Tampilkan postingan dengan label Aneh-aneh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneh-aneh. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Bagaimana Rasanya Kotoran a.k.a Tai?

Membaca status teman di fb (bukan tentang artikel di Kompasiana),

[["Keyakinan Mendahului Akal"

Syarat shahnya istinja' (sesuci - cebok) itu syariatnya di nyatakan sudah suci, apabila telah hilang :

(1). Bau,
(2). Warna dan
(3). Rasa


Bau dapat di nyatakan dg indra penciuman, warnanya ('ainiyah) dapat di nyatakan dg indra penglihatan, namun "rasa" haruskah musti di rasakan terlebih dulu ... ? di sanalah domain "hakekat keyakinan" mendahului rasionalitas akal.]]

Status diatas membuat saya jadi senyum-senyum sendiri dan kemudian bertanya, “Siapa kira-kira orang yang benar-benar tau rasanya kotoran? Siapa yang pernah benar-benar pernah mencoba merasakan dan mencicipinya?”

Saya super yakin bahwa tidak banyak yang dengan sadar dan sesadar-sadarnya telah mencicipi kotoran apalagi kotorannya sendiri. Bila demikian adanya, lantas darimana saya dan juga anda semua yang belum pernah merasakannya, menjadi begitu yakin bahwa kotoran dan juga termasuk kotoran anda sendiri ada rasanya (entah enak atau tidak enak)?

Darimana datangnya keyakinan saya dan anda tersebut? Padahal belum pernah membuktikan sendiri rasanya.

Ini mengingatkan saya pada debat antara theis dan atheis, satu dengan yakin mengatakan Tuhan itu ada sementara satunya lagi bersikukuh bahwa Tuhan itu tidak ada. Meski keduanya dengan landasan argumennya masing-masing, dan dengan alat bukti yang sebenarnya sama namun ternyata membawa kesimpulan yang berbeda, yaitu alam semesta.

Kasus tersebut mirip dengan masalah kotoran diatas, antara yang yakin bahwa kotoran mempunyai rasa (entah enak atau tidak) dan yang meyakini bahwa kotoran tidak mempunyai rasa apapun. Alat bukti yang dimilikipun juga sama, yaitu dari mengamati bentuk dan baunya, tapi ternyata kesimpulan yang diambil juga menjadi berbeda.

Siapakah yang benar diantara kedua pendapat tersebut, tentunya yang berani mencoba memakan sendiri kotoran tersebut. Mereka yang benar-benar mengunyah, merasakan teksturnya dan kemudian menelannya, yang tahu dengan sebenar-benarnya (makrifat) terhadap rasa kotoran tersebut.

Meyakini adanya rasa pada kotoran tapi tidak benar-benar mencobanya sendiri mungkin hanya akan sampai pada bau dan bentuknya saja, terjebak pada keyakinan berdasarkan katanya A, katanya B, katanya C, dan seterusnya.

Sementara meyakini bahwa kotoran tidak ada rasanya samasekali namun tidak mau mencicipi sendiri, hanya berlandaskan teori-teori kemungkinan saja, juga akan terjebak hanya sebatas keyakinannya pada sebuah teori.

Sayangnya masalah Tuhan dan Ketuhanan tidak semudah merasakan kotoran, yang bisa diicip, dirasakan, dan kemudian disimpulkan.........

NB: Ternyata di Jepang kotoran ini sudah diekstrak dan diberi aneka rasa, tapi apakah sang peneliti sendiri sudah pernah mencicipi rasa murninya atau rasanya saat masih asli, penulis sendiri belum menemukan sumbernya. 



Rabu, 21 Oktober 2015

Menjadi Biru Yang Nyleneh Dan Aneh

Tidak sama biasanya selalu dikaitkan dengan keanehan atau ke-nylenehan, atau bisa dikatakan tidak seperti pada umumnya, bahkan lebih jauh bisa dituduh kurang waras.

Sejauh mana orang menganggap suatu hal menjadi nyleneh dan aneh, kembali tergantung pada sudut pandang dari orang tersebut.

Seperti misalnya dalam dunia merah dan kuning, menjadi merah saja tentu akan dipeluk oleh sesama merah, dan menjadi kuning akan digandeng oleh sesama kuning. Atau memilih menjadi jingga yang masih bisa diterima keberadaannya oleh kuning dan merah.

Ketika menjadi merah, kuning dan juga jingga, dimana warna mereka masih memiliki kesamaan dan kemiripan unsur, maka kecenderungan untuk ditoleransi oleh salah satu warna masih menjadi peluang yang besar. Keberadaannya masih dianggap tidak nyleneh dan aneh, dan masih dianggap waras-waras saja.

Lantas bagaimana jika diantara merah, kuning dan jingga tersebut tiba-tiba muncul warna biru yang tidak memiliki unsur diantara ketiganya? Apakah merah, kuning dan jingga masih menganggap biru adalah hal yang masih bisa ditoleransi keberadaanya?

Tak perlu dijelaskan, lebih enak kalau sesekali mencoba mempraktekannya sendiri, jadi biar bener-bener mantep merasakan jenak-jenak menjadi biru. Apakah merah, kuning dan jingga akan tetap bisa menerima keberbedaannya, ataukah justru malah akan menjadi musuh bersama? Selamat mencoba...



Minggu, 13 September 2015

Harusnya Semesta Ini Tidak Tunggal (Universe), Tapi Banyak (Multiverse)


Salah satu sifat wajib yang harus dimiliki Tuhan adalah Maha Tunggal (Esa), tidak berbilang. Berkebalikan dari sifat Maha Tunggal tersebut adalah banyak, sifat yang wajib disandang oleh seluruh ciptaan-Nya. Karena Maha Tunggal adalah sifat yang hanya dimiliki Tuhan, maka semua ciptaan-Nya mesti dan harusnya bersifat jamak (multi).

Tidak berbagi, satu-satunya, tidak ada selain-Nya, dll, menjadi sifat yang hanya dimiliki Tuhan, sementara bisa dibagi, bukan satu-satunya, bisa diproduksi secara masal, dll, menjadi sifat yang dimiliki ciptaan/makhluk.

Termasuk didalamnya adalah alam semesta ini, jadi rasanya tidak tepat bila alam semesta ini dianggap alam semesta yang tunggal (universe). Sebagai ciptaan harusnya juga bersifat multi (lebih dari satu), memiliki saudara, memiliki teman, memiliki kerabat dan semacamnya.

Kumpulan galaxi yang disebut semesta ini, harusnya juga tidak hanya satu saja. Banyak kumpulan galaxi lainnya yang harusnya juga muncul atau mengada, sejalan dengan diadakan-Nya semesta yang dihuni anak turun Adam AS ini.

Semesta lain bukan dalam artian alam yang memiliki dimensi berbeda dengan semesta ini, tapi semesta yang serupa dan bisa jadi memiliki kemiripan dengan semesta yang dihuni oleh manusia.

Semesta yang mungkin saja dihuni oleh makhluk yang mirip manusia tapi hidup damai dan aman, atau mungkin juga semesta yang sunyi tanpa penghuni, atau semesta yang mungkin justru diisi oleh Iblis beserta keluarganya (karena gagal menipu Adam AS, jadi ganti Iblis yang turun ke dunia menanggung derita), dll.

Karena Maha Tunggal hanya bisa disematkan pada Sang Pencipta, maka multiverse adalah suatu hal yang seharusnya terjadi. Dan banyaknya semesta yang ada tentu tidak serta merta menjadi sebuah kesimpulan bahwa Tuhan menjadi banyak sebanyak semesta yang ada, justru banyaknya semesta membenarkan bahwa yang bersifat tunggal hanyalah Tuhan.

Semesta yang disini memang dihuni oleh makhluk yang penuh dengan ambisi, menyukai konflik, perang, kejahatan, dan lain sebagainya, namun disemesta lain bisa jadi dihuni oleh makhluk yang penuh kedamaian, aman, nyaman, sentosa dan sejahtera.

Dengan banyaknya semesta yang ada, maka semakin mengecilkan posisi manusia di jagad raya yang sangat luas ini, alias posisinya gak penting-penting amat. Maka kesombongan, kepongahan yang seperti apalagi yang mesti diumbar manusia. Masihkah merasa sok penting, merasa sok hebat, merasa sok kuat, merasa sok bisa, dan perasaan sok-sok-an yang lainnya.....

Sumber: http://astronomy-links.net/

Kamis, 10 September 2015

73 Golongan (Lanjutan)

Dari 73 golongan perbedaan yang ada dalam Islam, menurut pengetahuan saya sebagain besar hanya berputar pada masalah khilafiah saja. Masalah perbedaan dalam memandang suatu kekinian, terutama dalam mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil Quran dan Hadist.

Seperti Qunut dan tidak pakai Qunut, kirim Surat Fatihah atau tidak, boleh selamatan atau tidak, dll.

Sementara dalam masalah mendasar, terutama tentang Tuhan dan Ketuhanan jarang sekali mengalami persinggungan.

Tidak ada perdebatan tentang sifat ke-Esa-an Allah, Maha Tunggal tidak memiliki sekutu apapun, baik berupa ayat-Nya, firman-Nya, Nabi-Nya, dll. Tidak ada perdebatan lebih kuasa manakah antara Allah dan sekutunya, tidak ada perdebatan adakah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan lain selain Allah SWT, dan lain sebagainya.

Allah SWT sudah disepakati oleh semua muslim Maha Sempurna, Tunggal, Berbeda dengan makhluk-Nya, Berdiri sendiri, Kuasa, dll.

Tidak ada perdebatan mendasar tentang sifat dasar Tuhan, seperti Omnipotent (Qudrat/Maha Kuasa), ke-Maha Kuasa-an Tuhan yang tak terbatas memungkinkan Tuhan untuk melakukan apapun, jadi tidak perlu repot turun ke alam dunia untuk merubahnya.

Hari ini alam semesta beserta isinya dilenyapkan juga bisa, hari ini seluruh manusia berubah tanpa dosa seperti malaikat juga bisa, besok dirubah semua menjadi pendosa itu juga hak Tuhan.

Omniscient (Ilmun/Maha Mengetahui), awal dan akhir semua diketahui dengan sempurna oleh Tuhan, Iblis yang akan inkar, Adam AS yang akan tergoda, dan seluruh isi alam semesta akan menjadi seperti apa, semua lengkap diketahui oleh Tuhan.

Jadi dalam pemahaman Islam Tuhan tidak perlu Omnipresent (berada dalam ruang dan waktu ciptaan-Nya), cukup berada dalam Singgasana-Nya (sebuah alam keabadian yang tentu berada diluar ciptaan-Nya, seperti ruang, waktu dan juga semesta raya). Dari sana semua bisa terkontrol dan diatur, tidak perlu sampai turun kedunia untuk merubah apa yang sudah diciptakan-Nya, cukup dengan remot Kun Fayakun, apa diinginkan terjadi pasti akan terjadi.

Tukang kayu tidak perlu berubah menjadi kayu (dipotong, diserut, dipaku) untuk memperbaiki sebuah kursi kayu yang rusak, cukup mengambil peralatannya saja maka kursi kayu tersebut akan bisa diperbaiki seperti semula.

Sifat dasar tersebut diyakini sama oleh semua umat muslim, tidak ada pertentangan dan pertanyaan mengapa kalau Tuhan tahu iblis akan menggelincirkan Adam AS tidak mencegahnya saja. Kenapa Iblis tidak dibuat tetap baik saja seperti malaikat, sehingga Adam AS tidak sampai turun ke dunia.

Semua muslim mengamini kesempuranaan Tuhan, apa yang terjadi pada ciptaan-Nya memang itu yang mesti terjadi dan sudah menjadi rencana Tuhan. Muslim selalu melihat semua ciptaan Tuhan memiliki guna dan manfaat, muslim selalu diajarkan untuk selalu mengambil hikmah atas semua ciptaan-Nya.

Seperti apa yang terjadi pada Adam AS misalnya, adalah sebuah pembelajaran bagi makhluk ciptaan bernama manusia untuk berhati-hati dalam bertindak namun bila terlanjur melakukan kesalahan, tak perlu risau karena Tuhan akan mengampuninya (asal sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku).




Senin, 07 September 2015

73 Aliran Benarkah Menjadi Rahmat? (Renungan Kasus Teuku Wisnu)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. 

Mengacu pada hadist diatas, 73 bahkan lebih perbedaan aliran/golongan (sudut pemahaman) yang muncul sepeninggal Rosulullah sepertinya menjadi hal yang sewajarnya terjadi. Satu hal yang telah diprediksi jauh sebelumnya oleh Rosulullah sendiri.

Dengan tongkat estafet kepemimpinan yang tidak ditunjuk secara resmi (tidak ada surat wasiat) dari Rosulullah yang bisa dianggap legal untuk mengantikan Beliau (meski Syiah mempunyai versinya sendiri). Menjadikan tanda dan prediksi Beliau tentang percabangan dalam Islam semakin mendekati kenyataan.

Kerugian

Memang betul dengan banyaknya aliran percabangan dalam memahami ajaran Nabi (Qur’an dan Hadist) disatu sisi semakin menciptakan perpecahan dalam kalangan umat Islam sendiri.

Banyaknya aliran telah terbukti menjadikan wajah Islam terpecah belah, dan sering dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan. Konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah bukti kuat kekuasaan yang memanfaatkan perpecahan yang ada didalam ajaran Islam.

Konflik kepentingan yang ingin menguasai dan menancapkan kekuatan pengaruhnya di wilayah Timur Tengah, telah menjadikan aneka aliran tersebut sebagai pintu gerbang untuk memasukinya. Menjadi kuda troya bagi mereka yang ingin berkusa dan menguasai wilayah disana.

Antar golongan dengan mudah dimanfaatkan, diadu dan dibenturkan untuk saling tikam sendiri, orang-orang yang haus kekuasaan tidak perlu modal besar membuat prajurit atau tentara yang banyak, cukup menyediakan dana secukupnya maka konflik bisa tercipta dengan mudah. Mereka dengan cepat akan saling hujat, mengkafirkan, dan semacamnya yang pada ujungnya akan saling bunuh dengan sendirinya, hanya karena ingin mengesahkan bahwa tafsiran akan ajarannya adalah yang paling tepat dan sempurna.

Keuntungan

Namun disisi lain, juga bisa memberikan pengajaran dan pendidikan tentang cara berpikir terbuka, menghargai perbedaan, tidak kaku dan sakleg dalam memahami Qur’an, Hadist, Tuhan, Ketuhanan, dll, yang justru bisa memperkaya khazanah ke-Islam-an itu sendiri.

Menurut renungan saya, ada manfaat yang besar dengan tidak adanya penunjukan secara resmi oleh Rosulullah siapa yang menggantikan Beliau. Terutama bila ditarik kepada satu hadist yang terkenal Perbedaan-perbedaan umatku adalah rahmat”, meski hadist ini tidak memiliki sejarah periwayatan yang jelas (hadist yang lemah) namun banyak ulama sepakat bahwa hadist ini memiliki lebih banyak manfaat daripada mudarat

Dengan tidak ditunjuknya penganti Beliau secara resmi, maka umat Islam terhindar dari munculnya sosok atau kaum yang merasa secara legal ditunjuk untuk menjadi “Nabi”. Sosok atau kaum yang merasa paling berhak melanjutkan tugas Kenabian atau silsilah Kenabian.

Dengan tidak menunjuk secara resmi, Rosulullah SEJATINYA telah menutup peluang munculnya sosok atau kaum yang akan bertindak sebagai “Nabi berikutnya”. Dengan kekuasaan yang legal dari wasiat Rosulullah, maka pemegang wasiat tersebut sama dengan memenggang kekuasaan yang besar atas seluruh umat Islam.

Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi kelak, bila kekuasaan yang sedemikian besar atas seluruh Muslim di dunia, jatuh pada sosok atau kaum tertentu saja. Terlebih bila pergantian pemimpin tersebut diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bukan tidak mungkin penyalah gunaan wewenang dan kekuasaan akan banyak terjadi.

Dengan penerus Nabi yang legal berdasarkan wasiat, maka wajah Islam akan sama seperti Katolik abad pertengahan. Dimana Islam akan menjadi terlembaga, akan ada institusi tunggal yang superior yang akan memberikan fatwa tunggal tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh umat Islam secara keseluruhan. Perbedaan menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan, pemaknaan Qur’an dan Hadist harus sejalan dengan kebijakan otoritas tunggal tersebut.

Tanpa perbedaan Islam akan berwajah kaku, suram dan buram, ajaran Rosulullah akan dibakukan oleh kelompok yang mendapat legalitas atas umat Islam. Pemahaman dan pengartian Qur’an dan Hadist hanya boleh dilakukan oleh pemegang wasiat, umat yang lain tidak boleh lagi dengan seenaknya memberikan pengertian yang berbeda.

Tidak ada lagi kekayaan pemahaman seperti pernah terjadi pada Al-Ghazali, Ibnu Rusyid, Ibnu Sina, atapun Ibnu Arabi. Tidak ada lagi pemahaman kemanunggalan seperti Al-Hallaj, Abu Yazid ataupun Syekh Siti Jenar, dll. Tidak ada lagi ungkapan cinta yang berlimpah seperti Rumi dan  Nizami.

Islam tidak bakal memiliki para penemu hebat yang karya mereka menjadi rujukan atau menjadi awalan penemuan modern saat ini. Tanpa perbedaan, tokoh-tokoh pemikir Islam dipastikan akan tenggelam, pemikiran-pemikiran yang diluar kotak akan terkotakkan terlebih dahulu sebelum muncul kepermukaan.

Penutup

Kebenaran sejati selalu menjadi milik Allah Sang Maha Benar, bila kemudian pemahaman atas ajaran Nabi (Qur’an dan Hadist) dikuasai oleh sebuah lembaga tunggal saja, maka makna kebenaran akan dipaksa untuk tunduk pada satu terjemahan saja. Yang kebenarannya tentu belum benar yang sebenar-benarnya, karena bukan kebenaran hakiki milik Illahi tapi kebenaran menurut versi salah satu golongan.

Perbedaan dalam ajaran Islam menjadi sebuah anugrah, tiap-tiap Muslim secara mandiri (bukan lagi sekelompok) bisa memaknai ajaran Rosulullah menurut pengalaman pribadinya, menurut perenungannya, menurut pemikirannya.

Ada atsar (pendapat sahabat Nabi) yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” 

Dan didalam Qur’an sendiri banyak ayat yang menyuruh umat Islam untuk bepikir dan merenung tentang alam semesta ini, bahkan Rosulullah sendiri bertafakur atau merenung didalam gua sebelum memperoleh wahyu.

Tauladan Nabi yang selalu bertafakur dan merenung harusnya tetap dilestarikan oleh tiap-tiap pribadi Muslim, terutama tafakur tentang semesta dan penciptaannya seperti hadist Rasulullah SAW. “berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.”

Karena dari situ adalah awal untuk mengenal dan memahami Dzat Allah pemilik kebenaran sejati. Salah dan benar, biarlah diputuskan oleh Pemilik-Nya, bukan oleh mereka yang merasa memiliki benar dan salah….

Perpecahan dan perbedaan yang terjadi saat ini akan menjadi pembelajaran umat Islam pada suatu saat nanti, terutama ditengah era keterbukaan informasi melalui media sosial. Era medsos seperti saat ini, menjadikan setiap perbedaan yang muncul akan dikritisi dan dipertanyakan, yang pada akhirnya akan muncul budaya berargumen yang sehat dimedia sosial. Dan tidak lagi melakukan budaya kekerasan dan pengebirian ide dengan vonis hukuman kematian bagi pemiliknya.

Islam tidak akan pernah menjadi agama yang terlembaga, Islam akan tetap bisa menjadi tuntunan bagi pribadi-pribadi mandiri.

73 golongan bukanlah mendung dalam teologi Islam, tapi sudah menjadi hujan yang akan menumbuhkan aneka biji tanaman dalam taman ke-Islam-an. Biji tanaman yang kelak akan tumbuh besar yang bisa menjadikan taman ke-Islam-an menjadi sebuah taman yang indah dengan aneka macam tanaman. Bahkan onak dan duri yang tumbuh bisa sangat bermanfaat, menjaga tanaman lain untuk tetap tumbuh subur. Semoga…..




Jumat, 07 Agustus 2015

Nafsu dan Ikhlas, Antara Komentator Bola dan Pemain Bola

Meski sama-sama penyuka bola, tapi pada akhirnya sudut pandang adalah hal yang membedakan antara komentator bola dan pemain bola. Bila dari titik 0 dua garis sudah memiliki sudut meski hanya 1 derajat, maka bila ditarik hingga ribuan kilo meter pun tetap tidak akan bisa bertemu diujungnya (bahkan akan semakin melebar).

Sehebat apapun seorang komentator bola mencoba mejelaskan tentang nafsu haus gol seorang penyerang (bahkan hingga mulutnya berbusa-busa), tidak bakal sedikitpun bisa mewakili penjelasan yang sebenarnya dari sudut pandang pemain yang sesungguhnya.

Sehebat apapun seorang pengamat bola tidak bakal bisa menjelaskan keikhlasan dari para pemain bola yang membela negaranya, keikhlasan dari pemain bola yang hanya diberi penghargaan dan gaji sekedarnya.

Tidak ubah seperti menjelaskan manisnya gula aren dengan sudut pandang gula kristal/pasir, meskipun seorang ahli gula kristal yang telah puluhan tahun meneliti dan mempelajari gula kristal tersebut, tetap tidak akan bisa dengan tepat menjelas manisnya gula aren.

Selama belum pernah mencicipi atau merasakan gula aren, maka penjelasan tentang manisnya gula aren hanyalah sekedar rabaan, pekiraan, penyamaan, dan sebagainya, tidak lebih dan tidak kurang.

Menjelaskan tentang nafsu, ikhlas, manis tanpa pernah mencoba mengalaminya sendiri, hanya akan berujung pada kata inikah rasanya, bukan inilah rasanya.

Itulah perbedaan besar antara pelaku dan komentator, seperti perbedaan antara guru sufi dan murid sufi, sang guru pernah nglakoni sendiri semua yang pernah disampaikannya/diajarkannya, sementara sang murid hanya sekedar katanya guruku.

Sang guru tak butuh menulis di blog pribadi maupun blog keroyokan untuk memberikan pencerahan, sementara sang murid dengan semangat ’45 menunjukkan “kepintarannya” dengan menulis dan berbicara hingga berbusa-busa........



Minggu, 28 Juni 2015

Menulis Blog Pribadi, Berasa Ibadah Tanpa Ada Surga dan Nerakanya



Baru saja menulis tentang bagaimana rasanya beribadah bila tidak ada lagi surga dan neraka (klik disini), tak berapa lama langsung mendapat jawabannya. Bisa jadi sensasi rasanya hampir mirip saat menulis di blog keroyokan macam Kompasiana dan menulis di blog pribadi.

Kalau menulis diblog keroyokan itu mirip seperti ada surga dan nerakanya, ada hadiah ada pula hukumannya. Ganjaran atau pahala dari menulis di blog keroyokan itu salah satunya bisa memperoleh tempat terhormat dipajang di HL, TA, dll. Dan ganjaran paling kecil adalah akan ada pembaca yang akan berkunjung, minim puluhan dengan topik biasa kalau topik hangat macam menulis Fatin yang memiliki fans fanatik maka pembacanya bisa mencapai ratusan.

Bentuk hukumannya adalah komentar miring bahkan cenderung nyelekit bila menyangkut topik yang sensitif, semacam pro kontra pilpres kemarin. Bahkan bila menjurus kearah sara maka akan di sp 1,2,3 dan banned permanen oleh admin.

Rangsangan dari penghargaan berupa dibacanya sebuah tulisan, lebih memacu semangat penulis untuk terus tetap menulis, terlebih bila bisa dipajang ditempat terhormat. Dan hukuman berupa komentar miring dan banned akan membuat penulisnya akan lebih berhati-hati dalam menulis, berusaha untuk tidak menulis yang menimbulkan pro-kontra.

Sedangkan kalau menulis di blog pribadi, terlebih yang masih sepi pembaca tak ubahnya seperti tidak adalagi surga dan nerakanya. Mau nulis topik hangat juga tidak banyak yang membaca (diberi ganjaran), mau menulis yang provokatif juga tidak bakal di komentari miring, nulis sara juga tidak bakal kena banned (diberi hukuman).

Dan itu berbengaruh juga pada produktivitas dalam menulis, bila diblog keroyokan bisa tiap hari punya ide dan keinginan menulis maka diblog pribadi lebih sering angin-anginan.
Padahal seharusnya dalam menulis maupun beribadah, tidak terpengaruh sedikitpun oleh penghargaan dan hukuman, tetap dijalani dengan penuh ketulusan, tanpa pamrih, ikhlas karena Allah semata bukan karena ada dan tidaknya surga atau neraka (Lillahi ta’ala)....



Sabtu, 27 Juni 2015

Seandainya Surga dan Neraka Tidak ada



[[Kemarin, waktu sholat tarawih sendiri entah kenapa tiba-tiba kepikiran, seandainya surga dan neraka itu tidak ada kira-kira akan tetap tekun menjalankan ibadah-ibadah sunah semacam tarawih, witir, dll atukah tidak. Tidak ada lagi harapan mendapat imbalan, tidak pula bakal mendapat hukuman]] 

Seandainya kerja di sebuah perusahaan, dan kebetulan perusahaan tersebut tengah mengalami kesulitan keuangan menuju kearah kebangkrutan. Hingga membuat sang bos kalang kabut kesana kemari melobi sana–sini untuk menyelamatkan perusahaannya, tak sempat lagi kekantor mengawasi kinerja karyawannya.

Kondisi tersebut membuat para karyawan diposisi sulit, meski kerja bagus dan bersungguh-sungguh tetap tidak akan mendapat gaji, begitu pula kerja santai atau malah sibut chatting, fb-an, atau ngrumpi sana-sini juga tidak bakal kena tegur ataupun dipecat.
Lantas kondisi tersebut akankah membuat para karyawan akan tetap bersemangat dalam bekerja, atau justru bermalas-malasan.....

Sama halnya bila suatu saat Tuhan mengumumkan pada umatnya, karena satu dan lain hal surga dan neraka ditiadakan. Jadi ibadah sebagus apapun bahkan jika mati karena berjihad pun tidak bakal ada yang masuk surga, mendapatkan bidadari cantik dan minuman yang mirip fermentasi anggur. Ataupun melakukan ma lima (main/judi, mabok/minum, madat/narkoba, madon/PSK, maling/mencuri) juga tidak bakal dimasukkan lagi neraka, tidak adalagi siksaan neraka.

Lantas kondisi tersebut akankah membuat umat manusia tetap ingin menjalankan ibadah, tetap ingin berbuat baik pada sesama, atau malah kejahatan akan semakin menjadi-jadi...........

Kamis, 25 Juni 2015

Alhamdulillah, Buka Puasa......?



Saat berbuka puasa sering tanpa sadar dalam hati berucap syukur dengan memuji kebesaran Allah dengan mengucap hamdallah. Satu hal yang memang wajar, setelah menahan haus dan lapar seharian maka detik-detik berbuka puasa menjadi saat yang ditunggu. Tak berlebihan memang bila ucapan rasa syukur bisa terucap tanpa sadar.

Namun patut direnungkan pula, disaat seperti itu apa yang sebenarnya disyukuri hingga terucap bacaan hamdallah. Apakah rasa syukur itu atas dasar diperbolehkannya/dibebaskannya lagi sang nafsu (makan) untuk kembali menjadi mesin giling yang dengan rakus boleh melahap apa saja yang ada dihadapannya, es cendol, es buah, es degan, ayam goreng, tempe penyet, sambel petai dsb. Yang tidak lebih seperti sorak sorai kemengan sang nafsu, merasakan kembali bebasnya sang nafsu yang siap melumat habis kembali semua upaya menahannya sepanjang hari.

Ataukah bersyukur karena merasa dirinya kuat menahan lapar dan haus hingga sore hari, kuat mengekang nafsunya sekuat tenaga hingga mampu menjalankan semua amalan ibadah bulan puasa dengan baik. Merasa dengan kekuatan tenaganya mampu menjalankan semua amalan ibadah dengan baik dan sempurna. Yang tidak lebih seperti kemenangan ponggah ke-aku-annya, yang merasa mampu dengan kekuatannya sendiri menahan nafsunya tanpa sedikitpun mengakui anugerah dan kasih/sayang Allah.

Ataukah bersyukur atas nikmat iman (kesehatan rohani) dan fisik (kesehatan jasmani) yang telah diberikan oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, hingga bisa kuat menjalankan puasa dengan baik. Yang mungkin adalah tanda kemenangan sejati atas nafsunya, baik selama menahan haus dan lapar seharian, bahkan hingga sepanjang malam setelahnya.