Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Tubuh, Jiwa, Ruh dan Kematian (Tulisan teman di Facebook)

Bismillahirrohmanirrohiim,
Tulisan ini aku tujukan untuk seorang sahabat yang pada sebuah malam mengirimiku pesan singkat di ponsel berbunyi “Le, aku kirim message di fb, ndang dibuka. Urgent”. Segera aku membuka aplikasi jejaring sosial itu dan menemukan sebuah pesan darinya yang sangat-sangat panjang. Tema-nya pun memiriskan : Ruh, kematian dan prosesi penyempurnaan kematian.
Sekaligus tulisan ini aku tujukan untuk seorang lainnya, yang pernah juga mengirim pesan padaku yang berbunyi “Aku suka cara-mu mendekatkan diri kepada Tuhan. Lewat tulisanmu aku tahu kau sedang berproses “qorrub” dengan cara-mu yang tidak biasa. Tidak diperlihatkan, sembunyi-sembunyi sehingga jauh dari “sok” dan kesan pamer”.
Ya, aku tujukan tulisan ini kepada mereka berdua. Mereka yang secara langsung memberikan perhatian dan memiliki pandangan yang sejalan dengan “rasa” yang halus mengalir dalam darahku dan menyebar luas ke seantero jagad maya-ku.
Sebelum aku memulai, ijinkan hamba yang fakir ini menyebut nama Tuhan denga kalimah “Wallahu ‘alam, subhanaka laa ngilmalana ‘illama ‘alamtana”. Bahwa sesunguhnya segala pengetahuan adalah dari Tuhan saja, bukan dari hasil pikirku, apalagi rekadayaku.
Baiklah aku mulai saja :
Sebagai pondasi aku akan memapar seputar manusia. Bahwa manusia terdiri dari badan (tubuh), jiwa dan ruh. Tiga soal itulah yang sejauh ini menopang kehidupan manusia di muka bumi. Sementara orang berkeyakinan bahwa manusia terdiri dari dua dua soal saja : badan (tubuh) dan ruh.
Untuk soal tubuh tak perlulah aku jelaskan panjang lebar. Aku tahu kalian tentu faham secara kaffah dari mana datangnya tubuh dan kemana setelah kematian menghampirinya. Ya, benar, seluruh bagian tubuh manusia berasal dari “sari-sarining bumi” atau empat unsur alam yang telah dikenal luas : tanah, air, api dan angin. Itulah pembentuk “Adam”, yang secara rasa bimakna “suwung”. Artinya suwung : bahwa sebenarnya tubuh itu adalah kehampaan, tidak ada institusi riil dari sebuah tubuh manusia. Sebab ketika terbentuk, memuai dan kemudian kembali lagi pada keadaan tidak ada, di dalamnya hanyalah memuat sebuah “prosesi” dan bukan “esensi”.
Jadi ketika kematian menghampiri anak adam, “sari-sarining bumi” yang membentuk sebuah tubuh akan kembali kepada asalnya masing-masing, bercampur baur dengan yang lainnya untuk kemudian kembali lagi membentuk tubuh baru. Sesudahnya, terserah Gusti mau dipakaikan kepada siapa atau apa.
Soal Jiwa.
Jika kau memiliki hasrat atau keinginan maka itulah muasal jiwa. Pada sebuah kepuasan, pada sebuah kekenyangan, pada sebuah kelaparan, pada sebuah kehausan serta keadaan-keadaa lain yang “setaraf” dengan itu semua, dari sanalah jiwa berasal. Jadi sumber jiwa adalah “hasrat” dan “keinginan” yang “boleh” dipenuhi.
Aku sengaja menyebutnya dengan “boleh” yang mengacu kepada kata “bisa”, agar kalian faham bahwa kemauan itu berasal dari jiwa yang didorong oleh sebuah kebutuhan badan akan “sesuatu” untuk dipenuhi. Jadi, jiwa itu bukanlah “sesuatu” yang suci seperti yang selama ini (mungkin) kalian kenal. Jiwa itu berpasang-pasangan, persis seperti makhluk Tuhan lainnya. Baik-buruk, susah-senang dll senantiasa menempel pada jiwa.
Jiwa-lah pendorong menggumpalnya sejumlah keinginan dan juga kemauan yang sering memaksa “Adam” untuk memenuhinya.
Lalu kemana perginya jiwa saat kematian datang ?
Dia akan kembali kepada golongannya di alam hasrat keinginan (iskat-iskat). Melebur bersama kawan-kawannya di alam itu untuk selanjutnya, seperti halnya “sari-sarining bumi”, akan kembali dikenakan oleh siapa atau apa atas “Kun” Tuhan.
Dan berikutnya adalah : Ruh.
Aku sengaja menukil satu ayat Al Qur’an dalam Surat Al-Isra : “Saat kau (Muhammad) ditanya tentang ruh, katakan bahwa itu adalah urusan-KU”. Ini mengindikasikan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan yang cukup tentang ruh kecuali sedikit saja.
Ruh itu soal yang jauh dari jangkauan, bahkan di luarnya. Bisa dirasakan namun tak pernah bisa terjelaskan secara tuntas. Aku hanya bisa bilang ruh itu lah pembentuk pola dasar manusia. Tanpa ruh yang meniupkan hidup, manusia tak akan pernah mampu menjalani kehidupan.
Sebagian manusia meyakini ruh itu adalah “cuwilan” sifat Gusti Allah. Artinya ruh itu bagian dari Gusti Allah dan ketika manusia mati ruh akan kembali pada-Nya, menyatu dengan-Nya. Hati-hati dengan pengertian itu.
Yang aku “rasa”, manusia itu beda dengan Tuhan, sehingga segala materi pembentuknya pun tentu berbeda dengan Tuhan. Sehingga ruh tidak pernah menyatu kembali (manungal) dengan Tuhan. Ketika manusia mati, ruh akan kembali ke alamnya sendiri.
Ayo aku tengokkan ke sebuah kalimah “Gusti iku wa laa kaifin bi laa mitsalin”. Artinya, Allah itu “tan kena kiniro tan kena kinoyongopo”, bahwa Tuhan itu benar-benar tak terbayangkan dan tak terjelaskan. Jadi kalau ada yang meyakini bahwa ruh itu cuwilan / bagian dari Tuhan, itu mengingkari kalimah di atas.
Baiklah, karena keterbatasanku aku akan menggunakan pengibaratan. Anggap saja ruh itu tetes air laut, sementara Tuhan itu lautan yang maha luas. Meski pengibaratan ini jauh dari esensinya namun aku rasa ini akan membantu pemahaman kalian. Ketika ruh itu tetes air laut dan Tuhan itu lautan yang maha luas, apakah bisa dikatakan bahwa laut itu berasal atau terbentuk dari tiap tetes air laut ? Tidak kan ? Sebab jka logika ini yang digunakan maka pada setiap peng-ada-an makhluk maka kuasa lautan akan berkurang kan ? Dan ketika makhluk semakin bertambah, kuasanya mengecil karena terlalu banyak di-cuwil, tidak begitu bukan ?
Maka, gunakan logika sebaliknya. Bahwa tiap tetes air laut itu memang berasal dari laut yang maha luas, namun (sekali lagi namun) untuk menyebut esensi laut apakah cukup dengan menunjuk lautan luas dengan garis cakrawalanya ? Apakah cukup dengan menyebut laut utara dan laut selatan ? Apakah cukup dengan menyebut bahwa laut itu adalah ini dan laut itu adalah itu ? Tidak ! Sama sekali bukan ! Tidak pernah cukup kalimat dan logika manusia untuk sekedar menyentuh tiap tetes air laut, apalagi laut itu sendiri.
Ketika Tuhan tidak terdefinisikan, maka setiap yang bisa didefinisikan bukanlah Tuhan, begitu bukan ? Maka sederhananya, antara lautan dan tetes air laut itu sejalan, satu gerakan namun bukan berarti menyatu. Ketika ada ombak bergerak ke pantai maka lautan bergerak ke pingir, begitupun dengan tiap tetes air lautnya. Namun tetap saja tidak bisa dikatakan bahwa tiap tetes itu adalah lautan atau bahkan sebaliknya bahwa lautan itu ya tetes itu sendiri. Apalagi bicara penyatuan (kemanungalan) tetes dengan lautan. Tidak pernah ada penyatuan itu, dan itu telah jelas ditegaskan sepanjang masa bahwa tidak ada satupun makhluk yang berkesempatan bersatu, bertemu muka atau bahkan manunggal dengan Tuhan, seistimewa apapun dia !
Maka, itulah ruh yang menjadi rahasia Tuhan. Bahwa ruh adalah entitas dasar yang melandasi hidup makhluk dan menjadi penggerak kehidupan makhluk. Kemana ia berpulang ? Ia akan kembali kepada lautan, namun bukan berarti menyatu dengan lautan itu sendiri, ia hanya bergerak sesuai kemauan lautan. Dan pada saatnya nanti ia akan kembali lagi menerima perintah untuk “turun” dalam kuasa prerogatif Tuhan.
Tentang Kematian
Tidur adalah alamat kematian atau sebut saja kematian kecil atau latihan kematian. Maka, menjalani proses tidur dengan penuh perhatian adalah langkah awal yang baik untuk berlatih tentang kematian.
Tidur yang baik itu sama seperti mati yang baik (baik untuk ukuran kesempurnaan). Yaitu tanpa bermimpi dan tanpa merasakan apapun. Artinya secara ilmu islam akan disebut kembalinya segenap pembentuk manusia kepada alamnya masing-masing tanpa kesasar dan tanpa mampir-mampir.
Tidur yang bermimpi persis seperti mati yang kesasar. Persis seperti mati yang tidak menyadari kematiannya. Maka itu, sungguh beruntung orang yang bisa tidur tanpa bermimpi. Selain tidurnya nyenyak itu menandakan posisinya yang mantap dalam alam “laahiyah”. Sebuah alam suwung, tanpa apa-apa dan tanpa siapa-siapa.
Mati itu perkara mudah dan murah. Seharusnya tidak perlu ditakuti apalagi harus dipersiapkan masak-masak. Mati ya mati saja, tidak perlu menyoal tentang mati sampai njlimet yang mengakibatkan tergerusnya kepasrahan kepada Tuhan dan berganti dengan ketergantungan kepada doa-doa atau upaya-upaya “penyempurnaan’ yang banyak dilakukan oleh para pemuka agama.
Sungguh, 100% itu urusan Tuhan. Ketika siapapun (tak terkecuali para pemuka agama) menyatakan bahwa kematian itu gini dan gitu, itu adalah sebuah penafsiran dari sebuah bisikan langit yang sangat boleh jadi terbatas untuk dirinya saja dan bukan untuk orang lain. Sehingga masing-masing manusia memiliki ke-khasan sendiri-sendiri dalam menghadapi kematian.
Oh, sobatku...
Bukan berarti aku nuzus (membangkang) kalimat maha guruku. Ini semua juga kalimat beliau yang kemudian aku rasa lalu sarikan. Ini adalah tafsir dari rasaku yang aku bagikan pada kalian, kepada anak jaman yang berbeda waktu dan ruang dengan maha guruku.
Baiklah sobat,
Sekali lagi aku ulangi, mati ya mati saja. Tidak lebih. Ketika maha guru mengadakan prosesi penyempurnaan, itu adalah sebuah irodah untuk menyadarkan almarhum bahwa dia sejatinya telah mati, persis seperti meluruskan tidur agar tidak bermimpi, apalagi bermimpi buruk. Mengapa demikian ?
Sobat,
Banyak manusia mati tanpa menyadari bahwa dia telah mati. Bahwa dia telah berpindah alam. Dan, ketika semestinya dia kembali kepada keadaan kosong (suwung, hampa - laahiyah) agar boleh kembali ditugaskan ke muka bumi, di justru tersesat masuk ke alam jiwa yang banyak sekali menawarkan keindahan semu dan juga kesenangan sesaat atau bahkan tersesat ke alam yang sangat-sangat menakutkan. Bayangkan saja jika itu terjadi untuk waktu yang lama, berpuluh bahkan bratus tahun ! Betapa nestapanya dia.
Mengapa bisa tersesat ? Dorongan jiwa yang terlalu besar atau desakan keinginan yang mendominasi hari-harinya semasa hidup di dunia-lah penyebabnya. Selain itu, ada pula penyebab lainnya yang sungguh absurd bagi si awam. Dia adalah keterkaitan antara masa lalu dan masa kini. Ini yang sangat sulit ditebas dan dipecahkan. Bagi yang meyakini inkarnasi macam diriku, inilah salah satu yang memperumit persoalan kematian.
Nah, sobat...
Kesesatan itulah yang diatasi dengan prosesi penyempurnaan. Penyempurnaan hanyalah sebatas menyadarkan almarhum bahwa sejatinya dia telah mati. Sekedar menyadarkan bahwa dia sudah tidak tinggal di dunia lagi. Sebab dalam banyak kasus seorang almarhum merasa tetap hidup di dunia padahal dia telah mati dan mengabdi atau dimanfaatkan makhluk lain karena jiwanya tergoda dengan sesuatu yang lebih kuat mempengaruhi seluruh geraknya semasa hidup di dunia. Ya, semacam keinginan-keinginan yang tertunda dan sejenisnya.
Perkara sesudah penyempurnaan itu (wallahu ‘alam) perkara Tuhan, 100% urusan Tuhan. Si pelaku prosesi penyempurnaan jangan sampai merasa dia lah penyempurna itu. Sebab, sekali dia merasa menyempurnakan, maka prosesi itu telah terkotori oleh riya’ ! Dan untuk beberapa kyai yang baru saja dianugerahi kebisaan melakukan prosesi itu, inilah kendala utamanya. Bagaimana memisahkan dan memasrahkan total kepada Tuhan dan bukan atas “reka-daya” dia.
Duh sobat,
Andai guruku membaca ini tentu beliau akan tersentak pula !
Lalu, mau dikemanakan setelah kesempurnaan itu tercapai ? Teorinya adalah berpulang kepada laahiyah (alam suwung) sambil menungu “cakra-manggilingan” guna kembali menerima amanah di muka bumi. Dan lagi-lagi itu adalah prerogatif Tuhan, sedang manusia hanya bisa mengarungi sebuah jalur berikutnya yang telah disiapkan oleh-Nya.
Kemudian, soal batas kemampuan si ruh. Bagaimana ruh itu saat kembali pulang lalu hidup lagi. Apakah dia memiliki batas pengetahuan dan juga ke-ngaliman seperti ketika dia hidup dulu ?
Jawabku : Maaf sobat terpaksa aku luruskan pertanyaan itu. Bukan ruh yang terbatas saat kembali hidup ke dunia, tetapi jiwa (gumpalan hasrat dan keinginan yang juga menjadi materi pembentuk manusia).
Ruh itu tetap ruh, tetap tetes air laut tanpa pernah berubah menjadi apapun. Tanpa keinginan dan tanpa hasrat. Ketika adam menemukan keber-ada-annya, lalu dilengkapi dengan jiwa dengan segala problematikanya maka ruh tetap pada jalurnya yaitu membawa sifat hidup Tuhan. Maka ruh tidak pernah mati, tidak pernah kemana-mana (urip tan kenane owah, urip tan kenane mati – itulah ruh).
Jadi, ketika kembali hidup. Maka ruh saja yang tetap, sementara adam dan jiwanya silih berganti sesuai “Kun” dari Tuhan. Inilah penjelasan yang paling mendekati untuk sebuah pertanyaan “mengapa masih ada saja kejahatan di muka bumi ?”. Gimana kejahatan bisa hilang, sementara jiwa itu berpasangan dan setiap lahir jiwa ber-DNA baik akan lahir pula jiwa ber-DNA buruk pada saat bersamaan. Sehingga yang diperlukan oleh manusia (makhluk) adalah berdamai dengan hidup (ruh) dan kehidupannya (jiwa). Jika memang dia mendapat piranti jiwa yang buruk (wallahu ‘alam) semasa hidup dia akan mengabdi kepada keburukan dan sebaliknya.
Apakah itu salah ?
Sobatku terkasih. Ini bukan soal benar salah. Ini soal hak, soal piranti makhluk yang 100% dalam genggam kuasa-Nya. Manakah sisi paling kecil dalam peri kehidupan makhluk yang tanpa campur tangan Tuhan ? Non sense kan ?
Jadi, sobat...
Pesanku untuk mengakhiri kuliahku ini : Janganlah eforia ketika kau di-nas mnjadi baik. Pun juga jangan bersedih ketika kau di-nas menjadi oposisi kebaikan. Sungguh itu perkara Tuhan semata.
Salam,
Dulkamid tukang ngarit

Minggu, 15 November 2015

Hanya Copas, ingin berbagi……


Hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan makrifat. ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit orang yang memiliki kelebihan ilmu ini, saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat.

Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan. Buku-buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini. Ilmu ini adalah wilayah pengalaman, sehingga harus diajarkan oleh seorang guru yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut, jadi hati hati lah…

Mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci.

kita malah justru hati-hati dengan seorang guru yang sering menceritakan kehebatan-kehebatannya, bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah. Guru yang demikian berarti ilmunya, ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku, istilahnya belum zero mind.

Guru yang benar-benar sakti adalah guru yang sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan Allah. Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat? sedangkan dia sendiri tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Bila anda betul betul tertarik untuk mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah dalam Qur’an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang ada.

Setelah yakin akan syari’at yang dipegang mulailah berjalan, artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. Jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah, kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan.

Orang kalau sudah makrifat sama Allah dia akan lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience bahkan merupakan muara dari peaks experience. Wilayah pengalaman tidak untuk didiskusikan tapi untuk di alami bersama.

Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode… masalah makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.


Tambahan pribadi,

Perjalanan Reyshad Filed (musisi Inggris) yang ditulis dalam buku The Last Barrier (ada yang terjemahan Indonesia), bisa menjadi tambahan bahan bacaan.


 

Sabtu, 24 Oktober 2015

Apakah Satire Sama Dengan Membully?

Menurut pengertiannya,


Satire adalah gaya untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironisarkasme, atau parodi.

Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar rasagamagenderseksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Kalau berdasarkan pengertian diatas satire dan bullying memang tidak memiliki kesamaan. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata antara satire dan bully itu ada benang merah yang masih bisa ditarik.

Dalam pengerian bullying diatas, disebutkan “…Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu…”. Dan juga jika merujuk pada kalimat ini “…Tindakan penindasan (bullying) terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber..”.

Masih menurut wikipedia disebutkan juga adanya jenis bullying secara psikologis, yaitu tindakan penindasan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga menimbulkan kegalauan/GUSAR.

Jadi satire jika ditujukan pada seseorang hanya sekali atau dua kali saja mungkin itu memang murni berupa bentuk sindiran atau hanya sebatas parodi saja. Namun bila satire diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres juga menimbulkan kegalauan/GUSAR, maka bukankah itu juga disebut bentuk bullying.  

Dalam urusan bullying kelihatannya satire adalah senjata yang sangat ampuh dan sadis, ibaratnya seperti peluru karet yang bisa dipantulkan kemana saja sebelum mengenai sasaran sebenarnya. Dan tidak terlalu mematikan, butuh berkali-kali tembakan supaya korban tewas mengenaskan.

Satire ini juga pas dengan jargon seleb cantik yang sering bikin heboh Syahrini,“Maju Cantik Mundur Cantik”. Kalau korban hanya diam tidak melawan maka peluru akan ditembak berulang (maju cantik), tapi kalau korban mulai marah dengan mudah mengelak, “kamunya aja yang sensi aku kan bukan lagi ngomongin kamu” (mundurpun masih tetap cantik).

Apakah satire sama dengan membully? Jelas tidak. Tapi satire bisa menjadi senjata ampuh bagi orang yang berniat dan bertujuan membully. Dan bisa terjadi dimana saja, baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, atau dalam sebuah komunitas yang besar.

Sumber:




Kamis, 08 Oktober 2015

Salim Kancil, Jalan Sunyi Corong Kebenaran

Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang kenal namamu
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang tahu siapa dirimu
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang peduli teriakanmu

Tak banyak kawan yang mengiringi
Tak banyak keluarga yang mendampingi
Tak banyak kerabat yang melindungi

Saat itu banyak yang memilih diam
Saat itu banyak yang memilih bungkam
Saat itu banyak yang memilih terpejam

Kawanmu tak peduli, karena segan
Keluargamu tak peduli, karena sungkan
Kerabatmu tak peduli, karena enggan

Di negeri ini, itulah yang terjadi
Corong kebenaran selalu berjalan sunyi
Suaramu dianggap berisik
Teriakanmu dianggap mengusik

Semoga tak terulang lagi
Nyawa jadi taruhan
Corong kebenaran berjalan sendiri
Menjadi tumbal pembeli kekuasaan

Nurani tak bisa menipu
Namamu kini bergema dijalanan
Mengenang kebenaran perjuanganmu
Engkau tlah menjadi pahlawan



Gambar: majalah detik

Rabu, 07 Oktober 2015

Laron Pudak, Penanda Musim Hujan Akan Tiba

Tadi malam gerombolan laron pudak (laron kecil-kecil) datang menyerbu rumah, datang bergerombol mengerumuni lampu teras. Mengingatkan saya pada cerita orang tua saat masih SMP atau SMA, cerita turun temurun tentang laron pudak yang membawa tanda akan datangnya musim penghujan.

Beda dengan pengetahuan ilmiah untuk memperkirakan cuaca, datangnya musim hujan dan kemarau yang didasarkan pada arah angin, terutama angin muson Barat dan muson Timur. Arah angin ini menentukan kandungan air yang terbawa oleh awan, yang berakibat pada terjadinya musim kemarau dan musim penghujan.

Sementara para leluhur jaman dahulu mengandalkannya pada ilmu niteni (menandai), menandai pergerakan alam beserta para penguninya terutama kepekaan naluri dari binatangnya.

Naluri atau insting kebinatangan (dalam arti positif) ternyata sangat peka dalam membaca keadaan yang akan terjadi beberapa hari atau beberapa bulan kedepan. Contoh yang menarik dan banyak diteliti adalah kepekaan binatang dalam mendeteksi datangnya bencana alam. Gunung meletus, gempa bumi, bahkan tsunami pun bisa dirasakan atau dibaca terlebih dahulu oleh para binatang.

Entah darimana asalnya atau bagaimana cara melatihnya, yang jelas binatang-binatang ini begitu paham cara bertahan hidup ditengah ancaman bencana alam.  

Seperti juga keluar atau munculnya laron pudak, yang oleh para leluhur dijadikan penanda datangnya musim penghujan. Para laron ini seperti tengah mempersiapkan diri menyambut datangnya musim hujan, dengan tujuan utamanya adalah mempertahankan kelangsungan hidup dari koloninya.

Musim hujan dan kemarau ini bagi sebagian binatang seperti menjadi jam biologis untuk mempersiapkan dan mempertahankan kelangsungan hidup generasi penerusnya.

Benar atau tidak, menarik untuk ditunggu satu bulan kedepan. Seandainya benar, maka sangat layak manusia tetap melestarikan kearifan lokal seperti ini. Serta tetap mejaga alam lingkungannya agar binatang-binatang hebat ini tidak punah, agar bisa terus belajar dan mengasah insting kita membaca pergerakan alam, atau paling tidak tetap bisa membaca tanda yang telah diberikan oleh para binatang ini.



Minggu, 12 Juli 2015

Pedofil Dan Incest Akankah Disamakan Dengan LGBT?

Ditengah suka cita diakui dan dilegalkannya LGBT disejumlah negara besar, atas nama persamaan hak memperoleh tempat dan perlakuan yang sama dengan warga yang lain. Mereka bukan alien aneh yang berbeda, mereka tidak berperilaku menyimpang tapi sama alamiahnya dengan yang lainnya hanya berbeda sudut pandangnya.

Terbersit pula satu pertanyaan, lantas bagaimanakah dengan pedofil dan incest?

Karena kedua jenis sudut pandang tersebut hingga kini juga masih menjadi perdebatan, apakah bentuk kejahatan atau satu hal alamiah yang harusnya juga diberi tempat dan ruang seperti LGBT.

Bagaimana kalau pelaku (pemilik) sudut pandang ini juga menuntut hal yang sama? Akankah mereka juga akan diakui keberadaan mereka.

Karena bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti pedofil dan incest juga tidak perlu lagi memaksakan keinginan mereka, tapi dilandasi atas dasar suka sama suka sama seperti pemilik LGBT, satu hal yang dianggap alamiah.

Kalau selama ini yang tertampil diberita adalah adanya kekerasan dan pemaksaan pada pasangan mereka (anak-anak dan saudara/keturunan mereka), hingga golongan ini selalu disudutkan pada tindak kekerasan dan penyiksaan.

Maka pada suatu saat nanti akan tiba juga masanya akan ada anak-anak yang suka dengan orang yang lebih dewasa, suatu saat nanti akan ada saudara/orang tua dan anak yang saling mencintai, tanpa ada paksaan.

Bukan menjadi hal yang tidak mungkin terlebih diera jejaring sosial dan internet seperti sekarang ini. Kalau sekarang anak atau orang sedarah yang punya sudut pandang berbeda masih takut dengan keinginan mereka, namun dengan terbukanya pergaulan dan informasi di era internet seperti ini, mereka akan semakin terbuka dan mendapat tempat untuk berbagi dan berkomunikasi, serta membuat komunitas tersendiri.

Hingga pada suatu saat nanti merekapun juga akan menuntut hak yang sama, lantas akankah mereka suatu saat nanti juga akan diakui? Akankah sudut pandang mereka juga dianggap hal yang wajar dan alamiah?

Entahlah…. Waktu memang tidak akan pernah berjalan mundur, tak akan bakal bisa menghindarinya. Hanya berharap dan memohon agar seluruh keluarga dan keturunanku selalu diberi keselamatan, keselamatan untuk tidak menjadi bagian/golongan seperti mereka, serta keselamatan pula untuk tidak menjadi pembenci mereka, selalu menjadi golongan yang menempuh jalan yang lurus, amin, amin, amin……


Bagaimana Sebaiknya Muslim Menyikapi LGBT?

LGBT kini tengah marak dan semakin mendapat tempat diseluruh dunia, lantas bagaimanakah muslim menyikapi hal ini? Menentangkah atau ikut arus utama mengikutinya.

Dalam Qur’an telah jelas disebutkan umat Nabi Luth adalah contoh perwakilan dari mereka ini, dan dengan jelas pula dalam kisah tersebut Allah mengutus Nabi Luth untuk memberi peringatan pada mereka untuk tidak terus melanjutkan perbuatan mereka.

Jadi jelas ajaran Islam melarang perbuatan semacam umat Nabi Luth ini, pernikahan apalagi hanya sebatas hubungan tanpa ikatan oleh sesama jenis gender jelas juga akan terlarang pula.

Jikalau begitu tidakkah Islam akan semakin dikenal sebagai agama yang sangat tidak toleran, dimana selama beberapa tahun belakang ini tercitra sebagai agama dan umat yang sangat tidak menghargai perbedaan.

Lantas bagaimanakah sikap yang sebaiknya dilakukan?

Ada satu hal pernah menjadi renungan saya pribadi, jika kita ingin memperbaiki sesuatu entah barang atau apapun bila saat pertama kali melihatnya saja sudah menimbulkan ketidak senangan atau kebencian pada barang tersebut, maka bisa dipastikan akan semakin enggan untuk memperbaikinya. Kalaupun terpaksa memperbaikinya juga akan asal-asalan saja, hingga hasil yang diperolehpun juga semakin asal-asalan pula.

Jadi kalau kita ingin memperbaiki mental atau sikap yang tidak tepat seperti LGBT dan aneka macam kejahatan dengan penuh kebencian maka akan sama hasilnya seperti perumpamaan memperbaiki barang diatas, yang diperoleh adalah hasil yang asal-asalan pula. Tidak membuat perubahan pada sikap dan tingkah laku dari mereka, tapi  malah semakin menimbulkan kebencian dari mereka.

Boleh dan harus kita tidak menyukai perilaku mereka karena ajaran yang menjadi keyakinan kita memang mengajarkan demikian, tapi jangan lantas menjadi pembenaran untuk membenci personal dari mereka, benci perbuatannya tapi jangan pernah membenci pelakunya.

Sama halnya dengan dilarangnya kita untuk tidak memakan daging babi, atau diperintahnya kita untuk menghindari air liur anjing, namun tidak pernah ada ajaran untuk membenci babi atapun anjing sebagai “personal”. Kita memang diperintah untuk menjauhi mereka namun bukan untuk membenci mereka. Sebagaimana tugas yang dibebankan manusia (muslim) untuk menjadi khalifah dimuka bumi, menjadi pengatur segala sesuatu yang ada dalamnya. Memanfaatkannya, memilah dan memilih bukan malah menghancurkan dan merusakannya.

Namun jangan lantas pula mencari-cari pembenaran atas perilaku tersebut dengan mencari ataupun memelintir dalil-dalil, agar supaya Islam terlihat toleran. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang sangat terbatas kemampuannya, tidak bakal mampu melihat apa yang akan terjadi satu detik didepan, tidak pula bakal bisa kembali satu detik kebelakang.

Apa yang jelas terlarang pasti ada alasan dan hikmah yang terkandung didalamnya, mungkin bukan sekarang bakal diketahuinya tapi suatu saat nanti.

Menghormati keputusan mereka sebagai pribadi, tapi tidak perlu pula merubah akidah dan ajaran yang telah ada……


Selasa, 16 September 2014

Kasualitas



Menurut Wikipedia, [[[Kausalitas merupakan prinsip sebab - akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Kausalitas dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama.

Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis tersebut.]]]

Bagi yang berkeyakinan dengan konsep agama langit selalu menisbatkannya pada Sang Maha Tunggal, sebagai penyebab awal atau sebab yang tidak lagi bersebab.

Sementara bagi beberapa keyakinan dan atheis mereka akan selalu mengejar harusnya ada lagi yang menyebabkan Tuhan ada, dan selalu akan terjadi argumen yang panjang.

Menurut renungan saya kasualitas itu seperti barisan seratus orang yang menghadap ke arah yang sama (bukan melingkar), saat orang pertama mendorong orang kedua dan mengakibatkan jatuhnya orang kedua, ketiga dan seterusnya. Jadi penyebab jatuhnya orang kesaratus adalah orang ke sembilan puluh sembilan, dan seterusnya hingga sampai pada orang pertama. Sementara orang pertama tidak terjatuh karena tidak ada yang menyebabkan dia terjatuh disebabkan dialah penyebab pertama atau penyebab awalnya.

Selasa, 09 September 2014

Tidak Hanya Butuh Logika Tapi Juga Rasa



Bunyi atau suara adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium atau zat perantara, yang dapat berupa zat cair, padat, gas. Secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan getar osilasi atau frekuensi yang diukur dalam satuan getaran Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam satuan tekanan suara desibel (dB).

Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia berkisar antara 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo berbagai variasi dalam kurva responsnya.

Itulah kurang lebih teori yang ada mengenai bunyi atau suara, sementara…

Nada adalah bunyi yang beraturan, yaitu memiliki frekuensi tunggal tertentu. Dalam teori musik, setiap nada memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda.

Itulah kurang lebih penjelasan tentang nada…..

Bagi awam seperti saya, yang tidak pernah belajar merasakan kepekaan terhadap nada, bunyi yang terdengar menjadi lebih mendekati ke penjelasan teoritisnya saja. Maka ketika ada alat musik di bunyikan dengan nada Do, bagi saya tidak akan bisa membedakannya dengan nada Si atau Re, nada Mi terasa hampir sama dengan Fa, dst.

Sementara bagi orang yang sudah belajar dengan baik merasakan nada, maka mereka bukan hanya bisa membedakannya tapi juga bisa menyusun atau menata nada-nada tersebut menjadi sebuah irama, hingga bisa tercipta lagu yang mengalun indah, menjadi sebuah karya yang luar biasa.

Ternyata bagi logika awam saya suara hanyalah sebuah bunyi yang tidak memiliki makna apa-apa tak lebih tak kurang, sementara bagi mereka yang sudah belajar merasakan dan menjiwainya, bisa menjadi kaya makna bahkan menjadi maha karya…………

Selasa, 10 Juni 2014

RUANG TUNGGU UGD

Beberapa waktu yang lalu saya mengantar family ke rumah sakit, setelah si sakit selesai ditangani di sarankan untuk menjalani rawat inap. Sambil menunggu persiapan pindah kamar selesai, saya duduk di ruang tunggu UGD, malam itu pasien yang datang ke UGD tidak banyak, diantatanya famili saya, seorang anak seumuran anak SMP, kemudian datang lagi hampir bersamaan 2 orang yang sudah sepuh (tua).

Yang satu seorang nenek, saat masuk terlihat hanya terbaring lemah tak ada suara atau gerakan kesakitan. Yang satunya lagi seorang kakek, tubuhnya menegang dan samar-samar dari mulutnya terdengar suara menyebut-nyebut Asma dan Keagungan-Nya. Saya pikir baguslah, saat-saat kritis seperti itu masih bisa menyebut Asma-Nya, soalnya tidak sedikit ketika merasakan sakit yang sangat malah menyebut kata-kata yang tak pantas dan supah serapah.

Beberapa waktu kemudian si nenek di bawa keluar lagi, dari percakapan para pengantar yang bisa saya tangkap, kelihatannya sang nenek harus dirujuk kerumah sakit yang lebih lengkap peralatannya, sementara untuk sang kakek saya tidak tahu lagi kelanjutannya, karena saya sudah bersiap-siap untuk memindahkan famili saya ke kamar rawat inap.

Sesampainya dirumah pikiran saya tidak lantas berhenti begitu saja, justru malah berputar-putar karena pemandangan itu sulit lepas dari pikiran, terutama tubuh tegang dan ekspresi wajah dari sang kakek yang seperti ketakutan. Dan menurut otak-atik pikiran liar saya, kelihatannya penyebutan Asma dan Keagungan-Nya lebih seperti sebuah doa-doa dan harapan untuk terus hidup, ekspresinya seperti takut akan kematiannya atau takut terpisah dari semua yang dimilikinya (keluarga, harta dan sebagainya).

Kesimpulan saya tersebut mungkin merupakan gambaran bawah sadar saya sendiri, bahwa saya sebetulnya juga takut bila berada di posisi kakek tersebut. Padahal kematian itu adalah satu-satunya yang pasti diantara ketidakpastian di alam dunia ini. Akankah saya pada akhirnya juga akan seperti kakek itu? Takut terpisah dengan dunia, takut kehilangan segala nikmat indrawi yang sudah terlanjur melekat dan berkarat dalam pola pikir dunia materi ini?

Bukankah selama ini para nabi dan wali sudah memberikan ajaran-ajaran dan tauladan untuk menghadapi saat-saat seperti itu. Sudah cukupkah ajaran ataupun wejangan nari para nabi dan wali yang sudah saya praktekkan, dan bisa menjadikan saya siap menghadapinya? Ataukah semua praktek dan ritual yang saya jalankan hanya sekedar ritual tanpa makna? Sebuah ritual yang hanya sekedar gugur kewajiban saja, sehingga ajaran dan prakteknya tidak bisa meresap masuk dalam laku sehari-hari.......?
 

Rabu, 30 April 2014

Rejeki Tak Akan Lari Kemana (Pelajaran dari Olga Syahputra)

Kalau ada yang bilang kesempatan hanya datang sekali saja, saya tak cukup punya dalil yang kuat untuk membantahnya. Kalau ada yang bilang keberhasilan itu adalah hasil kerja keras puluhan kali lipat dari biasanya, saya juga tidak punya dalil yang kuat untuk membantahnya. Kalau ada yang bilang nasib itu berubah atas dasar kemauan manusia untuk merubahnya, pun saya tak tak punya dalil yang kuat untuk membantahnya.

Tapi melihat apa yang terjadi pada Olga Syahputra, mengingatkan saya akan petuah bijak lainnya. Rejeki itu tidak akan lari kemana-mana atau tiap-tiap makhluk itu sudah mempunyai rejekinya sendiri-sendiri.

Semut tak akan memperoleh rejekinya kelinci, burung tak akan memperoleh rejekinya harimau, singa tak akan memeroleh rejekinya gajah, sangat adil dan bijak Tuhan memberikan rejeki hingga tak mungkin akan tertukar. Rejekinya seukuran gelas dikasih air seember pasti akan luber, rejekinya seember dikasih air sebak mandi pasti akan luber, rejekinya sebak mandi dikasih air sekolam pastinya akan luber juga.

Mungkin seperti apa yang terjadi pada Olga, begitu kerasnya dia dalam bekerja hingga tak kenal waktu dan tak kenal lelah. Dan hasilnya memang sangat luar biasa, bukan hanya jutaan tapi milyaran rupiah berhasil dia kumpulkan.

Namun apa mau dikata, rejeki memang tak akan lari kemana. Hasil milyaran rupiah tersebut pada akhirnya tidak sepenuhya diterima oleh Olga, sebagian yang dimilikinya tersebut dengan terpaksa diserahkan pihak lain, rumah sakit, dokter, perawat dan terapisnya, untuk membeli biaya kesehatannya. 

Hasilnya mungkin tidak akan jauh berbeda bila dia tidak ngoyo untuk kejar setoran, seandainya dia tidak kejar setoran penghasilannya mungkin hanya dapat 5 milyar, tapi dia tidak keluar ongkos biaya kesehatan. Sementara bila dia begitu ngoyo kejar setoran dengan tidak mengenal waktu dan mengabaikan kesehatan, bisa saja dia mendapatkan 10 milyar tapi dia juga akan menanggung biaya kesehatannya yang mungkin bisa mencapai 5 milyar.

Jadi kalau memang rejekinya 5 milyar itulah yang mungkin akan dia dapat tak lebih, sama juga dengan para koruptor dan hasil korupsinya mungkin akan sepadan dengan biaya sidang dan ganti rugi yang dia bayarkannya. Kalaupun lolos dan tidak ketangkap mungkin masa tuanya akan sakit-sakitan, sehingga tidak bakal bisa menikmati hasil korupsi sepenuhnya dengan nyaman (hukum sebab akibat pasti akan berlaku).

Yang terbaik adalah melakukan pekerjaan sebaik dan semampu yang kita bisa, sementara hasilnya dikembalikan pada Sang Maha Pengatur dan Maha Pemberi Rejeki. Apapun itu bila berlebihan tidak akan baik, pertengahan adalah yang pas dan tepat, seimbang antara kerja keras dan istirahat, seimbang antara jasmani dan rohani.