Jumat, 28 Maret 2014

Bon Jovi, Fatin SL dan De Virzha

Keinginan melihat Fatin membawakan lagu-lagunya Bon Jovi saat di XFactor gagal terwujud, tapi kini muncul lagi setelah melihat penampilan Virzha yang begaya rock 90an. Jadi ingin melihat Fatin dan Virzha duet membawakan lagunya Bon Jovi di ajang Idol, Virzha yang mantab dengan lagu-lagu rock dan Fatin yang cocok kalau mengcover lagu-lagu cowok kayaknya akan jadi duet yang pas.
Cuma yang agak meragukan apa bisa Fatin membawakan lagu Rock yang powerfull dan melengking? Tenang saja, ada albumnya Bon Jovi yang berjudul This Left Feels Right, di album ini ada 12 lagu hits Bon Jovi yang sudah di aransemen ulang. Lagu-lagu semacam Wanted Dead or Live, Bad Medicine, You Give Love A Bad Name, Bed Of Roses, Always, dll, terdengar berbeda dengan versi aslinya yang gahar dan membahana.
Lagu-lagu di album ini menjadi lebih kalem namun tetap terdengar enak di telinga, meskipun hampir berbeda 180 derajat versi aslinya. Bon Jovi berhasil menahan naluri rocker-nya, tidak ada lagi lengkingan ataupun teriakan sangar yang terdengar. Bagi yang baru pertama mendengarnya tentu tidak akan menyangka ini adalah lagu rock era 90-an.
Coba simak lagu Livin’ On A Prayer yang kebetulan sudah di aransemen duet dengan Olivia d’Abo, cocok bila dibawakan Fatin dan Virzha.


Bandingkan dengan versi asli dari Livin’ On A Prayer

http://www.youtube.com/watch?v=lDK9QqIzhwk
 
Simak juga link Wanted Dead or Alive dibawah, dan semua lagu-lagu di album ini bila di cover Fatin suatu saat nanti kayaknya semakin sedap, ngarep dot com.
 

Minggu, 23 Maret 2014

Di Paido Ora Nglokro Di Elém Ora Marém

Di caci/bully tidak menjadi patah semangat dan di puji tidak lantas menjadi senang, itulah terjemahan bebas dari judul artikel diatas. Lebih gampang menuliskannya dibanding menjalaninya, kebanyakan orang pasti akan terpengaruh baik saat di caci ataupun di puji. Sedikit banyak akan mengalami perubahan suasana hati, perubahan ekspresi wajah hingga perubahan emosi.

Kebanyakan saat di caci akan marah, tersinggung dan tidak bisa menerima, sementara saat dipuji akan merasa senang, bahagia, dan penuh suka cita. Entah karena sudah menjadi sifat dasar manusia seperti itu atau karena sebab lain, seperti latar belakang, lingkungan, pendidikan atau kultur budayanya. Memang bukan hal yang mudah untuk bisa menerima dua hal tersebut tanpa terpengaruh sama sekali, mungkin di butuhkan latihan sepanjang hidup untuk bisa mencapainya.

Pencapaian seperti itu bisa di ibaratkan seperti memiliki hati seluas samudra, karena saking luasnya hingga bisa menampung dan mewadahi apa saja yang masuk kedalamnya. Tak merubah atau mempengaruhi lagi warna, bau dan rasa air laut tersebut. Begitu juda dengan hati yang lapang bisa menampung cacian dan pujian sama baiknya, hatinya tetap tenang tak lagi mempengaruhi suasana hatinya.

Keduanya diterima sebagai anugrah dari Tuhan, sama-sama sebagai ajang pembelajaran untuk menjinakkan bahkan mematikan semua nafsu/keakuan-nya. Mengasah jiwanya supaya menjadi murni kembali seperti awal mulanya, dan menjadi jiwa-jiwa yang tenang dan tak terpengaruh keadaan. Kembali menjadi jiwa yang ridho dan di ridhoi.....

Senin, 17 Maret 2014

Fatin, Amatiran Malah Menguntungkan



Setelah melihat Eza kehabisan nafas saat bernyanyi dengan suara seraknya, minggu ini kembali melihat kesulitan Nowela menggunakan teknik falseto saat membawakan lagunya Alanis Morisette. Meski mendapat pelukan dari Ahmad Dani dan komentar positif dari juri, tapi ada catatan lain dari Titi DJ yang menyarankan agar Nowela belajar lagi teknik falsetonya. Menurut Titi DJ bila Nowela bisa mengeksekusi bagian falsetonya dengan baik, lagu tersebut akan menjadi lebih sempurna lagi.
Buat saya, ini semakin menandaskan bahwa tidak semua penyanyi bisa membawakan beragam jenis musik dengan baik. Dan lagi-lagi mengingatkan saya pada Fatin saat di ajang X Factor, dengan pengalaman minim sebagai seorang penyanyi tapi ternyata berani membawakan berbagai jenis lagu yang berbeda. Mulai dari yang bertempo lambat hingga cepat, atau mulai dari pop, blues hingga berani bergaya ala Raper di lagu Mercy.
Keamatirannya mungkin malah menjadi keberuntungannya, ibarat kertas yang masih kosong bisa ditulis atau digambar apa saja. Berbeda dengan penyanyi yang sudah punya dasar, atau sudah memfokuskan/mengkhususkan diri pada jenis aliran musik terntentu. Terlanjur terlatih dan punya fondasi yang kuat di jenis musik tersebut serta terlanjur punya cengkok yang menjadi ciri khasnya, ketika bernyanyi dengan aneka variasi jenis musik malah menjadi mati gaya.
Untuk seorang penyanyi profesional, cengkok atau ciri khas memang sangat diperlukan bahkan wajib hukumnya. Tapi untuk sebuah kompetisi bernyanyi seperti ajang pencarian bakat, justru bisa menjadi buah simalakama bagi pesertanya. Bernyanyi dengan cengkok lagu yang itu-itu saja akan membuat pendukungnya mudah bosan, sementara bila ingin bernyanyi keluar dari jalur musik yang digelutinya justru akan kesulitan. Butuh latihan dan penyesuaian lagi, tak ubahnya seperti membongkar lagi fondasi rumah yang sudah jadi, kemudian membangunnya lagi dari awal.
Meski Fatin tidak wow dan mencengangkan bukan berarti tidak punya kelebihan, Fatin justru memiliki karakter suara yang lebih berwarna, seperti bisa serak ala Eza namun lebih stabil atau bisa teknik falseto yang belum berhasil dilakukan oleh Nowela. Dibawah saya tampilkan upload video dari @Bangngah Den yang merangkum beberapa kelebihan dan keunikan suara yang dimiliki Fatin. Dan mudah-mudahan semua kelebihan dan keunikannya tersebut terus dilatih dan diasah dengan baik, hingga menjadi ciri khas yang sulit ditiru penyanyi lain.

Sabtu, 08 Maret 2014

Fatin dan Sebuah Pelajaran dari Kegagalan Eza Idol

Cukup mengejutkan juga melihat penampilan Eza di ajang spektakuler beberapa waktu lalu, berlatar belakang guru vokal serta berusia matang sebagai penyanyi sudah semestinya paham betul cara bernyanyi yang baik. Namun jauh berbeda dengan penampilan maksimalnya saat di audisi atau eleminasi, di spektakuler menurut penilaian Titi DJ justru terlihat kehabisan nafas dan ngos-ngosan. Penampilan tersebut memberi gambaran lain bagi awam-er seperti saya, ternyata seorang guru vokal yang tahu benar seluk-beluk teknik olah vokal tak menjamin bisa menaklukkan semua jenis lagu.
Penampilan Eza yang kehabisan nafas mengingatkan saya pada beberapa penampilan terakhir Fatin,  sama-sama terlihat kehabisan nafas tidak seperti saat masih berada di XFactor ataupun beberapa penampilan lainnya. Bila sebelumnya dengan mudah saya langsung berburuk sangka dan memvonis kalau Fatin tidak berlatih vokal dengan baik (seperti pernah saya tulis blog pribadi). Namun setelah melihat penampilan Eza sedikit banyak membuka sudut pandang saya tentang apa yang terjadi pada Fatin, kalau seorang guru vokal saja bisa kehabisan nafas apalagi Fatin yang jam terbangnya masih minim.
Apa yang terjadi pada Eza bisa jadi karena memang kurang latihan atau kurang terbiasa untuk bernyanyi dengan jenis lagu seperti itu, atau mungkin juga seperti penilaian Tantri yang mengatakan karena Eza memiliki suara serak membuatnya jadi mudah kehabisan nafas. Terlebih bila memang ada kesengajaan dari Eza ingin menjadikan serak sebagai ciri khasnya, sehingga memaksa diri sepaya terdengar lebih serak lagi saat di babak spektakuler, dengan harapan suara seraknya bisa memikat juri sekaligus menarik dukungan dari pemirsa.
Sementara itu apa yang terjadi pada Fatin saat ini, justru baru berada pada tahap awal latihan untuk memperkuat karakter seraknya, dengan cara sering bernyanyi di nada-nada yang lebih rendah. Kesengajaan dari manajemennya untuk mengarahkan Fatin supaya lebih berkarakter di nada rendah, lemah menjangkau nada-nada tinggi siapa tahu justru sangat berpotensi menjadi jagoan di nada rendah, terlebih usianya yang masih 17 tahun tentu jauh lebih mudah untuk dikembangkan dan dibentuk.
Meskipun saat ini masih terlihat ngos-ngosan, mungkin suatu saat nanti akan semakin sempurna seiring dengan bertambahnya jam terbang, pengalaman dan kematangan vokalnya. Ini bisa menjadi sebuah peluang tersendiri, bila melihat ketatnya persaingan serta berlimpahnya penyanyi yang memiliki suara tinggi bak diva. Siapa tahu dengan menjadi penyanyi yang memiliki suara rendah namun berkarakter, justru lebih memperbesar kesempatannya untuk meraih kesuksesan. Semoga saja memang seperti judul bukunya, ini baru permulaan.......

Susah Tuhan Di Undang, Senang Tuhan Di Buang



Saat gagal memohon pertolongan pada Tuhan

Saat berhasil dengan bangga berkata ini adalah kerja kerasku dalam bekerja

Saat miskin memohon pertolongan pada Tuhan

Saat kaya dengan bangga berkata ini adalah hasil kecerdasanku melihat peluang

Saat anaknya sulit diatur memohon pertolongan pada Tuhan

Saat anaknya sukses dengan bangga berkata ini karena hasil pendidikan yang kutanamkan

Saat sakit memohon pertolongan pada Tuhan

Saat sehat dengan bangga berkata ini karena pola hidup sehat yang kujalani

Saat dalam kesulitan memohon pertolongan pada Tuhan

Saat mampu keliling Asia dengan bangga berkata ini hasil kesuksesan yang kudapatkan