Minggu, 21 Agustus 2016

Tenang, Rokok Tidak Bakal Naik

Indonesia ini memang negara yang unik, apa saja bisa menjadi heboh, cabe naik heboh, daging naik heboh, dan lain sebagainya. Dan kini wacana (catet baru wacana) tentang kenaikan harga rokok ini sudah sukses menjadi kehebohan nasional. 

Sangat beralasan jika kenaikan harga rokok yang konon katanya akan naik hingga mencapai 50 ribu menjadi heboh nasional, sama beralasannya seperti hebohnya kenaikan cabe atau daging. 

Pasalnya rokok itu memang serupa namun tidak sama dengan cabe dan daging, sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ada ungkapan unik di kalangan para perokok, "habis makan tanpa rokok itu, ibarat habis BAB tapi belum cebok", kurang sempurna katanya. Jadi rokok itu seperti "lauk" disetiap makanan, sama wajibnya seperti keberadaan cabe dan daging.

Tapi jangan khawatir, rokok tidak bakal naik, paling tidak untuk satu atau dua generasi kedepan. Pemerintah tidak bakal berani ambil resiko menaikkan harga rokok, usulan dari DPR ini bakal dimentahkan oleh pemerintah.

Pasalnya pemerintah butuh indikator pertumbuhan ekonomi yang bagus untuk menarik investor datang ke Indonesia. Jika rokok dinaikkan hingga 50 ribu, maka banyak hal buruk akan terjadi.

Rokok dan "ubarampe-nya" akan menyeret banyak hal, seperti pengurangan besar-besaran buruh pabrik rokok, petani tembakau yang bakal kehilangan penghasilannya, dan juga berkurangya pendapatan pemerintah dari cukai rokok, dll.

Dibalik itu semua, ada yang bilang kenaikan harga rokok ini hanyalah pengaligan isu nasonal saja, isu yang dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat yang kebetulan memang senang dengan kehebohan.

Misalnya saja mengalihkan isu dwi kewarganegaraan, bukan saja tentang Arcandra atau Gloria, tapi konon katanya menteri Rini juga diterpa isu yang sama. Atau tentang disetujuinya ekspor konsentrat freeport, atau bahkan mungkin rencana memperpanjang kontrak freeport itu sendiri, dan banyak hal lain.

Kehebohan seperti ini biasanya menjadi cara ampuh mengalihkan sebuah isu, seperti hilangnya berita panama papers beberapa waktu lalu, yang konon ada nama beberapa nama petinggi negeri ini, yang kini isu tersebut hilang tak berbekas hanya dalam hitungan bulan.


Minggu, 24 Juli 2016

Bumi Datar?

Posting atau status atau thread tentang teori bumi yang datar ini sudah pernah saya ikuti tahun 2011 - 2012 an, di salah satu group filsafat2an di facebook. Dari beragam komentar yang muncul tentang teori bumi datar ini, ada dugaan bahwa si pembuat thread atau status ini sedang melakukan taruhan dengan kawannya. Bertaruh apabila thread tersebut bisa menarik 500 hingga 1000 komentar dalam thread tersebut, maka si pembuat thread akan memperoleh imbalan atau menang taruhan.

Dan thread itu kini muncul kembali di jagad pertwitteran, yang kelihatannya/sepertinya diusung oleh seorang muslim, dimana thread tersebut dikaitkan dengan dalil-dalil Quran, yang entah kali ini tujuannya apa. Kalau thread yang dahulu tujuannya adalah untuk taruhan atau paling tidak untuk adu argumen, karena si pembuatnya punya pemikiran yang lebih condong pada atheisme.

Dan sayangnya, mentang-mentang dikait-kaitkan dengan dalil-dalil Quran, banyak muslim yang justru mengamini thread tersebut. Thread yang di tulis oleh orang yang belum jelas siapa dia, langsung saja dipercaya kebenarannya, hanya karena ada dalil-dalil Quran yang di nukil.

Padahal kalau menengok sejarah, para cendekiawan muslim jaman dahulu adalah astronom yang sangat disegani. Tidak usah jauh-jauh, kita tengok saja kedatangan Islam dan para wali di Nusantara ini datang lebih dahulu beberapa abad dibandingkan dengan ekspedisi orang Eropa menemukan wilyah ini. Bahkan konon katanya ekspedisi Eropa ini cenderung mengikuti jalur atau peta yang telah digunakan terlebih dahulu oleh saudagar muslim.

Dan kalau bumi ini datar, apa mereka lupa bahwa penentuan awal puasa dan Idul Fitri didasarakan oleh penampakan bulan. Yang kalau bumi ini datar mana mungkin bisa memberi citra atau gambaran penampakan bulan seperti diawah ini.


Atau kalau malas mikir, bagaimana menjelasakan penampakan matahari saat terbit atau terbenam. Kalau bumi datar dan matahari berjarak tetap dengan permukaan bumi, mana mungkin terlihat bulat dan posisinya berada dibawah seperti gambar diatas.



Atau mungkin saat ini lebih suka kalau muslim atau Islam, tercitrakan sebagai kaum yang anti pada ilmu pengetahuan, persis seperti Katolik abad pertengahan. Menghapuskan kecemerlangan cendekiawan muslim jaman dahulu, yang pemikiran dan penemuannya menjadi dasar dari banyak teknologi dan penemuan saat ini. ENTAHLAH.....







Kamis, 28 April 2016

Reklamasi Teluk Jakarta (dan) Tanda Tanya

Giant sea wall

Sebagai orang luar Jakarta sebetulnya tidak begitu ngaruh dan berdampak dengan adanya reklamasi teluk di Jakarta sana. Mau ditambah 10 lagi atau seluruh perairan Jakarta diuruk dijadikan daratan semua tetep tidak ada pengaruhnya buat saya.

Hanya saja sebagai warga Indonesia yang memiliki ribuan pulau, yang luasnya luar biasa, yang pulau-pulaunya memiliki keindahan mempesona, yang pembangunan antara timur dan barat masih sangat timpang, kok ya jadi ngerasa kebangeten.

Katanya sang gubernur sih sangat menguntungkan "Jakarta", dalam tanda kutip karena tak jelas apakah yang dimaksud adalah Jakarta dengan kesulurahan warganya, atau Jakarta sebagai pemerintahan, atau hanya segelintir orang Jakarta saja.

Kalau saya coba bayangkan ke lima tahun kedepan, ketika pembangunan semua pulau sudah selesai, ketika gedung-gedung dan seluruh aneka fasilitas yang hendak dibangun disana sudah selesai. Maka yang terbayang adalah aneka dampak (menururut versi saya), yang mungkin akan terjadi di sana.

Tebayang banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk merawat dan menjalankan seluruh aneka kegiatan, usaha, dan jasa yang ada di sana. Dan tentunya seperti yang sudah-sudah tak mungkin hanya warga Jakarta yang akan dipekerjakan disana. Sumber daya manusianya tentu akan diambilkan lagi dari putra-putri daerah yang memiliki keunggulan. Putra-putri daerah yang terbaik akan "dipaksa" lagi keluar dari daerahnya untuk berbondong-bondong menuju ke pusat pemerintahan.

Terbayang pula keeksklusifan wilayah tersebut, akses terbatas yang hanya dimiliki oleh pemilik dan pemangku kepentingan disana membuat garis tegas si kaya dan miskin. Belum lagi kemungkinan adanya penyalah gunaan fasilitas eksklusif seperti itu, seperti pabrik narkoba, prostitusi kelas atas, bahkan mungkin saja salah satu pulaunya akan menjadi kasino terselubung.

Dan juga dampaknya terhadap lingkungan di sekitar pastinya juga akan terjadi, perubahan pada sungai saja sudah berdampak buruk pada lingkungan apalagi ini menguruk lautan yang menjadi muara sungai yang ada.

Seandainya benar-benar mencintai negeri tercinta ini, kenapa pula tidak mengalihkan seluruh atau sebagian dana reklamasi tersebut untuk memajukan pulau-pulau mempesona yang sudah ada. Kenapa rasa cintanya hanya begitu besar pada ibu kota, namun menjadi ciut bila menengok ke Indonesia timur yang semakin jauh tertinggal.

Sebagai rakyat apalah-apalah, hanya bisa nyengir dan semakin menjadi-(jadi) bagian dari segelintir rakyat yang gagal paham terhadap arah yang hendak dituju oleh pemerintahan saat ini (ijin reklamasi ada di pemerintah pusat).

sumber: Marja News

Jumat, 01 April 2016

Tubuh, Jiwa, Ruh dan Kematian (Tulisan teman di Facebook)

Bismillahirrohmanirrohiim,
Tulisan ini aku tujukan untuk seorang sahabat yang pada sebuah malam mengirimiku pesan singkat di ponsel berbunyi “Le, aku kirim message di fb, ndang dibuka. Urgent”. Segera aku membuka aplikasi jejaring sosial itu dan menemukan sebuah pesan darinya yang sangat-sangat panjang. Tema-nya pun memiriskan : Ruh, kematian dan prosesi penyempurnaan kematian.
Sekaligus tulisan ini aku tujukan untuk seorang lainnya, yang pernah juga mengirim pesan padaku yang berbunyi “Aku suka cara-mu mendekatkan diri kepada Tuhan. Lewat tulisanmu aku tahu kau sedang berproses “qorrub” dengan cara-mu yang tidak biasa. Tidak diperlihatkan, sembunyi-sembunyi sehingga jauh dari “sok” dan kesan pamer”.
Ya, aku tujukan tulisan ini kepada mereka berdua. Mereka yang secara langsung memberikan perhatian dan memiliki pandangan yang sejalan dengan “rasa” yang halus mengalir dalam darahku dan menyebar luas ke seantero jagad maya-ku.
Sebelum aku memulai, ijinkan hamba yang fakir ini menyebut nama Tuhan denga kalimah “Wallahu ‘alam, subhanaka laa ngilmalana ‘illama ‘alamtana”. Bahwa sesunguhnya segala pengetahuan adalah dari Tuhan saja, bukan dari hasil pikirku, apalagi rekadayaku.
Baiklah aku mulai saja :
Sebagai pondasi aku akan memapar seputar manusia. Bahwa manusia terdiri dari badan (tubuh), jiwa dan ruh. Tiga soal itulah yang sejauh ini menopang kehidupan manusia di muka bumi. Sementara orang berkeyakinan bahwa manusia terdiri dari dua dua soal saja : badan (tubuh) dan ruh.
Untuk soal tubuh tak perlulah aku jelaskan panjang lebar. Aku tahu kalian tentu faham secara kaffah dari mana datangnya tubuh dan kemana setelah kematian menghampirinya. Ya, benar, seluruh bagian tubuh manusia berasal dari “sari-sarining bumi” atau empat unsur alam yang telah dikenal luas : tanah, air, api dan angin. Itulah pembentuk “Adam”, yang secara rasa bimakna “suwung”. Artinya suwung : bahwa sebenarnya tubuh itu adalah kehampaan, tidak ada institusi riil dari sebuah tubuh manusia. Sebab ketika terbentuk, memuai dan kemudian kembali lagi pada keadaan tidak ada, di dalamnya hanyalah memuat sebuah “prosesi” dan bukan “esensi”.
Jadi ketika kematian menghampiri anak adam, “sari-sarining bumi” yang membentuk sebuah tubuh akan kembali kepada asalnya masing-masing, bercampur baur dengan yang lainnya untuk kemudian kembali lagi membentuk tubuh baru. Sesudahnya, terserah Gusti mau dipakaikan kepada siapa atau apa.
Soal Jiwa.
Jika kau memiliki hasrat atau keinginan maka itulah muasal jiwa. Pada sebuah kepuasan, pada sebuah kekenyangan, pada sebuah kelaparan, pada sebuah kehausan serta keadaan-keadaa lain yang “setaraf” dengan itu semua, dari sanalah jiwa berasal. Jadi sumber jiwa adalah “hasrat” dan “keinginan” yang “boleh” dipenuhi.
Aku sengaja menyebutnya dengan “boleh” yang mengacu kepada kata “bisa”, agar kalian faham bahwa kemauan itu berasal dari jiwa yang didorong oleh sebuah kebutuhan badan akan “sesuatu” untuk dipenuhi. Jadi, jiwa itu bukanlah “sesuatu” yang suci seperti yang selama ini (mungkin) kalian kenal. Jiwa itu berpasang-pasangan, persis seperti makhluk Tuhan lainnya. Baik-buruk, susah-senang dll senantiasa menempel pada jiwa.
Jiwa-lah pendorong menggumpalnya sejumlah keinginan dan juga kemauan yang sering memaksa “Adam” untuk memenuhinya.
Lalu kemana perginya jiwa saat kematian datang ?
Dia akan kembali kepada golongannya di alam hasrat keinginan (iskat-iskat). Melebur bersama kawan-kawannya di alam itu untuk selanjutnya, seperti halnya “sari-sarining bumi”, akan kembali dikenakan oleh siapa atau apa atas “Kun” Tuhan.
Dan berikutnya adalah : Ruh.
Aku sengaja menukil satu ayat Al Qur’an dalam Surat Al-Isra : “Saat kau (Muhammad) ditanya tentang ruh, katakan bahwa itu adalah urusan-KU”. Ini mengindikasikan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan yang cukup tentang ruh kecuali sedikit saja.
Ruh itu soal yang jauh dari jangkauan, bahkan di luarnya. Bisa dirasakan namun tak pernah bisa terjelaskan secara tuntas. Aku hanya bisa bilang ruh itu lah pembentuk pola dasar manusia. Tanpa ruh yang meniupkan hidup, manusia tak akan pernah mampu menjalani kehidupan.
Sebagian manusia meyakini ruh itu adalah “cuwilan” sifat Gusti Allah. Artinya ruh itu bagian dari Gusti Allah dan ketika manusia mati ruh akan kembali pada-Nya, menyatu dengan-Nya. Hati-hati dengan pengertian itu.
Yang aku “rasa”, manusia itu beda dengan Tuhan, sehingga segala materi pembentuknya pun tentu berbeda dengan Tuhan. Sehingga ruh tidak pernah menyatu kembali (manungal) dengan Tuhan. Ketika manusia mati, ruh akan kembali ke alamnya sendiri.
Ayo aku tengokkan ke sebuah kalimah “Gusti iku wa laa kaifin bi laa mitsalin”. Artinya, Allah itu “tan kena kiniro tan kena kinoyongopo”, bahwa Tuhan itu benar-benar tak terbayangkan dan tak terjelaskan. Jadi kalau ada yang meyakini bahwa ruh itu cuwilan / bagian dari Tuhan, itu mengingkari kalimah di atas.
Baiklah, karena keterbatasanku aku akan menggunakan pengibaratan. Anggap saja ruh itu tetes air laut, sementara Tuhan itu lautan yang maha luas. Meski pengibaratan ini jauh dari esensinya namun aku rasa ini akan membantu pemahaman kalian. Ketika ruh itu tetes air laut dan Tuhan itu lautan yang maha luas, apakah bisa dikatakan bahwa laut itu berasal atau terbentuk dari tiap tetes air laut ? Tidak kan ? Sebab jka logika ini yang digunakan maka pada setiap peng-ada-an makhluk maka kuasa lautan akan berkurang kan ? Dan ketika makhluk semakin bertambah, kuasanya mengecil karena terlalu banyak di-cuwil, tidak begitu bukan ?
Maka, gunakan logika sebaliknya. Bahwa tiap tetes air laut itu memang berasal dari laut yang maha luas, namun (sekali lagi namun) untuk menyebut esensi laut apakah cukup dengan menunjuk lautan luas dengan garis cakrawalanya ? Apakah cukup dengan menyebut laut utara dan laut selatan ? Apakah cukup dengan menyebut bahwa laut itu adalah ini dan laut itu adalah itu ? Tidak ! Sama sekali bukan ! Tidak pernah cukup kalimat dan logika manusia untuk sekedar menyentuh tiap tetes air laut, apalagi laut itu sendiri.
Ketika Tuhan tidak terdefinisikan, maka setiap yang bisa didefinisikan bukanlah Tuhan, begitu bukan ? Maka sederhananya, antara lautan dan tetes air laut itu sejalan, satu gerakan namun bukan berarti menyatu. Ketika ada ombak bergerak ke pantai maka lautan bergerak ke pingir, begitupun dengan tiap tetes air lautnya. Namun tetap saja tidak bisa dikatakan bahwa tiap tetes itu adalah lautan atau bahkan sebaliknya bahwa lautan itu ya tetes itu sendiri. Apalagi bicara penyatuan (kemanungalan) tetes dengan lautan. Tidak pernah ada penyatuan itu, dan itu telah jelas ditegaskan sepanjang masa bahwa tidak ada satupun makhluk yang berkesempatan bersatu, bertemu muka atau bahkan manunggal dengan Tuhan, seistimewa apapun dia !
Maka, itulah ruh yang menjadi rahasia Tuhan. Bahwa ruh adalah entitas dasar yang melandasi hidup makhluk dan menjadi penggerak kehidupan makhluk. Kemana ia berpulang ? Ia akan kembali kepada lautan, namun bukan berarti menyatu dengan lautan itu sendiri, ia hanya bergerak sesuai kemauan lautan. Dan pada saatnya nanti ia akan kembali lagi menerima perintah untuk “turun” dalam kuasa prerogatif Tuhan.
Tentang Kematian
Tidur adalah alamat kematian atau sebut saja kematian kecil atau latihan kematian. Maka, menjalani proses tidur dengan penuh perhatian adalah langkah awal yang baik untuk berlatih tentang kematian.
Tidur yang baik itu sama seperti mati yang baik (baik untuk ukuran kesempurnaan). Yaitu tanpa bermimpi dan tanpa merasakan apapun. Artinya secara ilmu islam akan disebut kembalinya segenap pembentuk manusia kepada alamnya masing-masing tanpa kesasar dan tanpa mampir-mampir.
Tidur yang bermimpi persis seperti mati yang kesasar. Persis seperti mati yang tidak menyadari kematiannya. Maka itu, sungguh beruntung orang yang bisa tidur tanpa bermimpi. Selain tidurnya nyenyak itu menandakan posisinya yang mantap dalam alam “laahiyah”. Sebuah alam suwung, tanpa apa-apa dan tanpa siapa-siapa.
Mati itu perkara mudah dan murah. Seharusnya tidak perlu ditakuti apalagi harus dipersiapkan masak-masak. Mati ya mati saja, tidak perlu menyoal tentang mati sampai njlimet yang mengakibatkan tergerusnya kepasrahan kepada Tuhan dan berganti dengan ketergantungan kepada doa-doa atau upaya-upaya “penyempurnaan’ yang banyak dilakukan oleh para pemuka agama.
Sungguh, 100% itu urusan Tuhan. Ketika siapapun (tak terkecuali para pemuka agama) menyatakan bahwa kematian itu gini dan gitu, itu adalah sebuah penafsiran dari sebuah bisikan langit yang sangat boleh jadi terbatas untuk dirinya saja dan bukan untuk orang lain. Sehingga masing-masing manusia memiliki ke-khasan sendiri-sendiri dalam menghadapi kematian.
Oh, sobatku...
Bukan berarti aku nuzus (membangkang) kalimat maha guruku. Ini semua juga kalimat beliau yang kemudian aku rasa lalu sarikan. Ini adalah tafsir dari rasaku yang aku bagikan pada kalian, kepada anak jaman yang berbeda waktu dan ruang dengan maha guruku.
Baiklah sobat,
Sekali lagi aku ulangi, mati ya mati saja. Tidak lebih. Ketika maha guru mengadakan prosesi penyempurnaan, itu adalah sebuah irodah untuk menyadarkan almarhum bahwa dia sejatinya telah mati, persis seperti meluruskan tidur agar tidak bermimpi, apalagi bermimpi buruk. Mengapa demikian ?
Sobat,
Banyak manusia mati tanpa menyadari bahwa dia telah mati. Bahwa dia telah berpindah alam. Dan, ketika semestinya dia kembali kepada keadaan kosong (suwung, hampa - laahiyah) agar boleh kembali ditugaskan ke muka bumi, di justru tersesat masuk ke alam jiwa yang banyak sekali menawarkan keindahan semu dan juga kesenangan sesaat atau bahkan tersesat ke alam yang sangat-sangat menakutkan. Bayangkan saja jika itu terjadi untuk waktu yang lama, berpuluh bahkan bratus tahun ! Betapa nestapanya dia.
Mengapa bisa tersesat ? Dorongan jiwa yang terlalu besar atau desakan keinginan yang mendominasi hari-harinya semasa hidup di dunia-lah penyebabnya. Selain itu, ada pula penyebab lainnya yang sungguh absurd bagi si awam. Dia adalah keterkaitan antara masa lalu dan masa kini. Ini yang sangat sulit ditebas dan dipecahkan. Bagi yang meyakini inkarnasi macam diriku, inilah salah satu yang memperumit persoalan kematian.
Nah, sobat...
Kesesatan itulah yang diatasi dengan prosesi penyempurnaan. Penyempurnaan hanyalah sebatas menyadarkan almarhum bahwa sejatinya dia telah mati. Sekedar menyadarkan bahwa dia sudah tidak tinggal di dunia lagi. Sebab dalam banyak kasus seorang almarhum merasa tetap hidup di dunia padahal dia telah mati dan mengabdi atau dimanfaatkan makhluk lain karena jiwanya tergoda dengan sesuatu yang lebih kuat mempengaruhi seluruh geraknya semasa hidup di dunia. Ya, semacam keinginan-keinginan yang tertunda dan sejenisnya.
Perkara sesudah penyempurnaan itu (wallahu ‘alam) perkara Tuhan, 100% urusan Tuhan. Si pelaku prosesi penyempurnaan jangan sampai merasa dia lah penyempurna itu. Sebab, sekali dia merasa menyempurnakan, maka prosesi itu telah terkotori oleh riya’ ! Dan untuk beberapa kyai yang baru saja dianugerahi kebisaan melakukan prosesi itu, inilah kendala utamanya. Bagaimana memisahkan dan memasrahkan total kepada Tuhan dan bukan atas “reka-daya” dia.
Duh sobat,
Andai guruku membaca ini tentu beliau akan tersentak pula !
Lalu, mau dikemanakan setelah kesempurnaan itu tercapai ? Teorinya adalah berpulang kepada laahiyah (alam suwung) sambil menungu “cakra-manggilingan” guna kembali menerima amanah di muka bumi. Dan lagi-lagi itu adalah prerogatif Tuhan, sedang manusia hanya bisa mengarungi sebuah jalur berikutnya yang telah disiapkan oleh-Nya.
Kemudian, soal batas kemampuan si ruh. Bagaimana ruh itu saat kembali pulang lalu hidup lagi. Apakah dia memiliki batas pengetahuan dan juga ke-ngaliman seperti ketika dia hidup dulu ?
Jawabku : Maaf sobat terpaksa aku luruskan pertanyaan itu. Bukan ruh yang terbatas saat kembali hidup ke dunia, tetapi jiwa (gumpalan hasrat dan keinginan yang juga menjadi materi pembentuk manusia).
Ruh itu tetap ruh, tetap tetes air laut tanpa pernah berubah menjadi apapun. Tanpa keinginan dan tanpa hasrat. Ketika adam menemukan keber-ada-annya, lalu dilengkapi dengan jiwa dengan segala problematikanya maka ruh tetap pada jalurnya yaitu membawa sifat hidup Tuhan. Maka ruh tidak pernah mati, tidak pernah kemana-mana (urip tan kenane owah, urip tan kenane mati – itulah ruh).
Jadi, ketika kembali hidup. Maka ruh saja yang tetap, sementara adam dan jiwanya silih berganti sesuai “Kun” dari Tuhan. Inilah penjelasan yang paling mendekati untuk sebuah pertanyaan “mengapa masih ada saja kejahatan di muka bumi ?”. Gimana kejahatan bisa hilang, sementara jiwa itu berpasangan dan setiap lahir jiwa ber-DNA baik akan lahir pula jiwa ber-DNA buruk pada saat bersamaan. Sehingga yang diperlukan oleh manusia (makhluk) adalah berdamai dengan hidup (ruh) dan kehidupannya (jiwa). Jika memang dia mendapat piranti jiwa yang buruk (wallahu ‘alam) semasa hidup dia akan mengabdi kepada keburukan dan sebaliknya.
Apakah itu salah ?
Sobatku terkasih. Ini bukan soal benar salah. Ini soal hak, soal piranti makhluk yang 100% dalam genggam kuasa-Nya. Manakah sisi paling kecil dalam peri kehidupan makhluk yang tanpa campur tangan Tuhan ? Non sense kan ?
Jadi, sobat...
Pesanku untuk mengakhiri kuliahku ini : Janganlah eforia ketika kau di-nas mnjadi baik. Pun juga jangan bersedih ketika kau di-nas menjadi oposisi kebaikan. Sungguh itu perkara Tuhan semata.
Salam,
Dulkamid tukang ngarit

Minggu, 15 November 2015

Hanya Copas, ingin berbagi……


Hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan makrifat. ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit orang yang memiliki kelebihan ilmu ini, saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat.

Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan. Buku-buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini. Ilmu ini adalah wilayah pengalaman, sehingga harus diajarkan oleh seorang guru yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut, jadi hati hati lah…

Mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci.

kita malah justru hati-hati dengan seorang guru yang sering menceritakan kehebatan-kehebatannya, bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah. Guru yang demikian berarti ilmunya, ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku, istilahnya belum zero mind.

Guru yang benar-benar sakti adalah guru yang sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan Allah. Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat? sedangkan dia sendiri tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Bila anda betul betul tertarik untuk mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah dalam Qur’an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang ada.

Setelah yakin akan syari’at yang dipegang mulailah berjalan, artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. Jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah, kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan.

Orang kalau sudah makrifat sama Allah dia akan lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience bahkan merupakan muara dari peaks experience. Wilayah pengalaman tidak untuk didiskusikan tapi untuk di alami bersama.

Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode… masalah makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.


Tambahan pribadi,

Perjalanan Reyshad Filed (musisi Inggris) yang ditulis dalam buku The Last Barrier (ada yang terjemahan Indonesia), bisa menjadi tambahan bahan bacaan.


 

Sabtu, 07 November 2015

Malas Menulis atau Malas Mempublish

Enaknya disebut malas menulis atau malas mempublish, atau sebetulnya memang murni malas menulis tapi dengan dalih malas mempublish.

Terus terang (bukan terang terus), semenjak sekolah menulis di Kompasiana urusan tulis menulis pada saat ini menjadi hal yang mudah (sombong boleh dong), meskipun hanya menghasilkan tulisan murahan dan pasaran.

Namun bila menenggok kebelakang tetang sejarah tulis-menulis dari penulis, sesungguhnya cara menulis yang menghasilkan tulisan murahan dan pasaran yang sering penulis buat hingga hari ini, merupakan pencapaian yang sungguh amat luar biasa. 

Bagaimana tidak, jaman dahulu untuk mengembangkan sebuah ide menjadi satu paragraf saja rasanya sungguh menjadi beban yang berat, butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menyelesaikannya.

Dan sekarang, dari proses memperoleh ide, mengembangkannya, menuliskannya, mengeditnya (beberapa tulisan tanpa perlu editan) hingga menayangkannya hanya butuh setengah hari saja, bahkan ada beberapa tulisan yang hanya butuh waktu 3-4 jam.

Cuma sayang ide dan tulisan yang bisa cepat tayang tersebut bukanlah jenis penulisan yang menjadi minat penulis, jenis tulisan opini politik, hiburan, atau sosial, yang memang dengan mudah menemukan idenya. Mulai dari berita, blog keroyokan macam kompasiana, hingga status di medsos bisa menjadi sumber ide yang bisa dikembangakan menjadi sebuah tulisan.

Yang menjadi minat sebenarnya dari penulis adalah filsafat (meski filsafat-filsafatan) dan juga tasawuf meski hanya sebatas dari kacamata seorang pembelajar.  

Tapi justru disinilah akar masalahnya, tulisan terutama tentang pengalaman sebagai pembelajar dan pemerhati tasawuf, ada beban tersendiri setiap akan mempublish sebuah artikel yang bertema per-tasawuf-an.

Tulisan yang biasanya saya masukkan dalam kategori uneg-uneg dan aneh-aneh, adalah bentuk renungan saya terhadap aneka pelajaran, pengajaran dari para sesepuh, sahabat dan juga dari buku-buku tasawuf.

Setiap akan menayangkan sebuah tulisan dengan tema tersebut selalu saja ada keengganan, ada saja alasan-alasan yang bersliweran, ada saja aneka penyangkalan bermunculan, namun juga selalu ada saja pembenaran yang datang kemudian.

Beraneka alasan ketika enggan menayangkan sebuah tulisan yang pada akhirnya tertutup juga oleh pembenaran, dengan dalih ingin berbagi atau ingin tulisan saya suatu saat dibaca oleh anak cucu. (Padahal aslinya adalah sebentuk nafsu yang samar, nafsu atau keinginan untuk dianggap hebat, ingin dianggap sudah nyufi, ingin dianggap makrifat, dsb).


Pemanggil Hujan (edisi belajar ngefiksi)

Di sela pepohonan gosong yang masih memancarkan panas sisa kebakaran, di salah satu sudut yang tidak begitu luas, secuil area yang masih bisa mereka selamatkan dari kobaran api yang menggila, para penghuni rimba tengah berkumpul.

Dipimpin Kura-kura tua dengan suara dalam, mencoba mengatasi hiruk pikuk dari aneka warganya.

“kita laporkan saja pada Baginda raja”, ujar Badak

“Percuma, Baginda Harimau berada jauh diseberang pulau”, kata Burung

“kita sewa pasukan negeri tetangga saja”, celetuk Monyet

“Aku nanti yang akan membiyayai”, imbuhnya pongah

“hu u u.... hu u u...”, teriakan dan gerutuan warga berbaur mejadi satu

Dahulu warga hutan termasuk monyet hanya membakar seperlunya saja, sekedar untuk bisa menanam tanaman yang menjadi kebutuhan pokok mereka. Namun Monyet tak cukup dengan rumpun pisang yang sudah dimiliki, dengan rakus membuka lahan lebih luas lagi.

“Lantas kalian mau apa”, sergah Monyet tanpa merasa bersalah

“Cukup...”,  pinta Kura-kura mencoba menengahi

“Saling menyalahkan tak akan membuat api padam di rimba kita”

“Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari sebelumnya, mungkin hanya turunnya hujan yang bisa memadamkan kebakaran hebat ini”, kata Kura-kura

“Lantas bagaimana cara mendatangkan hujan yang memang belum musimnya?”, tanya Gajah

“Di Timur ada satu tempat dimana masih ada rawa dengan sisa-sisa air yang menggenang, di sana tinggal si Katak pemanggil hujan”

“Bawalah Katak itu kesini untuk memanggil hujan, itu satu-satunya harapan kita sebelum seluruh rimba musnah terbakar”, lanjut Kura-kura

Monyet langsung menyeringai culas, “Aku yang akan berangkat, akan kubiayai semua perjalan ini”. Dengan cepat otaknya berputar, hujan akan menyelamatkan sisa-sisa pokok pisangnya yang siap panen satu bulan lagi. 

Kura-kura dan seluruh warga mengangguk setuju.
-------------


Setelah lama berputar, dari satu rawa ke rawa yang lain, dari satu genangan air ke genangan air lainya, akhirnya bertemu juga dengan sang Katak.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Katak  

“Aku ingin minta pertolonganmu, berapapun biayanya akan kupenuhi”, kata Monyet

“Pertolongan apa?”, Katak minta penjelasan  

“Minta tolong memanggilkan hujan, agar kebakaran rimba kami cepat padam”, jawab Monyet

“Baiklah, aku tidak minta imbalan apapun hanya saja suaraku saat ini serak, asap telah membuat tenggorokannku mengering”, jelas Katak

“Lantas bagaimana ini?”, seru Monyet sedikit panik

“Ambilkan aku air dari lubuk di sungai sebelah Utara rawa, air disitu mengandung akar yang bisa menyembuhkan serakku dengan cepat”, kata Katak

Dengan menyusuri sungai yang mengering sampailah Monyet di lubuk yang dimaksud, tengah dijaga kawanan Buaya.

“Mau apa kau”, bentak Buaya yang kelaparan

“Ijinkan aku mengambil sedikit air di lubukmu itu”, pinta Monyet
  
“Boleh, asal kaubawakan aku daging untuk makanan wargaku terlebih dahulu”, kata Buaya

“Ada kawanan Kerbau di padang rumput atas sana, kau bisa mendapatkanya”. Tambah Buaya

Berangkatlah Monyet ke padang rumput tersebut, disana banyak Kerbau liar keleleran dan kelaparan. Padang rumput itu semakin mengering, tidak banyak lagi rumput yang bisa dimakan.

“Bisakah kuminta dagingmu wahai Kerbau, biarkan kubawa seekor Kerbau yang telah mati di pojok sana”, pinta Monyet dengan wajah memelas.

“Untuk apa kau bawa daging Kerbau, bukankah engkau pemakan buah?”, tanya Kerbau

“Untuk kupersembahkan pada Buaya agar aku bisa memperoleh air di lubuknya, air yang dibutuhkan Katak untuk memanggil hujan”, jelas si Monyet

“Baiklah, boleh kau bawa daging itu, hanya saja aku minta satu syarat, bikinkan jembatan untuk menyeberang ke padang rumput di sebelah jurang sana”.     

“Uruk jurang itu supaya kawanan kami bisa lewat tanpa harus memutar, kawanan kami banyak yang kelaparan tak bakal mampu mencapai padang rumput diseberang bila mesti berjalan memutar”, jelas Kerbau

Monyet memutar otak dan menghitung ulang, yang ia punya hanyalah pohon-pohon pisang di kebunnya yang luas. Ribuan pohon pisangnya bila dimasukkan ke jurang tersebut bisa saja menjadi jembatan seperti yang diminta Kerbau.

“Tak apa, kukorbankan dulu pohon pisang itu” batin Monyet, “biarlah amarah warga dan para tetua mereda terlebih dahulu. Bila namaku baik, musim depan  aku pasti akan diperbolehkan menanam pisang lagi.”

Maka dipanggilah kawanan Monyet, bersama-sama mereka menaruh pohon pisang dijurang hingga bisa menjadi jembatan penghubung antara padang rumput disini dan di seberang sana. Tak banyak pohon pisang yang tersisa, tinggal serumpun seperti biasa mereka dapatkan.

Jembatan pisang telah selesai, kawanan Kerbaupun satu persatu pergi menyeberang, yang mati kelaparan ditinggalkan di padang.

“Trimakasih, amblilah daging yang kau butuhkan.” kata Kerbau pada Monyet

Bergotong royong kawanan Monyet membawa bangkai Kerbau ketempat Buaya, disana Monyet mendapatkan air yang dibutuhkan Katak. 

“Katak!! ini air yang kau minta tadi” teriak Monyet di kubangan tempat Katak tinggal

Sepi, tidak ada jawaban.

“Katak!”

.......

“Katak!”

......

Kresek..... Kresek..... terdengar suara di rerumputan dekat rawa. Monyet mendekat kearah suara itu, disibak perlahan rumput yang menghalangi pandangannya.

Ada ular melingkar disana, tengah tertidur pulas dengan perut membesar.


.......