Selasa, 04 Agustus 2015

BPJS, Benarkah Si Kaya Membiayai Si Miskin?


Bukan hendak membela fatwa MUI mengenai BPJS Kesehatan, karena sayapun sepakat bahwa progam BPJS ini bermanfaat untuk seluruh rakyat tanpa memandang bulu. Asas saling tolong-menolong dan gotong-royong adalah kearifan lokal yang melekat pada jiwa rakyat Indonesia.

Tapi benarkah pendapat yang menyatakan bahwa yang kaya membiayai yang miskin?

Kalau berbicara masalah kesehatan, sejatinya antara si miskin dan si kaya memiliki kesamaan, sama-sama berharap diri mereka dan keluarganya tidak mengalami gangguan kesehatan atapun menderita kesakitan. Dan memiliki hak yang sama pula untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terbaik.

Namun bila melihat potret masyarakat seluruh Indonesia secara jujur, kira-kira siapa yang kondisi kesehatannya lebih baik. Terutama bila melihat pola kehidupan dari masing-masing golongan tersebut, si miskinkah? Atau si kayakah?

Si miskin terbiasa bangun pagi, ke tempat kerjanya lebih sering berjalan kaki atau naik sepeda. Kerjanyapun juga bukan sembarang kerja, lebih banyak melakukan olah fisik, petani dengan mencangkul, kuli dengan angkat-angkat beban, tukang becak dengan mengayuhnya, pedagang keliling dengan berjalan, memikul dan mendorong.

Sementara si kaya, mungkin sama-sama bangun pagi, namun tidur mereka mungkin lebih larut, lembur, tugas atau sekedar nongkrong bersama teman. Ke tempat kerja minim naik motor, angkot, trans, atau mobil pribadi. Kerjanya lebih banyak menggunakan otak dan pantat, otak untuk berpikir berjam-jam, sementara pantat untuk menyangga separuh tubuh bagian atas. Olah raga hanya sesekali itupun kalau sempat dan kalau sedang kepingin.

Pola makan, si miskin lebih banyak makan sayur dan air putih saja, jarang minum manis apalagi minuman bersoda. Sementara si kaya makan aneka daging olahan, coklat manis, es krim aneka rasa, minuman bersoda, dsb.

Lihat pula bagaimana anak-anak mereka, anak si miskin bermain layang-layang, ke sungai mencari ikan, bermain bola ditanah lapang, petak umpet, dan segala jenis mainan tradisional yang lain. Sementara anak si kaya, lebih betah main komputer, android, mesin game, dan lain sebagainya.

Belum lagi tentang kemelekkan mereka tentang pentingnya kesehatan? Siapa yang lebih peduli tentang kesehatan diri dan keluarga mereka? Si miskinkah? Atau si kayakah?

Si kaya, tidak perlu menunggu sakit mereka akan secara rutin mengontrolkan kondisi kesehatan mereka. Terlebih bila merasakan gejala badan tidak enak, maka dengan tangkas dan cepat pergi ke dokter, cek tensi, dan semacamnya.

Beda dengan si miskin yang alergi dengan hal berbau medis, selama rasa sakit masih bisa diabaikan dan ditahan (ora dirasa), maka selama itu pula tidak bakal beranjak ke puskesmas ataupun ke dokter. Kalau sudah tak tertahankan rasa sakitnya maka baru digotong ke rumah sakit sambil meringis. Bukan karena mereka abai terhadap kesehatan, namun mencoba berpikir realistis, kalau sampai ngamar dirumah sakit maka dapur tidak bakal bisa ngepul, mau makan apa anak dan istri mereka.

Dengan pola hidup seperti tersebut diatas, mana yang penggunaan BPJS-nya lebih banyak membutuhkan biaya? Si miskin yang mungkin hanya sesekali kena masuk angin dan sedikit demam, ataukah si kaya dengan ancaman kolesterol, gula darah, jantung, dan sebagainya?

Jadi sebetulnya siapa membiayai siapa? Dan rasanya kurang tepat juga kalau dikatakan bahwa si kaya membiayai si miskin, siapa tahu justru malah sebaliknya.........

Mungkin yang agak tepat adalah yang sehat membiayai yang sakit, tapi bila pada kenyataannya yang satu begitu merasakan sakit langsung menyegerakan diri berobat (sering menggunakan dana BPJS), sementara yang lainnya mati-matian menahan rasa sakit demi tetap bisa bekerja mencari sesuap nasi (jarang menggunakan dana BPJS). Maka yang lebih banyak memakai subsidi kesehatan, hasilnya juga akan sami mawon……..

Apapun itu, saya sepakat dengan pendapat yang meminta/menganjurkan sebaiknya iuran BPJS memang diniatkan secara ikhlas untuk bersedekah, maka hal tersebut jauh lebih bermanfaat. Membantu yang lebih membutuhkan apapun golongannya dengan tulus tanpa pamrih, karena suatu saat pasti akan mendapat balasannya. Mungkin bukan balasan kelak di akhirat, tapi bisa juga dalam bentuk selalu diberi kesehatan jasmani dan rohaninya........

Minggu, 02 Agustus 2015

Oleh-oleh dari Indonesiana - Tempo

Setelah buntu ide dan malas menulis di awal tahun, satu dua bulan ini kembali menemukan kembali semangat untuk menulis lagi. Menulis segala macam uneg-uneg yang liar berputar di kepala, agar tidak semakin bertambah kusut nyangkut didalam otak. Tulisan campur aduk, seperti bumbu dapur yang tumpah menjadi satu, bukan enak tapi malah bikin eneg (yo wis ben).

Seperti kebiasaan lama, pinginnya kembali “nyampah” di Kompasiana tempat membuang semua aneka tulisanku. Namun ndilalah kok ya ngepasi Kompasiana dalam perbaikan ke versi terbarunya, jadi kelancarannya sedang terganggu. Maka kuputuskan untuk sementara menulis diblog pribadi terlebih dahulu, namun kok ya berasa ada yang kurang (kurang dibaca).

Maka kuteringat akunku di blog Indonesiana-Tempo yang pernah kubuat beberapa waktu yang lalu. Satu dua tulisan kulepas disana, untuk menemukan takdirnya sendiri, diladang yang berbeda kubiasa menggembalakannya. Tak berharap banyak dibaca, hanya sebentuk keinginan (nafsu samar) untuk dipuji, dihargai, dilihat, diperhatikan, namun dengan dalih untuk berbagi.

Enak mana?

Entahlah.... Itu sangat relatif, bergantung pada niatannya....

Kalau niatnya hanya ingin sekedar menulis, tak peduli dibaca atau tidak, tak peduli jumlah klik-nya, murni ingin menulis thok, maka tak perlu Kompasiana atau Indonesiana, cukup menulis di blog pribadi saja.

Kalau niatnya ingin menulis dan dibaca atau diklik banyak orang (jumlah klik dianggap hal sangat penting), maka Indonesiana adalah tempat yang cucok. Indonesiana ini seperti Kompasiana versi lama (tahun 2012), sistem penghitungan kliknya bisa mencapai ratusan hingga ribuan.

Kalau niatnya ingin tempat terhormat semacam (HL atau ter..ter..), maka di Indonesianalah jagonya. Dengan jumlah penulis yang masih sedikit, maka jumlah tulisan yang tayangpun juga tidak sebanyak Kompasiana. Satu tulisan bisa nangkring berhari-hari bahkan berminggu dipajang di Etalase (semacam Highlight-nya Kompasiana). Bahkan tak perlu berebut menjadi Headline, di Indonesiana ada Tajuk Utama mirip HL-nya Kompasiana , yang akan memajang tulisan warganya, cepat atau lambat tulisan akan dipajang disana.

Namun kalau punya niatan untuk menjalin hubungan, ingin bertukar kabar, saling sapa, silaturahmi, ngrumpi, bahkan bila ingin saling tikam, saling serang (gagasan), maka Kompasiana adalah tempat yang sangat pas. Dengan mengusung semangat Sharing and Connecting-nya, telah berhasil menghubungkan dan mengikat warganya untuk saling berbagi, berbagi kabar, tulisan, dsb. Spirit Sharing and Connecting, itu yang saat ini masih belum ada di Indonesiana.


Sabtu, 01 Agustus 2015

Sekilas (Tentang) MUI

Kalau menengok sejarah berdirinya MUI (http://mui.or.id/sekilas-mui), didirikan pada era pemerintahan presiden Suharto, tepatnya pada tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta. Dimana pada saat itu tengah dilakukan pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.

Dari musyawarah tersebut, dihasilkan sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

Dan yang paling menarik dari sejarah berdirinya MUI tersebut adalah kutipan berikut ini, [[Dalam kaitan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia tidak bermaksud dan tidak dimaksudkan untuk menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, dan apalagi memposisikan dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. Majelis Ulama Indonesia , sesuai niat kelahirannya, adalah wadah silaturrahmi ulama, zuama dan cendekiawan Muslim dari berbagai kelompok di kalangan umat Islam.]]   

Menjadi lebih menarik ketika ditarik kemasa kekinian tentang fatwa BPJS yang telah dikeluarkan oleh MUI. Menimbulkan pro - kontra dikalangan muslim sendiri, bahkan menjadi hujatan dari kalangan non muslim (paling tidak tergambar dijejaring sosial). 

Sebetulnya kalau merujuk pada niat atau tujuan awal pendiriannya, menjadi wadah silaturrahmi ulama sekaligus tempat untuk bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim. Maka semua fatwa MUI didasarkan untuk memberikan kajian ke-Islaman dalam memandang dan menyikapi perkembangan baru yang ada di masyarakat.

Atau secara sederhana, para ulama, zuama dan cendekiawan muslim, ingin memberikan garis besar tuntunan apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan oleh muslim dalam menyikapi isu atau perkembangan baru yang muncul didalam masyarakat.

Dan jika, MUI bukanlah lembaga yang menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi lain atau memposisikan dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. Maka fatwa yang dikeluarkannya-pun sebetulnya tidak bisa mengikat apalagi menjadi keharusan dan kewajiban semua muslim untuk mengikutinya. MUI hanyalah lembaga kajian yang memang bertujuan untuk memberikan garis besar tuntunan kepada umat muslim tentang isu dan masalah kekinian.

Pada akhirnya, semua kembali pada masing-masing perseorangan dari setiap muslim, mau mengikuti atau tidak fatwa tersebut. Karena semua pertanggungjawaban dihadapan Tuhan juga akan kembali pada masing-masing personal, tidak bakalan bisa diwakilkan…..

Teknologi Jadul Amerika Menyimpan Air Hujan

Mungkin sudah berulang dibahas dan ditulis berbagai cara menanggulangi atau cara mengantisipasi kekeringan di musim kemarau. Tiap tahun telah banyak sumbangan pikiran dituang diberbagai media, jajaring sosial hingga warung kopi pinggir jalan. Namun kelihatannya pemerintah masih saja membuta-tuli, seolah tidak melihat dan mendengar aspirasi rakyat pinggiran.

Dan apa yang saya tulis ini mungkin juga sudah ribuan kali pernah ditulis ataupun dibicarakan orang lain pula, namun melihat kekeringan dan krisis air bersih yang saat ini tengah melanda berbagai daerah di Indonesia LAGI, maka dengan tangan tebal (beda tipis sama muka tebal) saya tulis juga artikel ini.

Kenapa mesti lélés teknologi kuno milik Amerika yang telah dibuang jauh sama penduduk di Amrik sono? Kenapa tidak menjiplak teknologi versi terbarunya saja?
Soalnya begini, para anak muda yang punya mimpi teknologi masa depan kini tengah merana, dipreteli kaki dan tangan kreatif mereka, dicokok menjadi tersangka. 


Maka dari itu, tidak perlu bicara muluk-muluk tentang teknologi masa depan, tapi cukup menggunakan teknologi jadul saja. Seperti yang terlihat pada gambar diatas adalah teknologi yang sangat cocok untuk kondisi Indonesia saat ini. Teknologi yang murah, mudah dan sangat tepat guna.

Teknologi ini tidak memerlukan puluhan atau ratusan anak negeri yang jempolan jebolan universitas luar negeri, tapi hanya membutuhkan niat dan tekat yang kuat maka bisa dengan mudah diterapkan diseluruh pelosok tanah air. Dan tak perlu waktu yang lama hingga puluhan tahun untuk mewujudkannya.

Dengan asumsi jumlah anggaran Rp. 1,4 M untuk tiap desa per tahun (kalau ditepati), maka tiap tahun satu desa bisa menyisihkan dana untuk membangun 2 buah tandon air, dalam jangka 5 tahun akan tersedia 10 tandon air yang siap digunakan untuk menghadapi musim kemarau (yang tiap tahun pasti datang).


Kenapa mesti menggunakan tower? Kenapa tidak ditaruh rata dengan tanah saja? Karena dengan menempatkan tandon air diatas memiliki beberapa keuntungan.

Tidak gampang dicemari oleh ulah iseng anak-anak, seperti dirusak, dikencingi, dimasuki kodok dan aneka jenis sampah lainnya. Tidak mudah untuk menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, dengan posisi diatas nyamuk akan sulit menjangkau karena anginnya lebih kencang. Dan akan lebih mudah untuk mengontrol serta mengalirkannya ke segenap penjuru desa.

Satu hal yang benar-benar perlu diperhatikan adalah komitmen warga desa untuk menggunakkannya hanya pada saat musim kemarau saja, disaat desa benar-benar krisis air bersih. 


Jumat, 31 Juli 2015

Pilkada, Waspadai Calon Lawan Bayaran atau Calon Boneka

Dalam pilkada serentak kali ini, beberapa wilayah mengalami kekurangan calon sehingga ada daerah yang hanya memunculkan calon tunggal. Karena belum ada aturan yang jelas maka pemilihan daerah yang memiliki calon tunggal akan terancam memundurkan jadwal pelaksanaannya.

Ada wacana untuk mangatur dan membuat undang-undang untuk mengatasi ketiadaan lawan tersebut. Salah satu wacanannya adalah diperbolehkannya LAGI pemilihan hanya satu calon saja, atau dengan menggunakan cara lama memakai bumbung kosong untuk mengatasinya.

Tapi sungguh sangat disayangkan bila cara pemilihan kembali seperti itu, memperbolehkan calon tunggal untuk maju memimpin suatu daerah. Masyarakat tidak diberikan pilihan untuk menimbang dan membandingkan sosok pilihannya, karena hanya ada satu calon saja. Atau bisa disebut ini bukan bentuk PEMILIHAN, tapi hanya sekedar acara seremonial untuk memastikan atau mengesahkan atau melegalitaskan calon tunggal tersebut menjadi kepala daerah (memberikan kesan seolah-olah sebuah pemilihan yang demokratis).

Namun disisi lain, bila memaksakan pemilihan dengan mensyaratkan minimal dua calon, selain terancam jadwal pemilihan menjadi mundur juga akan ada bentuk kecurangan lain yang siap mengintai. 

Kecurangan yang harus diwaspadai oleh KPU adalah, akan munculnya calon bayaran atau calon boneka. Calon yang sengaja dibayar atau sengaja diseting atau sengaja dimunculkan oleh calon utama atau calon terkuat. Untuk mengakali ketiadaan calon pesaing, yang tujuan utamanya adalah jelas untuk memudahkan sang calon tunggal untuk tetap bisa maju dan memenangi pilkada tersebut.

Munculnya calon tunggal ini memang memiliki banyak faktor, salah satu alasan yang utama adalah adanya calon yang terlalu kuat, hingga siapapun pesaingnya tidak bakal ada yang bisa menandinginya. Hal ini membuat calon pesainnya harus berpikir ribuan kali untuk mencari strategi cara pemenangannya.

Hitung-hitungan inipun pada akhirnya akan sampai pada besaran dana yang akan digelontorkan sang calon pesaing. Kalau hitung-hitungan ini akan membengkak dan pada akhirnya tetap memberikan peluang yang kecil untuk menang, maka para pesaing akan tahu diri. Lebih baik mereka menunda pencalonan kali ini, untuk mencari peluang  dipemilihan lima tahun didepan.   

Salah satu solusi yang mungkin bisa dipakai untuk mengatasi hal tersebut, adalah dengan mempermudah calon independen untuk maju dalam pemilihan kepala daerah. Mempermudah, terutama dalam persyaratan administrasinya, sehingga akan memunculkan banyak calon independen yang berani untuk maju mencalonkan diri.      

Seperti nasihat bijak bang napi, kejahatan itu terjadi bukan hanya kerena ada niat tapi juga karena adanya kesempatan......waspadalah.... 


Minggu, 12 Juli 2015

Pedofil Dan Incest Akankah Disamakan Dengan LGBT?

Ditengah suka cita diakui dan dilegalkannya LGBT disejumlah negara besar, atas nama persamaan hak memperoleh tempat dan perlakuan yang sama dengan warga yang lain. Mereka bukan alien aneh yang berbeda, mereka tidak berperilaku menyimpang tapi sama alamiahnya dengan yang lainnya hanya berbeda sudut pandangnya.

Terbersit pula satu pertanyaan, lantas bagaimanakah dengan pedofil dan incest?

Karena kedua jenis sudut pandang tersebut hingga kini juga masih menjadi perdebatan, apakah bentuk kejahatan atau satu hal alamiah yang harusnya juga diberi tempat dan ruang seperti LGBT.

Bagaimana kalau pelaku (pemilik) sudut pandang ini juga menuntut hal yang sama? Akankah mereka juga akan diakui keberadaan mereka.

Karena bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti pedofil dan incest juga tidak perlu lagi memaksakan keinginan mereka, tapi dilandasi atas dasar suka sama suka sama seperti pemilik LGBT, satu hal yang dianggap alamiah.

Kalau selama ini yang tertampil diberita adalah adanya kekerasan dan pemaksaan pada pasangan mereka (anak-anak dan saudara/keturunan mereka), hingga golongan ini selalu disudutkan pada tindak kekerasan dan penyiksaan.

Maka pada suatu saat nanti akan tiba juga masanya akan ada anak-anak yang suka dengan orang yang lebih dewasa, suatu saat nanti akan ada saudara/orang tua dan anak yang saling mencintai, tanpa ada paksaan.

Bukan menjadi hal yang tidak mungkin terlebih diera jejaring sosial dan internet seperti sekarang ini. Kalau sekarang anak atau orang sedarah yang punya sudut pandang berbeda masih takut dengan keinginan mereka, namun dengan terbukanya pergaulan dan informasi di era internet seperti ini, mereka akan semakin terbuka dan mendapat tempat untuk berbagi dan berkomunikasi, serta membuat komunitas tersendiri.

Hingga pada suatu saat nanti merekapun juga akan menuntut hak yang sama, lantas akankah mereka suatu saat nanti juga akan diakui? Akankah sudut pandang mereka juga dianggap hal yang wajar dan alamiah?

Entahlah…. Waktu memang tidak akan pernah berjalan mundur, tak akan bakal bisa menghindarinya. Hanya berharap dan memohon agar seluruh keluarga dan keturunanku selalu diberi keselamatan, keselamatan untuk tidak menjadi bagian/golongan seperti mereka, serta keselamatan pula untuk tidak menjadi pembenci mereka, selalu menjadi golongan yang menempuh jalan yang lurus, amin, amin, amin……


Bagaimana Sebaiknya Muslim Menyikapi LGBT?

LGBT kini tengah marak dan semakin mendapat tempat diseluruh dunia, lantas bagaimanakah muslim menyikapi hal ini? Menentangkah atau ikut arus utama mengikutinya.

Dalam Qur’an telah jelas disebutkan umat Nabi Luth adalah contoh perwakilan dari mereka ini, dan dengan jelas pula dalam kisah tersebut Allah mengutus Nabi Luth untuk memberi peringatan pada mereka untuk tidak terus melanjutkan perbuatan mereka.

Jadi jelas ajaran Islam melarang perbuatan semacam umat Nabi Luth ini, pernikahan apalagi hanya sebatas hubungan tanpa ikatan oleh sesama jenis gender jelas juga akan terlarang pula.

Jikalau begitu tidakkah Islam akan semakin dikenal sebagai agama yang sangat tidak toleran, dimana selama beberapa tahun belakang ini tercitra sebagai agama dan umat yang sangat tidak menghargai perbedaan.

Lantas bagaimanakah sikap yang sebaiknya dilakukan?

Ada satu hal pernah menjadi renungan saya pribadi, jika kita ingin memperbaiki sesuatu entah barang atau apapun bila saat pertama kali melihatnya saja sudah menimbulkan ketidak senangan atau kebencian pada barang tersebut, maka bisa dipastikan akan semakin enggan untuk memperbaikinya. Kalaupun terpaksa memperbaikinya juga akan asal-asalan saja, hingga hasil yang diperolehpun juga semakin asal-asalan pula.

Jadi kalau kita ingin memperbaiki mental atau sikap yang tidak tepat seperti LGBT dan aneka macam kejahatan dengan penuh kebencian maka akan sama hasilnya seperti perumpamaan memperbaiki barang diatas, yang diperoleh adalah hasil yang asal-asalan pula. Tidak membuat perubahan pada sikap dan tingkah laku dari mereka, tapi  malah semakin menimbulkan kebencian dari mereka.

Boleh dan harus kita tidak menyukai perilaku mereka karena ajaran yang menjadi keyakinan kita memang mengajarkan demikian, tapi jangan lantas menjadi pembenaran untuk membenci personal dari mereka, benci perbuatannya tapi jangan pernah membenci pelakunya.

Sama halnya dengan dilarangnya kita untuk tidak memakan daging babi, atau diperintahnya kita untuk menghindari air liur anjing, namun tidak pernah ada ajaran untuk membenci babi atapun anjing sebagai “personal”. Kita memang diperintah untuk menjauhi mereka namun bukan untuk membenci mereka. Sebagaimana tugas yang dibebankan manusia (muslim) untuk menjadi khalifah dimuka bumi, menjadi pengatur segala sesuatu yang ada dalamnya. Memanfaatkannya, memilah dan memilih bukan malah menghancurkan dan merusakannya.

Namun jangan lantas pula mencari-cari pembenaran atas perilaku tersebut dengan mencari ataupun memelintir dalil-dalil, agar supaya Islam terlihat toleran. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang sangat terbatas kemampuannya, tidak bakal mampu melihat apa yang akan terjadi satu detik didepan, tidak pula bakal bisa kembali satu detik kebelakang.

Apa yang jelas terlarang pasti ada alasan dan hikmah yang terkandung didalamnya, mungkin bukan sekarang bakal diketahuinya tapi suatu saat nanti.

Menghormati keputusan mereka sebagai pribadi, tapi tidak perlu pula merubah akidah dan ajaran yang telah ada……