Jumat, 21 April 2017

100 Hari Pemerintahan Anies - Sandi

Dalam satu wawancara pak Einstein pernah mengatakan, "Imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan". Jadi tak ada salahnya jika sedikit berandai-andai dan menggunakan imajinasi, apa yang kira-kira akan terjadi pada 100 hari pemerintahan Anies - Sandi jika menang dalam pilkada kali ini.

Tentang Jakarta Bersyariah

Isu yang santer berhembus (sengaja dihembuskan) adalah Jakarta akan menjadi kota yang ditata dengan hukum syariah Islam, benarkah bisa semudah itu menjadikan suatu daerah, apalagi Ibu Kota Negara menjadi bersyariah?

Jelas tidak semudah menggoreng tahu bulat yang bisa dimasak dadakan, pasalnya untuk membuat hukum syariah agar bisa dijalankan, minimal harus ada perda yang mendukungnya. Dan seperti yang kita ketahui bahwa perda itu harus disahkan oleh parlemen, dan seperti kita ketahui pula bahwa Anies-Sandi di parlemen hanya didukung oleh Gerindra (15)  dan PKS(11), sementara lawan politiknya yang siap menghadang PDI-P (28),  Hanura (10), PPP (10), Golkar (9), PKB (6) dan NasDem (5). 

Meski ada kemungkinan ditambah PAN (2) dan Demokrat (10), rasanya akan sulit bagi Anies - Sandi untuk meloloskan perda syariah. Maka, jika sampai perda syariah bisa lolos maka tak hanya Anies - Sandi yang patut untuk ditunjuk hidungnya, tapi seharusnya jari-jari telunjuk juga layak ditujukan ke hidung para aggota parlemen.

Tentang FPI dan Ormas Radikal (Intoleran)

FPI dan semua ormas adalah organisasi yang nyawa (baca: ijin) nya berasal dari Kemendagri, sudah seharusnya hidup dan matinya juga berada ditangan Kemendagri. Segala tentang syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh semua ormas adalah menjadi tanggugjawab Kemendagri. 

Sementara aksi anarkis, pengacau keamanan dan mengganggu ketertiban masyarakat adalah menjadi kewenangan dari pihak aparat keamanan untuk menindaknya. 

Jadi jika ada ormas yang anti dengan dasar negara, ada ormas yang melakukan aksi-aksi radikal, menganggu keamanan dan meresahkan masyarakat, harusnya kedua lembaga tersebut yang bertanggungjawab terlebih dahulu untuk mengambil tindakan, terlepas siapapun gubernurnya.

Tentang Media Masa

Media masa saat ini hampir 60% lebih boleh dikata sudah menjadi "plat merah", lebih banyak hanya menampilkan sisi positif dari pemerintah, sementara berita-berita negatif cenderung diendapkan dan diperhalus konten beritanya.

Bagi petahana, yang masih satu paket dengan pemerintah saat ini, sangat diuntungkan oleh media masa "plat merah" ini. Dukungan berupa pemberitaan positif sangat masif dinaik cetakkan, sementara berita negatif sangat sedikit diulas dan sebisa mungkin malah diredam.

Akan berbeda nasib dengan Anies-Sandi jika jadi gubernur, yang memang tidak sepaket dengan pemerintah, bahkan pengusungnya adalah lawan politik pemerintah di 2014 kemarin. Maka media akan kembali menjadi media "plat hitam", akan banyak kebijakan dan jalannya pemerintahan Anies yang bakal dikritisi, diobok2 dan dicari celahnya.

Banjir tidak lagi diberitakan hanya sekedar genangan, janji-janji kampanye Anies akan diungkit-ungkit, borok-borok Anies semakin banyak yang dikorek-korek lagi.

Buzzer dan Pendukung

Pendukung dan buzzer Anies ini terbentuknya belum terlalu lama, berbarengan dengan pencalonan Anies maju ke pilkada. Dan kalau melihat beberapa hasil survey yang telah dipublikasikan, maka perolehan dukungannya pun juga tidak langsung melesat kepuncak, ada beberapa tahapan yang semakin lama terlihat mengalami peningkatan.

Jika dilihat dari tren tersebut, maka pendukung Anies bukanlah model pendukung secara membabi buta, yang memuja Anies seperti sosok idola tanpa cela. Dukungan itu perlahan didapatkan karena beberapa program-program anies yang memang cenderung lebih bisa diterima oleh masyarakat Jakarta, terutama program membumi yang menyentuh kelas bawah (menolak reklamasi, menolak betonisasi, menolak penggusuran, menolak relokasi, dll).

Bisa dikata belum teruji keloyalannya, selama Anies memenuhi janji atas program-program kampanyenya, maka selama itu pula masih terus memperoleh dukungan. Namun apabila ingkar janji, pendukung Anies akan menjadi pengkritik terkeras saat Anies - Sandi benar-benar berkuasa.

Sasaran Tembak

Melihat beberapa kemungkinan diatas, maka Anies - Sandi adalah sasaran tembak yang sangat terbuka. Terlebih bukan sebagai anak emas yang diberi baju kebal peluru, maka serangan bertubi-tubi akan memdarat telak ditubuh mereka. 

Dengan begitu, tak akan mudah bagi Anies menjalankan pemerintahannya dengan seenak udelnya sendiri. Moncong senjata dari lawan, baik media masa, buzzer dan bahkan pendukungnya sendiri siap memberondongnya dari segala arah dan dengan aneka peluru.

Minggu, 19 Februari 2017

Tips Untuk Para Golputers Galau

Telah dua periode pilpres (2009 dan 2014) memilih untuk tidak memilih alias bergolput ria, galau menentukan pilihan seperti kebanyakan golputers lain. Khawatir salah dalam menentukan pilihan, serta takut dikibuli oleh janji-janji semanis madu para calon pemimpin.

Tapi melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini rasanya kok terlalu sayang untuk menjadi golputers lagi, karena apa yang terjadi belakangan ini mengingatkan saya pada suana yang mirip-mirip dengan rezim di masa lalu.

Sebagai orang yang tumbuh di rezim tersebut merasakan sendiri bagaimana pemerintahan di jaman itu dijalankan. Pada waktu itu rakyat sedikit mungkin diberi akses pada pemberitaan yang benar/berimbang (dibodohi “pakai” berita media masa), karena berita-berita yang tayang pada masa itu dibungkus sedemikian rupa (framing bahasa sekarang), sehingga rakyat hanya tahu berita persis seperti apa yang pemerintah mau. Banyak hal yang sengaja ditutup-tutupi, dengan dalih demi keamanan nasional atau kalau memakai bahasa sekarang agar tidak terjadi kegaduhan politik.

Berita kebobrokan pemerintah hanya bisa didengar melalui bisik-bisik tetangga tanpa data dan fakta, kalau saat ini mungkin sudah termasuk dalam kategori berita HOAX, dan bisa dikenai pasal penyebar hoax. Sementara media masa yang kritis pada pemerintah banyak yang dibikin sekarat terlebih dahulu, atau dibredel kalau jaman dahulu menyebutnya (mirip saat ini yang tengah dalam proses pemberlakuan barcode untuk memverifikasi media).

Dan setelah merenung selama tujuh purnama, mandi di tujuh sumber air berbeda dengan ditaburi bunga tujuh rupa, maka inilah beberapa tips yang bisa saya bagikan:  

Pertama, Lihat seberapa dominan orang-orang yang berada dibelakangnya (baca bandar), karena mereka itulah yang nanti menjadi sebenar-benarnya penentu (mutlak) kebijakannya. Terkecuali jika dia seorang “pemilik partai yang bersuara mayoritas, seperti Suharto (32 tahun); Megawati (3 tahum) dan SBY (10 tahun), mereka akan punya setengah kekuatan menentukan arah pemerintahan (berbagi kekuasaan dengan para bandar)

Kedua, lihat seberapa banyak media pendukungnya, karena disinilah awal dibelokan dan dipelintirnya berita, jelek bisa dipoles menjadi agak bagus serta bagus akan menjadi terlihat hebat luar biasa. Banjir akan terlihat sebagai genangan, gusur bisa berarti relokasi dan reklamasi terdengar seperti investasi. Mirip-mirip rezim dimasa lalu yang mengontrol berita-berita mana yang boleh disiarkan mana yang tidak boleh disiarkan, hanya saja dipoles lebih halus dari segi cara maupun segi bahasanya.

Ketiga, lihat seberapa banyak dan kuat buzzers-nya, karena mereka ini akan menyerang siapapun  yang mempunyai pikiran yang berbeda dengan kebijakan pemerintahan, pasukan yang tidak ingin berbagi ruang untuk perbedaan bersuara, phobia terhadap suara-suara sumbang. Mirip-mirip juga dengan rezim masa lalu, kalau dahulu buzzersnya berbentuk kumpulan masa dalam wujud nyata, berbentuk ormas-ormas pelindung perintah, yang akan menghajar balik tiap demo-demo yang menyuarakan penentangan terhadap kebijakan pemerintah.  

Keempat, jadikan program para capres, cagub, cawakot, dan segala ca-ca lain sebagai pertimbangan terakhir. Karena biasanya apapun programnya hanya beberapa saja yang akan benar-benar dijalankan saat benar-benar terpilih, kalaupun akhirnya program dipenuhi anggap saja sebagai  bonus tambahan.

Dengan melihat dan mempertimbangkan 4 hal diatas paling tidak saya bisa meminimalkan resiko kesalahan dalam memilih. Kalaupun jika terjadi kesalahan (lagi) dalam menentukan pilihan, paling tidak saya masih bisa mengkritisi, menyinyiri pilihan saya tanpa rasa takut akan bullying dari para buzzers-nya, dan terhidar dari jeratan aneka pasal berlapis yang siap menghadang.

Dan yang lebih penting lagi buat saya adalah hak rakyat untuk memperoleh pemberitaan yang berimbang (20 tahun pasca reformasi masak rakyat/tuan akan kembali dibodhi “pakai” media masa). Calon yang tidak didukung oleh banyak media masa, maka secara otomatis akan semakin banyak media yang bersikap netral. Akan banyak media yang menayangkan berita tanpa pemelintiran ataupun pembelokan, karena media-media tersebut jelas tidak dibebani oleh hutang-piutang dalam hal dukung-mendukung

…..Golputer tobat…..
Sumber gambar:
http://aceh.tribunnews.com/2017/02/17/data-desk-pilkada-lhokseumae-golput-mencapai-51-ribu-orang

Kamis, 26 Januari 2017

Kisah Stempel, Hoax dan Rocky Gerung




Kisah ini berhubungan erat dengan stempel yang digunakan sebagai penanda penyortiran barang atau bahkan mungkin juga digunakan pada orang.

Untuk ilustrasi, ku awali kisah ini dari gudang penyortiran sayur-mayur dan buah-buahan. Sebagai gudang sayur dan buah yang menjadi satu, terkadang ada saja buah dan sayur yang salah tempat. Karena berwarna orange terkadang jeruk di stempel dan masuk kedalam golongan  wortel, atau karena bentuknya bulat terkadang tomat di stempel dan masuk kedalam golongan jeruk, dan lain sebagainya.

Entah karena kurang teliti atau malas berpikir atau justru memang disengaja.

Dan seperti itulah yang tengah terjadi pada seorang Rocky Gerung, karena beberapa pernyataanya terutama tentang hoax, telah membuat banyak orang (awam hingga ahli) menyetempel atau mengecapnya sebagai orang pro-hoax.

Dimana saat ini pro-hoax  adalah ditujukan pada golongan yang diangap sebagai aliran yang terlalu kanan dan radikal. Golongan yang katanya sering dinilai sebagai ahli bikin berita hoax dan menyebar segala bentuk hoax beserta turunannya.

Maka dari itu, di hari-hari belakangan  ini  Rocky Gerung dimasukkan/distempel/dicap sebagai pengikut mereka, bahkan yang lebih sadis lagi di olok-olok sebagai filsuf lokal yang gagal memahami ajaran filsuf Zizek yang akhirnya menjadi pengikut Rizieq. 

Tapi benarkah seorang Rocky Gerung seperti itu? Coba kita cek beberapa peryataannya.

Yang terkenal adalah ini “Pembuat hoax terbaik itu  adalah penguasa…….”, dan dalam sebuah acara di televisi beliau sendiri sudah memberikan contohnya. Namun saya ingin menterjemahkan dan membuat contoh sendiri dari ucapan tersebut.

Misalnya begini, ketika seorang Bedjo, sepulang menggurus SIM membuat sebuah status, “ Mantap brow, nambah 200 rebu ngurus SIM sehari jadi, tanpa tes lagi!!!! ”, hanya sebuah status tanpa disertai bukti apapun. Sebuah status yang sudah menjadi rahasia umum dan sudah biasa dibicarakan dimana-mana, warung kopi, angkringan bahkan caffe dan restoran.

Apakah ketika status tanpa data dan bukti tersebut dibagikan oleh orang banyak dan kemudian viral di dunia maya, akan menjadikan Bedjo sebagai tersangka pembuat hoax? Dan penyebar status hoax? Dan oleh karenanya perbuatan ini Bedjo bisa dikenai pasal (karet) penyebaran hoax?

Sementara itu pemerintah dengan tegas menyangkal apa yang menjadi status Bedjo diatas, dengan mengeluarkan data-data yang ada, bahwa tidak ada pungutan liar pengurusan SIM, tidak ada laporan dan bukti yang masuk, tidak ada kerugian negara akibat praktek pungli tersebut.  

Dan apakah lantas secara otomatis pernyataan pemerintah tersebut adalah sebuah fakta? Sebuah kebenaran yang harus diamini seluruh rakyat Indonesia tanpa perlu dikritisi? Hanya karena diperkuat oleh data-data yang ada?

Dititik ini, Bedjo akan dianggap sebagai penyebar hoax sementara pernyataan pemerintah adalah sebuah fakta dengan data yang tidak terbantahkan.

Padahal apabila bila dilakukan sebuah penelitian (kalau mau), ambilah secara acak 100 pengendara yang sedang lewat dijalan raya, kemudian adakan tes ujian tulis dan praktek mengemudi yang sesuai standar untuk mendapatkan SIM. Akankah 100 pengendara tersebut lulus? Akankah para remaja 17 tahun banyak yang lolos? Akankah para bapak/ibu banyak yang lolos? Akankah para selebriti banyak yang lolos?

Sampai disini, kisah diatas akan menjadi terbalik, dan apa yang dinyatakan oleh Rocky Gerung menjadi suatu pembenaran, bahwa pembuat hoax terbaik adalah penguasa.

Lantas pemikiran Rocky Gerung agar tidak bersikap berlebihan terhadap masalah hoax ini, apakah harus distempel/dicap sebagai orang yang beraliran ke-kanan-kanan-an? Tidak bisakah pemikirannya dianggap sebagai bentuk kekhawatiran terhadap pemberangusan kebebasan berbicara? Pemberangusan kebebasan perpendapat? Pengkhianatan terhadap nilai-nilai dalam berdemokrasi? Berjuang agar pelangi negeri tetap warna-warni?.

Sayangnya, “Permainan” stempel dan cap ini memang permainan abadi, ada disepanjang jaman, lintas generasi dan tak lekang oleh waktu. Ditiap penguasa, maka permaian ini akan diulang lagi, diubah sana-sini, dipoles kanan-kiri, maka perubahan wujudnya tak lagi dikenali.

Teringat pada cerita para pendahulu, pada waktu lalu penggiat, penikmat, pekerja seni akan di stempel/di cap kiri, dibuang, diasingkan dan dicemo’oh, oleh tangan-tangan yang berseragam jelas.

Dan kini diulang lagi, dimainkan lagi, hanya saja sekarang dimodifikasi menjadi stempel/cap kanan, tidak dibuang, tidak diasingkan (tetapi dicoba dipisahkan) dan tetap dicemooh. Oleh tangan-tangan yang kini tidak lagi berseragam jelas, (tangan orang-orang yang diwaktu lalu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan menentang keras segala bentuk stempel dan cap kiri).

(tidak selalu berarti bahwa hoax itu 0 % kebenaran, ada asap selalu ada percik api)

Catatan:
Mohon maaf sebelumnya untuk pak Rocky Gerung karena namanya saya cantumkan disini, bila tidak berkenan akan saya hapus tulisan ini.

Selasa, 24 Januari 2017

Deradikalisasi, Haruskah Kebencian Dilawan Kebencian

Mungkin benar bahwa bicara itu memang lebih gampang ketimbang mempraktekkannya. Banyak atau sering mendengar ajakan moral untuk tidak mudah terpancing dengan isu kebencian tentang SARA, serta jangan mudah terpancing dengan provokasi yang mengajak kita untuk saling membenci satu sama lain.



Namun, membaca beredarnya cuitan di twitter tentang spanduk pelarangan pemutaran wayang, serta disuguhi gambar tentang siapa orang-orang yang menggoreng isu tersebut, seolah diperlihatkan dua sisi yang amat bertentangan.

Satu sisi memperlihatkan sifat kemanusiaannya, namun disisi lain justru menampilkan sisi yang tidak jauh berbeda dengan orang atau golongan (gerombolan istilah mereka) yang selama ini selalu ditentangnya.

Penyebaran gambar spanduk serta dibubuhi intro cuitan yang "halus" di twitter, tak ubahnya seperti putung rokok atau obat nyamuk bakar yang sengaja dibuang di hutan bergambut agar membakar habis seluruh hutan. Mudah, murah, tanpa jejak dan bisa dengan mudah cuci tangan agar tetap bersih tak berbau asap kebakaran.

Cara yang serupa tapi tak sama, mencoba menghilangkan sikap radikal (baca: saling membenci) yang belakangan ini makin marak, namun dengan menggunakan cara yang hampir sama, yaitu memupuk pula benih-benih kebencian pada pihak yang lain. 

Apa memang hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan untuk menghilangkan sikap radikal saat ini, atau mungkin mereka lagi pada malas berpikir untuk mencari cara lain? Atau mungkin mereka tengah diburu waktu yang semakin menyempit? Entahlah....

Tak sadarkah bahwa benih yang ditabur suatu saat akan tumbuh, membesar dan semakin besar, benih-benih yang ditanam saat ini akan berbuah suatu saat nanti. Disaat kekuasaan datang silih berganti, saat mereka sudah tidak disini lagi, saat benih-benih kebencian yang ditanam akan bertumbuh digenerasi berikutnya.

Dan sejarah akan berulang, suatu saat akan tiba masanya benih-benih para penggerak de-radikalisasi ini akan berubah menjadi sosok-sosok radikal berikutnya.


Minggu, 02 Oktober 2016

PILKADA DKI, Berebut Simpati si Kaya vs si Miskin

Ibu Kota adalah cerminan Indonesia, apa yang dimiliki negeri ini dipantulkan dengan baik oleh Jakarta. Keragaman dan tentu saja yang tidak bisa ketinggalan adalah potret kesenjangan perekonomian dan juga pendidikan, kelas menengah bawah dan kelas menengah atas terlihat dengan jelas disana.

Dalam kaitannya dengan pilkada DKI, strategi merebut simpati dan hati dari dua kasta ibu kota ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan mengkotak-kotakan mereka dalam beberapa sub bagian. Seperti berdasarkan bendera politik mereka merah, hijau, kuning, biru, dll, atau berdasarkan kesamaan agama maupun kesukuan. Menjadi lebih gampang dalam memetakan kebutuhan dan keinginan mereka, yang secara otomatis juga akan labih mudah mengatur strateginya.

Kelas Menengah Keatas

Bagi menengah atas yang memiliki penghasilan ekonomi diatas rata-rata tentunya tidak lagi dipusingkan dengan kebutuhan perut keluarga mereka. Kasta ini tidak lagi dibebani pikiran besok makan apa, tapi sudah bisa berpikir besok enaknya makan dimana lagi ya. Atau kuliner mana lagi yang perlu dicoba, restoran atau rumah makan mana lagi yang mesti dikunjungi.

Selain itu golongan ini juga memiliki tingkat pendidikan yang baik serta sangat melek akan teknologi, kemampuan ekonomi mereka memungkinkannya untuk mendapatkan informasi teknologi dengan sangat baik. Melalui smartpone atau gaged, mereka bisa dengan mudah mengakses berita dan perkembangan dunia lewat koneksi media sosial dan internet yang tersedia.

Informasi dan pengetahuan yang melimpah membuat mereka tahu bagaimana kota-kota di belahan dunia lain, bagaimana kebersihan, ketertiban dan keindahan sebuah kota menjadi nyaman untuk ditinggali. Hal itu membuat warga kelas menengah atas punya keinginan untuk mendapatkan kenyamanan yang sama, sebuah kota yang ideal yang seharusnya layak untuk dihuni.

Dan dengan tidak dipusingkan lagi oleh kebutuhan perut, kasta ini bisa menjadi pemilih aktif. Mendukung calon dengan lebih total, tidak sayang menggunakan sumber daya yang dimilikinya, seperti uang, tenaga dan pikirannya untuk pemenangan calon mereka.

Mereka akan cocok dengan gaya pemimpin yang mampu menertibkan warga dan memiliki konsep kota yang nyaman untuk ditinggali. Kota yang bisa nyaman untuk keluarga mereka, nyaman ketika berangkat kerja, nyaman ketika akhir pekan tiba, dan segala bentuk kenyaman bagi kehidupan mereka.

Gusur, relokasi dan tertibkan tidak menjadi masalah, asal bisa menyamankan mereka.

Kelas Menengah Bawah

Kebalikan dari kasta diatas, ini adalah golongan yang masih disibukan oleh pertanyaan besok makan apa, bukan besok makan dimana. Hari mereka masih diisi oleh kerja untuk sesuap nasi, dan bahkan mungkin lebih memilih uangnya untuk makan daripada untuk pendidikan. Berita hanya bisa dinikmati lewat televisi, teknologi hanya barang yang bisa dilihat tapi sulit untuk dimiliki.

Yang penting ada, murah dan meriah masih menjadi tujuan, kalau ada dan lebih murah dipinggir kali mengapa mesti cari yang lain, kalau ada yang membeli dagangannya lebih banyak meski menganggu kenyamanan kenapa harus pindah. Mereka masih berpikir sederhana, ada uang bisa makan, tidak ada uang keluarga bisa kelaparan.

Dan karena masih dipusingkan oleh persoalan perut, urusan politik masuk daftar terakhir dalam prioritas mereka. Pemilihan kepala daerah masih sebatas perayaan lima tahunan, syukur-syukur ada politikus licik yang bagi -bagi duit, mereka bisa sedikit ikut berpesta-pora. Dukung-mendukung hanya bila menguntungkan mereka, ikut kampanye hanya agar dapat kaos, nasi bungkus dan uang sekadarnya.

Oleh karenannya penggusuran dan penertiban adalah satu hal yang menyakitkan bagi kasta ini, dengan penggusuran mereka dijauhkan dari sumber-sumber penghasilan mereka, dijauhkan dari lokasi strategis mata pencaharian mereka, relokasi menjadikan mereka seperti memulai lagi dari awal usaha yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun.

Secara otomtis mereka akan mendukung calon yang peduli pada posisi mereka, calon yang bisa melihat dan merasakan apa yang juga biasa mereka lihat dan rasakan, calon yang bisa memahami mereka secara utuh, bukan hanya sebatas data-data tapi juga berdasar atas realita yang ada.

Namun pada akhirnya strategi apapun yang diterapkan, apakah merebut simpati yang kaya, merebut simpati yang miskin, merebut simpati mama muda, ataupun merebut simpati generasi muda itu adalah sah-sah saja. Asal jangan membawa pilkada kearah SARA, karena itu bukan strategi yang keren........

Minggu, 21 Agustus 2016

Tenang, Rokok Tidak Bakal Naik

Indonesia ini memang negara yang unik, apa saja bisa menjadi heboh, cabe naik heboh, daging naik heboh, dan lain sebagainya. Dan kini wacana (catet baru wacana) tentang kenaikan harga rokok ini sudah sukses menjadi kehebohan nasional. 

Sangat beralasan jika kenaikan harga rokok yang konon katanya akan naik hingga mencapai 50 ribu menjadi heboh nasional, sama beralasannya seperti hebohnya kenaikan cabe atau daging. 

Pasalnya rokok itu memang serupa namun tidak sama dengan cabe dan daging, sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ada ungkapan unik di kalangan para perokok, "habis makan tanpa rokok itu, ibarat habis BAB tapi belum cebok", kurang sempurna katanya. Jadi rokok itu seperti "lauk" disetiap makanan, sama wajibnya seperti keberadaan cabe dan daging.

Tapi jangan khawatir, rokok tidak bakal naik, paling tidak untuk satu atau dua generasi kedepan. Pemerintah tidak bakal berani ambil resiko menaikkan harga rokok, usulan dari DPR ini bakal dimentahkan oleh pemerintah.

Pasalnya pemerintah butuh indikator pertumbuhan ekonomi yang bagus untuk menarik investor datang ke Indonesia. Jika rokok dinaikkan hingga 50 ribu, maka banyak hal buruk akan terjadi.

Rokok dan "ubarampe-nya" akan menyeret banyak hal, seperti pengurangan besar-besaran buruh pabrik rokok, petani tembakau yang bakal kehilangan penghasilannya, dan juga berkurangya pendapatan pemerintah dari cukai rokok, dll.

Dibalik itu semua, ada yang bilang kenaikan harga rokok ini hanyalah pengaligan isu nasonal saja, isu yang dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat yang kebetulan memang senang dengan kehebohan.

Misalnya saja mengalihkan isu dwi kewarganegaraan, bukan saja tentang Arcandra atau Gloria, tapi konon katanya menteri Rini juga diterpa isu yang sama. Atau tentang disetujuinya ekspor konsentrat freeport, atau bahkan mungkin rencana memperpanjang kontrak freeport itu sendiri, dan banyak hal lain.

Kehebohan seperti ini biasanya menjadi cara ampuh mengalihkan sebuah isu, seperti hilangnya berita panama papers beberapa waktu lalu, yang konon ada nama beberapa nama petinggi negeri ini, yang kini isu tersebut hilang tak berbekas hanya dalam hitungan bulan.


Minggu, 24 Juli 2016

Bumi Datar?

Posting atau status atau thread tentang teori bumi yang datar ini sudah pernah saya ikuti tahun 2011 - 2012 an, di salah satu group filsafat2an di facebook. Dari beragam komentar yang muncul tentang teori bumi datar ini, ada dugaan bahwa si pembuat thread atau status ini sedang melakukan taruhan dengan kawannya. Bertaruh apabila thread tersebut bisa menarik 500 hingga 1000 komentar dalam thread tersebut, maka si pembuat thread akan memperoleh imbalan atau menang taruhan.

Dan thread itu kini muncul kembali di jagad pertwitteran, yang kelihatannya/sepertinya diusung oleh seorang muslim, dimana thread tersebut dikaitkan dengan dalil-dalil Quran, yang entah kali ini tujuannya apa. Kalau thread yang dahulu tujuannya adalah untuk taruhan atau paling tidak untuk adu argumen, karena si pembuatnya punya pemikiran yang lebih condong pada atheisme.

Dan sayangnya, mentang-mentang dikait-kaitkan dengan dalil-dalil Quran, banyak muslim yang justru mengamini thread tersebut. Thread yang di tulis oleh orang yang belum jelas siapa dia, langsung saja dipercaya kebenarannya, hanya karena ada dalil-dalil Quran yang di nukil.

Padahal kalau menengok sejarah, para cendekiawan muslim jaman dahulu adalah astronom yang sangat disegani. Tidak usah jauh-jauh, kita tengok saja kedatangan Islam dan para wali di Nusantara ini datang lebih dahulu beberapa abad dibandingkan dengan ekspedisi orang Eropa menemukan wilyah ini. Bahkan konon katanya ekspedisi Eropa ini cenderung mengikuti jalur atau peta yang telah digunakan terlebih dahulu oleh saudagar muslim.

Dan kalau bumi ini datar, apa mereka lupa bahwa penentuan awal puasa dan Idul Fitri didasarakan oleh penampakan bulan. Yang kalau bumi ini datar mana mungkin bisa memberi citra atau gambaran penampakan bulan seperti diawah ini.


Atau kalau malas mikir, bagaimana menjelasakan penampakan matahari saat terbit atau terbenam. Kalau bumi datar dan matahari berjarak tetap dengan permukaan bumi, mana mungkin terlihat bulat dan posisinya berada dibawah seperti gambar diatas.



Atau mungkin saat ini lebih suka kalau muslim atau Islam, tercitrakan sebagai kaum yang anti pada ilmu pengetahuan, persis seperti Katolik abad pertengahan. Menghapuskan kecemerlangan cendekiawan muslim jaman dahulu, yang pemikiran dan penemuannya menjadi dasar dari banyak teknologi dan penemuan saat ini. ENTAHLAH.....