Selasa, 09 September 2014

Tidak Hanya Butuh Logika Tapi Juga Rasa



Bunyi atau suara adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium atau zat perantara, yang dapat berupa zat cair, padat, gas. Secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan getar osilasi atau frekuensi yang diukur dalam satuan getaran Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam satuan tekanan suara desibel (dB).

Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia berkisar antara 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo berbagai variasi dalam kurva responsnya.

Itulah kurang lebih teori yang ada mengenai bunyi atau suara, sementara…

Nada adalah bunyi yang beraturan, yaitu memiliki frekuensi tunggal tertentu. Dalam teori musik, setiap nada memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda.

Itulah kurang lebih penjelasan tentang nada…..

Bagi awam seperti saya, yang tidak pernah belajar merasakan kepekaan terhadap nada, bunyi yang terdengar menjadi lebih mendekati ke penjelasan teoritisnya saja. Maka ketika ada alat musik di bunyikan dengan nada Do, bagi saya tidak akan bisa membedakannya dengan nada Si atau Re, nada Mi terasa hampir sama dengan Fa, dst.

Sementara bagi orang yang sudah belajar dengan baik merasakan nada, maka mereka bukan hanya bisa membedakannya tapi juga bisa menyusun atau menata nada-nada tersebut menjadi sebuah irama, hingga bisa tercipta lagu yang mengalun indah, menjadi sebuah karya yang luar biasa.

Ternyata bagi logika awam saya suara hanyalah sebuah bunyi yang tidak memiliki makna apa-apa tak lebih tak kurang, sementara bagi mereka yang sudah belajar merasakan dan menjiwainya, bisa menjadi kaya makna bahkan menjadi maha karya…………

Minggu, 15 Juni 2014

Mengadili Tuhan

Tuhan, jika Engkau akan mengadiliku atas pikiran-pikiran rahasiaku, aku akan mengadili-Mu dengan Ketuhanan-Mu
Tuhan, jika Engkau akan mengadiliku atas dosa-dosaku, aku akan mengadili-Mu dengan Karunia-Mu
Dan jika aku Kau masukkan ke dalam neraka, aku akan mengumumkan cintaku pada-Mu kepada para penguni neraka

Puisi Darani


Kecintaanku pada Allah tidak menyisakan sedikit pun ruang di dalam diriku untuk membenci kepada iblis

Renungan Rabi’ah


Ya Allah, ada orang-orang yang mendekat pada-Mu, dan Engkau memberi mereka kemampuan untuk berjalan di atas air atau berjalan di udara, dan mereka mengharapkannya. Aku mohon pada-Mu lindungi aku agar tak menjadi seperti itu.

Ada orang-orang yang mendekat pada-Mu dan Engkau memberi mereka hadiah berjalan-jalan sejenak mengitari seluruh dunia, dan mereka mengharapkan itu. Aku memohon pada-Mu jagalah aku dari yang demikian itu.
 
Dan ada orang-orang yang mendekat pada-Mu, lalu Engkau memberi mereka harta karun dan mereka puas dengannya. Aku memohon pada-Mu agar terhindar dari yang demikian.

Doa Abu Yazid
 

Selasa, 10 Juni 2014

RUANG TUNGGU UGD

Beberapa waktu yang lalu saya mengantar family ke rumah sakit, setelah si sakit selesai ditangani di sarankan untuk menjalani rawat inap. Sambil menunggu persiapan pindah kamar selesai, saya duduk di ruang tunggu UGD, malam itu pasien yang datang ke UGD tidak banyak, diantatanya famili saya, seorang anak seumuran anak SMP, kemudian datang lagi hampir bersamaan 2 orang yang sudah sepuh (tua).

Yang satu seorang nenek, saat masuk terlihat hanya terbaring lemah tak ada suara atau gerakan kesakitan. Yang satunya lagi seorang kakek, tubuhnya menegang dan samar-samar dari mulutnya terdengar suara menyebut-nyebut Asma dan Keagungan-Nya. Saya pikir baguslah, saat-saat kritis seperti itu masih bisa menyebut Asma-Nya, soalnya tidak sedikit ketika merasakan sakit yang sangat malah menyebut kata-kata yang tak pantas dan supah serapah.

Beberapa waktu kemudian si nenek di bawa keluar lagi, dari percakapan para pengantar yang bisa saya tangkap, kelihatannya sang nenek harus dirujuk kerumah sakit yang lebih lengkap peralatannya, sementara untuk sang kakek saya tidak tahu lagi kelanjutannya, karena saya sudah bersiap-siap untuk memindahkan famili saya ke kamar rawat inap.

Sesampainya dirumah pikiran saya tidak lantas berhenti begitu saja, justru malah berputar-putar karena pemandangan itu sulit lepas dari pikiran, terutama tubuh tegang dan ekspresi wajah dari sang kakek yang seperti ketakutan. Dan menurut otak-atik pikiran liar saya, kelihatannya penyebutan Asma dan Keagungan-Nya lebih seperti sebuah doa-doa dan harapan untuk terus hidup, ekspresinya seperti takut akan kematiannya atau takut terpisah dari semua yang dimilikinya (keluarga, harta dan sebagainya).

Kesimpulan saya tersebut mungkin merupakan gambaran bawah sadar saya sendiri, bahwa saya sebetulnya juga takut bila berada di posisi kakek tersebut. Padahal kematian itu adalah satu-satunya yang pasti diantara ketidakpastian di alam dunia ini. Akankah saya pada akhirnya juga akan seperti kakek itu? Takut terpisah dengan dunia, takut kehilangan segala nikmat indrawi yang sudah terlanjur melekat dan berkarat dalam pola pikir dunia materi ini?

Bukankah selama ini para nabi dan wali sudah memberikan ajaran-ajaran dan tauladan untuk menghadapi saat-saat seperti itu. Sudah cukupkah ajaran ataupun wejangan nari para nabi dan wali yang sudah saya praktekkan, dan bisa menjadikan saya siap menghadapinya? Ataukah semua praktek dan ritual yang saya jalankan hanya sekedar ritual tanpa makna? Sebuah ritual yang hanya sekedar gugur kewajiban saja, sehingga ajaran dan prakteknya tidak bisa meresap masuk dalam laku sehari-hari.......?
 

Sabtu, 24 Mei 2014

Surga Dan Neraka

Surga itu adalah, saat makan di kaki lima bisa merasakan nikmatnya tiap suapan seperti masakan di restoran mewah, dan saat tidur di kamar kontrakan yang hanya beralaskan tikar bisa senyenyak tidur di hotel bintang lima. Karena pikirannya sudah tidak lagi dibebani oleh keinginan-keinginan berlebihan dari ke-aku-annya, sehingga apapun yang diterimanya adalah anugrah yang patut di syukuri.

Dan apabila saat di dunia maya ini sudah bisa merasakan nikmat seperti itu, maka sebetulnya sudah mendapat tanda-tanda bisa merasakan atau mencicipi nikmat surga yang sebenarnya. Karena pada dasarnya sedikit banyak sudah bisa menekan nafsu (ke-aku-annya)

Neraka itu adalah, saat makan di rumah makan mewah tapi tidak bisa merasakan betapa nikmatnya di tiap-tiap suapan yang dikunyahnya, dan saat tidur di hotel bintang lima tidurnya tak bisa nyenyak dan selalu merasa gelisah. Karena pikirannya begitu terbebani dengan keinginan-keinginan dari ke-aku-annya, sehingga apapun yang diterimannya menjadi kekurangan yang harus dicarikan cara agar bisa terpenuhi ataupun tertutupi.

Dan apapbila saat di dunia maya ini hanya terus-menerus merasa kekurangan seperti itu, maka sebetulnya sudah mendapat tanda-tanda bakalan merasakan atau mencicipi betapa tidak enaknya neraka yang sebenarnya. Karena sang nafsu masih begitu kuat mengikat dirinya.....

Kamis, 15 Mei 2014

Setan Selalu Benar....

Membaca status salah satu teman yang mempertanyakan “apakah setan  itu selalu  bersalah?” , membuat saya tergelitik untuk merenung dan pada akhirnya ingin menuliskannya.

Menurut saya setan itu kok tidak pernah bersalah ya, bukankah tugas setan adalah menjadi kepanjangan tangan dari sang iblis yang sejak dari dahulu selalu bertugas mengajak untuk ingkar, mengajak kepada keburukan, mengajak untuk melakukan kerusakan. Dan bukankah itu sudah dilakukannya dari dahulu dan tak pernah berubah niat dan tujuannya hingga sekarang, sampai detik inipun setan selalu menjalankan job-desk yang sudah diberikan kepadanya dengan sangat baik (belum pernah ada setan nyleneh yang tiba-tiba ngajak berbuat kebaikan).

Justru yang layak dipersalahkan adalah manusianya, diberi begitu banyak anugrah kelebihan dibanding setan dari sang Maha Pencipta tapi malah sering mengingkari tugas-tugasnya. Diberi tugas untuk menjadi pemimpin (paling tidak memimpin dirinya sendiri) ternyata tidak mampu dan mudah tergoda oleh setan yang level (kesempurnaannya) lebih rendah dari manusia.

Padahal sudah begitu sempurnanya manusia (diberi akal, pikiran, dan rasa) agar bisa dijadikan alat untuk mengukur dan menimbang, namun malah jarang memakainya karena tertutup oleh nafsu atau keinginannya sehingga mudah terbujuk oleh rayuan setan. Melupakan tugas utamanya untuk memimpin dirinya sendiri agar menjadi makhluk yang semakin sempurna hingga bisa mendekati citra Tuhannya (Pengasih, Penyayang, Adil, dsb).

Jadi jangan persalahkan setan atas tergodanya manusia, tapi cobalah melihat pada diri sendiri sudah terlaksana dengan baikah job-desk kemanusiannya? Atau justru lebih tertarik dengan job-desknya sang pembisik kerusakan............

Jumat, 09 Mei 2014

Virzha Di Bajak Ahmad Dhani?

Prediksi dan ramalan saya tentang juara Indonesian Idol 2014 banyak yang meleset, ternyata saya tidak punya bakat untuk jadi paranormal (dan itu patut di syukuri karena artinya saya masih normal-normal saja). Inilah beberapa dasar serta alasan mengenai prediksi saya:

Sarah: Awalnya saya prediksi akan memperoleh “cipratan” tuah dari jawara X Factor yaitu Fatin SL, dengan kesamaan tekat untuk menjadi penyanyi yang tetap berbusana muslim akan memperoleh dukungan yang besar, terlebih suaranya yang bisa tinggi melengking seperti paket komplit untuk menjadi calon penyanyi bak diva tapi berbusana ketimuran. Menjadi alternatif pilihan bagi mereka yang tidak suka suara rendah namun berkarakter kuat ala Fatin.

Virzha: Sejauh ini belum ada yang salah tetang cowok bergaya rock 90an ini, hampir seluruh penampilannya mulus-mulus saja. Belum pernah melakukan kesalahan fatal, bahkan sampai spektakuler ke 12 ini belum pernah masuk menjadi peserta terbawah. Mungkinkah ini ada campur tangan dari AD, yang sejak beberapa babak sebelumnya selalu menyiratkan keinginannya untuk menjadikan Virzha sebagai vokalis baru Dewa? entahlah...

Nowela: Beberapa kali mendapat pujian dari juri tapi beberapa kali juga mendapat komentar yang kurang bagus dari para juri. Tapi keeksotisannya mungkin menjadi daya tarik sendiri bagi penyanyi satu ini, dukungan dari masyarakat Indonesia Timur mungkin masih bisa membuka peluang untuk menjadi juara.

Husein: Si kuda hitam yang benar-benar diluar perkiraan, mengusung genre yang tidak biasa ternyata bisa bertahan hingga masuk dua besar. Padahal para penikmat lagu-lagu metal ini bukan type alay yang demen nonton ajang pencarian bakat seperti ini, apalagi sampai lebay mengirimkan dukungan sms gila-gilaan untuk mendukungnya. Tapi kelabihan mereka adalah solidaritas dan kesetian mereka, bila mereka beramai-ramai turun gunung bisa jadi kekuatan yang mengerikan.


Jumat, 02 Mei 2014

Sistem Kekebalan Tubuh Anak Dan Tahapan Pertumbuhan Saling Terkait?

Ini hanya sekedar hasil pengamatan dan renungan pribadi saja, mengingat begitu sempurnanya Tuhan tentu setiap penciptaan ada maksud dan tujuannya. Misalnya saja kenapa pada beberapa hewan ada yang anaknya dalam hitungan menit sudah mampu berdiri dan beberapa jam kemudian malahan bisa berlari.

Sementara pada manusia kenapa perkembangan anaknya justru butuh waktu yang lebih lama lagi, untuk bisa duduk, merangkak, berdiri saja butuh hitungan bulan. Tahapan tumbuh kembang anak yang perlahan seperti itu, mungkinkah berhubungan erat dengan kekebalan tubuhnya kelak? Sangat menarik untuk direnungkan.

Tahapan paling awal dari seorang anak adalah menyusui, dulu era 80 an atau 90 an kalau tidak salah ingat wanita menyusui dianggap kurang gaul, bukan wanita modern terkesan kolot (bahkan ada yang takut akan merusak keelokan tubuh sang ibu). Tapi saat ini seiring penelitian yang ada terbukti bahwa menyusui ternyata sangat bermanfaat bukan saja untuk anak tapi juga ibunya. Kandungan ASI dari sang ibu ternyata memiliki zat yang sangat bermanfaat untuk sistem kekebalan tubuhnya (Lihat di Kompas Health).

Tahap selanjutnya adalah saat mulai bisa melihat dan tengkurap, saat seperti ini anak mulai menggigit atau memasukkan apa saja yang bisa diraihnya untuk di makan. Mulai dari jari jemarinya sendiri sampai bantal, guling, gendongan dsb, terlihat jorok mungkin.

Selanjutnya adalah merangkak, dan tahap ini mungkin akan terlihat benar-benar menjijikkan, biasanya anak sambil merangkak ia akan memakan apa saja yang ditemuinya sepanjang jalur dia merangkak. Ketemu pasir akan memakan pasir, batu kerikil bahkan (kalau tidak waspada) kotoran cecak atau burung yang kebetulan nemplok juga akan dimakannya.

Ketika sudah agak besar bisa berjalan dan berlari, entah kenapa mereka begitu suka dengan tanah, pasir, air dan lumpur. Dimanapun berada bila melihat unsur tersebut mereka seperti terhipnotis tidak bisa menahan godaan untuk bermain didalamnya.

Tapi mungkinkah ini justru merupakan cara awal seorang anak untuk memperoleh kekebalan tubuhnya? Dengan cara mengenal terlebih dahulu lingkungan yang nanti akan dihadapinya, bila ia lahir dilingkungan perkampungan padat dan kumuh maka yang dia masukkan kemulut adalah tidak jauh berbeda dengan lingkungannya.

Jadi secara perlahan tubuh si anak sebernarnya dikenalkan kepada bakteri atau virus yang ada dilingkungannya terlebih dahulu. Secara perlahan tubuh anak diajari untuk mendeteksi bahaya apa saja yang dihadapi dilingkungannya tersebut. Bila suatu saat terkena bakteri tersebut sedikit banyak tubuhnya sudah pernah mengenalnya, jadi jauh lebih cepat tubuhnya mengantisipasi (mirip dengan vaksin, melemahkan bakteri untuk dikenali tubuh terlebih dahulu).

Dan bila ini diputus dengan cara mensterilkan anak dari semua aktivitasnya tersebut (melindunginya dengan rumah kaca), mungkin saja dia justru kehilangan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit yang ada dilingkungannya. Dan jalan termudah untuk mengobatinya adalah memberikannya antibiotik, padahal bahaya yang lebih besar dari antibiotik juga tengah mengancam, seperti tulisan Kompasianer @Ilyani S (disini) dan @Irawan (disini).