Minggu, 23 Maret 2014

Di Paido Ora Nglokro Di Elém Ora Marém

Di caci/bully tidak menjadi patah semangat dan di puji tidak lantas menjadi senang, itulah terjemahan bebas dari judul artikel diatas. Lebih gampang menuliskannya dibanding menjalaninya, kebanyakan orang pasti akan terpengaruh baik saat di caci ataupun di puji. Sedikit banyak akan mengalami perubahan suasana hati, perubahan ekspresi wajah hingga perubahan emosi.

Kebanyakan saat di caci akan marah, tersinggung dan tidak bisa menerima, sementara saat dipuji akan merasa senang, bahagia, dan penuh suka cita. Entah karena sudah menjadi sifat dasar manusia seperti itu atau karena sebab lain, seperti latar belakang, lingkungan, pendidikan atau kultur budayanya. Memang bukan hal yang mudah untuk bisa menerima dua hal tersebut tanpa terpengaruh sama sekali, mungkin di butuhkan latihan sepanjang hidup untuk bisa mencapainya.

Pencapaian seperti itu bisa di ibaratkan seperti memiliki hati seluas samudra, karena saking luasnya hingga bisa menampung dan mewadahi apa saja yang masuk kedalamnya. Tak merubah atau mempengaruhi lagi warna, bau dan rasa air laut tersebut. Begitu juda dengan hati yang lapang bisa menampung cacian dan pujian sama baiknya, hatinya tetap tenang tak lagi mempengaruhi suasana hatinya.

Keduanya diterima sebagai anugrah dari Tuhan, sama-sama sebagai ajang pembelajaran untuk menjinakkan bahkan mematikan semua nafsu/keakuan-nya. Mengasah jiwanya supaya menjadi murni kembali seperti awal mulanya, dan menjadi jiwa-jiwa yang tenang dan tak terpengaruh keadaan. Kembali menjadi jiwa yang ridho dan di ridhoi.....

Senin, 17 Maret 2014

Fatin, Amatiran Malah Menguntungkan



Setelah melihat Eza kehabisan nafas saat bernyanyi dengan suara seraknya, minggu ini kembali melihat kesulitan Nowela menggunakan teknik falseto saat membawakan lagunya Alanis Morisette. Meski mendapat pelukan dari Ahmad Dani dan komentar positif dari juri, tapi ada catatan lain dari Titi DJ yang menyarankan agar Nowela belajar lagi teknik falsetonya. Menurut Titi DJ bila Nowela bisa mengeksekusi bagian falsetonya dengan baik, lagu tersebut akan menjadi lebih sempurna lagi.
Buat saya, ini semakin menandaskan bahwa tidak semua penyanyi bisa membawakan beragam jenis musik dengan baik. Dan lagi-lagi mengingatkan saya pada Fatin saat di ajang X Factor, dengan pengalaman minim sebagai seorang penyanyi tapi ternyata berani membawakan berbagai jenis lagu yang berbeda. Mulai dari yang bertempo lambat hingga cepat, atau mulai dari pop, blues hingga berani bergaya ala Raper di lagu Mercy.
Keamatirannya mungkin malah menjadi keberuntungannya, ibarat kertas yang masih kosong bisa ditulis atau digambar apa saja. Berbeda dengan penyanyi yang sudah punya dasar, atau sudah memfokuskan/mengkhususkan diri pada jenis aliran musik terntentu. Terlanjur terlatih dan punya fondasi yang kuat di jenis musik tersebut serta terlanjur punya cengkok yang menjadi ciri khasnya, ketika bernyanyi dengan aneka variasi jenis musik malah menjadi mati gaya.
Untuk seorang penyanyi profesional, cengkok atau ciri khas memang sangat diperlukan bahkan wajib hukumnya. Tapi untuk sebuah kompetisi bernyanyi seperti ajang pencarian bakat, justru bisa menjadi buah simalakama bagi pesertanya. Bernyanyi dengan cengkok lagu yang itu-itu saja akan membuat pendukungnya mudah bosan, sementara bila ingin bernyanyi keluar dari jalur musik yang digelutinya justru akan kesulitan. Butuh latihan dan penyesuaian lagi, tak ubahnya seperti membongkar lagi fondasi rumah yang sudah jadi, kemudian membangunnya lagi dari awal.
Meski Fatin tidak wow dan mencengangkan bukan berarti tidak punya kelebihan, Fatin justru memiliki karakter suara yang lebih berwarna, seperti bisa serak ala Eza namun lebih stabil atau bisa teknik falseto yang belum berhasil dilakukan oleh Nowela. Dibawah saya tampilkan upload video dari @Bangngah Den yang merangkum beberapa kelebihan dan keunikan suara yang dimiliki Fatin. Dan mudah-mudahan semua kelebihan dan keunikannya tersebut terus dilatih dan diasah dengan baik, hingga menjadi ciri khas yang sulit ditiru penyanyi lain.

Sabtu, 08 Maret 2014

Fatin dan Sebuah Pelajaran dari Kegagalan Eza Idol

Cukup mengejutkan juga melihat penampilan Eza di ajang spektakuler beberapa waktu lalu, berlatar belakang guru vokal serta berusia matang sebagai penyanyi sudah semestinya paham betul cara bernyanyi yang baik. Namun jauh berbeda dengan penampilan maksimalnya saat di audisi atau eleminasi, di spektakuler menurut penilaian Titi DJ justru terlihat kehabisan nafas dan ngos-ngosan. Penampilan tersebut memberi gambaran lain bagi awam-er seperti saya, ternyata seorang guru vokal yang tahu benar seluk-beluk teknik olah vokal tak menjamin bisa menaklukkan semua jenis lagu.
Penampilan Eza yang kehabisan nafas mengingatkan saya pada beberapa penampilan terakhir Fatin,  sama-sama terlihat kehabisan nafas tidak seperti saat masih berada di XFactor ataupun beberapa penampilan lainnya. Bila sebelumnya dengan mudah saya langsung berburuk sangka dan memvonis kalau Fatin tidak berlatih vokal dengan baik (seperti pernah saya tulis blog pribadi). Namun setelah melihat penampilan Eza sedikit banyak membuka sudut pandang saya tentang apa yang terjadi pada Fatin, kalau seorang guru vokal saja bisa kehabisan nafas apalagi Fatin yang jam terbangnya masih minim.
Apa yang terjadi pada Eza bisa jadi karena memang kurang latihan atau kurang terbiasa untuk bernyanyi dengan jenis lagu seperti itu, atau mungkin juga seperti penilaian Tantri yang mengatakan karena Eza memiliki suara serak membuatnya jadi mudah kehabisan nafas. Terlebih bila memang ada kesengajaan dari Eza ingin menjadikan serak sebagai ciri khasnya, sehingga memaksa diri sepaya terdengar lebih serak lagi saat di babak spektakuler, dengan harapan suara seraknya bisa memikat juri sekaligus menarik dukungan dari pemirsa.
Sementara itu apa yang terjadi pada Fatin saat ini, justru baru berada pada tahap awal latihan untuk memperkuat karakter seraknya, dengan cara sering bernyanyi di nada-nada yang lebih rendah. Kesengajaan dari manajemennya untuk mengarahkan Fatin supaya lebih berkarakter di nada rendah, lemah menjangkau nada-nada tinggi siapa tahu justru sangat berpotensi menjadi jagoan di nada rendah, terlebih usianya yang masih 17 tahun tentu jauh lebih mudah untuk dikembangkan dan dibentuk.
Meskipun saat ini masih terlihat ngos-ngosan, mungkin suatu saat nanti akan semakin sempurna seiring dengan bertambahnya jam terbang, pengalaman dan kematangan vokalnya. Ini bisa menjadi sebuah peluang tersendiri, bila melihat ketatnya persaingan serta berlimpahnya penyanyi yang memiliki suara tinggi bak diva. Siapa tahu dengan menjadi penyanyi yang memiliki suara rendah namun berkarakter, justru lebih memperbesar kesempatannya untuk meraih kesuksesan. Semoga saja memang seperti judul bukunya, ini baru permulaan.......

Susah Tuhan Di Undang, Senang Tuhan Di Buang



Saat gagal memohon pertolongan pada Tuhan

Saat berhasil dengan bangga berkata ini adalah kerja kerasku dalam bekerja

Saat miskin memohon pertolongan pada Tuhan

Saat kaya dengan bangga berkata ini adalah hasil kecerdasanku melihat peluang

Saat anaknya sulit diatur memohon pertolongan pada Tuhan

Saat anaknya sukses dengan bangga berkata ini karena hasil pendidikan yang kutanamkan

Saat sakit memohon pertolongan pada Tuhan

Saat sehat dengan bangga berkata ini karena pola hidup sehat yang kujalani

Saat dalam kesulitan memohon pertolongan pada Tuhan

Saat mampu keliling Asia dengan bangga berkata ini hasil kesuksesan yang kudapatkan

Jumat, 21 Februari 2014

Menebak Juara Indonesian Idol 2014

Melihat babak spektakuler Indonesian Idol barusan, entah kenapa kok pingin seru-seruan menebak pemenang ajang pencarian bakat satu ini. Dengan melihat penampilan para pesertanya dan menimbang komentar maupun bahasa tubuh dari para jurinya, saya mempunyai prediksi siapa yang bakal menjadi pemenangnya, posisi kedua serta posisi ketiga. Dan inilah hasil wangsit yang barusan saya terima di jam 00.35 pada hari Sabtu dini hari, 22 Februari 2014 :

Juara pertama: Nowella
Juara kedua : De Virzha
Juara ketiga : Sarah

Dan melihat arah angin yang berhembus, sms mereka akan bersaing dengan ketat, namun apa mau dikata kelihatannya ini tahunnya Nowella....... 

Kamis, 20 Februari 2014

Membakar Surga, Menyiram Neraka.......

Dengan membawa ember ditangan kanan dan obor ditangan kirinya, Rabi’ah Adawiyah sang sufi cantik ini berkeliling disepanjang jalanan kota. Tak heran tingkahnya menjadi perbincangan dan membuat penduduk keheranan, ada apa gerangan dengan Rabi’ah.

Ketika penduduk kota ramai-ramai menghampiri dan menanyakannya, sang sufipun menjawab, dengan air akan kupadamkan api neraka, dengan api akan kubakar taman-taman surga. Sehingga tak ada lagi neraka yang perlu ditakuti, tak ada lagi surga indah nan sejuk yang pantas diingini oleh makhluk.

Tindakannya itu disebabkan karena kegemasan sang sufi terhadap perilaku penduduk kota, yang beribadah hanya karena kemaruk surga dan begitu takutnya akan kobaran api neraka. Ibadah tak lagi didasari karena rasa cinta dan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan, ibadah justru dijadikan ajang jual beli dengan Tuhan. Ibadah semata-mata menjadi ajang untuk menumpuk pahala supaya bisa ditukar dengan bidadari atau bidadara, mengapling istana nan megah, atau ngiler pingin minuman yang rasanya seperti anggur hasil fermentasi.

Pahala hanya seperti poin yang dikumpulkan untuk digunakan sebagai alat tukar atau tiket masuk ke surga setelah dipotong dengan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Tak ada lagi ibadah dengan niat karena Allah semata, yang ada hanya niat ingin mendapat pahala sebanyak-banyaknya karena takut siksa neraka. Lillahi ta’ala hanya dibibir saja sekedar ucapan wajib asal memenuhi syarat, tak sampai merasuk kedalam sanubari pelakunya.

Sayangnya Rabi’ah Adawiyah tidak dilahirkan di masa kini, seandainya terlahir di masa kini, tentu tak perlu repot-repot membawa ember dan obor berkeliling kota mencoba mengingatkan para penduduk. Karena di masa kini orang-orang sudah tidak lagi kemaruk surga dan tak takut lagi neraka, sebab mereka lebih memilih hadiah mobil yang langsung bisa dinaiki, “bidadari/bidadara" yang bisa dibeli. Dan tak takut lagi dengan kobaran api neraka karena disana akan banyak kawan, kerabat serta sahabat yang akan menemani.

(Sebuah renungan pribadi tentang adanya sholat berjamaah dengan hadiah mobil, titip doa dengan membayar, dll)

Minggu, 09 Februari 2014

Fatin, Pilih Latihan Vokal atau Ditinggal...

Sebetulnya ini bukan ranah yang ingin saya campuri, tapi apa mau dikata dengan berat hati saya tulis juga. (Dan tulisan ini akan saya hapus, apabila Fatin ternyata sudah berlatih vokal)

Sejak kemenangannya, belum pernah saya mendengar kabar Fatin menunjuk guru vokal secara resmi, belum ada berita yang pasti bahwa Fatin berlatih vokal secara terjadwal. Dan seolah menggaris bawahi apa yang saya duga, bahwa sampai sejauh ini Fatin belum latihan vokal (koreksi bila salah). Tertutama saat melihat penampilan Fatin yang masih saja belum stabil, beberapa diantaranya bahkan berada dibawah performnya saat di XFactor.
Ini menimbulkan banyak pertanyaan, ada apa sebenarnya? Salahnya dimana? Salahkah menajemennya? Atau salahkah Fatinnya? Kenapa latihan vokal ini seolah menjadi prioritas paling buncit?
Padahal sebagai seorang penampil yang me-nyaji-kan suara sebagai modalnya (menjual suara bahasa kasarnya), tentu yang ditunggu adalah suaranya. Bila suara ini tidak dilatih dan dibiasakan, bagaimana bisa memberikan yang maksimal. Penyanyi yang sudah senior saja masih terus berlatih, apalagi pendatang baru sudah seharusnya lebih keras lagi berlatihnya.
Bila pemilik suara ini terus-menerus tidak bisa menampilkan yang terbaik, tidak bisa memberikan yang maksimal, lantas apa lagi yang ingin didengar dan ditunggu oleh penikmatnya? Bisa-bisa sedikit demi sedikit malah akan ditinggal oleh para penikmatnya.
Tapi yang paling penting dari semua itu, kambali kepada manajemen, keluarga, dan terutama orang yang menjalani/nglakoni-nya sendiri yaitu Fatin, sejauh mana kemauannya, sejauh mana kenyamanannya menjadi penyanyi, sejauh mana ingin mencapainya. Kalau sudah merasa cukup dengan pencapaian saat ini ya tidak masalah asal nyaman, dari pada mejalaninya dengan penuh keterpaksaan..........
Catatan: Kenapa saya ngotot kalau suara Fatin enak didengar (catat: bukan wow), patokan saya adalah granade dan pump up kicks. Dan terlebih saat duet dengan Rossa, duet dengan Ariel Noah, duet denga Vidi Aldiano, duet dengan Rio Febrian, duet dengan Sandy Sandoro, duet dengan The Colective, terlihat begitu menjanjikan karena bisa mengimbangi dan tidak kedodoran bersanding dengan musisi-musisi yang terhitung memiliki jam terbang tinggi.