Minggu, 15 November 2015

Hanya Copas, ingin berbagi……


Hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan makrifat. ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit orang yang memiliki kelebihan ilmu ini, saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat.

Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan. Buku-buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini. Ilmu ini adalah wilayah pengalaman, sehingga harus diajarkan oleh seorang guru yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut, jadi hati hati lah…

Mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci.

kita malah justru hati-hati dengan seorang guru yang sering menceritakan kehebatan-kehebatannya, bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah. Guru yang demikian berarti ilmunya, ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku, istilahnya belum zero mind.

Guru yang benar-benar sakti adalah guru yang sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan Allah. Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat? sedangkan dia sendiri tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Bila anda betul betul tertarik untuk mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah dalam Qur’an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang ada.

Setelah yakin akan syari’at yang dipegang mulailah berjalan, artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. Jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah, kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan.

Orang kalau sudah makrifat sama Allah dia akan lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience bahkan merupakan muara dari peaks experience. Wilayah pengalaman tidak untuk didiskusikan tapi untuk di alami bersama.

Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode… masalah makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.


Tambahan pribadi,

Perjalanan Reyshad Filed (musisi Inggris) yang ditulis dalam buku The Last Barrier (ada yang terjemahan Indonesia), bisa menjadi tambahan bahan bacaan.


 

Sabtu, 07 November 2015

Malas Menulis atau Malas Mempublish

Enaknya disebut malas menulis atau malas mempublish, atau sebetulnya memang murni malas menulis tapi dengan dalih malas mempublish.

Terus terang (bukan terang terus), semenjak sekolah menulis di Kompasiana urusan tulis menulis pada saat ini menjadi hal yang mudah (sombong boleh dong), meskipun hanya menghasilkan tulisan murahan dan pasaran.

Namun bila menenggok kebelakang tetang sejarah tulis-menulis dari penulis, sesungguhnya cara menulis yang menghasilkan tulisan murahan dan pasaran yang sering penulis buat hingga hari ini, merupakan pencapaian yang sungguh amat luar biasa. 

Bagaimana tidak, jaman dahulu untuk mengembangkan sebuah ide menjadi satu paragraf saja rasanya sungguh menjadi beban yang berat, butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menyelesaikannya.

Dan sekarang, dari proses memperoleh ide, mengembangkannya, menuliskannya, mengeditnya (beberapa tulisan tanpa perlu editan) hingga menayangkannya hanya butuh setengah hari saja, bahkan ada beberapa tulisan yang hanya butuh waktu 3-4 jam.

Cuma sayang ide dan tulisan yang bisa cepat tayang tersebut bukanlah jenis penulisan yang menjadi minat penulis, jenis tulisan opini politik, hiburan, atau sosial, yang memang dengan mudah menemukan idenya. Mulai dari berita, blog keroyokan macam kompasiana, hingga status di medsos bisa menjadi sumber ide yang bisa dikembangakan menjadi sebuah tulisan.

Yang menjadi minat sebenarnya dari penulis adalah filsafat (meski filsafat-filsafatan) dan juga tasawuf meski hanya sebatas dari kacamata seorang pembelajar.  

Tapi justru disinilah akar masalahnya, tulisan terutama tentang pengalaman sebagai pembelajar dan pemerhati tasawuf, ada beban tersendiri setiap akan mempublish sebuah artikel yang bertema per-tasawuf-an.

Tulisan yang biasanya saya masukkan dalam kategori uneg-uneg dan aneh-aneh, adalah bentuk renungan saya terhadap aneka pelajaran, pengajaran dari para sesepuh, sahabat dan juga dari buku-buku tasawuf.

Setiap akan menayangkan sebuah tulisan dengan tema tersebut selalu saja ada keengganan, ada saja alasan-alasan yang bersliweran, ada saja aneka penyangkalan bermunculan, namun juga selalu ada saja pembenaran yang datang kemudian.

Beraneka alasan ketika enggan menayangkan sebuah tulisan yang pada akhirnya tertutup juga oleh pembenaran, dengan dalih ingin berbagi atau ingin tulisan saya suatu saat dibaca oleh anak cucu. (Padahal aslinya adalah sebentuk nafsu yang samar, nafsu atau keinginan untuk dianggap hebat, ingin dianggap sudah nyufi, ingin dianggap makrifat, dsb).


Pemanggil Hujan (edisi belajar ngefiksi)

Di sela pepohonan gosong yang masih memancarkan panas sisa kebakaran, di salah satu sudut yang tidak begitu luas, secuil area yang masih bisa mereka selamatkan dari kobaran api yang menggila, para penghuni rimba tengah berkumpul.

Dipimpin Kura-kura tua dengan suara dalam, mencoba mengatasi hiruk pikuk dari aneka warganya.

“kita laporkan saja pada Baginda raja”, ujar Badak

“Percuma, Baginda Harimau berada jauh diseberang pulau”, kata Burung

“kita sewa pasukan negeri tetangga saja”, celetuk Monyet

“Aku nanti yang akan membiyayai”, imbuhnya pongah

“hu u u.... hu u u...”, teriakan dan gerutuan warga berbaur mejadi satu

Dahulu warga hutan termasuk monyet hanya membakar seperlunya saja, sekedar untuk bisa menanam tanaman yang menjadi kebutuhan pokok mereka. Namun Monyet tak cukup dengan rumpun pisang yang sudah dimiliki, dengan rakus membuka lahan lebih luas lagi.

“Lantas kalian mau apa”, sergah Monyet tanpa merasa bersalah

“Cukup...”,  pinta Kura-kura mencoba menengahi

“Saling menyalahkan tak akan membuat api padam di rimba kita”

“Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari sebelumnya, mungkin hanya turunnya hujan yang bisa memadamkan kebakaran hebat ini”, kata Kura-kura

“Lantas bagaimana cara mendatangkan hujan yang memang belum musimnya?”, tanya Gajah

“Di Timur ada satu tempat dimana masih ada rawa dengan sisa-sisa air yang menggenang, di sana tinggal si Katak pemanggil hujan”

“Bawalah Katak itu kesini untuk memanggil hujan, itu satu-satunya harapan kita sebelum seluruh rimba musnah terbakar”, lanjut Kura-kura

Monyet langsung menyeringai culas, “Aku yang akan berangkat, akan kubiayai semua perjalan ini”. Dengan cepat otaknya berputar, hujan akan menyelamatkan sisa-sisa pokok pisangnya yang siap panen satu bulan lagi. 

Kura-kura dan seluruh warga mengangguk setuju.
-------------


Setelah lama berputar, dari satu rawa ke rawa yang lain, dari satu genangan air ke genangan air lainya, akhirnya bertemu juga dengan sang Katak.

“Apa yang kau inginkan?”, tanya Katak  

“Aku ingin minta pertolonganmu, berapapun biayanya akan kupenuhi”, kata Monyet

“Pertolongan apa?”, Katak minta penjelasan  

“Minta tolong memanggilkan hujan, agar kebakaran rimba kami cepat padam”, jawab Monyet

“Baiklah, aku tidak minta imbalan apapun hanya saja suaraku saat ini serak, asap telah membuat tenggorokannku mengering”, jelas Katak

“Lantas bagaimana ini?”, seru Monyet sedikit panik

“Ambilkan aku air dari lubuk di sungai sebelah Utara rawa, air disitu mengandung akar yang bisa menyembuhkan serakku dengan cepat”, kata Katak

Dengan menyusuri sungai yang mengering sampailah Monyet di lubuk yang dimaksud, tengah dijaga kawanan Buaya.

“Mau apa kau”, bentak Buaya yang kelaparan

“Ijinkan aku mengambil sedikit air di lubukmu itu”, pinta Monyet
  
“Boleh, asal kaubawakan aku daging untuk makanan wargaku terlebih dahulu”, kata Buaya

“Ada kawanan Kerbau di padang rumput atas sana, kau bisa mendapatkanya”. Tambah Buaya

Berangkatlah Monyet ke padang rumput tersebut, disana banyak Kerbau liar keleleran dan kelaparan. Padang rumput itu semakin mengering, tidak banyak lagi rumput yang bisa dimakan.

“Bisakah kuminta dagingmu wahai Kerbau, biarkan kubawa seekor Kerbau yang telah mati di pojok sana”, pinta Monyet dengan wajah memelas.

“Untuk apa kau bawa daging Kerbau, bukankah engkau pemakan buah?”, tanya Kerbau

“Untuk kupersembahkan pada Buaya agar aku bisa memperoleh air di lubuknya, air yang dibutuhkan Katak untuk memanggil hujan”, jelas si Monyet

“Baiklah, boleh kau bawa daging itu, hanya saja aku minta satu syarat, bikinkan jembatan untuk menyeberang ke padang rumput di sebelah jurang sana”.     

“Uruk jurang itu supaya kawanan kami bisa lewat tanpa harus memutar, kawanan kami banyak yang kelaparan tak bakal mampu mencapai padang rumput diseberang bila mesti berjalan memutar”, jelas Kerbau

Monyet memutar otak dan menghitung ulang, yang ia punya hanyalah pohon-pohon pisang di kebunnya yang luas. Ribuan pohon pisangnya bila dimasukkan ke jurang tersebut bisa saja menjadi jembatan seperti yang diminta Kerbau.

“Tak apa, kukorbankan dulu pohon pisang itu” batin Monyet, “biarlah amarah warga dan para tetua mereda terlebih dahulu. Bila namaku baik, musim depan  aku pasti akan diperbolehkan menanam pisang lagi.”

Maka dipanggilah kawanan Monyet, bersama-sama mereka menaruh pohon pisang dijurang hingga bisa menjadi jembatan penghubung antara padang rumput disini dan di seberang sana. Tak banyak pohon pisang yang tersisa, tinggal serumpun seperti biasa mereka dapatkan.

Jembatan pisang telah selesai, kawanan Kerbaupun satu persatu pergi menyeberang, yang mati kelaparan ditinggalkan di padang.

“Trimakasih, amblilah daging yang kau butuhkan.” kata Kerbau pada Monyet

Bergotong royong kawanan Monyet membawa bangkai Kerbau ketempat Buaya, disana Monyet mendapatkan air yang dibutuhkan Katak. 

“Katak!! ini air yang kau minta tadi” teriak Monyet di kubangan tempat Katak tinggal

Sepi, tidak ada jawaban.

“Katak!”

.......

“Katak!”

......

Kresek..... Kresek..... terdengar suara di rerumputan dekat rawa. Monyet mendekat kearah suara itu, disibak perlahan rumput yang menghalangi pandangannya.

Ada ular melingkar disana, tengah tertidur pulas dengan perut membesar.


....... 

Senin, 26 Oktober 2015

Bagaimana Rasanya Kotoran a.k.a Tai?

Membaca status teman di fb (bukan tentang artikel di Kompasiana),

[["Keyakinan Mendahului Akal"

Syarat shahnya istinja' (sesuci - cebok) itu syariatnya di nyatakan sudah suci, apabila telah hilang :

(1). Bau,
(2). Warna dan
(3). Rasa


Bau dapat di nyatakan dg indra penciuman, warnanya ('ainiyah) dapat di nyatakan dg indra penglihatan, namun "rasa" haruskah musti di rasakan terlebih dulu ... ? di sanalah domain "hakekat keyakinan" mendahului rasionalitas akal.]]

Status diatas membuat saya jadi senyum-senyum sendiri dan kemudian bertanya, “Siapa kira-kira orang yang benar-benar tau rasanya kotoran? Siapa yang pernah benar-benar pernah mencoba merasakan dan mencicipinya?”

Saya super yakin bahwa tidak banyak yang dengan sadar dan sesadar-sadarnya telah mencicipi kotoran apalagi kotorannya sendiri. Bila demikian adanya, lantas darimana saya dan juga anda semua yang belum pernah merasakannya, menjadi begitu yakin bahwa kotoran dan juga termasuk kotoran anda sendiri ada rasanya (entah enak atau tidak enak)?

Darimana datangnya keyakinan saya dan anda tersebut? Padahal belum pernah membuktikan sendiri rasanya.

Ini mengingatkan saya pada debat antara theis dan atheis, satu dengan yakin mengatakan Tuhan itu ada sementara satunya lagi bersikukuh bahwa Tuhan itu tidak ada. Meski keduanya dengan landasan argumennya masing-masing, dan dengan alat bukti yang sebenarnya sama namun ternyata membawa kesimpulan yang berbeda, yaitu alam semesta.

Kasus tersebut mirip dengan masalah kotoran diatas, antara yang yakin bahwa kotoran mempunyai rasa (entah enak atau tidak) dan yang meyakini bahwa kotoran tidak mempunyai rasa apapun. Alat bukti yang dimilikipun juga sama, yaitu dari mengamati bentuk dan baunya, tapi ternyata kesimpulan yang diambil juga menjadi berbeda.

Siapakah yang benar diantara kedua pendapat tersebut, tentunya yang berani mencoba memakan sendiri kotoran tersebut. Mereka yang benar-benar mengunyah, merasakan teksturnya dan kemudian menelannya, yang tahu dengan sebenar-benarnya (makrifat) terhadap rasa kotoran tersebut.

Meyakini adanya rasa pada kotoran tapi tidak benar-benar mencobanya sendiri mungkin hanya akan sampai pada bau dan bentuknya saja, terjebak pada keyakinan berdasarkan katanya A, katanya B, katanya C, dan seterusnya.

Sementara meyakini bahwa kotoran tidak ada rasanya samasekali namun tidak mau mencicipi sendiri, hanya berlandaskan teori-teori kemungkinan saja, juga akan terjebak hanya sebatas keyakinannya pada sebuah teori.

Sayangnya masalah Tuhan dan Ketuhanan tidak semudah merasakan kotoran, yang bisa diicip, dirasakan, dan kemudian disimpulkan.........

NB: Ternyata di Jepang kotoran ini sudah diekstrak dan diberi aneka rasa, tapi apakah sang peneliti sendiri sudah pernah mencicipi rasa murninya atau rasanya saat masih asli, penulis sendiri belum menemukan sumbernya. 



Sabtu, 24 Oktober 2015

Apakah Satire Sama Dengan Membully?

Menurut pengertiannya,


Satire adalah gaya untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironisarkasme, atau parodi.

Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar rasagamagenderseksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang dimana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Kalau berdasarkan pengertian diatas satire dan bullying memang tidak memiliki kesamaan. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, ternyata antara satire dan bully itu ada benang merah yang masih bisa ditarik.

Dalam pengerian bullying diatas, disebutkan “…Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu…”. Dan juga jika merujuk pada kalimat ini “…Tindakan penindasan (bullying) terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber..”.

Masih menurut wikipedia disebutkan juga adanya jenis bullying secara psikologis, yaitu tindakan penindasan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga menimbulkan kegalauan/GUSAR.

Jadi satire jika ditujukan pada seseorang hanya sekali atau dua kali saja mungkin itu memang murni berupa bentuk sindiran atau hanya sebatas parodi saja. Namun bila satire diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres juga menimbulkan kegalauan/GUSAR, maka bukankah itu juga disebut bentuk bullying.  

Dalam urusan bullying kelihatannya satire adalah senjata yang sangat ampuh dan sadis, ibaratnya seperti peluru karet yang bisa dipantulkan kemana saja sebelum mengenai sasaran sebenarnya. Dan tidak terlalu mematikan, butuh berkali-kali tembakan supaya korban tewas mengenaskan.

Satire ini juga pas dengan jargon seleb cantik yang sering bikin heboh Syahrini,“Maju Cantik Mundur Cantik”. Kalau korban hanya diam tidak melawan maka peluru akan ditembak berulang (maju cantik), tapi kalau korban mulai marah dengan mudah mengelak, “kamunya aja yang sensi aku kan bukan lagi ngomongin kamu” (mundurpun masih tetap cantik).

Apakah satire sama dengan membully? Jelas tidak. Tapi satire bisa menjadi senjata ampuh bagi orang yang berniat dan bertujuan membully. Dan bisa terjadi dimana saja, baik di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, atau dalam sebuah komunitas yang besar.

Sumber:




Rabu, 21 Oktober 2015

Menjadi Biru Yang Nyleneh Dan Aneh

Tidak sama biasanya selalu dikaitkan dengan keanehan atau ke-nylenehan, atau bisa dikatakan tidak seperti pada umumnya, bahkan lebih jauh bisa dituduh kurang waras.

Sejauh mana orang menganggap suatu hal menjadi nyleneh dan aneh, kembali tergantung pada sudut pandang dari orang tersebut.

Seperti misalnya dalam dunia merah dan kuning, menjadi merah saja tentu akan dipeluk oleh sesama merah, dan menjadi kuning akan digandeng oleh sesama kuning. Atau memilih menjadi jingga yang masih bisa diterima keberadaannya oleh kuning dan merah.

Ketika menjadi merah, kuning dan juga jingga, dimana warna mereka masih memiliki kesamaan dan kemiripan unsur, maka kecenderungan untuk ditoleransi oleh salah satu warna masih menjadi peluang yang besar. Keberadaannya masih dianggap tidak nyleneh dan aneh, dan masih dianggap waras-waras saja.

Lantas bagaimana jika diantara merah, kuning dan jingga tersebut tiba-tiba muncul warna biru yang tidak memiliki unsur diantara ketiganya? Apakah merah, kuning dan jingga masih menganggap biru adalah hal yang masih bisa ditoleransi keberadaanya?

Tak perlu dijelaskan, lebih enak kalau sesekali mencoba mempraktekannya sendiri, jadi biar bener-bener mantep merasakan jenak-jenak menjadi biru. Apakah merah, kuning dan jingga akan tetap bisa menerima keberbedaannya, ataukah justru malah akan menjadi musuh bersama? Selamat mencoba...



Senin, 12 Oktober 2015

Penyerapan Anggaran, Berani Karena Benar Takut Karena Salah

MUNGKIN  lho ya jadi belum tentu benar (makanya pake huruf kapital, miring, tebal dan digarisbawahi), melambatnya penyerapan anggaran terutama didaerah bahkan DKI juga, katanya disebabkan oleh ketakutan para kepala daerah menggelontorkan APBD-nya.

Ketakutan itu katanya (lagi) didasari oleh rajinya KPK mencokok pejabat korup, yang kemudian diekori oleh kejaksaan dan kepolisian biar semakin dipercaya sama rakyat (baguslah, biar koruptor musnah).

Membuat pejabat daerah malu-malu dan takut untuk mengembangkan dan membangun daerahnya. Takut dicokok dan juga malu (malu-maluin para senior kalau sampai ketangkep), jadinya ya gitu lah banyak anggaran yang belum digunakan.

Dan hasilnya bisa ditebak, melambatnya pembangunan dan juga belanja daerah, berdampak pada banyak hal. Seperti perbaikan sarana dan prasana untuk masyarakt hingga berdampak kepada pelemahan rupiah (katanya lagi).

Tak berlebihan pula jika beberapa waktu lalu anggota dewan (tidak) terhormat hendak membatasi gerak KPK untuk hanya mengurus korupsi diatas 50 Milyar saja, dan juga KPK hendaknya meminta ijin terlebih dahulu untuk melakukan penyadapan.

Kelakuan mereka ini lebih mirip seperti gerakan menyelamatkan tuyul-tuyul mereka di daerah, sebuah ketakutan parpol terhadap berkurangnya setoran dari para tuyul mereka.

Bagaimana tidak, kepala daerah sekarang inikan seperti pundi-pundi untuk partai pendukungnya, bukankah mereka itu sering disebut petugas partai, bukan petugas pelayanan masyarakat.

Kalau kepala daerah ini benar-benar tidak ada kong kalikong atau slintat-slintut (baca: korupsi) dalam setiap proyek-proyek yang mereka kerjakan, kenapa pula mesti takut dengan KPK, takut dibidik dan dicokok KPK.

Asal benar dan bersih dari unsur korupsi, tidak berniat menyisihkan receh untuk sesaji tuan dan nyonya besar, sekalipun dilaporkan oleh siapa saja termasuk oleh lawan politiknya kenapa mesti takut. Berani karena pasti berada dijalur yang benar dan takut pastilah ada udang dibalik rempeyek, ada uang di balik proyek........