rejekinya gajah, sangat adil dan
bijak Tuhan memberikan rejeki hingga tak mungkin akan tertukar. Rejekinya
seukuran gelas dikasih air seember pasti akan luber, rejekinya seember dikasih
air sebak mandi pasti akan luber, rejekinya sebak mandi dikasih air sekolam
pastinya akan luber juga.
Mungkin seperti apa yang terjadi pada Olga, begitu kerasnya dia dalam
bekerja hingga tak kenal waktu dan tak kenal lelah. Dan hasilnya memang sangat
luar biasa, bukan hanya jutaan tapi milyaran rupiah berhasil dia kumpulkan.
Namun apa mau dikata, rejeki memang tak akan lari kemana. Hasil milyaran
rupiah tersebut pada akhirnya tidak sepenuhya diterima oleh Olga, sebagian yang
dimilikinya tersebut dengan terpaksa diserahkan pihak lain, rumah sakit,
dokter, perawat dan terapisnya, untuk membeli biaya kesehatannya.
Hasilnya mungkin tidak akan jauh berbeda bila dia tidak ngoyo untuk kejar
setoran, seandainya dia tidak kejar setoran penghasilannya mungkin hanya dapat
5 milyar, tapi dia tidak keluar ongkos biaya kesehatan. Sementara bila dia
begitu ngoyo kejar setoran dengan tidak mengenal waktu dan mengabaikan
kesehatan, bisa saja dia mendapatkan 10 milyar tapi dia juga akan menanggung
biaya kesehatannya yang mungkin bisa mencapai 5 milyar.
Jadi kalau memang rejekinya 5 milyar itulah yang mungkin akan dia dapat tak
lebih, sama juga dengan para koruptor dan hasil korupsinya mungkin akan sepadan
dengan biaya sidang dan ganti rugi yang dia bayarkannya. Kalaupun lolos dan tidak
ketangkap mungkin masa tuanya akan sakit-sakitan, sehingga tidak bakal bisa
menikmati hasil korupsi sepenuhnya dengan nyaman (hukum sebab akibat pasti akan
berlaku).
Yang terbaik adalah melakukan pekerjaan sebaik dan semampu yang kita bisa,
sementara hasilnya dikembalikan pada Sang Maha Pengatur dan Maha Pemberi
Rejeki. Apapun itu bila berlebihan tidak akan baik, pertengahan adalah yang pas
dan tepat, seimbang antara kerja keras dan istirahat, seimbang antara jasmani
dan rohani.
Langganan:
Postingan (Atom)

