Senin, 24 Agustus 2015

Sikap MUI Jatim Berlebihan Terhadap Tuhan Dari Banyuwangi

Membaca sikap MUI Jatim terkait nama Tuhan tukang kayu asal banyuwangi (Tempo) terlihat berlebihan. MUI harusnya membaca terlebih dauhulu tentang asal dan usul munculnya kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, mepelajari terlebih dahulu kenapa kata Tuhan menjadi terjemahan dari Sang Maha Pencipta.


Seperti disebut dalam wikipedia tentang sejarah atau asal-usul kata Tuhan, berasal dari kata tuan (Melayu). Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik.


Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang bersifat insani, menjadi "Tuhan" yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leidjdecker yang terbit pada tahun 1733. Kata yang diterjemahkan oleh Brouwerius sebagai "Tuan"—sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, inggris Lord, Belanda Heere, melalui Leijdecker berubah menjadi "Tuhan" dan kemudian, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang awalnya ditemukan oleh Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.


Jadi sebetulnya kata Tuhan  sendiri dalam ranah keyakinan Islam tidak dikenal, Tuhan hanya menjadi terjemahan lain atau penyebutan lain untuk Yang Maha Pencipta yang muncul di dalam bahasa terjemahan Indonesia.


Maka bila MUI mempermasalahkan pemberian nama Tuhan pada tukang kayu asal Banyuwangi sebetulnya amat dan sangat berlebihan, karena itu bukan hal yang mendasar dalam pemaham Islam. Dalam Islam sendiri sedari awal sudah memperkenalkan atau menyebut sang Pencipta dengan sebuatan Alloh (ditulis dengan huruf latin).


Sikap MUI ini akan semakin membuat lembaga ini terkenal dan dikenal hanya mengurusi hal yang sepele, lembaga yang semakin diremehkan saja fatwa-fatwa-nya.


Selasa, 18 Agustus 2015

Kasihan

















Kuda krempeng itu
Menarik kereta kencana di karnaval tujuh belasan
Kereta kencana yang dihias dekorasi menawan
Sound system menggelegar, mengalun lagu kesenangan

Diatas atas kereta itu
Naik puluhan orang berbagai kostum
Pengusaha, wartawan, pedagang, dokter, hansip, semua tersenyum
Kusir dengan pecut berayun, pongah dengan seringai dikulum

Di jalan protokol itu
Taburan bunga dan lumpur silih berganti
Sorak sorai dan hujatan datang dan pergi

Kuda kerempeng itu
Dipuji menjadi kuda hitam ditiap perlombaan
Postur tubuh, bahasa tubuh, bentuk kaki, cara jalan
Menunjukkan dia kuda unggulan
Pun dicaci menjadi kuda yang tidak selesai balapan
Kuda lemah yang takut pada kusir arogan

Senyum kuda itu
Tetap tersungging, diantara bunga dan lelumpuran
Diantara pujian dan cacian
Semua diterima atau terpaksa menerima
Kebetulan dia yang ada didepan sana

Orang berkostum itu
Tetap menari
Tarian yang semakin menjadi
Tak mau tahu dan tak merasa malu
Karena didepan, kuda siap membisu dan membatu

Akankah tetap seperti itu
Dipuji dan dihujat
Bunga dan lumpur
Senyum senang dan meringis kesakitan

Kuda itu
Tak inginkah sedikit berani
Tak inginkah sedikit dengar nurani
Menjadi kuda mandiri
Harum tegakan kebenaran meski sebentar
Dikenang jadi kuda dengan nama besar
Dari pada abadi menjadi kuda yang inkar

Penumpang itu
Tak peduli pada harum namamu
Hanya butuh tubuhmu
Tuk tameng lindungi lemparan batu
Tuk tetap bisa menari dan bersuka diatas keretamu

Kasihan....
Entahlah, karena kulihat kuda itu terlihat nyaman



Gambar: http://www.antaranews.com/berita/367015/hut-ke-486-dki-jaya-akan-sangat-meriah

Minggu, 16 Agustus 2015

70 Tahun (Belum) Merdeka, (Masih) Di Jajah Saudara Sendiri



Barisan motor itu melintas dengan cepat, terlihat gagah, besar dan penuh wibawa


Kompak berjalan beriringan dipandu oleh aparat, untuk menjaga keamanan dan keselamatan katanya


Ayam, kambing, pejalan, onthel, becak, andong, ojek, minggir dulu, tempatmu bukan disini


Lampu merah, rambu-rambu copot dulu, tak butuh itu


Merayakan kemerdekaan negeri ini katanya


Tapi apakah memaknainya dengan merdeka melintas di jalan tanpa ada hambatan


Menindas saudaranya yang lain, yang juga memiliki hak yang sama di atas jalanan


Tapi apakah memakanainya harus memperkosa aturan dan rambu simbol tegaknya kesadaran


Menjajah saudaranya yang lain, yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh keselamatan dan kenyamanan


Itukah makna sebuah kemerdekaan bagimu.......


Hujan Buatan (Bisakah) Mengacaukan Perubahan Musim?

Ini hanyalah sebuah renungan tidak ada unsur ngilmiahnya sama sekali, didasari oleh aneka berita dan artikel yang berjejal menghiasi wajah televisi hingga media sosial, mengenai kekeringan yang tengah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.

Dan seperti biasanya, untuk mengatasi kekeringan tersebut dalam jangka pendek, pemerintah tengah menyiapkan atau merencanakan hujan buatan (merekayasa pembentukan awan). Cara ini mungkin sudah dilakukan kurang lebih 20 tahun terakhir, untuk mengatasi kemarau panjang dengan cara instan.

Cara instan yang mungkin berakibat tidak instan, proses menyegerakan hujan atau membuat hujan lebih dini atau memaksakan terjadinya hujan, berarti merubah dan mengabaikan turunnya hujan secara alamiah.

Proses alamiah terjadinya hujan memang tidak bakal sederhana, ada serangkaian aturan atau hukum alam yang mestinya dilalui supaya terjadi hujan. Tidak hanya faktor internal bumi tapi juga mungkin bulan, matahari dan seluruh semesta.

Kecepatan angin, perbedaan temperatur di seluruh permukaan bumi, jumlah hutan dan pohon yang masih tersisa, bahkan mungkin suara jangkrik dan kepak sayap kupu-kupu adalah rangkaian proses dari hujan itu sendiri.

Bila turunya hujan dari proses alamiah yang rumit kemudian di instankan dengan memotong rangkaian proses yang ada, apakah tidak mungkin justru akan berdampak pada perubahan dan anomali cuaca yang terjadi.

Akhir musim hujan hingga berakhirnya musim kemarau, yang seharusnya dibaca oleh alam sebagai rangkaian proses yang utuh, untuk mempersiapkan awal musim hujan berikutnya, malah dikacaukan oleh adanya hujan buatan yang terjadi ditengah musim kemarau.

Turunnya hujan buatan disaat masih musim kemarau, bukankah akan memberikan tanda pada seluruh alam untuk segera menyesuaikan situasi dan kondisinya. Harusnya jangkrik belum saatnya musim kawin pada akhirnya mempercepat proses tersebut, kupu-kupu yang seharusnya belum saatnya bermigrasi harus dipaksa untuk pindah lebih awal, dsb.

Proses penyesuaian dari alam terhadap hujan buatan tersebut, bukankah pada akhirnya juga akan mempengaruhi seluruh sendi kehidupan (fungsi) dari alam itu sendiri. Yang pada akhirnya juga berdampak pada perubahan cuaca dan perubahan perilaku alam tersebut hingga puluhan atau ratusan tahun kedepan.

Sudah seharusnya manusia beserta negara tentunya, tidak hanya serius memcahkannya dalam jangka pendek saja tapi juga mencari penyelesaiannya untuk jangka panjang, sangat panjang....




Jumat, 07 Agustus 2015

Nafsu dan Ikhlas, Antara Komentator Bola dan Pemain Bola

Meski sama-sama penyuka bola, tapi pada akhirnya sudut pandang adalah hal yang membedakan antara komentator bola dan pemain bola. Bila dari titik 0 dua garis sudah memiliki sudut meski hanya 1 derajat, maka bila ditarik hingga ribuan kilo meter pun tetap tidak akan bisa bertemu diujungnya (bahkan akan semakin melebar).

Sehebat apapun seorang komentator bola mencoba mejelaskan tentang nafsu haus gol seorang penyerang (bahkan hingga mulutnya berbusa-busa), tidak bakal sedikitpun bisa mewakili penjelasan yang sebenarnya dari sudut pandang pemain yang sesungguhnya.

Sehebat apapun seorang pengamat bola tidak bakal bisa menjelaskan keikhlasan dari para pemain bola yang membela negaranya, keikhlasan dari pemain bola yang hanya diberi penghargaan dan gaji sekedarnya.

Tidak ubah seperti menjelaskan manisnya gula aren dengan sudut pandang gula kristal/pasir, meskipun seorang ahli gula kristal yang telah puluhan tahun meneliti dan mempelajari gula kristal tersebut, tetap tidak akan bisa dengan tepat menjelas manisnya gula aren.

Selama belum pernah mencicipi atau merasakan gula aren, maka penjelasan tentang manisnya gula aren hanyalah sekedar rabaan, pekiraan, penyamaan, dan sebagainya, tidak lebih dan tidak kurang.

Menjelaskan tentang nafsu, ikhlas, manis tanpa pernah mencoba mengalaminya sendiri, hanya akan berujung pada kata inikah rasanya, bukan inilah rasanya.

Itulah perbedaan besar antara pelaku dan komentator, seperti perbedaan antara guru sufi dan murid sufi, sang guru pernah nglakoni sendiri semua yang pernah disampaikannya/diajarkannya, sementara sang murid hanya sekedar katanya guruku.

Sang guru tak butuh menulis di blog pribadi maupun blog keroyokan untuk memberikan pencerahan, sementara sang murid dengan semangat ’45 menunjukkan “kepintarannya” dengan menulis dan berbicara hingga berbusa-busa........



Selasa, 04 Agustus 2015

BPJS, Benarkah Si Kaya Membiayai Si Miskin?


Bukan hendak membela fatwa MUI mengenai BPJS Kesehatan, karena sayapun sepakat bahwa progam BPJS ini bermanfaat untuk seluruh rakyat tanpa memandang bulu. Asas saling tolong-menolong dan gotong-royong adalah kearifan lokal yang melekat pada jiwa rakyat Indonesia.

Tapi benarkah pendapat yang menyatakan bahwa yang kaya membiayai yang miskin?

Kalau berbicara masalah kesehatan, sejatinya antara si miskin dan si kaya memiliki kesamaan, sama-sama berharap diri mereka dan keluarganya tidak mengalami gangguan kesehatan atapun menderita kesakitan. Dan memiliki hak yang sama pula untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terbaik.

Namun bila melihat potret masyarakat seluruh Indonesia secara jujur, kira-kira siapa yang kondisi kesehatannya lebih baik. Terutama bila melihat pola kehidupan dari masing-masing golongan tersebut, si miskinkah? Atau si kayakah?

Si miskin terbiasa bangun pagi, ke tempat kerjanya lebih sering berjalan kaki atau naik sepeda. Kerjanyapun juga bukan sembarang kerja, lebih banyak melakukan olah fisik, petani dengan mencangkul, kuli dengan angkat-angkat beban, tukang becak dengan mengayuhnya, pedagang keliling dengan berjalan, memikul dan mendorong.

Sementara si kaya, mungkin sama-sama bangun pagi, namun tidur mereka mungkin lebih larut, lembur, tugas atau sekedar nongkrong bersama teman. Ke tempat kerja minim naik motor, angkot, trans, atau mobil pribadi. Kerjanya lebih banyak menggunakan otak dan pantat, otak untuk berpikir berjam-jam, sementara pantat untuk menyangga separuh tubuh bagian atas. Olah raga hanya sesekali itupun kalau sempat dan kalau sedang kepingin.

Pola makan, si miskin lebih banyak makan sayur dan air putih saja, jarang minum manis apalagi minuman bersoda. Sementara si kaya makan aneka daging olahan, coklat manis, es krim aneka rasa, minuman bersoda, dsb.

Lihat pula bagaimana anak-anak mereka, anak si miskin bermain layang-layang, ke sungai mencari ikan, bermain bola ditanah lapang, petak umpet, dan segala jenis mainan tradisional yang lain. Sementara anak si kaya, lebih betah main komputer, android, mesin game, dan lain sebagainya.

Belum lagi tentang kemelekkan mereka tentang pentingnya kesehatan? Siapa yang lebih peduli tentang kesehatan diri dan keluarga mereka? Si miskinkah? Atau si kayakah?

Si kaya, tidak perlu menunggu sakit mereka akan secara rutin mengontrolkan kondisi kesehatan mereka. Terlebih bila merasakan gejala badan tidak enak, maka dengan tangkas dan cepat pergi ke dokter, cek tensi, dan semacamnya.

Beda dengan si miskin yang alergi dengan hal berbau medis, selama rasa sakit masih bisa diabaikan dan ditahan (ora dirasa), maka selama itu pula tidak bakal beranjak ke puskesmas ataupun ke dokter. Kalau sudah tak tertahankan rasa sakitnya maka baru digotong ke rumah sakit sambil meringis. Bukan karena mereka abai terhadap kesehatan, namun mencoba berpikir realistis, kalau sampai ngamar dirumah sakit maka dapur tidak bakal bisa ngepul, mau makan apa anak dan istri mereka.

Dengan pola hidup seperti tersebut diatas, mana yang penggunaan BPJS-nya lebih banyak membutuhkan biaya? Si miskin yang mungkin hanya sesekali kena masuk angin dan sedikit demam, ataukah si kaya dengan ancaman kolesterol, gula darah, jantung, dan sebagainya?

Jadi sebetulnya siapa membiayai siapa? Dan rasanya kurang tepat juga kalau dikatakan bahwa si kaya membiayai si miskin, siapa tahu justru malah sebaliknya.........

Mungkin yang agak tepat adalah yang sehat membiayai yang sakit, tapi bila pada kenyataannya yang satu begitu merasakan sakit langsung menyegerakan diri berobat (sering menggunakan dana BPJS), sementara yang lainnya mati-matian menahan rasa sakit demi tetap bisa bekerja mencari sesuap nasi (jarang menggunakan dana BPJS). Maka yang lebih banyak memakai subsidi kesehatan, hasilnya juga akan sami mawon……..

Apapun itu, saya sepakat dengan pendapat yang meminta/menganjurkan sebaiknya iuran BPJS memang diniatkan secara ikhlas untuk bersedekah, maka hal tersebut jauh lebih bermanfaat. Membantu yang lebih membutuhkan apapun golongannya dengan tulus tanpa pamrih, karena suatu saat pasti akan mendapat balasannya. Mungkin bukan balasan kelak di akhirat, tapi bisa juga dalam bentuk selalu diberi kesehatan jasmani dan rohaninya........

Minggu, 02 Agustus 2015

Oleh-oleh dari Indonesiana - Tempo

Setelah buntu ide dan malas menulis di awal tahun, satu dua bulan ini kembali menemukan kembali semangat untuk menulis lagi. Menulis segala macam uneg-uneg yang liar berputar di kepala, agar tidak semakin bertambah kusut nyangkut didalam otak. Tulisan campur aduk, seperti bumbu dapur yang tumpah menjadi satu, bukan enak tapi malah bikin eneg (yo wis ben).

Seperti kebiasaan lama, pinginnya kembali “nyampah” di Kompasiana tempat membuang semua aneka tulisanku. Namun ndilalah kok ya ngepasi Kompasiana dalam perbaikan ke versi terbarunya, jadi kelancarannya sedang terganggu. Maka kuputuskan untuk sementara menulis diblog pribadi terlebih dahulu, namun kok ya berasa ada yang kurang (kurang dibaca).

Maka kuteringat akunku di blog Indonesiana-Tempo yang pernah kubuat beberapa waktu yang lalu. Satu dua tulisan kulepas disana, untuk menemukan takdirnya sendiri, diladang yang berbeda kubiasa menggembalakannya. Tak berharap banyak dibaca, hanya sebentuk keinginan (nafsu samar) untuk dipuji, dihargai, dilihat, diperhatikan, namun dengan dalih untuk berbagi.

Enak mana?

Entahlah.... Itu sangat relatif, bergantung pada niatannya....

Kalau niatnya hanya ingin sekedar menulis, tak peduli dibaca atau tidak, tak peduli jumlah klik-nya, murni ingin menulis thok, maka tak perlu Kompasiana atau Indonesiana, cukup menulis di blog pribadi saja.

Kalau niatnya ingin menulis dan dibaca atau diklik banyak orang (jumlah klik dianggap hal sangat penting), maka Indonesiana adalah tempat yang cucok. Indonesiana ini seperti Kompasiana versi lama (tahun 2012), sistem penghitungan kliknya bisa mencapai ratusan hingga ribuan.

Kalau niatnya ingin tempat terhormat semacam (HL atau ter..ter..), maka di Indonesianalah jagonya. Dengan jumlah penulis yang masih sedikit, maka jumlah tulisan yang tayangpun juga tidak sebanyak Kompasiana. Satu tulisan bisa nangkring berhari-hari bahkan berminggu dipajang di Etalase (semacam Highlight-nya Kompasiana). Bahkan tak perlu berebut menjadi Headline, di Indonesiana ada Tajuk Utama mirip HL-nya Kompasiana , yang akan memajang tulisan warganya, cepat atau lambat tulisan akan dipajang disana.

Namun kalau punya niatan untuk menjalin hubungan, ingin bertukar kabar, saling sapa, silaturahmi, ngrumpi, bahkan bila ingin saling tikam, saling serang (gagasan), maka Kompasiana adalah tempat yang sangat pas. Dengan mengusung semangat Sharing and Connecting-nya, telah berhasil menghubungkan dan mengikat warganya untuk saling berbagi, berbagi kabar, tulisan, dsb. Spirit Sharing and Connecting, itu yang saat ini masih belum ada di Indonesiana.