Sabtu, 24 Oktober 2015

Apakah Satire Sama Dengan Membully?

Menurut pengertiannya,


Satire adalah gaya untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironisarkasme, atau parodi.

Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar rasagamagenderseksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Kalau berdasarkan pengertian diatas satire dan bullying memang tidak memiliki kesamaan. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata antara satire dan bully itu ada benang merah yang masih bisa ditarik.

Dalam pengerian bullying diatas, disebutkan “…Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu…”. Dan juga jika merujuk pada kalimat ini “…Tindakan penindasan (bullying) terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber..”.

Masih menurut wikipedia disebutkan juga adanya jenis bullying secara psikologis, yaitu tindakan penindasan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga menimbulkan kegalauan/GUSAR.

Jadi satire jika ditujukan pada seseorang hanya sekali atau dua kali saja mungkin itu memang murni berupa bentuk sindiran atau hanya sebatas parodi saja. Namun bila satire diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres juga menimbulkan kegalauan/GUSAR, maka bukankah itu juga disebut bentuk bullying.  

Dalam urusan bullying kelihatannya satire adalah senjata yang sangat ampuh dan sadis, ibaratnya seperti peluru karet yang bisa dipantulkan kemana saja sebelum mengenai sasaran sebenarnya. Dan tidak terlalu mematikan, butuh berkali-kali tembakan supaya korban tewas mengenaskan.

Satire ini juga pas dengan jargon seleb cantik yang sering bikin heboh Syahrini,“Maju Cantik Mundur Cantik”. Kalau korban hanya diam tidak melawan maka peluru akan ditembak berulang (maju cantik), tapi kalau korban mulai marah dengan mudah mengelak, “kamunya aja yang sensi aku kan bukan lagi ngomongin kamu” (mundurpun masih tetap cantik).

Apakah satire sama dengan membully? Jelas tidak. Tapi satire bisa menjadi senjata ampuh bagi orang yang berniat dan bertujuan membully. Dan bisa terjadi dimana saja, baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, atau dalam sebuah komunitas yang besar.

Sumber:




Rabu, 21 Oktober 2015

Menjadi Biru Yang Nyleneh Dan Aneh

Tidak sama biasanya selalu dikaitkan dengan keanehan atau ke-nylenehan, atau bisa dikatakan tidak seperti pada umumnya, bahkan lebih jauh bisa dituduh kurang waras.

Sejauh mana orang menganggap suatu hal menjadi nyleneh dan aneh, kembali tergantung pada sudut pandang dari orang tersebut.

Seperti misalnya dalam dunia merah dan kuning, menjadi merah saja tentu akan dipeluk oleh sesama merah, dan menjadi kuning akan digandeng oleh sesama kuning. Atau memilih menjadi jingga yang masih bisa diterima keberadaannya oleh kuning dan merah.

Ketika menjadi merah, kuning dan juga jingga, dimana warna mereka masih memiliki kesamaan dan kemiripan unsur, maka kecenderungan untuk ditoleransi oleh salah satu warna masih menjadi peluang yang besar. Keberadaannya masih dianggap tidak nyleneh dan aneh, dan masih dianggap waras-waras saja.

Lantas bagaimana jika diantara merah, kuning dan jingga tersebut tiba-tiba muncul warna biru yang tidak memiliki unsur diantara ketiganya? Apakah merah, kuning dan jingga masih menganggap biru adalah hal yang masih bisa ditoleransi keberadaanya?

Tak perlu dijelaskan, lebih enak kalau sesekali mencoba mempraktekannya sendiri, jadi biar bener-bener mantep merasakan jenak-jenak menjadi biru. Apakah merah, kuning dan jingga akan tetap bisa menerima keberbedaannya, ataukah justru malah akan menjadi musuh bersama? Selamat mencoba...



Senin, 12 Oktober 2015

Penyerapan Anggaran, Berani Karena Benar Takut Karena Salah

MUNGKIN  lho ya jadi belum tentu benar (makanya pake huruf kapital, miring, tebal dan digarisbawahi), melambatnya penyerapan anggaran terutama didaerah bahkan DKI juga, katanya disebabkan oleh ketakutan para kepala daerah menggelontorkan APBD-nya.

Ketakutan itu katanya (lagi) didasari oleh rajinya KPK mencokok pejabat korup, yang kemudian diekori oleh kejaksaan dan kepolisian biar semakin dipercaya sama rakyat (baguslah, biar koruptor musnah).

Membuat pejabat daerah malu-malu dan takut untuk mengembangkan dan membangun daerahnya. Takut dicokok dan juga malu (malu-maluin para senior kalau sampai ketangkep), jadinya ya gitu lah banyak anggaran yang belum digunakan.

Dan hasilnya bisa ditebak, melambatnya pembangunan dan juga belanja daerah, berdampak pada banyak hal. Seperti perbaikan sarana dan prasana untuk masyarakt hingga berdampak kepada pelemahan rupiah (katanya lagi).

Tak berlebihan pula jika beberapa waktu lalu anggota dewan (tidak) terhormat hendak membatasi gerak KPK untuk hanya mengurus korupsi diatas 50 Milyar saja, dan juga KPK hendaknya meminta ijin terlebih dahulu untuk melakukan penyadapan.

Kelakuan mereka ini lebih mirip seperti gerakan menyelamatkan tuyul-tuyul mereka di daerah, sebuah ketakutan parpol terhadap berkurangnya setoran dari para tuyul mereka.

Bagaimana tidak, kepala daerah sekarang inikan seperti pundi-pundi untuk partai pendukungnya, bukankah mereka itu sering disebut petugas partai, bukan petugas pelayanan masyarakat.

Kalau kepala daerah ini benar-benar tidak ada kong kalikong atau slintat-slintut (baca: korupsi) dalam setiap proyek-proyek yang mereka kerjakan, kenapa pula mesti takut dengan KPK, takut dibidik dan dicokok KPK.

Asal benar dan bersih dari unsur korupsi, tidak berniat menyisihkan receh untuk sesaji tuan dan nyonya besar, sekalipun dilaporkan oleh siapa saja termasuk oleh lawan politiknya kenapa mesti takut. Berani karena pasti berada dijalur yang benar dan takut pastilah ada udang dibalik rempeyek, ada uang di balik proyek........


Sabtu, 10 Oktober 2015

Mojok dot Co, Menikmati Rasa Berbeda Blog Keroyokan

Jalan-jalan dari blog satu ke blog lain sampailah pada blog Yusran Darmawan, disana kuketemukan petunjuk berikutnya. Sebuah peta yang menuju tempat tujuan berikutnya Mojok dot co, berhenti cukup lama disana, menikmati aneka suguhan yang lain dari biasanya.

Benar seperti yang digambarkan oleh bung Yusran dan juga sesuai dengan moto dari blog tersebut “Sedikit Nakal Banyak Akal”, menjadi ciri khas blog satu ini. Artikel berat yang dibikin ringan, penuh canda dan juga sindir menyidir.

Sindiran pada siapa saja, ya Jonru, Ust Yusuf Mansur, Ahok hingga ke presiden. Saling sentil dan senggol baik artikel ataupun akun sesama penulis disana mewarnai tiap artikel yang terbit. Seperti dalam manfaat mojok bareng, atau saling sindir saat mengulas sarjana abal-abal dan saya bukan sarjana abal-abal.

Hubungan atau keterikatan penulis bukan pada fasilitas komentar atau pemberian vote pada masing-masing artikel, tapi pada saling mepromosikan akun atau artikel penulis lain ditiap-tiap tulisan yang diterbitkan.

Di blog keroyokan satu ini komentator malah dibiarkan sesukanya, tak ada balasan dari sang empunya lapak. Habis diterbitkan, tuan rumah meninggalkannya begitu saja, terserah tamunya mau makan, tidur, atau hanya numpang buang hajat tak menjadi perhatian dari tuan rumahnya.

Mungkin disebabkan komentator ini tidak dituntut untuk registrasi resmi lewat mojok dot com, tapi bisa lewat akun apa saja baik facebook, twitter, g+, dll. Jadi penulisnyapun merasa tidak wajib untuk membalas tiap komentar yang masuk dalam artikelnya.

Dan juga tidak ada fasilitas vote, yang ada hanya tombol share lewat aneka jejaring sosial.

Kekurangannya menurut saya pribadi adalah sikap permisif dan bahkan cenderung membela para perokok. Meski saya tidak anti namun cara para penulis disana membela rokok terasa berlebihan.

Berikut syarat dan ketentuan untuk bisa menayangkan tulisan disana (saya sendiri belum mampu menulis seperti artikel disana ringan, penuh canda, satir, dll):

  • Semua tulisan dan gambar yang masuk tetap menjadi hak milik kontributor. Jika tulisan atau gambar layak muat, kami akan segera
    menghubungi yang bersangkutan.
  • Kontributor yang karyanya dimuat di Mojok.co berhak mendapatkan sejumlah uang honorarium.
  • Kontributor yang karyanya dimuat di Mojok.co boleh menerbitkan ulang karyanya di tempat atau media lain, minimal setelah satu minggu tayang diMojok.co, dengan syarat mencantumkan bahwa pernah atau pertama kali dipublikasikan di Mojok.co.
  • Jika setelah seminggu karya dikirimkan belum mendapat balasan dari kami, penulis berhak menerbitkan atau mengirimkannya ke media lain.
  • Sebelum tulisan ditayangkan, MDC berhak menyunting tulisan atau gambar kontributor.
  • Kontributor yang pertama kali mengirimkan karyanya wajib melampirkan identitas (nama lengkap, akun media sosial dan foto pribadi) dan atribusi (profil singkat).
Karya dikirimkan melalui surel ke alamat redaksi@mojok.co.

Kamis, 08 Oktober 2015

Salim Kancil, Jalan Sunyi Corong Kebenaran

Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang kenal namamu
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang tahu siapa dirimu
Beberapa bulan yang lalu tak banyak yang peduli teriakanmu

Tak banyak kawan yang mengiringi
Tak banyak keluarga yang mendampingi
Tak banyak kerabat yang melindungi

Saat itu banyak yang memilih diam
Saat itu banyak yang memilih bungkam
Saat itu banyak yang memilih terpejam

Kawanmu tak peduli, karena segan
Keluargamu tak peduli, karena sungkan
Kerabatmu tak peduli, karena enggan

Di negeri ini, itulah yang terjadi
Corong kebenaran selalu berjalan sunyi
Suaramu dianggap berisik
Teriakanmu dianggap mengusik

Semoga tak terulang lagi
Nyawa jadi taruhan
Corong kebenaran berjalan sendiri
Menjadi tumbal pembeli kekuasaan

Nurani tak bisa menipu
Namamu kini bergema dijalanan
Mengenang kebenaran perjuanganmu
Engkau tlah menjadi pahlawan



Gambar: majalah detik

Rabu, 07 Oktober 2015

Laron Pudak, Penanda Musim Hujan Akan Tiba

Tadi malam gerombolan laron pudak (laron kecil-kecil) datang menyerbu rumah, datang bergerombol mengerumuni lampu teras. Mengingatkan saya pada cerita orang tua saat masih SMP atau SMA, cerita turun temurun tentang laron pudak yang membawa tanda akan datangnya musim penghujan.

Beda dengan pengetahuan ilmiah untuk memperkirakan cuaca, datangnya musim hujan dan kemarau yang didasarkan pada arah angin, terutama angin muson Barat dan muson Timur. Arah angin ini menentukan kandungan air yang terbawa oleh awan, yang berakibat pada terjadinya musim kemarau dan musim penghujan.

Sementara para leluhur jaman dahulu mengandalkannya pada ilmu niteni (menandai), menandai pergerakan alam beserta para penguninya terutama kepekaan naluri dari binatangnya.

Naluri atau insting kebinatangan (dalam arti positif) ternyata sangat peka dalam membaca keadaan yang akan terjadi beberapa hari atau beberapa bulan kedepan. Contoh yang menarik dan banyak diteliti adalah kepekaan binatang dalam mendeteksi datangnya bencana alam. Gunung meletus, gempa bumi, bahkan tsunami pun bisa dirasakan atau dibaca terlebih dahulu oleh para binatang.

Entah darimana asalnya atau bagaimana cara melatihnya, yang jelas binatang-binatang ini begitu paham cara bertahan hidup ditengah ancaman bencana alam.  

Seperti juga keluar atau munculnya laron pudak, yang oleh para leluhur dijadikan penanda datangnya musim penghujan. Para laron ini seperti tengah mempersiapkan diri menyambut datangnya musim hujan, dengan tujuan utamanya adalah mempertahankan kelangsungan hidup dari koloninya.

Musim hujan dan kemarau ini bagi sebagian binatang seperti menjadi jam biologis untuk mempersiapkan dan mempertahankan kelangsungan hidup generasi penerusnya.

Benar atau tidak, menarik untuk ditunggu satu bulan kedepan. Seandainya benar, maka sangat layak manusia tetap melestarikan kearifan lokal seperti ini. Serta tetap mejaga alam lingkungannya agar binatang-binatang hebat ini tidak punah, agar bisa terus belajar dan mengasah insting kita membaca pergerakan alam, atau paling tidak tetap bisa membaca tanda yang telah diberikan oleh para binatang ini.



Senin, 05 Oktober 2015

Blogger Dan Scammer

Scammer adalah istilah untuk pelaku penipuan dengan menggunakan media online, seperti facebook, twitter, situs perjodohan, atau situs-situs yang lainnya.

Dan dari hasil sowan ke mbah google, ternyata scammer ini dibedakan menjadi dua jenis aliran utama.

Scammer harta, penipu yang mengincar harta kekayaan korban. Banyak kisahnya yang diangkat dan dilaporkan pada pihak berwenang. Mungkin karena korban scammer jenis ini lebih mudah melaporkan juga lebih mudah menunjukkan buktinya.

Korban scammer harta dalam melaporkan tindak kejahatan yang menimpa dirinya tidak terlalu banyak beban, dan transfer uang, atau pemberian sejumlah harta kekayaan dapat dengan mudah dijadikan sebagai bukti. 

Scammer cinta, penipu yang mengincar cinta dari korbannya atau menjurus kearah tindak kejahatan asusila. Menipu korban untuk diajak berhubungan intim, meminta foto bugil dan sejenisnya, merengut kehormatan dari korbannya.

Karena yang hilang adalah kehormatannya, maka korban scammer cinta ini lebih sulit untuk melaporkan tindak kejahatan yang dialaminya, mencari buktinya pun juga akan mengalami kesulitan. Kehormatan dari abg yang keperawanannya terenggut, atau kehormatan emak-emak dari keluarga baik-baik yang menjadi korban ulah scammer bejat.    

Lantas dunia nge-blog dan bloger pengelolanya apakah juga bisa menjadi seorang scammer? Selama masih bisa berlindung dibalik topeng anonim, maka blogger juga sama seperti pengguna akun facebook, twitter, dll, bisa menciptakan kesempatan yang sama pula.

Seperti saya misalnya, yang berlindung dibalik akun abal-abal seperti ini, maka dengan mudah juga bisa mencitrakan diri menjadi seorang bijak, petuah-petuah humanis, petuah-petuah anti keributan, humoris, dll.

Padahal, dibalik semua itu bisa saja saya ini seorang scammer penghasut yang menggiring pembaca saya untuk menjadi pendendam, merusak pertemanan, memancing keributan, tukang kompor perpecahan, dll. Dibalik topeng bijak saya bersembunyi sosok dewa Ares yang haus akan peperangan.

Kejahatan scammer bisa terjadi pada siapa saja, mungkin tidak pada  diri anda, tapi bisa saja terjadi pada anak anda, keponakan anda, saudara anda, dan lain sebagainya. Maka ada baiknya selalu ingat pesan bang napi, waspadalah, waspadalah, waspadalah......