Bismillahirrohmanirrohiim,
Tulisan ini aku tujukan untuk
seorang sahabat yang pada sebuah malam mengirimiku pesan singkat di
ponsel berbunyi “Le, aku kirim message di fb, ndang dibuka. Urgent”.
Segera aku membuka aplikasi jejaring sosial itu dan menemukan sebuah
pesan darinya yang sangat-sangat panjang. Tema-nya pun memiriskan : Ruh,
kematian dan prosesi penyempurnaan kematian.
Sekaligus tulisan
ini aku tujukan untuk seorang lainnya, yang pernah juga mengirim pesan
padaku yang berbunyi “Aku suka cara-mu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Lewat tulisanmu aku tahu kau sedang berproses “qorrub” dengan cara-mu
yang tidak biasa. Tidak diperlihatkan, sembunyi-sembunyi sehingga jauh
dari “sok” dan kesan pamer”.
Ya, aku tujukan tulisan ini kepada
mereka berdua. Mereka yang secara langsung memberikan perhatian dan
memiliki pandangan yang sejalan dengan “rasa” yang halus mengalir dalam
darahku dan menyebar luas ke seantero jagad maya-ku.
Sebelum aku
memulai, ijinkan hamba yang fakir ini menyebut nama Tuhan denga kalimah
“Wallahu ‘alam, subhanaka laa ngilmalana ‘illama ‘alamtana”. Bahwa
sesunguhnya segala pengetahuan adalah dari Tuhan saja, bukan dari hasil
pikirku, apalagi rekadayaku.
Baiklah aku mulai saja :
Sebagai
pondasi aku akan memapar seputar manusia. Bahwa manusia terdiri dari
badan (tubuh), jiwa dan ruh. Tiga soal itulah yang sejauh ini menopang
kehidupan manusia di muka bumi. Sementara orang berkeyakinan bahwa
manusia terdiri dari dua dua soal saja : badan (tubuh) dan ruh.
Untuk soal tubuh tak perlulah aku jelaskan panjang lebar. Aku tahu
kalian tentu faham secara kaffah dari mana datangnya tubuh dan kemana
setelah kematian menghampirinya. Ya, benar, seluruh bagian tubuh manusia
berasal dari “sari-sarining bumi” atau empat unsur alam yang telah
dikenal luas : tanah, air, api dan angin. Itulah pembentuk “Adam”, yang
secara rasa bimakna “suwung”. Artinya suwung : bahwa sebenarnya tubuh
itu adalah kehampaan, tidak ada institusi riil dari sebuah tubuh
manusia. Sebab ketika terbentuk, memuai dan kemudian kembali lagi pada
keadaan tidak ada, di dalamnya hanyalah memuat sebuah “prosesi” dan
bukan “esensi”.
Jadi ketika kematian menghampiri anak adam,
“sari-sarining bumi” yang membentuk sebuah tubuh akan kembali kepada
asalnya masing-masing, bercampur baur dengan yang lainnya untuk kemudian
kembali lagi membentuk tubuh baru. Sesudahnya, terserah Gusti mau
dipakaikan kepada siapa atau apa.
Soal Jiwa.
Jika
kau memiliki hasrat atau keinginan maka itulah muasal jiwa. Pada sebuah
kepuasan, pada sebuah kekenyangan, pada sebuah kelaparan, pada sebuah
kehausan serta keadaan-keadaa lain yang “setaraf” dengan itu semua, dari
sanalah jiwa berasal. Jadi sumber jiwa adalah “hasrat” dan “keinginan”
yang “boleh” dipenuhi.
Aku sengaja menyebutnya dengan “boleh”
yang mengacu kepada kata “bisa”, agar kalian faham bahwa kemauan itu
berasal dari jiwa yang didorong oleh sebuah kebutuhan badan akan
“sesuatu” untuk dipenuhi. Jadi, jiwa itu bukanlah “sesuatu” yang suci
seperti yang selama ini (mungkin) kalian kenal. Jiwa itu
berpasang-pasangan, persis seperti makhluk Tuhan lainnya. Baik-buruk,
susah-senang dll senantiasa menempel pada jiwa.
Jiwa-lah pendorong menggumpalnya sejumlah keinginan dan juga kemauan yang sering memaksa “Adam” untuk memenuhinya.
Lalu kemana perginya jiwa saat kematian datang ?
Dia akan kembali kepada golongannya di alam hasrat keinginan
(iskat-iskat). Melebur bersama kawan-kawannya di alam itu untuk
selanjutnya, seperti halnya “sari-sarining bumi”, akan kembali dikenakan
oleh siapa atau apa atas “Kun” Tuhan.
Dan berikutnya adalah : Ruh.
Aku sengaja menukil satu ayat Al Qur’an dalam Surat Al-Isra : “Saat kau
(Muhammad) ditanya tentang ruh, katakan bahwa itu adalah urusan-KU”.
Ini mengindikasikan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan yang cukup
tentang ruh kecuali sedikit saja.
Ruh itu soal yang jauh dari
jangkauan, bahkan di luarnya. Bisa dirasakan namun tak pernah bisa
terjelaskan secara tuntas. Aku hanya bisa bilang ruh itu lah pembentuk
pola dasar manusia. Tanpa ruh yang meniupkan hidup, manusia tak akan
pernah mampu menjalani kehidupan.
Sebagian manusia meyakini ruh
itu adalah “cuwilan” sifat Gusti Allah. Artinya ruh itu bagian dari
Gusti Allah dan ketika manusia mati ruh akan kembali pada-Nya, menyatu
dengan-Nya. Hati-hati dengan pengertian itu.
Yang aku “rasa”,
manusia itu beda dengan Tuhan, sehingga segala materi pembentuknya pun
tentu berbeda dengan Tuhan. Sehingga ruh tidak pernah menyatu kembali
(manungal) dengan Tuhan. Ketika manusia mati, ruh akan kembali ke
alamnya sendiri.
Ayo aku tengokkan ke sebuah kalimah “Gusti iku
wa laa kaifin bi laa mitsalin”. Artinya, Allah itu “tan kena kiniro tan
kena kinoyongopo”, bahwa Tuhan itu benar-benar tak terbayangkan dan tak
terjelaskan. Jadi kalau ada yang meyakini bahwa ruh itu cuwilan / bagian
dari Tuhan, itu mengingkari kalimah di atas.
Baiklah, karena
keterbatasanku aku akan menggunakan pengibaratan. Anggap saja ruh itu
tetes air laut, sementara Tuhan itu lautan yang maha luas. Meski
pengibaratan ini jauh dari esensinya namun aku rasa ini akan membantu
pemahaman kalian. Ketika ruh itu tetes air laut dan Tuhan itu lautan
yang maha luas, apakah bisa dikatakan bahwa laut itu berasal atau
terbentuk dari tiap tetes air laut ? Tidak kan ? Sebab jka logika ini
yang digunakan maka pada setiap peng-ada-an makhluk maka kuasa lautan
akan berkurang kan ? Dan ketika makhluk semakin bertambah, kuasanya
mengecil karena terlalu banyak di-cuwil, tidak begitu bukan ?
Maka, gunakan logika sebaliknya. Bahwa tiap tetes air laut itu memang
berasal dari laut yang maha luas, namun (sekali lagi namun) untuk
menyebut esensi laut apakah cukup dengan menunjuk lautan luas dengan
garis cakrawalanya ? Apakah cukup dengan menyebut laut utara dan laut
selatan ? Apakah cukup dengan menyebut bahwa laut itu adalah ini dan
laut itu adalah itu ? Tidak ! Sama sekali bukan ! Tidak pernah cukup
kalimat dan logika manusia untuk sekedar menyentuh tiap tetes air laut,
apalagi laut itu sendiri.
Ketika Tuhan tidak terdefinisikan,
maka setiap yang bisa didefinisikan bukanlah Tuhan, begitu bukan ? Maka
sederhananya, antara lautan dan tetes air laut itu sejalan, satu gerakan
namun bukan berarti menyatu. Ketika ada ombak bergerak ke pantai maka
lautan bergerak ke pingir, begitupun dengan tiap tetes air lautnya.
Namun tetap saja tidak bisa dikatakan bahwa tiap tetes itu adalah lautan
atau bahkan sebaliknya bahwa lautan itu ya tetes itu sendiri. Apalagi
bicara penyatuan (kemanungalan) tetes dengan lautan. Tidak pernah ada
penyatuan itu, dan itu telah jelas ditegaskan sepanjang masa bahwa tidak
ada satupun makhluk yang berkesempatan bersatu, bertemu muka atau
bahkan manunggal dengan Tuhan, seistimewa apapun dia !
Maka,
itulah ruh yang menjadi rahasia Tuhan. Bahwa ruh adalah entitas dasar
yang melandasi hidup makhluk dan menjadi penggerak kehidupan makhluk.
Kemana ia berpulang ? Ia akan kembali kepada lautan, namun bukan berarti
menyatu dengan lautan itu sendiri, ia hanya bergerak sesuai kemauan
lautan. Dan pada saatnya nanti ia akan kembali lagi menerima perintah
untuk “turun” dalam kuasa prerogatif Tuhan.
Tentang Kematian
Tidur adalah alamat kematian atau sebut saja kematian kecil atau
latihan kematian. Maka, menjalani proses tidur dengan penuh perhatian
adalah langkah awal yang baik untuk berlatih tentang kematian.
Tidur yang baik itu sama seperti mati yang baik (baik untuk ukuran
kesempurnaan). Yaitu tanpa bermimpi dan tanpa merasakan apapun. Artinya
secara ilmu islam akan disebut kembalinya segenap pembentuk manusia
kepada alamnya masing-masing tanpa kesasar dan tanpa mampir-mampir.
Tidur yang bermimpi persis seperti mati yang kesasar. Persis seperti
mati yang tidak menyadari kematiannya. Maka itu, sungguh beruntung orang
yang bisa tidur tanpa bermimpi. Selain tidurnya nyenyak itu menandakan
posisinya yang mantap dalam alam “laahiyah”. Sebuah alam suwung, tanpa
apa-apa dan tanpa siapa-siapa.
Mati itu perkara mudah dan murah.
Seharusnya tidak perlu ditakuti apalagi harus dipersiapkan masak-masak.
Mati ya mati saja, tidak perlu menyoal tentang mati sampai njlimet yang
mengakibatkan tergerusnya kepasrahan kepada Tuhan dan berganti dengan
ketergantungan kepada doa-doa atau upaya-upaya “penyempurnaan’ yang
banyak dilakukan oleh para pemuka agama.
Sungguh, 100% itu urusan
Tuhan. Ketika siapapun (tak terkecuali para pemuka agama) menyatakan
bahwa kematian itu gini dan gitu, itu adalah sebuah penafsiran dari
sebuah bisikan langit yang sangat boleh jadi terbatas untuk dirinya saja
dan bukan untuk orang lain. Sehingga masing-masing manusia memiliki
ke-khasan sendiri-sendiri dalam menghadapi kematian.
Oh, sobatku...
Bukan berarti aku nuzus (membangkang) kalimat maha guruku. Ini semua
juga kalimat beliau yang kemudian aku rasa lalu sarikan. Ini adalah
tafsir dari rasaku yang aku bagikan pada kalian, kepada anak jaman yang
berbeda waktu dan ruang dengan maha guruku.
Baiklah sobat,
Sekali lagi aku ulangi, mati ya mati saja. Tidak lebih. Ketika maha guru
mengadakan prosesi penyempurnaan, itu adalah sebuah irodah untuk
menyadarkan almarhum bahwa dia sejatinya telah mati, persis seperti
meluruskan tidur agar tidak bermimpi, apalagi bermimpi buruk. Mengapa
demikian ?
Sobat,
Banyak manusia mati tanpa menyadari bahwa
dia telah mati. Bahwa dia telah berpindah alam. Dan, ketika semestinya
dia kembali kepada keadaan kosong (suwung, hampa - laahiyah) agar boleh
kembali ditugaskan ke muka bumi, di justru tersesat masuk ke alam jiwa
yang banyak sekali menawarkan keindahan semu dan juga kesenangan sesaat
atau bahkan tersesat ke alam yang sangat-sangat menakutkan. Bayangkan
saja jika itu terjadi untuk waktu yang lama, berpuluh bahkan bratus
tahun ! Betapa nestapanya dia.
Mengapa bisa tersesat ? Dorongan
jiwa yang terlalu besar atau desakan keinginan yang mendominasi
hari-harinya semasa hidup di dunia-lah penyebabnya. Selain itu, ada pula
penyebab lainnya yang sungguh absurd bagi si awam. Dia adalah
keterkaitan antara masa lalu dan masa kini. Ini yang sangat sulit
ditebas dan dipecahkan. Bagi yang meyakini inkarnasi macam diriku,
inilah salah satu yang memperumit persoalan kematian.
Nah, sobat...
Kesesatan itulah yang diatasi dengan prosesi penyempurnaan.
Penyempurnaan hanyalah sebatas menyadarkan almarhum bahwa sejatinya dia
telah mati. Sekedar menyadarkan bahwa dia sudah tidak tinggal di dunia
lagi. Sebab dalam banyak kasus seorang almarhum merasa tetap hidup di
dunia padahal dia telah mati dan mengabdi atau dimanfaatkan makhluk lain
karena jiwanya tergoda dengan sesuatu yang lebih kuat mempengaruhi
seluruh geraknya semasa hidup di dunia. Ya, semacam keinginan-keinginan
yang tertunda dan sejenisnya.
Perkara sesudah penyempurnaan itu
(wallahu ‘alam) perkara Tuhan, 100% urusan Tuhan. Si pelaku prosesi
penyempurnaan jangan sampai merasa dia lah penyempurna itu. Sebab,
sekali dia merasa menyempurnakan, maka prosesi itu telah terkotori oleh
riya’ ! Dan untuk beberapa kyai yang baru saja dianugerahi kebisaan
melakukan prosesi itu, inilah kendala utamanya. Bagaimana memisahkan dan
memasrahkan total kepada Tuhan dan bukan atas “reka-daya” dia.
Duh sobat,
Andai guruku membaca ini tentu beliau akan tersentak pula !
Lalu, mau dikemanakan setelah kesempurnaan itu tercapai ? Teorinya
adalah berpulang kepada laahiyah (alam suwung) sambil menungu
“cakra-manggilingan” guna kembali menerima amanah di muka bumi. Dan
lagi-lagi itu adalah prerogatif Tuhan, sedang manusia hanya bisa
mengarungi sebuah jalur berikutnya yang telah disiapkan oleh-Nya.
Kemudian, soal batas kemampuan si ruh. Bagaimana ruh itu saat kembali
pulang lalu hidup lagi. Apakah dia memiliki batas pengetahuan dan juga
ke-ngaliman seperti ketika dia hidup dulu ?
Jawabku : Maaf sobat
terpaksa aku luruskan pertanyaan itu. Bukan ruh yang terbatas saat
kembali hidup ke dunia, tetapi jiwa (gumpalan hasrat dan keinginan yang
juga menjadi materi pembentuk manusia).
Ruh itu tetap ruh, tetap
tetes air laut tanpa pernah berubah menjadi apapun. Tanpa keinginan dan
tanpa hasrat. Ketika adam menemukan keber-ada-annya, lalu dilengkapi
dengan jiwa dengan segala problematikanya maka ruh tetap pada jalurnya
yaitu membawa sifat hidup Tuhan. Maka ruh tidak pernah mati, tidak
pernah kemana-mana (urip tan kenane owah, urip tan kenane mati – itulah
ruh).
Jadi, ketika kembali hidup. Maka ruh saja yang tetap,
sementara adam dan jiwanya silih berganti sesuai “Kun” dari Tuhan.
Inilah penjelasan yang paling mendekati untuk sebuah pertanyaan “mengapa
masih ada saja kejahatan di muka bumi ?”. Gimana kejahatan bisa hilang,
sementara jiwa itu berpasangan dan setiap lahir jiwa ber-DNA baik akan
lahir pula jiwa ber-DNA buruk pada saat bersamaan. Sehingga yang
diperlukan oleh manusia (makhluk) adalah berdamai dengan hidup (ruh) dan
kehidupannya (jiwa). Jika memang dia mendapat piranti jiwa yang buruk
(wallahu ‘alam) semasa hidup dia akan mengabdi kepada keburukan dan
sebaliknya.
Apakah itu salah ?
Sobatku terkasih. Ini bukan
soal benar salah. Ini soal hak, soal piranti makhluk yang 100% dalam
genggam kuasa-Nya. Manakah sisi paling kecil dalam peri kehidupan
makhluk yang tanpa campur tangan Tuhan ? Non sense kan ?
Jadi, sobat...
Pesanku untuk mengakhiri kuliahku ini : Janganlah eforia ketika kau
di-nas mnjadi baik. Pun juga jangan bersedih ketika kau di-nas menjadi
oposisi kebaikan. Sungguh itu perkara Tuhan semata.
Salam,
Dulkamid tukang ngarit
Lampu ublik jaman dahulu masih sangat sederhana, alasnya dari tembikar dan semacamnya, berbahan minyak kelapa (goreng) atau minyak jarak, sumbunya terbuat dari kapas yang dipilin. Mudah padam bila terkena hembusan angin…….
Jumat, 01 April 2016
Minggu, 15 November 2015
Hanya Copas, ingin berbagi……
Sumber aslinya: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1640429242871773&id=100007141396249
Hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan
makrifat. ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang
guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit
orang yang memiliki kelebihan ilmu ini, saking langkanya ilmu ini maka banyak orang
mencari dan akhirnya tersesat.
Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu
hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan
kesyirikan. Buku-buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar
namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini.
Ilmu ini adalah wilayah pengalaman, sehingga harus diajarkan oleh seorang guru
yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut, jadi hati hati lah…
Mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk
memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar
sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang
orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut,
dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci.
kita malah justru hati-hati dengan seorang guru
yang sering menceritakan kehebatan-kehebatannya, bisa inilah bisa itulah,
ketemu sama inilah ketemu sama itulah. Guru yang demikian berarti ilmunya,
ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku, istilahnya belum zero mind.
Guru yang benar-benar sakti adalah guru yang
sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan Allah.
Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat? sedangkan dia sendiri
tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Makrifat bukanlah sekedar ilmu
namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar
sadar bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Bila anda betul betul tertarik untuk
mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan
mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah dalam Qur’an dan
hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu
adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang
ada.
Setelah yakin akan syari’at yang dipegang
mulailah berjalan, artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu
dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. Jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu
namun suatu hasil amaliah, kalau makrifat di ilmukan jadinya malah
membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan.
Orang kalau sudah makrifat sama Allah dia akan
lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience
bahkan merupakan muara dari peaks experience. Wilayah pengalaman tidak untuk
didiskusikan tapi untuk di alami bersama.
Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan
kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode… masalah
makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan
memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia.
semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.
Tambahan
pribadi,
Perjalanan Reyshad Filed (musisi Inggris)
yang ditulis dalam buku The Last Barrier (ada yang terjemahan Indonesia), bisa menjadi tambahan
bahan bacaan.
Sabtu, 07 November 2015
Malas Menulis atau Malas Mempublish
Enaknya disebut malas menulis atau malas
mempublish, atau sebetulnya memang murni malas menulis tapi dengan dalih malas
mempublish.
Terus terang (bukan terang terus), semenjak sekolah
menulis di Kompasiana urusan tulis menulis pada saat ini menjadi hal yang mudah
(sombong boleh dong), meskipun hanya menghasilkan tulisan murahan dan pasaran.
Namun bila menenggok kebelakang tetang sejarah
tulis-menulis dari penulis, sesungguhnya cara menulis yang menghasilkan tulisan
murahan dan pasaran yang sering penulis buat hingga hari ini, merupakan
pencapaian yang sungguh amat luar biasa.
Bagaimana tidak, jaman dahulu untuk mengembangkan
sebuah ide menjadi satu paragraf saja rasanya sungguh menjadi beban yang berat,
butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menyelesaikannya.
Dan sekarang, dari proses memperoleh ide,
mengembangkannya, menuliskannya, mengeditnya (beberapa tulisan tanpa perlu
editan) hingga menayangkannya hanya butuh setengah hari saja, bahkan ada
beberapa tulisan yang hanya butuh waktu 3-4 jam.
Cuma sayang ide dan tulisan yang bisa cepat tayang
tersebut bukanlah jenis penulisan yang menjadi minat penulis, jenis tulisan
opini politik, hiburan, atau sosial, yang memang dengan mudah menemukan idenya.
Mulai dari berita, blog keroyokan macam kompasiana, hingga status di medsos bisa
menjadi sumber ide yang bisa dikembangakan menjadi sebuah tulisan.
Yang menjadi minat sebenarnya dari penulis adalah
filsafat (meski filsafat-filsafatan) dan juga tasawuf meski hanya sebatas dari
kacamata seorang pembelajar.
Tapi justru disinilah akar masalahnya, tulisan
terutama tentang pengalaman sebagai pembelajar dan pemerhati tasawuf, ada beban
tersendiri setiap akan mempublish sebuah artikel yang bertema per-tasawuf-an.
Tulisan yang biasanya saya masukkan dalam kategori uneg-uneg dan aneh-aneh, adalah
bentuk renungan saya terhadap aneka pelajaran, pengajaran dari para sesepuh,
sahabat dan juga dari buku-buku tasawuf.
Setiap akan menayangkan sebuah tulisan dengan tema tersebut
selalu saja ada keengganan, ada saja alasan-alasan yang bersliweran, ada saja
aneka penyangkalan bermunculan, namun juga selalu ada saja pembenaran yang
datang kemudian.
Beraneka alasan ketika enggan menayangkan sebuah
tulisan yang pada akhirnya tertutup juga oleh pembenaran, dengan dalih ingin
berbagi atau ingin tulisan saya suatu saat dibaca oleh anak cucu. (Padahal
aslinya adalah sebentuk nafsu yang samar, nafsu atau keinginan untuk dianggap
hebat, ingin dianggap sudah nyufi,
ingin dianggap makrifat, dsb).
Pemanggil Hujan (edisi belajar ngefiksi)
Di sela pepohonan gosong yang masih memancarkan
panas sisa kebakaran, di salah satu sudut yang tidak begitu luas, secuil area
yang masih bisa mereka selamatkan dari kobaran api yang menggila, para penghuni
rimba tengah berkumpul.
Dipimpin Kura-kura tua dengan suara dalam, mencoba
mengatasi hiruk pikuk dari aneka warganya.
“kita laporkan saja pada Baginda raja”, ujar Badak
“Percuma, Baginda Harimau berada jauh diseberang
pulau”, kata Burung
“kita sewa pasukan negeri tetangga saja”, celetuk
Monyet
“Aku nanti yang akan membiyayai”, imbuhnya pongah
“hu u u.... hu u u...”, teriakan dan gerutuan warga
berbaur mejadi satu
Dahulu warga hutan termasuk monyet hanya membakar
seperlunya saja, sekedar untuk bisa menanam tanaman yang menjadi kebutuhan
pokok mereka. Namun Monyet tak cukup dengan rumpun pisang yang sudah dimiliki, dengan
rakus membuka lahan lebih luas lagi.
“Lantas kalian mau apa”, sergah Monyet tanpa merasa
bersalah
“Cukup...”,
pinta Kura-kura mencoba menengahi
“Saling menyalahkan tak akan membuat api padam di
rimba kita”
“Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari
sebelumnya, mungkin hanya turunnya hujan yang bisa memadamkan kebakaran hebat
ini”, kata Kura-kura
“Lantas bagaimana cara mendatangkan hujan yang
memang belum musimnya?”, tanya Gajah
“Di Timur ada satu tempat dimana masih ada rawa
dengan sisa-sisa air yang menggenang, di sana tinggal si Katak pemanggil hujan”
“Bawalah Katak itu kesini untuk memanggil hujan, itu
satu-satunya harapan kita sebelum seluruh rimba musnah terbakar”, lanjut
Kura-kura
Monyet langsung menyeringai culas, “Aku yang akan
berangkat, akan kubiayai semua perjalan ini”. Dengan cepat otaknya berputar,
hujan akan menyelamatkan sisa-sisa pokok pisangnya yang siap panen satu bulan
lagi.
Kura-kura dan seluruh warga mengangguk setuju.
-------------
Setelah lama berputar, dari satu rawa ke rawa yang
lain, dari satu genangan air ke genangan air lainya, akhirnya bertemu juga
dengan sang Katak.
“Apa yang kau inginkan?”, tanya Katak
“Aku ingin minta pertolonganmu, berapapun biayanya
akan kupenuhi”, kata Monyet
“Pertolongan apa?”, Katak minta penjelasan
“Minta tolong memanggilkan hujan, agar kebakaran rimba
kami cepat padam”, jawab Monyet
“Baiklah, aku tidak minta imbalan apapun hanya saja
suaraku saat ini serak, asap telah membuat tenggorokannku mengering”, jelas
Katak
“Lantas bagaimana ini?”, seru Monyet sedikit panik
“Ambilkan aku air dari lubuk di sungai sebelah
Utara rawa, air disitu mengandung akar yang bisa menyembuhkan serakku dengan
cepat”, kata Katak
Dengan menyusuri sungai yang mengering sampailah Monyet
di lubuk yang dimaksud, tengah dijaga kawanan Buaya.
“Mau apa kau”, bentak Buaya yang kelaparan
“Ijinkan aku mengambil sedikit air di lubukmu itu”,
pinta Monyet
“Boleh, asal kaubawakan aku daging untuk makanan wargaku
terlebih dahulu”, kata Buaya
“Ada kawanan Kerbau di padang rumput atas sana, kau
bisa mendapatkanya”. Tambah Buaya
Berangkatlah Monyet ke padang rumput tersebut,
disana banyak Kerbau liar keleleran dan kelaparan. Padang rumput itu semakin
mengering, tidak banyak lagi rumput yang bisa dimakan.
“Bisakah kuminta dagingmu wahai Kerbau, biarkan
kubawa seekor Kerbau yang telah mati di pojok sana”, pinta Monyet dengan wajah
memelas.
“Untuk apa kau bawa daging Kerbau, bukankah engkau
pemakan buah?”, tanya Kerbau
“Untuk kupersembahkan pada Buaya agar aku bisa
memperoleh air di lubuknya, air yang dibutuhkan Katak untuk memanggil hujan”,
jelas si Monyet
“Baiklah, boleh kau bawa daging itu, hanya saja aku
minta satu syarat, bikinkan jembatan untuk menyeberang ke padang rumput di
sebelah jurang sana”.
“Uruk jurang itu supaya kawanan kami bisa lewat
tanpa harus memutar, kawanan kami banyak yang kelaparan tak bakal mampu
mencapai padang rumput diseberang bila mesti berjalan memutar”, jelas Kerbau
Monyet memutar otak dan menghitung ulang, yang ia
punya hanyalah pohon-pohon pisang di kebunnya yang luas. Ribuan pohon pisangnya
bila dimasukkan ke jurang tersebut bisa saja menjadi jembatan seperti yang
diminta Kerbau.
“Tak apa, kukorbankan dulu pohon pisang itu” batin
Monyet, “biarlah amarah warga dan para tetua mereda terlebih dahulu. Bila
namaku baik, musim depan aku pasti akan
diperbolehkan menanam pisang lagi.”
Maka dipanggilah kawanan Monyet, bersama-sama
mereka menaruh pohon pisang dijurang hingga bisa menjadi jembatan penghubung
antara padang rumput disini dan di seberang sana. Tak banyak pohon pisang yang
tersisa, tinggal serumpun seperti biasa mereka dapatkan.
Jembatan pisang telah selesai, kawanan Kerbaupun
satu persatu pergi menyeberang, yang mati kelaparan ditinggalkan di padang.
“Trimakasih, amblilah daging yang kau butuhkan.”
kata Kerbau pada Monyet
Bergotong royong kawanan Monyet membawa bangkai
Kerbau ketempat Buaya, disana Monyet mendapatkan air yang dibutuhkan
Katak.
“Katak!! ini air yang kau minta tadi” teriak Monyet
di kubangan tempat Katak tinggal
Sepi, tidak ada jawaban.
“Katak!”
.......
“Katak!”
......
Kresek..... Kresek..... terdengar suara di
rerumputan dekat rawa. Monyet mendekat kearah suara itu, disibak perlahan rumput
yang menghalangi pandangannya.
Ada ular melingkar disana, tengah tertidur pulas
dengan perut membesar.
.......
Senin, 26 Oktober 2015
Bagaimana Rasanya Kotoran a.k.a Tai?
Membaca status teman di fb (bukan tentang artikel di Kompasiana),
[["Keyakinan
Mendahului Akal"
Syarat shahnya istinja' (sesuci - cebok) itu syariatnya di
nyatakan sudah suci, apabila telah hilang :
(1).
Bau,
(2). Warna dan
(3). Rasa
Bau dapat di nyatakan dg indra penciuman, warnanya
('ainiyah) dapat di nyatakan dg indra penglihatan, namun "rasa"
haruskah musti di rasakan terlebih dulu ... ? di sanalah domain "hakekat
keyakinan" mendahului rasionalitas akal.]]
Status diatas membuat saya jadi senyum-senyum
sendiri dan kemudian bertanya, “Siapa kira-kira orang yang benar-benar tau
rasanya kotoran? Siapa yang pernah benar-benar pernah mencoba merasakan dan
mencicipinya?”
Saya super yakin bahwa tidak banyak yang dengan
sadar dan sesadar-sadarnya telah mencicipi kotoran apalagi kotorannya sendiri.
Bila demikian adanya, lantas darimana saya dan juga anda semua yang belum
pernah merasakannya, menjadi begitu yakin bahwa kotoran dan juga termasuk kotoran
anda sendiri ada rasanya (entah enak atau tidak enak)?
Darimana datangnya keyakinan saya dan anda tersebut?
Padahal belum pernah membuktikan sendiri rasanya.
Ini mengingatkan saya pada debat antara theis dan
atheis, satu dengan yakin mengatakan Tuhan itu ada sementara satunya lagi
bersikukuh bahwa Tuhan itu tidak ada. Meski keduanya dengan landasan argumennya
masing-masing, dan dengan alat bukti yang sebenarnya sama namun ternyata
membawa kesimpulan yang berbeda, yaitu alam semesta.
Kasus tersebut mirip dengan masalah kotoran diatas,
antara yang yakin bahwa kotoran mempunyai rasa (entah enak atau tidak) dan yang
meyakini bahwa kotoran tidak mempunyai rasa apapun. Alat bukti yang dimilikipun
juga sama, yaitu dari mengamati bentuk dan baunya, tapi ternyata kesimpulan
yang diambil juga menjadi berbeda.
Siapakah yang benar diantara kedua pendapat
tersebut, tentunya yang berani mencoba memakan sendiri kotoran tersebut. Mereka
yang benar-benar mengunyah, merasakan teksturnya dan kemudian menelannya, yang tahu
dengan sebenar-benarnya (makrifat) terhadap rasa kotoran tersebut.
Meyakini adanya rasa pada kotoran tapi tidak
benar-benar mencobanya sendiri mungkin hanya akan sampai pada bau dan bentuknya
saja, terjebak pada keyakinan berdasarkan katanya A, katanya B, katanya C, dan
seterusnya.
Sementara meyakini bahwa kotoran tidak ada rasanya
samasekali namun tidak mau mencicipi sendiri, hanya berlandaskan teori-teori
kemungkinan saja, juga akan terjebak hanya sebatas keyakinannya pada sebuah teori.
Sayangnya masalah Tuhan dan Ketuhanan tidak semudah
merasakan kotoran, yang bisa diicip, dirasakan, dan kemudian
disimpulkan.........
NB: Ternyata di Jepang kotoran ini sudah diekstrak
dan diberi aneka rasa, tapi apakah sang peneliti sendiri sudah pernah mencicipi
rasa murninya atau rasanya saat masih asli, penulis sendiri belum menemukan
sumbernya.
Sabtu, 24 Oktober 2015
Apakah Satire Sama Dengan Membully?
Menurut
pengertiannya,
Satire adalah gaya untuk menyatakan sindiran terhadap suatu
keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme,
atau parodi.
Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan
untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat
menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau
fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan
fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu,
mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas,
atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara
emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana
saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat
kerja, rumah tangga, dan lingkungan.
Kalau
berdasarkan pengertian diatas satire dan bullying memang tidak memiliki
kesamaan. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata antara satire dan bully
itu ada benang merah yang masih bisa ditarik.
Dalam
pengerian bullying diatas, disebutkan “…Perilaku
ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan
sosial atau fisik. Hal ini dapat
mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan
dan dapat diarahkan berulang kali
terhadap korban tertentu…”. Dan juga jika merujuk pada kalimat ini “…Tindakan penindasan (bullying) terdiri atas
empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber..”.
Masih
menurut wikipedia disebutkan juga adanya jenis bullying secara psikologis, yaitu tindakan penindasan yang menimbulkan
trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga
menimbulkan kegalauan/GUSAR.
Jadi
satire jika ditujukan pada seseorang hanya sekali atau dua kali saja mungkin
itu memang murni berupa bentuk sindiran atau hanya sebatas parodi saja. Namun
bila satire diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Yang
menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres juga
menimbulkan kegalauan/GUSAR, maka bukankah itu juga disebut bentuk bullying.
Dalam
urusan bullying kelihatannya satire adalah senjata yang sangat ampuh dan sadis,
ibaratnya seperti peluru karet yang bisa dipantulkan kemana saja sebelum
mengenai sasaran sebenarnya. Dan tidak terlalu mematikan, butuh berkali-kali
tembakan supaya korban tewas mengenaskan.
Satire
ini juga pas dengan jargon seleb cantik yang sering bikin heboh Syahrini,“Maju
Cantik Mundur Cantik”. Kalau korban hanya diam tidak melawan maka peluru akan
ditembak berulang (maju cantik), tapi kalau korban mulai marah dengan mudah
mengelak, “kamunya aja yang sensi aku kan
bukan lagi ngomongin kamu” (mundurpun masih tetap cantik).
Apakah
satire sama dengan membully? Jelas tidak. Tapi satire bisa menjadi senjata ampuh bagi orang yang berniat dan bertujuan membully. Dan
bisa terjadi dimana saja, baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, atau
dalam sebuah komunitas yang besar.
Sumber:
Rabu, 21 Oktober 2015
Menjadi Biru Yang Nyleneh Dan Aneh
Tidak sama biasanya selalu dikaitkan dengan
keanehan atau ke-nylenehan, atau bisa dikatakan tidak seperti pada umumnya,
bahkan lebih jauh bisa dituduh kurang waras.
Sejauh mana orang menganggap suatu hal menjadi
nyleneh dan aneh, kembali tergantung pada sudut pandang dari orang tersebut.
Seperti misalnya dalam dunia merah dan kuning,
menjadi merah saja tentu akan dipeluk oleh sesama merah, dan menjadi kuning
akan digandeng oleh sesama kuning. Atau memilih menjadi jingga yang masih bisa
diterima keberadaannya oleh kuning dan merah.
Ketika menjadi merah, kuning dan juga jingga,
dimana warna mereka masih memiliki kesamaan dan kemiripan unsur, maka
kecenderungan untuk ditoleransi oleh salah satu warna masih menjadi peluang
yang besar. Keberadaannya masih dianggap tidak nyleneh dan aneh, dan masih
dianggap waras-waras saja.
Lantas bagaimana jika diantara merah, kuning dan jingga
tersebut tiba-tiba muncul warna biru yang tidak memiliki unsur diantara ketiganya?
Apakah merah, kuning dan jingga masih menganggap biru adalah hal yang masih
bisa ditoleransi keberadaanya?
Tak perlu dijelaskan, lebih enak kalau sesekali
mencoba mempraktekannya sendiri, jadi biar bener-bener mantep merasakan
jenak-jenak menjadi biru. Apakah merah, kuning dan jingga akan tetap bisa menerima keberbedaannya, ataukah justru malah akan menjadi musuh bersama? Selamat
mencoba...
Langganan:
Postingan (Atom)
